sekelebatsenja

Monday, April 27, 2015

ujian

plerakplerok.
nedhak dengan segala daya upaya.

wih hebat betul itu kok matanya bisa muter hampir 360 derajat dengan muka lempeng tetap menatap kertas. saya pengen ketawa cantik tapi sayangnya kalau saya ketawa ndak cantik je. tapi suwer memang oke sekali ini mbakmbak remaja peserta ujian. tampak cocik kalau diikutkan di Xfactor atau AGeTe (singkatan dari Asia Got Talent, gitu, mosok ndatau) dengan keahlian berskill wahid. 

ah saya emang banyak ngomong. 

ya sudah, saya mikir ja. sebenarnya apa sih tuh fungsi ujian. seratus menit disekap di ruang kelas lalu disuruh njawab yang kemarin sudah dijelaskan dengan adil dan merata serta berbusabusa gitu loh. nda akan jauhjauh dari itu pasti jawaban soalnya kok. apa iya gitu dikasih soal lalu dijawab wis gitu aja? kalo menurut saya kok bukan begitu maksudnya. justru itu ndak pentingpenting amat sih. ujian itu janjannya semacam tes mental terselubung. 

ngetes apa si peserta bermental baja atau mental nikel plus cobalt (jiahhh...cobalt) atau mentalnya sekedar kawat jemuran yang hobi di-php-in aer hujan. 
eh, kawat jemuran itu bahannya apa ya betewe?

yakaliiii

Sunday, April 19, 2015

blawur

masyarakat hore
Semangkin blawur sebuah foto maka akan semangkin byutiful dan melenyapkan lemaklemak.
namun demikian dalam sebuah tubuh yang sakhohah terbitlah mata air kehidupan yang mbanyu mili sehingga blawur pun termaafkan.

Ayo piknik 2015!

Tuesday, March 31, 2015

liwat

sore tadi saya motoran ke sawah samping stadion bola dekat rumah sama archika. rencananya mau melihat matahari yang warnanya keemasan kalau menimpa air kali di sebelah sawah (you know, itu pengalaman mihil tauk, archika harus tauuu), eh belum juga menggok tetiba diplirikin kejam sama segerombol masmas under-age yang pakai scarf oranje dan pake gel rambut kebanyakan, idih kenapa pula itu masmas terganggu dengan kehadiran eyke dan anak eyke. apakah terlalu cetar dan cemlorotkah kami berdua. Akibatnya, jurus babon beranak dua pun muncul, tatapan kosong tigapuluh detik nonasenja yang sudah diuji laboratorium itu lho.









yakaliii.
sampai rumah, setelah diberitahu tetangga, ternyata oh ternyata sebentar lagi bakal ada pertandingan pss sleman lawan ppsm magelang di situ dannnn pastilah segerombol anak piyik tadi agak terintimidasi dengan kehadiran kami, emak + balita yang naik sekupi plat AB dengan santai, cantikkkk dan liwat dengan sakses.
Salam liwat! 



Thursday, November 20, 2014

lahir

Ada yang datang ada yang pergi. Yang datang amat dinanti yang pergi selalu diingat sampai jumpa lagi.

Siang itu mental sudah bulat. Saya mengambil keputusan untuk melahirkan dengan jalan SC karena sudah lewat jauh sekali dari perkiraan lahir (yang kemudian saya tahu, tak semua orang bisa pakai rumus perkiraan). Lagipula setelah saya lihat sendiri plasenta yang sudah banyak lubangnya, besarbesar, saya jadi ngeri dan menyerah. Logika saya mengetukngetuk kepala batu.Ini masalah nyawa!

Ya maklum saya sudah mempersiapkan diri untuk melahirkan lewat jalur lahir yang sudah dibikin sang pencipta, sudah melakukan pembisikan intens ke si calon bayi, sudah konsultasi ke SpoG tentang aman tidaknya VBAC jarak 2.5 tahun, relaksasi dan tetek bengek lainnya.Eh, di penghujung kehamilan si bayi nda setuju dengan ide saya. Ya ndapapa, dia sudah memilih cara lahirnya sendiri. Saya harus mengamini.

Selasa Legi, 18 November. Siang jam 12 saya resmi ngamar di rumah bersalin. Jadwal SC sudah saya pilih, hari itu juga jam setengah sepuluh malam. Masih lama. 

Saya mantapkan hati dengan kabur jalanjalan sama akang ke pusat perbelanjaan untuk melihat (lalu membeli) barang diskon karena dengan begitu biasanya hati saya langsung jadi tenteram. Memang benar.Perasaan mendadak campuraduk teracakacak maghrib itu ketika saya dapat kabar supermengejutkan. Mbah kakung seda. Mbah kakung yang selalu jadi favorit saya sejak kecil karena suka mendongeng, suka mengajakku ke sawah, suka memboncengku naik sepeda nonton wayang trus pulangnya membelikanku gambar umbul wayang, meminjamiku buku dari perpustakaan SD tempatnya mengabdi. Iya. Mbah kakung yang dulu jauhjauh ngebis dari srandakan ke gejayan untuk nengok cucunya karena kangen.

Mentalku ambyar, duh gek gimana iki. Saya pandangi bergantian selang infus yang sudah menancap di punggung tangan kiri dan ponsel di genggaman tangan kanan. Seketika pandangan kabur, rupanya saya terisak lalu nangis bombai. Menyesal karena belum sempat menungguinya sewaktu sakit, padahal mbah kakung sering menanyakanku dan mengapa aku belum menengoknya lagi.

Sulit sekali mengembalikan kepercayaan diri dan mental yang sudah acakadul dalam waktu singkat. Saya hanya punya waktu 3 jam sebelum dikirim ke ruang operasi. 

hanya keyakinan bahwa maha pencipta sudah menentukan masa berlaku setiap makhluk ciptaannya dengan maksud yang baik yang menentramkanku. 

Kalaupun anakku harus lahir bertepatan dengan tanggal sedanya mbah kakungku saya akan menerimakan. Lagipula sang pencipta sudah memilihkan hari yang sama dengan weton lahirku, selasa legi, untuk kepergian mbah kakung. Pasti ada maksudnya. Saya pasrah.

Satu jam menjelang jam seharusnya operasi saya dibangunkan dan diberitahu kalau giliran saya akan mundur karena ada calon ibu yang mengalami gawat janin dan harus segera dioperasi.

 00.10 Rabu Pahing, 19 November 2014 Bhumi lahir. Tangisan pendek dengan suara berat. Tubuh dalam pelukan masih berbalut putih cairan kawah, ariarinya masih agak menggelembung. Hidup dan selamat. 

Terima kasih maha pencipta, rencanamu indah.

Tuesday, December 31, 2013

blarak

Entah sejak kapan saya merasa aroma bakaran blarak atau batang daun pohon kelapa itu spesial. Sama spesialnya dengan aroma yang ditimbulkan oleh minyak kelapa yang sedang dipanaskan. Keduanya sering membius saya pada level kebengongan yang sejajar. 


Mungkin nostalgia. Mungkin rindu masa kanakkanak. Maklum hidup di desa pesisir Bantul sana dulu saya tak mungkin tak akrab dengan bagianbagian tubuh pohon kelapa. Berikut baunya. Dari mulai akar, bluluk, bitingcengkir, manggar, bathok dan sebangsanya sampai produk olahan berupa minyak, legen, gula cetak dan tak lupa bakarbakaran itu tadi. 

Pagi tadi dengan tergesagesa seperti biasa saya memacu scoopy merah menuju kampus. Perjalanan ke selatan terhenti sebentar memberi kesempatan pada arakarakan bau blarak bakar. Lupa sudah kalau harus cepat sampai karena ada jadwal menguji. 

Aroma bakaran blarak di tanah rantau ternyata sama.
Seketika saya lega. Sisi kanakkanak saya masih hidup.

Friday, December 27, 2013

salju

Saya ingat salju maka saya ingat rumah batu, perapian, natal, dan kue jahe. Impian sederhana yang tidak sederhana seorang anak kecil negeri tropis. Bisa saja dibilang begitu. Begitu dekatnya imaji saya akan sesuatu yang terjadi jauh di ujung dunia utara atau selatan sana karena bukubuku yang saya baca. 


Hebat banget yah si buku bisa menyeret saya kayak begitu.

My Bears Counting House dengan ilustrasi yang kaya warna menjadi salah satu buku awal saya bersinggungan dengan salju. Ada 10 buku dalam satu kotak. Semua bercerita tentang keseharian keluarga beruang. Sebuah edisi tentang natal terlihat lebih lecek dari saudara buku yang lain pertanda sering dijamah. Beruang paling kecil sedang belajar membuat kue jahe yang terlihat menggiurkan dan hangat. Setelah semua siap saji mereka duduk bersebelahan di depan perapian batu sambil memandang salju yang turun agak lebat di luar jendela. Momen menyenangkan bagi seorang pembaca belia.

Setelah itu saya sibuk bermimpi untuk memegang salju, duduk di depan perapian batu sambil makan kue jahe dan bergembira.

Dua puluhan tahun kemudian di ujung desember saya memegang salju, duduk di sebuah penginapan kayu yang tak punya perapian, menggigil kedinginan dan kelaparan.

Yah, agakagak mirip lah. Mirip jauh.

Tuesday, December 24, 2013

twitter

Tidak berkicau itu sulit.


Seminggu terakhir mencoba untuk tidak menggunakan twitter. Saya berhasil. Bukan tanpa alasan saya berhenti sejenak. Ini mengerikan. Lebih dari sepuluh ribu kicauan. Setengahnya terjadi selama setahun terakhir. Dalam satu hari berapa? 

Apa saya secerewet itu? Nyatanya memang iya. Mau bagaimana? Lalu ngapain?

Membuat rekaman keseharian yang bisa ditelusuri siapapun. Penting? Penting saja. Ya kadang penting. Meski seringnya tidak. Itu kenapa tetap pseudonym. Malu ah malu.

Memang tidak berkicau itu sulit. Kalau hanya dipikirin. 
Kalau dilakukan sulit kuadrat.

Sudah, Ubertwitter! berhenti ngubernguber dong!


Monday, December 23, 2013

siang

Lelah membaca pagi aku mematung pada siang yang tegas. 

Bayangbayang tubuh di bawah telapak kaki. 
Bentuknya cukup aneh. Hitam pekat dengan garis tepi yang jelas
Debu dari gesekan sepatusepatu dengan tanah menyaru kabut.
Aku senang dengan nuansa yang ditimbulkannya. Keras. Menggairahkan.

Lalu diam terasa ribuan kali lebih menyenangkan dari mengeja.