sekelebatsenja

Tuesday, December 31, 2013

blarak

Entah sejak kapan saya merasa aroma bakaran blarak atau batang daun pohon kelapa itu spesial. Sama spesialnya dengan aroma yang ditimbulkan oleh minyak kelapa yang sedang dipanaskan. Keduanya sering membius saya pada level kebengongan yang sejajar. 


Mungkin nostalgia. Mungkin rindu masa kanakkanak. Maklum hidup di desa pesisir Bantul sana dulu saya tak mungkin tak akrab dengan bagianbagian tubuh pohon kelapa. Berikut baunya. Dari mulai akar, bluluk, bitingcengkir, manggar, bathok dan sebangsanya sampai produk olahan berupa minyak, legen, gula cetak dan tak lupa bakarbakaran itu tadi. 

Pagi tadi dengan tergesagesa seperti biasa saya memacu scoopy merah menuju kampus. Perjalanan ke selatan terhenti sebentar memberi kesempatan pada arakarakan bau blarak bakar. Lupa sudah kalau harus cepat sampai karena ada jadwal menguji. 

Aroma bakaran blarak di tanah rantau ternyata sama.
Seketika saya lega. Sisi kanakkanak saya masih hidup.

Friday, December 27, 2013

salju

Saya ingat salju maka saya ingat rumah batu, perapian, natal, dan kue jahe. Impian sederhana yang tidak sederhana seorang anak kecil negeri tropis. Bisa saja dibilang begitu. Begitu dekatnya imaji saya akan sesuatu yang terjadi jauh di ujung dunia utara atau selatan sana karena bukubuku yang saya baca. 


Hebat banget yah si buku bisa menyeret saya kayak begitu.

My Bears Counting House dengan ilustrasi yang kaya warna menjadi salah satu buku awal saya bersinggungan dengan salju. Ada 10 buku dalam satu kotak. Semua bercerita tentang keseharian keluarga beruang. Sebuah edisi tentang natal terlihat lebih lecek dari saudara buku yang lain pertanda sering dijamah. Beruang paling kecil sedang belajar membuat kue jahe yang terlihat menggiurkan dan hangat. Setelah semua siap saji mereka duduk bersebelahan di depan perapian batu sambil memandang salju yang turun agak lebat di luar jendela. Momen menyenangkan bagi seorang pembaca belia.

Setelah itu saya sibuk bermimpi untuk memegang salju, duduk di depan perapian batu sambil makan kue jahe dan bergembira.

Dua puluhan tahun kemudian di ujung desember saya memegang salju, duduk di sebuah penginapan kayu yang tak punya perapian, menggigil kedinginan dan kelaparan.

Yah, agakagak mirip lah. Mirip jauh.

Tuesday, December 24, 2013

twitter

Tidak berkicau itu sulit.


Seminggu terakhir mencoba untuk tidak menggunakan twitter. Saya berhasil. Bukan tanpa alasan saya berhenti sejenak. Ini mengerikan. Lebih dari sepuluh ribu kicauan. Setengahnya terjadi selama setahun terakhir. Dalam satu hari berapa? 

Apa saya secerewet itu? Nyatanya memang iya. Mau bagaimana? Lalu ngapain?

Membuat rekaman keseharian yang bisa ditelusuri siapapun. Penting? Penting saja. Ya kadang penting. Meski seringnya tidak. Itu kenapa tetap pseudonym. Malu ah malu.

Memang tidak berkicau itu sulit. Kalau hanya dipikirin. 
Kalau dilakukan sulit kuadrat.

Sudah, Ubertwitter! berhenti ngubernguber dong!


Monday, December 23, 2013

siang

Lelah membaca pagi aku mematung pada siang yang tegas. 

Bayangbayang tubuh di bawah telapak kaki. 
Bentuknya cukup aneh. Hitam pekat dengan garis tepi yang jelas
Debu dari gesekan sepatusepatu dengan tanah menyaru kabut.
Aku senang dengan nuansa yang ditimbulkannya. Keras. Menggairahkan.

Lalu diam terasa ribuan kali lebih menyenangkan dari mengeja.

Thursday, November 14, 2013

menakar

saya belajar
sesuatu yang berhubungan dengan akar akaran sekaligus akal akalan
perlu dirapikan ketika sudah takaruan tumpang tindih
tanpa matiin tumbuhan yang bertumpu padanya
jadi harus hatihati
tentu

akar itu di dalam tanah. biasanya
yang tidak biasa yang tidak di dalam tanah

hati ada di dalam tubuh. bertetangga dengan organ dalam lainnya
otak ada di batok kepala. biasanya

menakar.
mangakal akali akar akaran.

Thursday, August 29, 2013

svara

mata bulat pipi tembem rambut jepun kulit coklat mengkilat. 

aku jatuh cinta berkalikali padamu, svara.
lesung pipit saat kamu terkikik. 
meom ucing. begitu bisikmu
lalu tangan mungil menunjuk ke luar jendela. 
menggemaskan sekali.

rupanya hari ini akan kugigit lagi pipimu.


Thursday, August 22, 2013

Isyarat

Siang ini saya ingat Mbah Medelan. Dibaca seperti menyebut 'd' pada huruf hijaiyah 'dal', 


Lebaran kemarin menjadi yang terakhir bertemu dengan salah satu mbah dari bapak yang tersisa di lereng gunung merapi itu. Kebon duren yang luas dan kali yang jernih, itu dua hal yang bikin saya senyum kalau ingat.  Dulu waktu masih kecil di hari lebaran saya suka beredar di situ sebelum diteriaki kalo ada ular atau bisa kejatuhan duren. Padahal duren yang matang mana mungkin dibiarkan jatuh. Kemahirannya membuat jenang yang mantap juga terkenal banget sampai ke pesisir. Kalau ada acara penting seperti lebaran, kawinan, dan acara bahagia lain si mbah suka bikin jenang. Rasanya khas. Seperti ada rasa cinta yang diselipkan dalam tiap adukannya. Memang agak berlebihan sih.

Bukan itu sebenarnya yang ingin saya ceritakan. Ada hal yang lebih bikin saya bergidik. sebabnya si mbah tau kapan dia akan tindak, panggih Gusti, alias seda alias meninggal. 

Isyarat datang lebih dulu sebelum kematiannya.

Jauh sebelum lebaran beliau sudah tergolek lemah dengan bantuan tabung oksigen. Namun demikian matanya masih berkedip dan bibirnya masih menggumamkan sesuatu. Lelaki yang sejak seminggu lalu menungguinya sesekali mengurut kaki simbah. 

Kowe do mreneo kene, bakdo ping pindho aku arep munggah |
Ten pundi mbah? Njenengan ampun menggalih noponopo to mbah. Istirahat mawon |
Ora. Mreneo kene kabeh anak putuku. Rungokno, kumpulo sing rukun yo kowe kabeh |

Kami semua diam. Sibuk dengan pikiran masingmasing. 

Esok pagipagi sekali pada lebaran kedua simbah bukan dipundhut, tapi munggah, menemui tuhan. 
seperti katanya. 
saya terhenyak. 

Sunday, August 18, 2013

cucian

Biar biru jadi beku. Air cucian anti bakteri sekali bilas. Biru. Biru beku.

Tidak begitu menarik memang menceritakan air cucian rendam semalam.
Selain harus dibuang masuk ke saluran pembuangan lalu dilupakan.
Celanacelana luntur dipisah dari pakaian lain. Beda kelas. Lain kategori.
Perlu penanganan khusus. 
Harus agak cermat agar tetap mengkilap.
Bisa saja dicampur tapi warnanya jadi blawur.

Air air cucian yang luntur dan tidak,
Ketemu lagi di got berlumpur hitam.
Colorless.

Semoga penting.