sekelebatsenja: 2008

mari kita sebut: catatan akhir tahun

desember hadir dengan beberapa penyesalan, rasa bersyukur dan sebuah rencana besar. mungkin saya tak lebih baik dari siapapun, tapi saya tahu persis siapa saya. meringkas apa yang telah berjalan selama 366 hari dalam beberapa poin boleh juga, tak begitu salah kan bila saya mencatatnya?

1. mengkritik itu mudah, memperbaiki kesalahan kecil juga tidak lebih sulit
2. kalau bisa menghemat, menyelamatkan beberapa hal.
3. butuh teman yang bisa 24 jam bersamamu? ke laut aja. pada dasarnya kita sendirian kok.
4. musti banyak belajar tentang: moral imperative of being superior. masalah tak penting tak usah diperbesar. setidaknya tahu dimana menempatkan diri.
5. honesty is a universal currency. klise bukan? saya pikir juga begitu.
6. semua orang punya 24 jam tiap harinya. masalahnya mau diapain 24 jam itu.
7. menulis bukan hanya masalah memulai tanpa memikirkan jeda dan akhirnya. 
8. beasiswa itu dimanamana. sebenarnya tinggal dijemput saja. sayang diluar hujan, saya tak punya payung dan tak cukup berani berlari dibawah guyurannya.
9. pada saatsaat tertentu orang butuh waktu untuk sendiri.
10. mencoba membayangkan perasaan yang tak pernah dimiliki itu butuh penghayatan. kadang saya bukan penghayat yang baik.
11. saya tak ingin lagi diributkan dengan masalah percintaan. saya sudah sampai pada apa yang kuinginkan. saatnya bersiap untuk hal yang lain.
12. keinginan untuk didengarkan itu besar, tapi bersabar untuk bisa mendengarkan itu perkara lain. saya tahu saya tidak sabar.
13. kegagalan adalah kegagalan. dan akan tetap jadi sebuah kegagalan kalau terlalu keras kepala. dan tentu saja... penakut.
14. sering saya salah menilai orang. ternyata saya sampai pada kesimpulan sementara: tak cukup percaya pada kesan pertama. 
15. sst, saya sailor mars. sailor mars. bukan sailor moon. 
16. ego saya besar namun ternyata saya tak cukup baik mengelolanya. lain kali tak boleh begitu.
17. skala prioritas tetap penting, meski dalam beberapa hal saya butuh variasi.
18. bukan masalah bagi saya untuk anggap diri saya lebih baik dari orang lain. tapi itu masalah bagi beberapa orang. i don’t give a shit. do i?
19. saatnya menghadapi orangorang berkepala batu, sama seperti saya. tapi setidaknya saya masih mau dengar apa kata orang lain. saya tidak bebal. mau coba?


akan lebih panjang lagi bila saya ingat semuanya 
hmm

poppo, bubbi, monmon


saya punya binatang peliharaan lagi!
sebenarnya agak kaget juga, setelah tragedi tupai tewas dan pus yang melanjutkan pengembaraan ternyata saya tak kapok punya binatang peliharaan.

ada 3 kucing kampung berumur satu minggu yang kini menghuni beranda samping rumah. 2 ekor berwarna hitam putih dan abuabu, sedangkan seekor lagi berwarna putih dengan sedikit totol hitam dan abuabu, ketiganya punya mata biru. saya pikir kedua ekor yang hampir sama warna bulunya itu kembar sedangkan satunya lahir belakangan.

bapak saya yang tibatiba saja menekuni hobi lamanya naik sepeda pagi itu menemukan mereka pertama kali di jalan yang sepi dekat sawah, tampaknya sengaja dibuang oleh si pemilik sebelumnya.

para kucing dibawa pulang, dimasukkan kardus dan diberi selimut. mereka tampak masih lemas. mungkin kaget, mungkin kehausan. pemilih juga rupanya kucingkucing ini, karena susu anlene punya ibuk yang saya taruh di wadah kecil di pojokan tidak disentuh sama sekali. mereka kan haus dan butuh susu. bukankah anlene juga susu? ah, sampai disini tampak bodoh sekali saya.

akhirnya hari itu juga berbelanjalah saya ke department store (karena pet gallery di sagan tutup!) membeli perlengkapan bayi. pikir saya tentulah para kucing itu belum dapat minum sendiri dan perlu campur tangan induknya, dalam kasus ini saya bertindak sebagai induknya. jadilah saya ambil dot kecil, selimut berbahan handuk dan susu bayi usia 0 bulan. langsung saya menuju kasir tak menghiraukan tatapan para SPG yang seolah berkata “wah si mbak ni pasti MBA deh, liat aja masih muda banget udah punya bayi. kasihan ya”.

untuk hal ini, saya setuju mereka di bagian “masih muda banget”.

para kucing sudah menanti dirumah dengan meongan yang paling mellow. benarbenar haus rupanya. saya cukup kasihan dengan mereka, masih kecil sudah harus merasakan derita dunia. ah, mulai ber-drama-queen saya. untung para kucing suka dengan susu bayi dalam dot itu, lalu tidur. saya pun lega.

tapi ada yang tertinggal tampaknya.

ya. sebuah hal penting.
memberi nama! ini bagian yang saya suka. nama apa saja. bayi saudara, pohon, kucing tetangga, bunga, pokoknya saya suka memberi nama. rasanya seperti orang indonesia yang heboh ketika obama terpilih jadi presiden amerika serikat.

berbagai nama melintas dikepala saya. pertama kali para kucing akan saya namai temanteman saya, tapi saya yakin mereka akan bermuka sepet ketika main ke rumah besokbesok. kedua kali, saya pikir nama tokoh pujaan akan tampak oke saya sematkan, tapi ternyata saya tak cukup baik hati untuk membaginya dengan para kucing. akhirnya nama makhluk tak terdefinisikan macam poppo, bubbi dan monmon jadi milik mereka.

poppo untuk si hitam-abu-putih ekor panjang, totol putih di belakang kepala dan paling agresif.
bubbi untuk si putih totol hitam ekor panjang, totol hitam, paling manja dan genit.
monmon untuk si hitam-abu-putih ekor pendek dan paling doyan susu.

humm, puas juga dengan namanama lucu ditelinga itu. tampak baikbaik saja dan tidak terlalu wagu seperti pilihan seorang pemilik anjing semalam ketika saya membeli aksesoris telepon genggam di dekat pasar kranggan. saat itu saya agak terkaget ketika ada seekor anjing golden retriever amat besar, tampak kuat (ukurannya macam kambing gigantis) diberi nama “nadia”. niat mau tertawa kuatkuat tapi untung tak bisa. ya sudah, dalam hati saja saya membatin “anjing segede itu kok dikasih nama nadia. wagu tenan. gak cucok bener sih bo’ ”

saya bersyukur. untung para kucing yang tampak jantan itu tidak jadi saya kasih nama: dina, dewi dan candra.

balada jeruk anget

minuman yang paling sering saya pesan kalau sedang jajan adalah air jeruk yang dikasih sedikit gula dan air hangat, alias jeruk anget. 

kenapa jeruk dan kenapa anget?
saya pikir, ini pilihan standar. bisa dipastikan hampir semua warung makan yang saya singgahi punya menu minuman ini. 

jeruk karena daripada nanti saya jadi manyun setelah bilang “mbak, pesan blueberry milkshake creamy satu” yang disusul serupa wajah nyengir campur bingung bilang
”apaan tuh mbak”. 
anget karena saya tak terlalu percaya dengan kualitas es balok selain bikinan rumah sendiri. apalagi saya punya masalah dengan perut yang melempem saat diguyur air dingin.

alasan lain: demi amannya saja. 
maksudnya, agar terhindar dari perasaan aneh seperti ketika saya menenggak campuran minuman ajaib macam es bumi hangus setelah makan soto pecel banyuwangi.

saya bersyukur, sampai saat ini jeruk anget cocok dengan makanan apa saja.

saking seringnya, saya jadi cukup pede untuk berpendapat bahwa si mbak warung srikandhi di sagan sana lebih punya taste yang baik serta ingatan oke akan jaminan mutu dan kepuasan pelanggan daripada si mas warung nasi talempong depan kedokteran hewan meski samasama memberi bandrol 1500 per gelas. 

perlu dicatat, walaupun resep jeruk anget sebenarnya sederhana: terdiri dari air jeruk, gula dan air anget, ternyata belakangan saya sadar bahwa untuk meraciknya memang perlu sedikit otak dan perasaan.

bagaimana tidak???
 
*ndangndut sekali ya judul saya diatas.
ah tak papa. barangkali saya hanya ingin curhat

bersama kawan, menengok sundak, menunggu senja.


rindu sekali pada pantai selatan.

ah, mari saya bikin lebih rinci.

rindu sekali pada pantai selatan gunung kidul
: krakal, kukup, sepanjang, wediombo, ngandong.
kali ini pantai sundak menjadi tujuan kami, sembilan orang yang haus pantai, kecuali seorang yang tak tahan dengan angin pantai selatan yang keras itu.

berbeda dari pantai di daerah bantul atau kulonprogo, pantai di gunungkidul tampak lebih bersih karena pasirnya putih. diatas hamparan pasir dan air yang maha luas itu, matahari bertengger dengan cantiknya. itulah yang selalu saya rindukan. pasir putih, air dan matahari

dan seperti hujan di bulan juni, larut malam itu saya mendapatkan sebuah pesan di yahoo messenger: “mau ikut gak ke sundak besok sabtu? nyewa mobil aja, nanti kita urunan”
sudah pasti jawaban saya adalah ya. saya tak punya pikiran untuk berkata tidak.

berangkatlah kami selepas dzuhur. mobil APV hitam sewaan punya kapasitas tempat duduk delapan orang, tak apalah kelebihan satu penumpang asalkan masih bisa bernapas dan jalan tanpa hambatan. tentu saja saya pilih duduk di sudut kiri belakang. seperti menumpang mobil bapak saya saja.

ombak bergulung sedang saja. tak seperti ketika saya terakhir kali ke sundak. saat itu tampaknya gravitasi bulan sedang maksimal.

saya pakai celana pendek. langsung menghambur ke air begitu turun dari mobil. setengah menggumam saya bilang: “halo sundak, kita berjumpa lagi” seperti pada kawan lama. perjumpaan kali ini ada bonus: datang bersama empat fotografer dan kameranya masingmasing. kami [saya!] jepratjepret. di atas pasir, dekat pandan laut, di air, batu karang, warung, ketinggian, kapal, senja

ya. kami tinggal sampai matahari mencium cakrawala, meninggalkan semburat jingga di kanvas raksasa. persis seperti bayangan saya. siluet kami bersembilan pun ada di memory card sebuah kamera.

gemuruh semakin gaduh, semua tampak gelap. saatnya berkemas. badan butuh bersandar di kursi empuk. terlelap mungkin.

mungkin tidak. di perjalanan pulang saya masih sempat menjawab: cinta merah jambu nia lavenia ketika seseorang dari kami di kegelapan dan hembusan angin malam bertanya: coba sebutkan lagu apa yang mengandung nama tumbuhtumbuhan?
tentu, sebelum yang lain menyambung dengan: apa nama jubah emas saint seiya?

menyenangkan sekali, kawan!

masih menunggu fotofoto di aplot di facebook dan flickr

selamat hari jadi, ibuk

aku ingin menulis sedikit tentang ibuk, seseorang yang selalu membuatku bersyukur dengan caraku sendiri.

ibukku adalah orang biasa, bukan seorang menteri. tapi ya, kenyataan bahwa dia sibuk itu benar. karena kesibukannya itu pula ketika kecil aku merasa tak punya cukup banyak waktu bersamanya, setidaknya menurutku yang saat itu berumur 5 tahun, manja dan jablay. karena kesibukannya jugalah aku merasa agak jauh dengan ibuk. kami berjarak. ibuk menghabiskan banyak waktunya dengan bekerja. enam hari dalam seminggu, delapan jam dalam sehari. kadang ibuk juga memberi pelajaran tambahan bagi muridmuridnya-ibukku seorang guru. sementara dia mengajar aku ditinggal di sebuah rumah kosong dengan secarik pesan “tidak boleh bermain korek api”. aku kecil merasa ibuk tak cukup memperhatikanku, aku merasa ditinggalkan. namun kelak ketika besar aku tahu bahwa sibuknya ibuk itu untukku juga, agar segala kebutuhanku terpenuhi. 

sedari kecil, sulit bagiku untuk sekedar berkata ”buk, aku sayang ibuk”, memeluknya, ataupun sekedar memberi sebuah senyuman kecil baginya. padahal kulihat temantemanku sepertinya biasa saja melakukannya dengan ibu mereka masingmasing. entah kenapa aku tak bisa, lidahku serasa kelu ketika hendak mengucapkan ‘aku sayang ibuk”, meski dengan lirih. tanganku juga terasa aneh ketika hendak memeluknya. hal paling intim yang pernah kulakukan adalah mencium tangannya, tak lebih. tak ada bisikan sayang, peluk, atau senyuman kecil yang centil sebagai tanda sayang seperti yang kulihat dari temantemanku. 

beranjak remaja tak setiap perkataan ibuk kuikuti dan kuamini, kuanggap ibuk sering mencampuri urusanku, terlalu sering berkomentar ini itu, selalu khawatir yang berlebihan. pernah suatu saat aku membuatnya menangis. aku menyesal. ingin aku minta maaf, namun aku tak mampu. sulit sekali. tapi di hari berikutnya ibuk bersikap biasa saja padaku, aku malu pada diriku sendiri dan pada ibuk, aku pun hanya bisa mengucap maaf dalam hati. kelak aku tahu bahwa ibuk hanya tak pernah inginkan hal buruk terjadi padaku, anaknya. yang aku yakin dengan sepenuh hati selalu dicintainya.

buk, aku bahagia ibuk masih sehat diusia yang tak lagi muda ini. aku bersyukur ibuk masih diberi kesempatan melihat anakmu ini lulus perguruan tinggi seperti yang selalu kau katakan: “anak perempuan harus jadi orang yang kuat. sekolah yang tinggi, terbang yang jauh, jadi orang.” 

aku tenteram karena kau ada disana, melihatku tumbuh. 

buk, aku ingin kau tahu bahwa aku sayang padamu, maaf bila tidak seperti cara orang lain mengungkapkan pada ibu mereka, dengan peluk dan cium. aku menyayangimu dalam tangisku ditengah malam yang sepi, dalam setiap kegagalan yang menimpaku, dalam setiap sikap kasarku yang menerbitkan penyesalan yang dalam.  

buk, aku ingin minta maaf bila di hari ulang tahunmu, anakmu ini belum bisa memberikan hal yang lebih kecuali sebuah ucapan yang selama ini tertambat di bibir..
“selamat hari jadi, ibuk. aku sayang ibuk..”

saya ingin menyanyi lagi

begitu mendengar langsung iga mawarni manggung di acara djarum super on art: ngayogjazz 2008 di desa wisata tembi, bantul semalam membuat saya ingin kembali menyanyi-sekedar catatan: ternyata memang tebal begitu suaranya, jadi bukan mixing, saya tak penasaran lagi. saya jadi setuju juga dengan seorang kawan penggemar jazz kali ini: “tuh perempuan emang layak dipanggil scented goddess, suaranya tebal, adem, dan anggun”.

meskipun saya masih lebih ‘suka’ syaharani-dan agak sedih karena tak jadi datang-yang bersuara seksi itu, tapi iga mawarni oke kok. oke yang berbeda.

kembali lagi pada keinginan saya. sedikit narsis, saya juga pernah menyanyi lho bo’. namun setelah saya ingatingat, terakhir kali saya menyanyi-menyanyi sungguhan! bukan menyanyi di kamar mandi-adalah ketika saya ada di semester lima. ya ampun, sudah lama sekali ya. benar. maklum, saya terlanjur dikubur oleh kegiatan lain. saya sampai lupa apa saja yang bikin saya berhenti mendendangkan lagu. padahal menurut beberapa orang yang saya kenal dan tidak saya kenal, suara alto nan jazzy saya ini oke punya dan ada kesempatan ‘jadi’ kalau saja saya konsisten bernyanyi dan tidak “larilari kesanakemari”.

setidaknya, aura jazz semalam telah menarik saya untuk menyanyi lagi.
selamat buat saya!  

g day

ghra sabha pramana disesaki mereka yang larut dalam seremoni para bekas mahasiswa.

panas. make up. cokelat. berkeringat. PSM. kagama. dekan perempuan. kipaskipas. capek. merah tua. temanteman. biasa saja. fotografer kebanyakan gaya. possibly a mind reader. rok oranye. nduti. pegal. lapar. ngantuk. hujan

ya, aku cabut! 

lainnya: di sini

berawal dari i cento passi

saya suka sekali dengan lagu a whiter shade of pale dari procol harum ini. saking sukanya, lagu ini saya jadikan backsound blog. magical. membuat saya menjadi lebih tenang setelah mendengarnya.

semua berawal dari sebuah kelas bahasa italia. si dosen bule itali, laora romano mengajak para mahasiswa menyimak sebuah film besutan marco tullio giordana-kawannya- yang berjudul i cento passi. film italia tentang mafia (ya iyalah!). saya ada diantara kerumunan itu. menyimak dan menghayati

di film itu ada sebuah adegan ketika sang anak lakilaki sedang melamun memikirkan hubungannya dengan ayahnya yang memburuk dan menyesali maaf yang tak tersampaikan. lagu a whiter shade of pale pun mengalun lembut. sontak air mata saya mengalir dipipi menyaksikan kehebatan kombinasi visual dengan audio yang ada di depan saya. 

kesedihan si anak lakilaki sudah mendatangkan rasa haru. tambah 'disayatsayat' dengan lagu ini!

bisa ditebak, saya lalu jatuh cinta sama lagu ini. saya buru segala info tentangnya. sekaligus mengunduhnya di internet secara ilegal, tentu saja!

ah, dasar orang Indonesia.

lelaki

lelaki, 
masih terasa hangat desah nafasmu di telingaku ketika kau bisikkan sebuah pesan rahasia. aku masih ingat, hatiku yang keras seketika meleleh. lalu hujan bertamu. ia mengetukngetuk kaca jendela berkusen hijau lumut di pojok kamarmu. mengajak hatiku yang melumer untuk menari dalam tariannya.

aku masih ingat. aku larut. seperti gula batu yang diseduh air panas dan kau aduk sebelum kau masukkan cairan teh kental. kau sering bilang teh hangat itu minuman kesukaanmu. juga ketika hujan. 
 
setelah hujan pergi kupikir aku akan melanjutkan terbang. beranjak dari dekap yang nyaman. berjarak dari segala bentuk kehangatan. terbang diatas lautan lepas. melintas padang tinggi. hinggap, meluncur, menari,
terbang. 

namun
tahukah kau, lelaki?

aku tahu,

ternyata yang kuinginkan adalah di sini, duduk di pinggir jendela berkusen hijau lumut di pojok kamarmu. menikmati teh hangat dari gelasmu. menatap pelangi, hadiah dari hujan. mungkin memelukmu sesekali. mencubitmu sambil tersenyum. 

lalu sebelum senja kupastikan aku tak lupa bisikkan sesuatu,
“aku ingin tetap di sini, menjadi tua bersamamu”

jangan kau tanya arti puisiku mario

Untuk Robert Frost dan The Road not Taken-nya

Saya sependapat dengan Horace yang pernah mengatakan bahwa puisi itu layaknya imaji atau gambar. Ut pictura poesis, katanya dalam Ars Poetica. Sederhana, sebab kata-kata yang penyair untai berusaha membangun sebuah penggambaran tertentu dalam benak pembaca. Seberapa berhasil sebuah puisi mengesankan saya tergantung dari sejauh mana ia berhasil mengkonstruksi imaji dalam pikiran ini.

Saya sedari dahulu kagum dengan penyair-penyair tertentu yang mampu menggali kekuatan kata-kata untuk menghadirkan bayangan yang luar biasa magis bagi saya. Coba kita simak bersama salah satu sajak dari Goenawan Mohammad ini, Lagu Pekerja Malam:

Lagu pekerja malam
Di sayup-sayup embun
Deru menderam

Saya terkesan pada larik kedua puisi tersebut yang dengan cermat dan cerdik menaruh kata sifat sayup-sayup untuk embun. Luar biasa. Dalam bayangan yang hadir di kepala saya, terlihat suasana riuh kota dini hari dimana embun tipis putih menghalau pandangan, yang kadang terlihat kadang tidak.

Atau satu sajak lagi yang selalu menjadi favorit saya, La Seis Cuerdas atau The Six Strings dari Federico Garcia Lorca:


The guitar
makes dream weeps
the sobbing of lost
souls
escapes through its round
mouth.


Hati saya tergerak oleh khayalan tentang anak-anak muda yang mengambil gitar lalu mendendangkankan sepatah-dua patah lagu cinta yang mendayu-dayu. Mereka ini lagi nggrantes, kalau orang Jawa bilang. Dan itu benar, saya sendiri merasakan pengalaman ketika cinta ditolak lalu tergesa mengambil gitar dan menyanyikan lagu-lagu cengeng. Jiwa saya yang hilang terisak-isak lewat mulut bundar si gitar bersenar enam.

Hal diatas tadi selalu menjadi pertimbangan utama saya dalam membaca puisi. Oleh karena itu, puisi yang memikat selalu meng-KO saya dengan gambaran yang cantik sejak pembacaan pertama.

Sayangnya, The Road Not Taken dari Robert Frost kurang berhasil untuk melakukan hal tersebut.

Saat membacanya, imaji yang ia hadirkan dalam benak saya adalah seorang tua yang membatin. Frost sendiri. Di dalam termangunya ia mengingat dua buah jalan yang dulu pernah ia hadapi. Yang satu telah ia lalui dan membawanya hingga ke titik ini, sedangkan yang telah ia tinggalkan masih ia ingat jelas dalam kenangan. Jalan itu, dalam benak saya, jalan pedesaan yang bersemak-semak dengan rerumputan liar disisinya. Sebuah gambaran yang saya bingung sisi menariknya dimana.

Apa yang anda harapkan dari saya, seorang anak muda berumur dua puluh tahun dengan jiwa yang masih meledak-ledak, naif, dan tak berpikir panjang? Yang sajak-sajaknya selalu nakal, dan terkesan dengan sajak yang nakal pula. Yang jelas bukan sebentuk kebijaksanaan. Saya berpikir kekuatan puisi ini, saya akui sajak Frost tidak begitu saja gagal, ada di larik terakhir ketika ia menyatakan:

I took the one less travelled by,

And that has made all the difference.

Frost berhasil membuat saya menebak-nebak apakah ia menyesal ataukah jumawa dengan pilihannya. Namun ketika saya menyadari ia telah melalui jalan yang tak banyak diambil oleh orang lain, saya pikir penyesalan tentu bukan hal yang ingin ia sampaikan. Proud, mungkin lebih tepat. Saya akhirnya samar-samar menangkap meaning puisi ini. Namun yang membuat saya enggan adalah referencenya, yang jelas serupa nasehat. Puisi ini ada di luar horison harapan saya sebagai pembaca. Robert Frost jelas ingin mengatakan sesuatu pada saya, yang demi Tuhan saya sungguh tak tertarik.

Puisi yang membuat saya tertarik adalah puisi yang tak pretensius, yang tak ada kandungan nasehat didalamnya, atau setidaknya saya tak menduga seperti itu. Penyair cukup membagi pengalaman yang ia terjemahkan pada bahasa sajak, lalu sajak itu sendiri yang bercerita pada saya. Dalam The Road Not Taken, yang berbicara bukan sajak. Tetapi Robert Frost.

Saya percaya puisi yang bertahan adalah puisi yang selalu dimaknai terus-menerus, yang enggan untuk berhenti dan terjebak pada satu terminal analisis. Untuk itu ia harus dekat dengan dengan pengalaman, agar pembaca dengan subyektivitasnya sendiri menggauli dan menentukan nasib puisi tersebut. Jangan sampai pesan atau pretensi-pretensi yang menghantui pembaca dan memaksa memaknai. Sebab sekali berarti, sesudah itu mati ucap Chairil Anwar suatu kali. Robert Frost dengan The Road Not Taken-nya, menurut saya, lebih dekat ke beban pretensi yang ia bawa daripada membiarkan pembaca asyik dengan imajinya sendiri.

Robert Frost dan puisinya ini, baiknya dikumpulkan dengan Langston Hughes saat periode komunisnya ketika ia membuat puisi yang menggelikan tentang nabi baru bernama Karl Marx.

Lalu bagaimana seharusnya puisi digauli dalam keintiman antara pembaca dan sajak?

Jika anda sempat menonton Il Postino, ada adegan yang berisi pesan bagus dari seorang penyair kepada pembacanya. Digambarkan, suatu sore yang cerah ketika Pablo Neruda sedang mengobrol dengan Mario Ruipollo, si tukang pos yang gandrung dengan puisi cinta Neruda, sempat terlontar kata-kata yang menarik dari Don Pablo;

"Jangan kau tanya arti puisiku Mario. Cukup rasakan saja."

Ya, saya percaya begitulah seharusnya. Puisi yang sarat beban dan pretensius cukuplah jadi bacaan berdebu di perpustakaan, lalu raib ditelan jaman.

soedra

bulaksumur tumbang: kompleks ugm dihantam puting beliung

7 november 2008. jam menunjukkan pukul 14.45. hari panas. saya sedang duduk di bonbin-sebuah kantin makan di kampus sastra-dengan seorang kawan lama yang tertarik dengan pembicaraan tentang puisi dan cerita pendek. kami larut dalam diskusi yang cukup menarik. ia banyak bicarakan karyanya yang banyak tersortir garagara tak memenuhi ekspektasi pribadi. diantara kenikmatan menyeruput es teh dan mendengarkan keluhannya, sesekali saya mengeluhkan rasa gerah yang muncul akibat panasnya cuaca jogja akhirakhir ini.

14.50. 
tibatiba saja keadaan sekeliling menjadi gelap. entah, karena saya yang tidak memperhatikan hal itu atau karena memang tibatiba saja cuaca berubah. menyusul kemudian angin berhembus sangat kencang. bukan kencang, tapi sangat kencang. ia mempermainkan pucukpucuk pepohonan. dedaunan bergoyang hebat. ah, mungkin akan hujan lebat batin saya. beberapa hari belakangan setelah pukul 12 siang biasanya hujan berkunjung ke jogja. diskusi pun dilanjutkan.

benar. tak lama kemudian hujan menghujam dengan ganasnya. saya pikir itu bukan hujan biasa, karena bunyinya sungguh sangat tidak bersahabat. ternyata ia datang disertai angin yang bertiup kencang betul. kami sungguh mulai panik. pasti ini badai. karena tarian dedaunan sudah diluar batas wajar. menghentakhentak tak karuan. lalu berkumpul di tengah seperti terpilin. air hujan pun mulai menghantam seisi bonbin dari berbagai sisi. orangorang mulai saling pandang. “ada apa ini?”

kami semua tambah waswas ketika angin bertambah semakin hebat. melemparkan butiranbutiran air hujan. badan saya kuyup saking banyaknya air yang mampir di badan. kami tampak makin panik. “ini sungguh badai, kalau bukan puting beliung”. gerobak jualan mulai rusak dihantam angin. orangorang di bonbin mulai berlarian kesana kemari menyelamatkan diri. saya sempat mendengar seseorang berteriak dengan putus asa“ ini jumat kan? janganjangan kiamat!”. saya sempat memproses katakatanya dalam kepala, namun saya tak pikirkan lagi kelanjutan racauannya karena saya sudah terlanjur akan berlari menembus hujan menuju plaza-bangunan utama fakultas sastra.

saya meninggalkan kawan yang terjebak dalam kerumunan manusia di bonbin yang sedang berjuang menyelamatkan diri. saya berhasil keluar dari kerumunan panik itu dan berlari menuju plaza. tapi tidak mulus, di tengah jalan saya menjadi saksi tumbangnya pohon tua kalau tidak mau disebut sebagai calon korban pohon tumbang. sungguh. perasaan itu sangat mengerikan. perasaan berada dalam ketidakyakinan akan selamat. beku menghadapi sebuah pohon tua yang mungkin besarnya 3 kali badan anda tumbang ke arah anda. jatuh didepan mata anda yang menatap dengan panik. untungnya saya cuma kena pucuknya saja. saya lalu lari dengan tambah panik.

saya bawa kamera. mulailah saya merekam kejadian itu dari balik lensa setelah nafas saya mulai teratur. barulah saya tahu kalau genteng jatuh bertebaran, koran dinding dari kaca ‘mosak masik’, eternit tak mampu lagi menahan kucuran air yang membanjir membasahi tumpukan buku perpustakaan sastra. instalasi listrik jatuh tak berdaya ditunggangi pohonpohon tua yang tak kuat menghadang angin. para pohon bertumbangan. ada yang tumbang diatas motor sampai knalpot motor penyok jadi satu dengan rujiruji ban, ada yang tumbang diatas mobil escudo hijau tua akhirnya bikin si mobil terbelah dua, ada yang tumbang diatas mobil jazz biru bikin si mobil ringsek tak karuan. ada yang tumbang diatas kursi yang biasa saya duduki ketika makan siang. mengerikan sekali. 

sungguh mengerikan.

setelah amukan itu benarbenar berakhir, saya tersadar bahwa tidak hanya kompleks fakultas sastra saja yang remuk. fakultas ekonomi, filsafat, gelanggang mahasiswa, grha sabha pramana, kompleks purna budaya, pptik, kopma ugm, perumahan dosen ugm, rs dr sardjito, pusat studi wanita, bahkan salon kecantikan larissa tak luput dari kemarahan. hampir semua pepohonan besar tumbang. 

ya, bulaksumur tumbang. menjelang senja yang dirampas oleh hujan dan angin yang benarbenar marah.


*foto lain bisa dilihat disini

fakultas sastra, setelah revolusi tak ada lagi

Saya senang mengaitkan revolusi dengan sastra. Agen-agen peniup angin perubahan seringkali terilhami oleh karya sastra yang ia baca. Bukan kebetulan tampaknya jika Gie ada di Salemba, berjaket kuning dan berada di deretan garda depan generasi '66. Ia yang kini menjadi ikon para demonstran ternyata membaca Chairil dan Andre Gide di masa remajanya. Atau jika ingin contoh yang lebih terkini, Budiman Sudjatmiko dan aktivismenya yang menghebohkan bersama PRD ternyata adalah pengagum Hikmet Ran, penyair Turki yang bersama-sama dengan Pablo Neruda meraih penghargaan dari pemerintah Uni Sovyet di tahun 1950-an. Lalu saat kita berpaling ke seberang lautan, kita tak akan terkejut jika Ernesto Guevara de la Serna ternyata mengapresiasi Garcia Lorca. Kita tentu masih ingat ketika menonton biografi masa mudanya dalam mengelilingi Amerika Latin ditemani seorang sahabat, The Motorcycle Diaries, ia sering mengutip penggalan-penggalan puisi Lorca. Serta yang lebih familiar untuk anak muda sekarang, Subcomandante Marcos, tidak sekedar mengapresiasi tetapi ternyata sudah mengartikulasikan pikirannya lewat karya. Di sini kita jadi akrab dengan kumpulan karyanya yang bertajuk Kata adalah Senjata. Tak heran sebab sebenarnya dia seorang yang berasal dari kalangan ademis. Dunia film juga mengamini hal tersebut. Dancer Upstairs, film yang diadaptasi dari Novel karya Nicholas Shakespeare itu dengan cantik menggambarkan bahwa revolusi dimulai dari seseorang pemimpin yang berjiwa romantis. Disana diceritakan bahwa gerakan Maois revolusioner Sendero Luminoso di Peru, dipimpin oleh seorang yang melawan kekuasaan lewat teror yang puitis.

Tampaknya kesenangan membaca karya sastra membuat nama-nama besar diatas menjadi peka terhadap keadaan di sekeliling mereka. Tak salah, sebab sastra menawarkan semacam dunia kecil dimana mereka bisa terlibat serta berinteraksi sekaligus berempati. Dari empati ini kemudian timbul kesadaran yang mengendap bahwa ada yang tak beres dengan realitas. Banyak ketimpangan yang mungkin tak disadari jika kita tidak mengasah kepekaan dalam membaca keadaan sekitar. Walhasil, darah muda yang menggelegak segera mengambil sikap dan berpihak. Jelas, mereka sadar kemana seharusnya keadaan diperjuangkan; ada yang tertindas dan membutuhkan uluran tangan!  


II

  Pikiran yang agak naif, tapi kira-kira itulah yang saya pikirkan ketika masih berada di sekolah menengah. Saya dulu begitu terobsesi untuk masuk Fakultas Sastra. Saya merasa disinilah tempat bersemainya agen-agen pembawa kabar perjuangan. Terutama setelah saya membaca Catatan Seorang Demonstran-nya Gie, yang tentu saja masih berkover warna merah dan bentuknya kecil seperti novel, bukan yang bersampul Nicholas Saputra seperti sekarang. Saat itu tak jarang saya mengkhayalkan para mahasiswa berjaket kuning berdemonstrasi dan Gie berada di deretan paling depan para demonstran sembari tak henti-hentinya meneriakkan—maaf bukan umpatan semacam Soebandrio andjing Peking dan sebagainya—tetapi sepenggal dari Aku-nya Chairil Anwar: biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang! Sementara di balik aksi lapangan itu kantung-kantung perkumpulan mahasiswa diramaikan dengan diskusi sastra, mungkin sedikit komentar dari hasil pembacaan novel semacam Germinalnya Emile Zola (Saya tak tahu apakah novel itu sudah masuk Indonesia saat-saat Gie jadi aktivis, novel itu terbit tahun 1968). Lalu media kampus diramaikan dengan tulisan yang mengekspresikan protes dan idealisme mahasiswa yang dianggap subversif. Dunia yang dialami Gie romantik, dan eksotis. Ya, eksotis untuk anak SMU yang masih asing dengan dunia mahasiswa. Tak salah kiranya jika saat itu hasrat di hati ini masuk Fakultas Sastra sangat menggebu-gebu. Sederhana, saya merindukan pertemuan dengan rekan-rekan yang memiliki nyala revolusi di dadanya. Saya ingin mereka mengobarkan api yang sedang berkedap-kedip hilang bentuk di hati ini. 

  Tapi rindu saya karam, megap-megap dalam lamunan ketika saya memasuki tahun kedua di Fakultas Sastra Bulaksumur yang tercinta (saya memang tak jadi terdampar di UI). Saya pangling mencari figur-figur dalam khayalan saya dahulu. Lama sudah beta menyelusup tapi tak kunjung juga ketemu. Tak nyana, karena lelah tersesat dalam pencarian, entah kenapa saya menjadi teryakinkan bahwa revolusi enggan berkunjung kembali. Jelas revolusi dalam artian sempit semisal usaha mereproduksi lagi euforia '98 yang sudah lewat telah menjadi obrolan basi. Tapi bagaimana kabar "revolusi" dalam sikap, karya, serta usaha menjaga atmosfir dimana api gairah terhadap perubahan serta hasrat berkarya yang kritis itu tetap menyala-nyala? Indahnya kampus ketika setiap individu yang melakukan perjumpaan adalah entitas yang penuh vitalitas dalam mengemban sebutan mahasiswa sastra di pundaknya. Mereka adalah individu yang mabuk dengan poetry dan virtue. Saya tak tahu. Ah, mungkin benar kata Goenawan Mohamad: revolusi sudah tak ada lagi. Kini, ketika saya memasuki kampus dan melabuhkan pandangan ke sekeliling, saya selalu tergoda untuk berkomentar. Saya sadar, komentar saya pasti subjektif. Tapi tak ada salahnya dan ada baiknya juga kita bersama bertukar cerita.

  Melangkahlah masuk ke Fakultas Sastra, dan langsung saja lurus arahkan kaki anda menuju plaza (atau bahkan kini bonbin!) dimana berbagai mahasiswa berseliweran bertemu selintas lalu, berbagi kesan dan rupa. Di pojok-pojoknya anda akan menemukan sekelompok mahasiswa yang mungkin sulit dibedakan dengan anak SMU. Mereka tampak begitu hip dengan dandanan terkini ala distro dan pencitraan yang akrab bagi pemirsa MTV. Begitu asyik gosip populer bergulir diantara individu-individu tersebut yang mungkin bisa kita identifikasi sebagai mereka yang hanyut dalam konsumsi budaya massa. Bertanyalah tentang lagu-lagu yang menghiasi chart MTV ampuh, novel chicklit yang terbaru untuk kaum wanitanya, sneakers Vans seri apa yang sedang in, atau kapan film Sembilan Naga tayang di Jogja. Anda sedang mendiskusikannya dengan para pakar. Tapi jangan langsung mencoba topik diskusi seperti, apakah kamu sudah baca The Outsider-nya Camus? Eh, kamu punya bukunya Sade ga? Atau sedikit tajam dengan berdebat tentang payahnya hasil terjemahan karya sastra atau buku tertentu. Itu sangat beresiko membuat anda terlihat seperti Zarathustra di tengah pasar. Saya sering merasa sebagai sobat yang tertinggal atau bahkan idiot diantara para hedonis pengkonsumsi produk culture industry ini. Entah, tampaknya saya termakan ucapan Adorno ketika ia berujar bahwa orang-orang yang tak mampu berbicara dalam bahasa mereka bisa dicurigai sebagai idiot atau intelektual. Saya jelas bukan intelektual, jadi mungkin saya idiot.

  Selangkah lebih ke dalam menelusuri lanskap Fakultas Sastra, anda akan menemui mahasiswa-mahasiswa yang lebih serius. Menenteng ransel besar dan berat kesana-kemari, serta bergumam tak jelas tentang SKS atau nilai mata kuliah. Topik obrolan mereka lebih fokus, seperti bagaimana perkembangan skripsimu? Atau untuk yang lebih muda akan bercerita tentang nilainya yang kurang memuaskan ditambah omelan tentang dosen yang keparat. Menyenangkan bila berada di sekitar mereka, terutama mengamati determinasi mereka yang tinggi untuk segera menyelesaikan studi. Tak diragukan lagi, ini akibat pragmatisme yang timbul akibat makin meningkatnya biaya kuliah. Tapi saya takut jikalau sikap apatis mereka terhadap keadaan sekitar bisa berakibat terlalu jauh. Calon intelektual Mandarins, kata para tokoh Frankfurt school. Ya, rekan-rekan yang seperti ini biasanya tak ambil pusing dengan isu-isu seputar kampus maupun yang lebih kritis lainnya. Blueprint masa depan mereka sangat jelas; secepatnya keluar dari neraka kampus dan mencari kerja. Syukur-syukur bisa mandiri dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi bagi saya hidup seperti itu datar, tak bermakna. Dimana romantisme berkarya? Dimana revolusi masa muda? Kasihan. 

  Lebih ke dalam lagi di Fakultas Sastra. Mungkin sekarang sisi-sisi gelap agak terungkap. Berkunjunglah di malam hari ketika Sastra sedang berpesta dalam musik yang ceria. Selain mereka yang berjoget seiring musik yang menghentak, di beberapa sudut mungkin anda akan menemukan beberapa teman yang duduk melingkar mengelilingi gelas minuman. Perkenalkan, ini teman-teman kita yang menghayati Baudelaire dengan sepenuh hati: mabuk dan mabuklah! 


Get drunk and stay that way
On what?
On wine, poetry or virtue, as you wish...  

Jujur, saya juga bagian dari mereka; rekan-rekan yang akrab dengan air kedamaian. Bagi saya alkohol terkadang perlu untuk menjaga kegelisahan, dan kegelisahan adalah tempat bersemainya inspirasi (namun saya juga berusaha mengingat poetry dan virtue, tidak sekedar wine). Satu hal yang ditakutkan; perjamuan dalam kadar yang berlebihan bisa membawa efek yang tidak diinginkan, setidaknya membuat kita menjadi tidak produktif. Karya tidak lahir dari entitas yang hidup dalam dunia bawah sadar. Saya juga segan jika saya lebih dikenal karena hobi saya menenggak minuman daripada sebagai seorang mahasiswa sastra. Terkadang usaha mendisiplinkan tubuh juga perlu, bukan begitu?

  Berlawanan dengan kamerad-kamerad pengkonsumsi alkohol tadi adalah teman-teman kita yang sangat religius. Anda tak usah kemana-kemana untuk mencari mereka, di Sastra mereka ada dimana-mana. Tampaknya tak pas membicarakan revolusi atau karya yang subversif dengan rekan-rekan ini. Sebab tak ada riak ombak di laut yang dalam, pepatah lama mengatakan. Jadi mari kita batasi topik ini hanya pada kita yang masih bingung memilih antara religi dan religiositas, dua hal yang bagi Mangunwijaya jelas bedanya. Apalagi untuk saya yang sering mengutip Subagio Sastrowardoyo, salah satu pahlawanku, untuk menggambarkan hubungan saya dengan Beliau: 

Bapa di sorga.
Biar kita jaga jarak 
Ini antara engkau dan aku
Kau hilang diantara keputihan ufuk
Dan aku tersuruk ke hutan buta...  


Berbahagialah mereka yang merasa telah menemukan lentera di ujung perjalanan.

  Satu lagi dari Fakultas Sastra; "bidadari-bidadarinya". Sayang, saya tak tahu banyak tentang mereka. Apakah mereka kebanyakan bertipe licin dalam memperdaya lelaki seperti Lolita dalam novelnya Nabokov, gemar berpetualang karena materi seperti Madame Bovary, ataukah yang setia walau derita mendera seperti Hester Prince, entahlah. Saya berharap mereka tertarik dengan "revolusi" yang kita bicarakan. Anda lihat-lihat sendiri saja, siapa tahu anda menemukan satu dara yang bergaya Rive Gauche ala Paris '68 atau Flower Generation alias Hippies tahun 60-an. Lumayan, untuk ditanyai motivasinya tampil beda atau ngobrol tentang Howl-nya Allen Ginsberg:


I saw the best mind of my generation destroyed by
madnes, starving hysterical naked,...  


III

  Lalu dimana Fakultas Sastra yang banyak menginspirasi dan melahirkan para pembawa nyala api revolusi di dadanya? Dimana calon Gie-Gie baru? Dimana Rendra-Rendra baru? Mereka tampaknya tersingkirkan diantara keriuhan pesta pora Fakultas Sastra yang kian riang dan dekaden. Mereka makin asing dengan gedung-gedungnya yang makin tinggi dan menebarkan kemapanan. Mereka mengingatkan saya pada perasaan yang Ayip Rosidi ungkapkan dalam puisinya berjudul New York, musim panas tahun 1972: 

Disini matahari terbit 
  tapi entah dimana
Disini matahari terbenam
  tapi entah dimana
  Sinarnya tak pernah tiba di bumi
  tersangkut di gedung-gedung tinggi 


Ya, Fakultas Sastra kini mirip metropolitan New York, dengan bule-bule lalu lalang kesana kemari. Ia makin asing bagi mereka yang merindukan suatu revolusi yang romantis. Ia semakin berjarak dengan sejarahnya yang pernah melahirkan nama besar seperti Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Rendra dan Umar Kayam.

Lalu saya? cuma seorang flaneur di tengah hiruk-pikuk tersebut. Saya berusaha bercerita dari sudut pandang seorang pejalan kaki yang mengamati. Inilah tampaknya realitas di saat aktivisme dalam karya tak lagi memikat, di saat media kampus mulai sekarat, di saat tangan yang terkepal dan lagu darah juang mesti disimpan rapat, disaat Iwan Fals pun mulai menyanyikan lagu cinta, di saat –mungkin—revolusi sudah tak ada lagi.  

(Padahal masalah tetap ada, realitas belum banyak berubah. Negara makin voyeuristic dan represif ketika blog pribadi bisa dipermasalahkan, kampus tak becus dalam mengurus GAMA card, DPR makin menggelikan dengan UU yang nyeleneh, dan seabrek masalah lain yang membuat kita mual secara psikis. Sudahlah, amini saja apa yang terjadi. Mari terus bermimpi!)
2006

potret sang mahasiswa sebagai rimbaud muda

Saya ingin memulai tulisan ini dengan kisah seorang Arthur Rimbaud, sang petualang. Umurnya belum genap dua puluh saat pertama kali ia menyeret langkahnya menggelandang di Eropa pada tahun 1874. Ia lewatkan hari-harinya di Brussel, Antwerpen, London, bahkan hingga ke Stuttgart dan Marseille hanya untuk merangkak dari bar ke bar, meniduri pelacur-pelacur kontinental, dan tak lupa bertaruh nasib di helai-helai kartu remi. Tak heran jika penanya saat itu menggores tajuk-tajuk semacam Le bateau ivre (Kapal Mabuk), atau yang serupa pengakuan: Une saisons en enfer (Semusim di Neraka). 

Di Antwerpen dan Marseille saat ia bekerja sebagai kuli pelabuhan, sempat terdengar olehnya bisik-bisik tentang sebuah terra incognita yang bernama nusantara. Barangkali terpesona atau bahkan tergoda, ia bergegas ke Handerwijk pada 18 Mei 1876 untuk mendaftar sebagai serdadu Nederland Indies. Genap dan usai sudah dua tahun petualangannya di Eropa saat ia diterima keesokan harinya sebagai relawan. Sebuah kapal bernama Prins van Oranje lalu melayarkannya menuju Batavia pada 10 Juni 1876. 

Layar terkembang, ombak beriak, sauh dilempar usai mengayuh, mendaratlah Rimbaud. Tangsi Meester Cornelis di Jatinegara menjadi persinggahan pertamanya sebelum ditempatkan di Salatiga. Kehidupan baru Rimbaud pun dimulai: sebagai serdadu bayaran di Hindia dengan sebatang pena untuk menulis puisi. 
***
Saya menoleh Rimbaud usai bersua seorang rekan yang selama ini saya kenal sebagai aktivis mahasiswa. Ia bercerita banyak. Tentang tualang, suka-duka berkelana di rimba organisasi, serta kemuakan yang terlanjur ia hirup dari kenangan menjadi aktivis. Kesan yang saya peroleh meyakinkan saya bahwa hari-hari ini ia lebih reflektif memandang dirinya. Jauh beda saat silamnya ia masih seorang maba ingusan yang gandrung dengan hiruk-pikuk dunia kampus. 

"Sudahlah. Ada hal lain yang seharusnya bisa saya lakukan". Agak malu juga ia jika mengingat masa lalu yang tak lugu. Saat ia begitu naif, mirip rekan-rekan yang berkobar diatas mimbar dalam demonstrasi tiada henti. 

Saya kemudian berpikir. Pada masanya agaknya organisasi, identitas aktivis, plus Marxisme jadi mitos baru. Serupa doxa bahwa kurang afdol jadi mahasiswa kalau tidak sempat mencicipi dunia para aktivis. Dahsyat jadinya. Ketika jaket hijau kanvas dan emblem slogan hukumnya bukan lagi makruh, jadi sulit dibedakan mana yang aktivis beneran, mana yang kalau rapat organisasi cuma jadi notulen serabutan. Yang penting: tampilan mirip Ali Topan dan bisa ngecap sedikit-dikit tentang Marxisme, proletariat atau semacamnya. 

Saya sendiri pertama kali mengenal Marx lewat tulisan Romo Frans dan kartun Rius. Lalu baca German Ideology juga sedikit-sedikit. The Marx-Engel Readers cuma sempat singgah di kamar kos, tak sempat dibaca. Das Kapital tak jadi dibeli sewaktu ketemu di Soping. Cuplikan Grundrisse baru mulai dibaca sekarang. Yang paling banyak ya baca lewat zine-zine kiri reaksioner. Duh, semangat tenan. Tiba-tiba rasanya jadi kritis membabi buta. Sepatu Adidas yang dipakai di kaki tiba-tiba terasa tak nyaman sejak mengetahui bahwa nilai tambahnya tidak dinikmati oleh para buruh harian di Tangerang melainkan kapitalis gendut berdasi yang lagi rapat di Manhattan. 

Mungkin hal yang sama juga terjadi pada teman saya yang pada masanya adalah orator ulung di atas mimbar. Yang dahulu tanpa pikir panjang ingin gabung organisasi. Menumpas ketidakadilan, misinya.

Mencoba berbicara lepas, rekan tercinta ini sempat militan dengan motivasi tak karuan. Ia seakan beriman teguh pada sebuah "medan tempur". Untungnya ia melakukannya bukan dengan kesengajaan yang fatal. Tapi lebih karena didorong oleh keterpesonaan akan sesuatu yang tampak gagah bagi pikiran seumurannya. Tak salah kiranya jika ini disebut dengan ilusi masa muda: jiwa avonturir dan akal pendek dicampur dengan keterpesonaan tadi bisa menjelaskan pertautan emosionalnya dengan sebuah perjuangan imajinatif. Usaha untuk singgah dan menaklukkan ranah asing yang suatu saat bernama kapitalisme global atau di saat lain komersialisasi pendidikan. Mirip Rimbaud yang tergesa-gesa jadi serdadu Kumpeni.

Kini sikapnya berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Daripada ikut demonstrasi, kenapa tidak menulis saja? Mahasiswa pasti bisa menulis. Daripada koar-koar di jalanan melantur tentang konsep-konsep sakti yang bahkan belum pernah dibaca buku babonnya. Mentok pada aksi turun ke jalan, seakan menunjukkan mahasiswa makin miskin kreativitas." Kamerad saya itu menyemprotkan unek-unek yang sudah karatan ia pendam.

"Musuh mahasiswa sekarang bukan negara, bukan juga kekuasaan global yang mereka sangka memperkosa kampusnya. The true enemy of this bunch was not State Power but Lack of Imagination." Senyum simpul menghiasi bibir saya saat ia melempar joke dari percakapan Watanabe dan Midori dalam Norwegian Wood karya Murakami. 

Masalahnya mungkin seperti ini. Ambil saja contoh mahasiswa yang sedang demo tentang sengkarut pendidikan. Oke lah, kita maklum ada yang tak beres dengan sistem pendidikan kita. Tapi apa semua rekan yang berbicara di mimbar itu bisa menjelaskan dengan baik hubungan antara masalah di kampusnya dengan kata asing semacam neoliberalisme yang mereka ucapkan? Sedikit-sedikit neoliberalisme, serempet kata ketidakadilan langsung tuding kapitalisme. 

Saya mencoba mafhum. Naif mahasiswa yang berlebihan dalam menjelaskan permasalahan makin mirip jamu makjun yang pahit tapi harus kita telan. Santer terdengar dalam diskusi, dan demo tentunya, ketika mereka buru-buru mencari kambing hitam dengan menuding pada entitas mengawang seperti kapitalisme global dan neoliberalisme. Padahal hanya untuk menjelaskan fenomena kenaikan Biaya Operasional Pendidikan. Mereka mengesampingkan begitu banyak variabel permasalahan yang perlu dijelaskan, sementara lokalitas permasalahan luput dari tinjauan.

Namun begitu, sang mantan aktivis ini sekarang berusaha tetap menghargai imajinasi rekan-rekannya tersebut saat berbicara mengenai istilah-istilah sakti semacam sosialisme, komunisme, dan Marxisme hasil olah baca zine-zine reaksioner. Juga usaha mereka untuk tergopoh-gopoh pasang emblem kiri di jidat. Dalam benaknya, ia maklum jika mereka mengaku kiri bukan karena mengerti. Lebih condong karena slogan kiri itu kini semerdu lagu-lagu Nidji. Atau juga karena topinya Castro ternyata matching dengan kaos distro. Akibatnya, pemahaman mereka cenderung terfragmentasi. Sepotong-dua potong yang cukup untuk jadi bahan masakan selebaran propaganda demo. 

"Seingat saya, " Ia bahkan menambahkan. " Ada gurauan tentang begitu banyak orang menjadi Marxist tanpa mengikuti Karl, melainkan Groucho. 'What ever it is, I am against it' kembali terngiang ucapan Groucho yang kondang. "si pembuat rumor itu sungguh tak yakin jika mereka benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang penting anti. Seyakin saya yang percaya kalau mereka tak membaca liberalisme sebagai filsafat, dan tidak melihat kompleksitas dimensi manusia. Saya bertanya-tanya apa reaksi mereka seumpama membaca pernyataan seseorang yang pernah mengatakan bahwa dirinya seorang liberal dalam politik, sosialis dalam hal ekonomi, anarkis dalam mikropolitik? Akibatnya, sangat tragis, terlalu banyak sesat pikir dan jargon kosong di retorika mereka." 

"Apakah ini pengaruh bacaan yang memang dari situnya sakti untuk membakar jiwa muda?" Bantah saya padanya. 

"Mungkin juga. Tapi lebih mungkin lagi tidak. Ada kok rekan yang juga membaca teori-teori Marxisme dan zine reaksioner tapi tak langsung menyodok kepala seorang teman untuk meyadarkannya menjadi kiri, ikut organisasi, lalu berdemonstrasi. Sebagaimana kamu yang baca buku harian Gie dan tak langsung ingin naik gunung."

Rekan saya itu makin berapi-api. "Jujur, kini saya makin menghargai rekan-rekan yang masih menyimpan penanya di saku. Dan tak buru-buru menukarnya dengan selembar tanda keanggotaan organisasi yang berbentuk kartu. Mereka menulis, berkreasi, dan tak banyak bicara. Mereka kiri dan revolusioner sejati, tapi tak perlu siluet Che di dada. Atau jangan-jangan karena mereka sepakat dengan seorang Kasian Tejapira, mantan aktivis dan pejuang gerilya di belantara Thailand tahun 1970-an yang kini malah jadi akademisi ilmu sosial. Ia sempat mengeluh tentang rekan-rekannya yang keras kepala dan berhenti memaknai Marxisme sebagai alat analisis: mereka yang memperlakukan teori-teori Marx layaknya khotbah Musa di Sinai. Dalam kekesalannya ia sempat nyeletuk jika kaum Marxist terbaik ada di luar partai komunis dan yang tersisa di dalam tinggallah yang paling idiot. Dari sudut pandang Tejapira, tiba-tiba saya melihat wajah saya dahulu dan rekan-rekan yang betah di organisasi—yang katanya revolusioner—tak pernah berwajah cerdas."

Saya kemudian sedikit berani menimpali ocehannya. "Seharusnya kita bisa mendengarkan Gramsci kembali barang sejenak. Ia yang memandang intelektual sebagai aktor-aktor penting ketika konflik kelas (mereka tentu masih pakai model analisis ini) dimainkan dalam level ideologis. Hegemoni dari kaum kiri adalah yang melibatkan usaha untuk melepaskan intelektual 'tradisional' dari kelas berkuasa dan membangun apa yang ia sebut dengan intelektual 'organik' dari kelas pekerja. Nah, kenapa mahasiswa demonstran tak berkutat dengan bukunya dan menulis saja untuk menunjukkan kepemimpinan intelektual dan moral? Aktivisme, sependek pengetahuan saya, tak selalu identik dengan demonstrasi." 

"Benar bung," Senyum teman saya mengembang. Sambil terkekeh ia mematikan rokoknya, Camel tanpa filter. 

"Tunggu dulu, jangan-jangan kecurigaan kita ini disebabkan karena tak banyak (lagi) aktivis mahasiswa sekarang yang berprestasi dan mau menulis?" 
Pertanyaan saya terdengar kadung retoris.

"Jika benar begitu, tentu tak heran jika muncul kecurigaan bahwa mungkin, sekali lagi mungkin, usaha berlindung di balik jubah aktivisme adalah untuk menutupi reaksi ketidakberdayaan dalam proses belajar mengajar di kampus." Saya kemudian menambahkan.

Rekan saya itu terdiam sejenak. Matanya menerawang menatap langit, lalu menghela nafas panjang. 

"Untuk mengakhiri unek-unek saya ini, saya ingin mengutip Wallerstein yang pernah berkomentar tentang Marx yang ia pandang (sic) sebagai seorang figur monumental dalam sejarah intelektual dan politik, namun ironisnya mengaku bukan seorang Marxist. Marx tahu, sebagaimana banyak pengikutnya yang memproklamasikan diri sebagai marxist tidak ketahui, bahwa ia adalah seseorang dari abad kesembilanbelas yang mana visinya mau tak mau dibatasi oleh situasi realitas sosial saat itu. Oleh karena itu, marilah kita menggunakan tulisan-tulisannya dalam cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Selayaknya seorang kamerad dalam perjuangan, yang mengetahui sebanyak yang Marx ketahui." Hening menyambut ujaran penutup kawan saya tersebut. 

Tiba-tiba kami jadi bersimpati pada mahasiswa yang menyodok bola biliar di tempat-tempat hiburan Seturan. Kebiasaan borjuasi yang menggiring saya pada nostalgia warna sepia rumah bola Harmonie di Batavia dulu. Oh, betapa polos dan ignorannya mereka. Tak teracuni dengan paham revolusioner dan tak malu mengakui diri mereka borjuis.
***

Rimbaud akhirnya raib dari tangsinya suatu hari di bulan Agustus 1876, kurang dari tiga minggu sejak kedatangannya di Salatiga. Empat setengah bulan kemudian, tepat pada tanggal 31 Desember, ia muncul kembali di rumah keluarganya di Charleville. Ia tampaknya memilih desersi daripada melanjutkan kehidupan di tempat yang tak ia sukai. Ia pulang pada kebebasan setelah terjaga dari mimpinya tentang ranah asing tersebut. 

Yakinlah kini, mahasiswa juga tak jauh beda. Saat kita putus asa dengan demonstrasi, lalu tuntutan untuk menamatkan studi kian menyesakkan, kita juga akan kembali bergelut dengan buku dan pena. Seharusnya kita sadar sedari awal, senjata kita hanya dua benda itu. 

Belajar dari Rimbaud, saya tak akan buru-buru menukar pena saya dengan senapan, atau dalam konteks kekinian: keanggotaan organisasi mahasiswa revolusioner agar bisa demonstrasi di jalan. Bagi saya, pulang ke rumah untuk membaca puisi-puisi Laksmi Pamuntjak sambil mengkhayal bisa mengajaknya lunch di salah satu restoran di Orchard Road lalu dilanjutkan dengan bobo siang bareng, jauh lebih menarik. 

Demonstrasi di jalan itu panas, pena saya bisa leleh. 
soedra, Oktober '06

*soedra. Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini adalah seorang penikmat sastra yang murtad ingin jadi ilmuwan sosial. Ia tinggalkan tumpukan novel-novel dan kumpulan puisinya untuk beralih pada jurnal ilmiah dan bundelan monograp. Hal terakhir yang ia lakukan—yang masih berbau sastra—adalah menjadi pemimpin redaksi LPM Dian Budaya, serta menulis sebuah esai berjudul "Jangan Kau Tanya Arti Puisiku Mario" untuk menghindar dari ujian akhir kelas Poetry IV yang memaksanya membaca Rober Frost sampai mabuk. Kadang-kadang jika tak ada aral melintang ia masih sempat berdiskusi dalam 'Kelompok Diskusi Jumat Sore' di Bonbin bersama Anton Septian dan Dwicipta.
ijin dari penulis. tulisannya diculik dari blog carpe diem 
beberapa orang mengimel saya. jadi saya tambahkan info ini.
ingin berdiskusi lebih lanjut? temukan dia di

andai malaikat juga lihat televisi.

ternyata saya punya banyak waktu sampaisampai memilih untuk terlalu banyak menonton televisi dan menuliskan hal ini. 

ada 3 kategori acara yang jadi pilihan ketika lihat televisi. 
pertama adalah acara berita. stasiun apapun boleh. pokoknya yang mengabarkan sesuatu. menyenangkan juga mengetahui sesuatu yang baru, atau yang lama dikasih bumbu baru, atau yang benerbener lama tapi masih saja tak selesaiselesai malah barubaru ini disahkan. kadang juga diselingi debat di TVone yang kadang berbuntut debat kusir yang anehnya malah saya nikmati. eh, tadi saya sebut merek stasiun tivi ya? tak apalah. 

kedua adalah acara musik. biasanya saya denger musik. ya, denger karena sering saya sambi dengan kegiatan lain. dari acara inbox di sctv sampai dahsyat di rcti. lagu indonesia saja juga tak papa, toh saya masih punya youtube untuk mengapdet lagu ’barat’. meskipun saya ternyata tak terlalu suka lagu ’barat’ yang keluar akhirakhir ini. lagian glenn freddly tampak seksi berduet dengan dewi perssik. 

ketiga adalah acara gosip. apa?..gosip?! ya benar sekali. memangnya kenapa kalau saya suka lihat gosip. orang saya suka liat mbakmbak cakep dan masmas ganteng yang berseliweran di acara gosip meskipun kadang kabar yang dihembuskan tak penting sama sekali. kadang tampak dicaricari dan dihubunghubungin biar pas. ditambah si pembawa acara yang berle (berlebihan-red)

selain 3 menu utama, biasanya saya sempatkan juga untuk menonton sinetron. aha, spesies acara tv yang kadang dijauhi karena dianggap nista. biarlah, kata saya. saya ingin menyaksikannya sendiri. menilainya sendiri, dan menyimpulkannya sendiri. dari situ saya bisa tahu apa pendapat saya tentang sinetron. kenapa? soalnya saya pernah bicara sama orang yang katanya anti sinetron tapi belom pernah nonton sama sekali. 
oh ya, mungkin ia berpendapat ’kalau bisa tahu dari orang lain, kenapa harus coba sendiri’. ya, mungkin begitu. saya biarkan saja dirinya. 

mau tahu kesimpulan saya? 
benar sekali adanya sodarasodara. bahwa sinetron indonesia yang saya lihat itu sering mencederai otak dan pikiran saya.
hah, kayak saya punya otak saja. 

saya tak memusuhi televisi. dan menurut saya tak ada yang salah dengan televisi. tak ada untungnya pula saya salahkan televisi. bukankah televisi itu hanyalah alat? masa kita menyalahkan alat? sama halnya kita menyalahkan oven yang dipakai buat bikin roti gosong. lihat siapa yang menggunakannya dong, kelewat dodol apa botol (bodoh dan tolol).

saya masih bersenandung lagu baru mbak dee yang bikin saya jadi sedih.
namun tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
namun kasih ini silahkan kau adu
malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya


ooh, andai malaikat juga lihat televisi

kalau saja..tapi tidak jadi

kalau saya bisa memilih, saya ingin bisa wisuda sekarang dan semuanya selesai. titik.

malas saya berlamalama mengurus kelulusan ini. orang mau lulus, hengkang dari kampus, say dadagh babay kok dipersulit. ya benar yang anda bilang. saya memang si cerewet yang akhirakhir ini suka mengeluh.

bukannya apa, semuanya berawal dari kejadian minggu kemarin. dari jadwal-aneh-belibet-ngeselin-tentang wisuda yang saya terima. sebagai mahasiswa yang telah menyelesaikan kewajibannya saya merasa tak kunjung bisa bergerak. beralih ke tempat lain. keluar dari kota ini, mungkin. atau tetap di kota ini tapi dengan status yang berbeda sekarang juga.

SKL a.k.a surat keterangan lulus belum juga diterbitkan (revisi: sudah akhirnya! tadi siang!) oleh mereka padahal sudah beberapa hari ini saya memasukkan surat permohonan. dengan bahasa yang mendesak. dengan deadline permohonan yang sengaja saya cetak tebal dan garis bawahi. sampai mampus saya bolakbalik ngecek ke bagian pendidikan.

padahal ada kesempatan bagus bekerja di sebuah tempat. tapi tentu saja jadi terlewati begitu saja (kalau saja saya mau bilang sama tuh ibu pimpinan ”bu, saya aja yang ngisi bagian itu” bisa saja usul saya dipertimbangkan. mengingat saya punya hubungan khusus. bahwa pada suatu saat dimasa lalu saya pernah menjalin kerjasama dengannya. dengan catatan oh-dia-tahu-betapa-saya-dapat-diandalkan)

tapi saya gegayaan mau ikut melamar juga. pakai syarat yang ada di website. sama seperti pelamar yang lainnya. sialnya satu syarat yang dibutuhkan yaitu SKL tadi (revisi: kemarin! karena ini ditulis kemarin) belum bisa diikutkan. ya, betul. yang saya tunggu sampe mampus itu.

terpikir ide lain. tampaknya melecut dirisendiri untuk mencoba menulis sebuah artikel dan memasukkannya (koreksi: berusaha memasukkannya) ke surat kabar menjadi salah satu cara berbobot untuk mengisi harihari kosong (yang benar saja kosong!) saya. sembari menunggu progress dari 2 kerjaan besar dan panjang yang telah saya pegang (dan kacaukan) sejak 2 bulan lalu. satunya tentang buku, satunya tentang foto.

katakata ”berdamai dengan diri sendiri” tampak ajaib. itu sebelumnya. sekarang entah. jadi zombie tampaknya saya.

iseng saya coba tanya sama john lennon, apakah saya sudah terpancing 'mind games' yang dilancarkan birokrat kampus itu. yes is the answer katanya.

saya tambah bingung kan.
oh, ya. anda juga ya.

*ditulis dengan bersungutsungut pada 30oktober2008 

untung selalu didukung pah 

mbok ya otaknya dipakai

lagi ndak mood bikin postingan e. ndak ada ide. lagi buntu. secara (what?! secara??) otak saya lagi ngebul, perlu didinginkan dulu. dibikin adem dulu biar gak overheat. halah, kebanyakan basa basi saya. 

lalu teringatlah saya pesan khusus mbak icha tempo hari liwat FB untuk mendeskripsikan diri dalam sepuluh poin. saya kok dejavu, perasaan pernah bikin yang begituan dulu. tapi ndakpapa, saya mau menepati janji.

tapi saya ganti dengan menceritakan 3 pengalaman bodoh yang pernah saya lakukan:

1. dulu waktu kecil saya terpana dengan iklan pak tani bu tani di tivi. itu loh yang adegan pak tani menuntun sepeda di pematang sawah. kalau ndak salah yang diiringi lagu ”nasi putih terhidang dimeja..blablahblah”. karena begitu terinspirasinya, saya dan adik ingin mencoba adegan itu. kebetulan dekat rumah kami masih banyak sawah. akhirnya tibalah hari naas itu. kami bersemangat sekali melewati pematang sawah. bodohnya, sepeda tak kami tuntun, tapi kami tumpangi! padahal pematangnya kecil banget. hanya bisa dilewati satu orang. walhasil kami nyebur di sawah yang becek karena waktu itu kebetulan juga musim tanam. cuma bisa cengar cengir. bodoh banget deh pengalaman itu kok ya punya otak ndak dipakai, gitu.
 
2. kelas 6 SD pernah coba memotong poni sendiri. karena tak punya pengalaman sebagai hairdresser (ya iyalah!) terjadilah malpraktek. potongnya miring sekitar 60 derajat. ya ampun, waktu itu mau nangis dan mengadu ke ibu malu, saya merasa sudah besar dan bisa melakukan semua hal sendiri. jadilah saya beberapa saat bengong di depan cermin tak tahu apa yang hendak dikerjakan. timbul ide yang cukup ekstrim (kalau pakai kacamata masakini) untuk memotongnya rata pendek sekali, sebagai ukuran adalah yang paling pendek. setelah saya coba potong, muka saya jadi aneh bin ajaib untuk tidak menyebutnya kelihatan tolol. duh, serasa mau nangis keras sekali. tapi untungnya saya sudah agak make otak waktu itu. jadilah saya ambil lagi satu bagian rambut diatasnya untuk saya potong dengan cermat. maksudnya untuk menutupi poni yang kependekan tadi. voila! akhirnya berhasil. sebagai konsekuensi dari perbuatan bodoh itu saya harus pegang poni tiap mau nyebrang jalan sampai dirasa poni yang kependekan (yang ada dilapisan dalam) itu sudah agak panjang. capek gak tuh!  

3. pernah melakukan kebodoh-bin-wagu-an di muka umum barubaru saja (jamanjaman mahasiswa). ceritanya ketika seleksi final pertukaran pemudi/a keluar negeri, ada satu sesi unjuk kemampuan. masingmasing finalis boleh menampilkan apa saja. boleh menari, nyanyi, mbatik, ngebor, ngapain kek. nah, tiba giliran saya. saya melakukan apa yang saya bisa. pokoke sik biasabiasa wae. nah, diakhir penampilan para panitia menanyai “kamu bisa ngapain lagi, nduk?” saya kan yo bingung perasaan semua sudah ditampilkan, iseng saya jawab ”saya juga bisa striptis lho mbak, mas. mau liat po?”
*masi kebayang mereka semua melongo*

wah, begitulah. sebenernya saya yakin masi banyak lagi kebodohan di masa lalu. tapi masih belum ingat, tar coba saya buka diary saya yang abalabal gambar tweety itu dulu.
*betewe, kalo diliat dari rentang waktunya kok saya jadi sangsi, sebenarnya saya beneran punya otak nggak sih?

dia menyebalkan

dia menyebalkan. seandainya saja saya punya kesempatan menimpuknya, saya akan menimpuknya dengan es batu yang besar sekali. biar dia merasakan sensasi aneh antara panas karena ditimpuk dan dingin karena es batu. itu lebih tidak menyenangkan daripada ditimpuk pakai panci. apalagi panci panas yang berjelaga.

kami sudah berkawan cukup lama. dulu dia tidak terkenal, sekarang ya. tapi bukan itu yang bikin hubungan kami memburuk. atau mungkin ya, saya tak tahu pasti. mungkin saya saja yang cemburu. tak ada apaapa sebenarnya. mungkin saya cuma tak paham keadaan ini. mungkin juga dia yang memang keterlaluan kurangajarnya. wah banyak kemungkinan rupanya.

sam saimun bukan alasan tepat. tak ada jatinegara. tak perlu janji muluk untuk sebuah alamat. saya ingin berbuat baik. saya tak bermaksud mengusik oranglain. tapi kalau toh itu yang terjadi saya akan minta maaf. dan memulainya lagi dari satu. bukan nol. karena satu berarti ada awal. jika dia adalah garis bilangan x saya akan memilih berjalan kekanan, ke angka yang lebih besar.

saya tahu. kalau ada awal pasti ada akhir. meskipun akhir kadang tak diharapkan. dan dipanjangpanjangkan agar tak datang, diharapharap cemas agar tak terjadi.

aih, kalau ternyata ia sandi yuda si pemanjat seksi nan menawan dengan tubuh pejal tembaga yang berkilat dibawah timpa matahari, dengan semangat saya akan menubruknya. meskipun ia tak mendengarkan sam saimun dan tak peduli apakah si juwita malam itu lebih suka berjenggot tebal atau berkumis saja. 

tapi aku senang ia masih mendengarkan feist yang mirip melenguh saat bersenandung i’m sorry, we don’t need to say goodbye. seksi sekali.

absurd. sama seperti biasanya. 

sekedar mencatat: goBLOG

mungkin ada banyak orang yang berpikir, kok saya ini getol banget ngapdet blog, apa tidak punya kerjaan lain. rajin mencumbunya tiap hari, menambahinya dengan yang baru. coba tengok tanggal setiap postingan saya, taruhan pasti berdekatan satu sama lain. bahkan ada dalam satu tanggal banyak postingannya. apa enaknya sih ngeblog? 

sesibuk apapun saya pasti saya sempatkan waktu untuk mengurusi blog. jadi, pernyataan bahwa saya ini getol ngisi blog itu benar sekali. alasannya karena saya senang mencatat, apa saja. penting atau tak penting (meski lebih sering tak penting sih). 

sejak tahun 2005 saya meninggalkan diary dan bolpoin untuk mencatat, dan beralih pada layar komputer dan tutstuts keyboard. ya, di blog ini (eh bukan dink, di blogdrive sebelum saya berpaling dan pindah ke pelukan blogspot). saya memperlakukan blog sama seperti diary tweety saya jaman baheula dulu. bedanya, saya tak lagi butuh laci bergembok. semua orang bebas membacanya, memberikan komentar, atau menyumpahnyerapahi catatan saya. ini yang saya senangi.

pada akhirnya saya menemukan kenikmatan meramu ketika menulis blog. jadi tukang masak nih ceritanya (fyi, catatancatatan disini tidak semuanya asli kisah saya, meski ada banyak juga yang punya saya)

kebanyakan muncul karena ketertarikan saya pada beberapa cerita orang lain. kadang karena iri, kadang karena kagum, kadang juga karena biasabiasa saja. saya mencomotnya, mencampurcampur, mengubah seenaknya sendiri, mendramatisir sana sini, sampai akhirnya jadi cerita saya sendiri, cerita yang muncul di blog saya. tapi tak semua orang suka dengan cara saya ini. pernah ada beberapa orang yang mengeluhkan cerita mereka jadi kacau dan entah tak karuan setelah saya templok sana sini. ya, saya bisa apa donk?

formula tipikal dalam beberapa postingan saya: sejumput fakta, segenggam penuh cerita orang lain, secangkir bumbu dramatis dan setetes rahasia. ya, benar. dalam catatancatatan sering saya sisipkan banyak rahasia kecil yang hanya diketahui beberapa orang. rahasiarahasia kecil yang berbeda satu sama lain.. 

hmm, dalam perjalanan saya mengarungi dunia maya ini saya bertemu dengan banyak kawan baru yang punya ketertarikan sama, ketertarikan sama dengan cara pandang berbeda, ketertarikan berbeda dengan cara pandang sama, atau yang benarbenar berbeda. 

ada beberapa yang bertahan masih suka kunjung mengunjungi, ada juga yang tibatiba hilang dari peredaran. tentunya dengan berbagai alasan.

ada yang tibatiba hilang karena hal kecil dan hal besar. kadang juga karena kesalahan bodoh yang saya perbuat. kesalahan satu huruf yang berakibat fatal. mirip ketika bermaksud menyapa seorang kawan di YM, karena mengantuk jari tergelincir satu tuts lebih kekanan menjadi “hai lawan” padahal sebenarnya bermaksud bilang “hai kawan” (coba lihat tust keyboard, betapa kawan dan lawan itu sangat dekat jaraknya?tuts k dan l bersebelahan bukan?) 

oh ya, kok saya jadi melantur kesana kemari. tentang kenapa saya tampak rajin apdet blog: semua postingan yang berurutan itu terjadi berkat teknologi ngeset jadwal terbit tiap postingan, istilah kerennya “scheduled post”. jadi begini misalnya, dalam satu hari, biasanya hari minggu (days off). saya banyak mencatat di word, dari kegiatan mencatat itu ada kirakira 5 hal berbeda yang jadi 5 postingan. trus saya masukin ke blog, dibikin mereka terbit setiap 2 hari sekali. lalu saya tinggal melakukan aktivitas yang lain.

jadi mungkinmungkin saja ketika tementemen membaca postingan baru fresh from the oven di blog ini, saya sedang asyik ngubekubek selasar shopping center, atau makan es krim rasa coklat dipinggir jalan. hehe

aku, aku, aku!

ya. kalau kau lihat sesosok berjaket tebal memandang langit pagi buta berkabut, itu aku. aku dengan segala kesedihan yang entah tak terhitung. pun ketika kau coba bangunkan ia dari lamunan, tetap aku tak bergeming. ketika kau berpaling dan pandanganmu tertuju pada ia yang mengusap air mata yang kering, itu aku.. 

aku dan air mataku yang kering.
mencoba berhitung mundur dari 100 untuk bisa sedikit memejamkan mata, 
kau tahu itu?  


rambut cokelat

rambut saya baru saja dicat. bukan maksud ingin menyaingi cincah lawrah yang memang bule itu kalau saya juga milih warna cokelat untuk mewarnai rambut yang tadinya panjang hitam halus mulus mengkilat cantik nan kemilau *tsah..*. 

tapi memang karena saya suka warna cokelat. dah, itu saja. titik.

ide itu muncul begitu saja, trus langsung dieksekusi alias dicoba. selama dua jam saya mendekam di salon murmer (murah meriah-red) dekat rumah demi mewujudkan ide yang lumayan nyaho’ ini. bayangkan, seumurumur saya belum pernah mengubah warna rambut, eh ini tibatiba saya benarbenar melakukannya hanya karena ide yang terlintas sekelebatan.. duh, sepertinya ada dorongan kuat yang bikin saya jadi berani mengambil keputusan entah bagus entah gebleg ini *apologi*

tapi saya puas dengan rambut cokelat hazel seperti sekarang. 
bikin saya cantik soalnya. 
Buktinya ada yang sampai nyeletuk:
“da, sekarang kamu tambah eksotis e..”
“da, kamu tambah hot”
bukankah itu pujian, kalo saya tak salah mengartikan ucapanucapan yang benernya bermaksud mencela a.k.a ngece a.k.a ngenyek yang sebenernya berarti:“tambah item lu, ndro”

*what?* 
bwahahaha

malioboro di batas senja



oleholeh berjalanjalan menyusuri malioboro.
ia begitu ramah senja itu..
klik dimari untuk liat yang lainnya.

good morning rawapening

katakata seakan tak berdaya dihadapan selembar foto. ia menjelma menjadi rentetan bunyi yang tak cukup mampu mengungkapkan isi hati. maka, istirahatlah katakata kembalilah dalam melankolia

begitu pula dihadapan selembar foto ini. berdesir saya memandangnya. pagi yang magis diabadikan oleh lensa. ah, entahlah. ia terlalu sulit diungkapkan.

berjudul “good morning rawapening”, rasanya pagi menjadi kesukaan saya setelah senja. mungkin. jadi, selamat datang pagi. 



foto oleh sayoga wicaksana, kawan saya yang mengaku fulltime tukang potret dan parttime mahasiswa isipol ugm
lokasi: rawapening

tentang jejak yang menjauh

“Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.” (senja di balik jendela, SGA)

Kujumpai jejak tapak kakimu yang berjalan menjauh berbekas di pasir halus di depan pagar. Kau pergi, bahkan sebelum mentari menampakkan diri. Saat malam masih erat memelukku dalam selimutku dengan kehangatan yang semu sebab saat aku terbangun paginya tak kudapati dirimu tersenyum sambil menghadap ke luar jendela. Aku tak pernah tahu apa alasanmu selalu berdiri menghadap jendela setiap pagi. Saat pertama kita menghabiskan malam bersama sama, aku terbangun mendapatimu bertelekan siku di jendela sambil menggigiti bibir. Juga pada hari hari yang lain, aku selalu melihatmu berdiri menghadap jendela, atau kadang duduk sambil memeluk guling. Aku tak pernah tahu apa yamg kau pandangi, jendela itu menghadap ke barat. Jika kau ingin memandang matahari terbit seharusnya kau berdiri di dapur dan memandangnya dari sana. Mungkin dengan secangkir kopi atau susu coklat.

Tak kudapati pesan darimu, kau tak meninggalkan pesan ataupun sesuatu untuk menjelaskan kepergianmu yang tiba tiba. Hanya bekas tapak kakimu di halaman, dan sebuah cangkir kosong bekas kopi yang tanpak kau letakkan tergesa gesa di meja dapur hingga ada sedikit noda di taplak meja yang baru saja kau beli kemarin lusa.
Kuseduh secangkir kopi, dan berjalan ke depan. Jejakmu masih ada, agak mengabur dan ada jejak lain yang tertumpuk di atasnya-jejak pengantar koran. Kupungut koranku dan kulongok kotak surat dan ternyata ada selembar kertas disana, tulisan tanganmu.

Kepergian ini adalah jejak yang mengabur. Aku pergi bukan karena dirimu melakukan salah, juga bukan karena aku ingin menjauhimu. Justru aku merasa dengan aku pergi, aku bisa semakin merasakanmu dekat di hatiku. Seperti bayangan di sore hari yang perlahan makin memanjang dan akhirnya hilang, maka biarkan aku jadi bagian dari senja yang selalu jadi kesukaanmu. Maka nantikanlah aku pulang satu senja nanti, pandanglah ke barat dan teruslah berharap. Aku sudah tersesat sekarang, berharaplah aku menemukan jalan untuk pulang. Dan jangan khawatir, karena jika hari itu datang kau akan tahu bahwa aku pulang hanya untukmu.

Maka kulewati hari itu dengan membersihkan rumah, membenahi atap rumah yang bocor dan mengecat lagi dinding dindingnya. Di sore hari kutanam rumput untuk menghijaukan pekarangan, lalu kubeli beberapa tangkai bunga segar di kios bunga dan kupasang di vas bunga tepat di samping pintu masuk. Lalu kujerang air karena mungkin kau hanya akan pergi satu hari saja, dan aku yakin kau pasti letih oleh sebab itu mandi air panas akan sangat menyegarkan badanmu. Setelah itu aku duduk di depan pintu, dengan buku di tangan, memandang senja yang memudar, bayangan bayangan yang memanjang lalu menghilang, jejak jejak yang mengabur dan semakin dalam membekas di dalam laci kenangan.

Aku sekarang tahu apa yang kau lihat setiap pagi. Aku sekarang mengerti kenapa kau selalu memeluk guling sambil menggigiti bibirmu saat melihat ke luar jendela. Kau melihat jalan itu, jalan yang menuju ke entah mana. Kau berharap kau akan menemukan apa yang hilang darimu selama ini. Kenangan.

Aku paham apa yang kau maksud dengan suratmu itu. Kau menginginkan aku dekat di hatimu, di tempat yang hanya kau sendiri yang tahu. Dan hanya berupa kenangan aku bisa hidup di hatimu, maka kau memilih pergi. Dan membawa semuanya karena kau menginginkan semua kenangan itu bersamamu. Dan kau tahu aku selalu menyukai senja, oleh sebab itu jendela kamarku menghadap ke barat, tempat aku biasa berbaring dan membuka jendela, menikmati senja yang turun perlahan menciumi pucuk pucuk pohon di kejauhan.

Kau pergi, meninggalkan senja sunyi yang kemerahan menggantung di pucuk pucuk pinus di kejauhan. Meninggalkan jejak jingga di depan pintu pada setiap penghujung hariku.

45 menit pondok cabe

apakah kau suka menunggu? kalau pertanyaan itu diajukan pada saya pasti akan saya jawab TIDAK dengan huruf kapital. tapi rupanya saya sedang tidak beruntung malam ini. saya dipaksa menunggu lebih lama dari batas maksimal. 

kejadian berawal dari perut yang lapar dan perlu diisi. atas saran bono, kami memutuskan untuk makan di pondok cabe jl. c simanjuntak. menurutnya, tempat itu punya makanan yang enak dengan harga yang relatif murah. ah ya, saya belum menjelaskan. kami adalah saya, nduti, bono dan andy (hope i did'nt misspell your name, dude) 

selepas hujan kami pun meluncur kesana. begitu memasuki pintu utama dan satusatunya pondok makan itu kami disambut dengan senyuman ramah waiter yang memberikan daftar menu dan kertas pesanan. saya terkesan dengan keramahan mereka. “ah, bagus juga servis pelayannya disini” gumam saya. tentu saja ekspektasi saya agak berlebih pada servis keseluruhan. “sudah katanya murah, ramah pula..wah pasti akan menyenangkan makan disini” well, i do have the reason right?

ya, pendapat saya belum berubah sampai akhirnya kami memesan beberapa menu yang tersedia. tak banyak, cukup untuk 4 orang saja. saya mencoba paha atas bakar manis, katanya salah satu menu favorit pondok makan ini. nduti, bono dan andy memesan telur sponge bob dan tempe bakar manis, juga menu favorit. sementara minuman yang saya pilih adalah es lemon tea dan mereka masingmasing es jeruk, es jeruk dan kunyit asam. tak banyak bukan? hanya 4 porsi makan minum. tapi kami harus mendapatkan waktu menunggu yang berlebih, sebagai bonus mungkin.

ya saya memang tahu bahwa saat itu pondok makan itu sedang ramai karena memang jam makan. hampir semua meja di lantai bawah penuh terisi sehingga rombongan kecil kami harus naik ke lantai dua untuk duduk. tapi bukankah itu tak tepat dijadikan excuse untuk tak memberikan layanan yang memuaskan? 

setelah memesan 4 porsi makan itu kami harus menunggu selama 45 menit sebelum semua pesanan datang! coba bayangkan betapa laparnya kami, dan yang paling penting betapa banyaknya waktu yang terbuang untuk menunggu?

untung saja kami tak kekurangan bahan pembicaraan. mulai dari ketawa ketiwi membicarakan kenapa belum ada orang jawa yang di hire vivid production, filmfilm mengharukan yang oke, apakah orang australia macam andy juga suka meninggalkan tips bagi pelayan, sampai mengenai penyusunan sejarah indonesia yang sedang menjadi subjek studi andy di indonesia. akhirnya darn 45minutes itu menjadi sedikit lebih baik. ya, lebih baik.

semoga suatu saat nanti bila saya punya uang dan berpikir untuk mendirikan pondok makan saya akan hire pelayan dan tukang masak yang seimbang dengan kapasitas maksimal pondok makan saya, agar tak ada yang menunggu. apalagi selama 45 menit!

saya jadi tahu kenapa kebanyakan orang jawa sering bilang ”sudah, ambil hikmahnya saja.”

segelas kopi hitam dan sebuah pesan pendek

”besok kalau aku pulang, aku ingin ngopi denganmu”

rasanya ingatan saya masih cukup tajam untuk merekam sebuah pesan pendek dari kawan lama beberapa waktu lalu. namun ada yang ganjil dari pesannya. entah bentangan waktu dan kilometer yang memisahkan kami berdua mampu mengaburkan ingatannya akan kebiasaan saya atau memang ia salah kirim. tak tahu pasti. namun saya masih cukup ingat juga bahwa nyatanya saya hanya mampu memandang pesannya tanpa berbuat sesuatu. tidak menghapusnya tidak pula membalasnya dengan sebuah kalimat pendek ”kamu yakin?”

ya, saya memang tidak biasa minum kopi. tak punya kebiasaan minum kopi di cafe dan mungkin saya juga tak bisa meminumnya, dengan nikmat. tidak pernah juga mencoba mengambil bubuk hitam itu dengan sendok kecil, memasukkannya ke gelas. menyeduhnya dengan air panas, mengaduknya perlahan agar tidak mengendap di bawah sambil menatap kepulannya. saya tak juga berminat membaui harumnya yang khas. itu kenapa saya bilang pesannya ganjil. pesan yang menyiratkan sebuah pemandangan kami berdua duduk agak jauh dari kipas angin sambil memandang langit malam jogja dari jendela cafe di lantai dua, bercerita tentang pahitnya hidup yang seakan menggenang di gelasgelas kopi dihadapan kami. atau hanya sekedar memutar ingatan usang tentang kerinduan dan perjodohan. pemandangan yang hampir tak muncul dalam catatancatatan harian saya.  

saya jadi ingat kapan terakhir kali saya mencicip segelas besar kopi hitam pahit. di perbukitan malang selatan, setelah menerobos perjalanan tigapuluhmenit menyusuri hutan jati di malam yang gelap berlenterakan bintang dan secercah sinar sepedamotor saya dan beberapa kawan disambut oleh hangatnya dekapan tubuhtubuh dengan wajah polos yang menyuguhkan minuman terbaik mereka. bak seorang tamu agung kami diboyong ke ruang perjamuan. segelas kopi hadir sebagai wujud akhir dari perjalanan mengambil di kebun, menyangrai, dan mencacah. wajahwajah polos dengan senyum tulus itu dengan bangga memperkenalkan racikan kopi hitam khas dusun sambil harapharap cemas menunggu reaksi kami.

rasanya terlalu jahat jika saya menolak tawaran mereka. begitulah yang terbersit dalam pikiran saya waktu itu. namun kekhawatiran juga muncul. tentunya saya tak ingin ditemukan sekarat garagara menenggak kopi hitam di pucuk perbukitan terpencil ini. saya pikir saya harus cepat memutuskan. 

akhirnya terbitlah keputusan yang cukup meresikokan diri saya. dan terbukti saya tak cukup mampu menolak kebaikan orang lain. tidak juga untuk segelas kopi hitam kebanggaan mereka. tak sekedar mencecap saja, saya menghabiskan satu gelas penuh kopi hitam pahit hingga menyisakan ampasnya saja. sekalian, batin saya. lambung yang dalam keadaan biasa tak mampu mentolerir kopi ternyata punya kekuatan luar biasa malam itu. sepanjang yang saya ingat, itu terakhir kali saya minum kopi hitam. dengan akibat terjaga sepanjang malam dan siang hari bangun dalam keadaan mabuk dan perut perih.

ah, saya yakin kawan lama itu hanya lupa kiranya saya hampir selalu lebih tertarik memesan secangkir cokelat hangat, lemon tea atau teh manis jika terperangkap di sebuah cafe. rupanya saya tak sempat bercerita kepadanya tentang kopi hitam malang selatan itu ya. atau saya sudah bercerita? ah saya juga tak begitu ingat. tapi mungkin juga ia salah kirim. buktinya ia tak menanyakan apapun pada saya. tak juga hendak meluruskannya.

atau saya yang tak sadar telah sekali lagi memutuskan kontak kami?

jogja, okt 08 

pachelbel: canon in d

komposisi ini salah satu favorit saya. selalu berhasil membuat saya menangis termehekmehek mirip bebek. entah itu ketika saya sedang sendiri mengurung diri dalam kamar maupun ketika saya ada ditengah kerumunan manusia.

btw, si pengupload rupanya tak bisa membedakan orang jerman dengan austria ya? *udah nge-grab, terlalu banyak protes*

cheap talk!

dan perasaan saya sekarang mirip kombinasi john cusack di film  1408  yang dengerin lagu tom waits, little drop of poison di bawah ini

nyesek abis!

tom waits: little drop of poison

jadi inget dosen saya kalau dengar lagu ini. pasalnya waktu itu sempat seru garagara saya dan temanteman bilang lagu itu nge'ROCK' dengan vokal khas. sementara si dosen dengan reputasi mendengarkan musik yang lumayan dengan santainya bilang itu LAGU PEMUJA SETAN!, hahaha

anyway saya tetep dengerin, sapa tahu bisa ketemu setan..

PS: kalau mau dengerin lagu ini bisa dimatiin dulu backsound blog dibawah. atau kalo gak ngabur langsung ke youtube aja


mary poppins: nostalgia

ketika ditanya apa yang saya dapat dari menonton mary poppins (1964), salah satu film kesukaan saya, jawaban saya: nostalgia. 

ya, nostalgia karena di film ini imajinasi kanakkanak saya serasa dimanjakan. hampir semua yang mampir di otak saya waktu kecil seakan digelar dan ditata rapi melalui adegan demi adegan yang muncul. ya, ketika dulu kecil saya memang memimpikan punya petualangan menantang seperti huckleberry finn, atau yang sedihsedih macam oliver twist, atau yang penuh keharuan ala the secret garden. tapi tak menolak juga pilihan lain yang tetap menarik yaitu punya pengasuh yang bisa terbang, atau punya kekuatan merapikan kamar dengan menjentikkan tangan saja. 

masih dalam rangka nostalgia, saya merasa share the same experience dengan tokoh anakanak. masa kecil saya juga hampir mirip dengan tokoh anakanak dalam film ini. bapak dan ibu saya samasama bekerja sehingga waktu untuk anakanak mereka banyak tersita untuk urusan kerja. sama seperti jane dan michael yang ditinggal dengan pembantu dan pengasuh tanpa pengawasan orang tua. bedanya saya tak punya pembantu maupun pengasuh yang tinggal dirumah. tiap hari selepas sekolah saya dititipkan di tetangga yang kebetulan menganggur, atau jika mereka sedang tidak dirumah, saya dimasukkan rumah, dan dikunci dari luar oleh orang tua saya dengan pesan tidak boleh bermain korek api atau saya akan tewas terpanggang. 

kalau untuk hal yang lain tampaknya sama saja. kedua orangtua saya tipe pekerja keras yang bermuka serius dan punya banyak citacita sama seperti karakter orang tua, terutama bapak si anakanak dalam film ini. itu sebabnya anakanak dalam keluarga kami kadang merasa kurang perhatian dan tidak begitu dekat dengan mereka. tapi namanya juga manusia, pasti bisa survive, buktinya sampai sekarang saya dan adik saya masih tahan hidup dengan orang tua kami. cuma gak bisa sangat dekat seperti yang saya lihat dikeluarga temanteman saya. well, that’s my problem not yours, hehe 

kembali ke mary poppins, saya tidak ambil pusing apakah film ini sering dibahas karena kritisasi terhadap keberadaan bank, masalah kelas pekerja: chimney sweeper atau protes terhadap perempuan yang mulai mengambil tempat dalam ranah sosial. yang lebih menarik perhatian saya adalah hal sederhana: perlunya keceriaan dalam hubungan orang tua dengan anak yang ‘sehat’. 

kalau diperhatikan, suasana yang terbangun dari awal cerita memang gloomy, kaku dan dingin, sekaku sikap sang ayah, mr bank yang sibuk dengan pekerjaannya dan urusan serius orang tua, sampaisampai melupakan anakanaknya yang butuh perhatian dan kasih sayang. jalanan lengan, orangorang dewasa bermuka masam dan serius, angin berhembus terlalu kencang. duh pokoknya pas bener untuk mendeskripsikan situasi yang tak menyenangkan. 

sampai pada suatu hari muncul si mary poppins, seorang pengasuh yang punya kekuatan ajaib yang menebarkan keceriaan pada anakanak keluarga bank yang terkenal jahil dan usil karena kurangnya perhatian dari orangtua. si mary ini mampu membuat kedua anak keluarga bank menjadi ‘bisa diatur’ dan lebih ceria. ia mengajari katakata yang lucu kalau diucapkan (duh saya lupa katakatanya), mengajak mereka berpetualang ke dalam lukisan, naik kuda komedi putar keliling desa dalam lukisan, menyanyi di atap rumah bersama para chimney sweeper, bottomlinenya: halahal menyenangkan yang pernah mampir di imajinasi saya ketika anakanak! 

pada akhir film, berkat mary poppins, hubungan keluarga ini jadi membaik dan keceriaan muncul. yah.. happy ending deh. tipikal sih, tapi tetap saja perjuangan mencapai hal itu membuat haru.  

pesan saya kalau nonton film ini, ndak usah dipikir berat lah..ikuti saja imajinasi kanakkanak yang menyenangkan itu..  

chim chim chimney 
chim chim chimney
chim cheree

bad mood

aku sedang bad mood! tentang scholarship, kerjaan menumpuk, orangorang yang mulai menyebalkan, situasi hati yang tak menentu, tekanan batin, mimpi buruk, kerusakan tak perlu, skl ga terbit, pdf belom dikumpul, tulisan belum diedit, kurang tidur, makan gak teratur, gelas, surat referensi belum dibuat, dosen susah ditemui padahal tinggal tandatangan, hape lowbatt dan mulai ngadat, ditipu produsen, kemahalan, lampu minyak, blog mulai ngacau, YM suka trouble dan ngeselin, tampilan fesbuk kacau, kemaleman, hujan terlalu deras, sound di GSP jelek, gatalgatal, koneksi seret, susah aplot, semua orang tampaknya makin reseh, degdegan, gondok, penasaran, labil, mouse susah gerak, kertas A4 habis, tegangan listrik naik turun, jendela gak bisa dikunci, panas, 50rebu gak worth it, player dvd ngadat, heran bendabenda disekelilingku lagi pada rusak ya?flickr mulai ngebosenin, plurk juga, blog juga kuhapus aja kali ya biar sekalian. eh, semua accountku di dunia maya seru juga tu kalau dihapus FS, FB, plurk mybloglog, blogspot, flickr, JIS, multiply, youtube, englishers, pa lagi ya? hmm perlu dipikirkan! over quota 40 jam, uringuringan terus, gak punya temen, capek, letih   :(

ugh, lega!

tapi masalah belom selesai! apa yang harus kulakukan?

pena dan senja


photo from: here

akhirakhir ini aku kehilangan kekuatan untuk menggoreskan katakata. aku pernah bilang penaku patah, dan aku belum memperbaikinya. ah mungkin aku akan membeli pena baru, dan pena yang terlanjur patah itu akan kusimpan di laci kecilku yang nyaman, untuk kutengok sewaktuwaktu, ketika aku butuh senyuman kecil yang tulus akan ingataningatan yang dibawa olehnya. 


tak begitu sentimentil kalau aku mengatakan ini dengan suara seksi jason mraz meneriakkan i’m yours berkalikali dari speaker. 

aku harap perasaan ini hanya sebentar. tak terlalu berlarut, hanya sebentar saja. seperti senja yang datang hanya sekelebat, lalu hilang dalam peluk malam yang dingin. namun senja tetap membawa kebahagian tersendiri. sebagai isyarat bagi para pengembara jauh yang melintasi ilalang tinggi untuk beristirahat, atau tanda selesainya kerja hari ini bagi cewek kantoran di kartun “100 tokoh yang mewarnai jakarta”.

senja hadir untuk kebahagiaan,
dengan caranya sendiri
dan kenyataan itu membuatku selalu menunggunya...

come what may

comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay

keep saying..

i'm so sorry

barisan kata terasa begitu hambar. entah, mungkin aku sudah begitu jenuh. jenuh untuk apa pun aku tak tahu. yang jelas ia hambar, seperti hanya sengaja di tempelkan satu sama lain dan direkatkan dengan lem yang terlalu pekat. ia menjelma jadi mimpi buruk dalam baitbait yang mengambang. seperti kertas yang biasa ditemui di toko alat tulis, penuh dengan coretan  sampaisampai kau harus mencoba bolpen baru di tepinya, atau diantara coretcoretan yang lain. 

merasa bersalah atas sesuatu yang seharusnya bisa dihindari adalah perasaan yang sangat tidak menyenangkan. kupukupu itu terus terbang diatas perutku, membuat isinya bergejolak dan serasa menggelegak. aku bingung harus bagaimana. apa yang harus kulakukan?

i say i'm sorry.

for what?

i don't know... to much

*berpikir untuk menghapusnya saja, kalau ini hilang, hilanglah pula segalanya. ah, mungkin jadi lebih baik*

hampir mati

ya ampun, aku benarbenar bersyukur karena gak jadi mati malam itu. duh, kayaknya mata minusku ini semakin nambah saja. gak pakai kacamata, jadi lampu motormobil di jalan raya terlihat kacau dan banyak sekali. ceritanya habis ngisi bensin di SPBU Gejayan, mau nyebrang jalan yang ke arah selatan, ya kan rumahku di deketdeket situ doang. sebenarnya cuman butuh waktu 3 menit doang nyampe rumah, tapi jadi lama karena nunggu kendaraan yang lewat banyak beneerr.trus ada satu orang naik motor nih kayaknya lagi mabuk nih orang (masa jam 8 malem mabuk?) tibatiba hampir menabrakku yang jelasjelas udah ada dipinggir jalan..ya ampun..untung nih ya aku ndak papa. coba kalau jadi ketabrak, bisa mati keknya aku..

malam itu

Malam itu dia berkata padaku ingin pulang ke negri yang jauh
Negri dimana tidak ada ayam yang berkeliaran bebas di jalan jalan
Juga tidak ada rumpun bambu yang menunggumu di tiap tikungan

Malam itu dia bertanya apakah perlu dia meninggalkan kenang kenangan
Apakah aku perlu sesuatu untuk mengingatnya
Mungkin seuntai manik manik atau selembar gambar diri

Jawabku tak perlu
Aku bisa mengingatnya hanya dengan menyusuri malam kota ini
Membaui setiap sudutnya dan menghampiri setiap jejak yang kutemukan

Malam itu dia pergi ke negri yang jauh
Negri dimana senja selalu datang terlambat
Dimana malam adalah kegelapan yang sempurna, dingin dan menakutkan

Malam itu sempat kusampaikan padanya pesan sebelum dia melangkah pergi
“pulanglah ke negri ini, negri dimana malam selalu hangat dan bersahabat”

Dan tiba tiba senyumnya seperti ribuan pisau yang menyayat

diculik dengan hormat dari: bono

mati lampu

tak seperti biasanya, menjelang hari gelap itu jari jemari Vero tak menari diatas keyboard compaq presario v3000 kesayangannnya. kukunya yang baru saja dipercantik dengan kuteks terbaru terlihat berkilauan dibawah timpa sinar lilin.

Vero duduk di pojok ruangan, diatas sebuah sofa dekat meja kecil tempat menaruh lilin. ia tampak sibuk dengan telepon selulernya. ada saja yang dilakukannya, sebentarsebentar ia mengecek sms masuk, membaca kembali sms yang ia kirimkan beberapa saat lalu, dan memainkan beberapa games yang terinstall disitu. ia tak dapat menghubungi kawankawan kampusnya karena pulsa terakhir sudah habis tadi jam 3 sore. Vero ingin ngobrol dengan mereka, tapi ia malas menembus deras hujan yang jatuh di pertengahan oktober ini untuk membeli pulsa. tak berapa lama ia merasa bosan. kepalanya lalu rebahan diatas sandaran sofa.  

menjelang magrib itu listrik padam, ”mati lampu” Vero biasa bilang. kamar kostnya gelap gulita. dari beranda kamar di lantai tiga ia bisa melihat kegelapan menghampar sampai sebuah titik yang cukup jauh, menara milik Mirota Kampus, nama sebuah department store. ia menyadari cuma lampu di menara itu yang terang benderang dari tempat ia berdiri.

Vero tak tahu pasti apakah padamnya listrik ada hubungannya dengan angin besar yang tadi sempat mampir di daerahnya. kebetulan tadi sore sekitar pukul 5, langit Jogja tibatiba menghitam dan angin berhembus cukup kencang sampai potpot bunga di depan kost menggelinding tak karuan. padahal sepanjang siang cuaca terik dan matahari bersinar membakar kulit. Vero tak betah berlamalama sendiri di lantai tiga yang gelap itu, buruburu ia turun dan menghidupkan lilin di ruang depan yang terletak di lantai satu, tempat biasa anakanak kost menerima tamu lakilaki.

sekitar 5 menit Vero tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. ia pun lelap dalam lamunan diantara pandangnya pada deras hujan yang turun membabibuta. kacakaca di jendelajendela serasa dipukulpukul. sementara bunyi gelegak air melewati pipa pralon yang sengaja dipasang untuk mengalirkan air hujan dari atap ke parit kecil di samping rumah itu terdengar semakin ribut. Pas benar mirip setting film horror jaman Suzzana, batinnya.  

tak berapa lama satu persatu teman kostnya muncul. ada Ira yang ternyata baru potong rambut jadi semakin pendek mirip Maia Ahmad, ada Raras yang pipinya semakin tembem karena stress mengerjakan tugas akhir, ada Dina yang tampak letih karena mengambil kerja part-time sampai larut malam, ada Dewi yang berkutat dengan hobi barunya, membaca National Geographic edisi lawas. ada Winda yang bahagia karena tulisannya baru saja dimuat di jurnal kampus. 

semua perubahan terlewat dari mata Vero yang tidak minus. Vero tersadar, ia selama ini terlalu sibuk dengan dirinya dan urusannya sendiri sampai tak tahu bahwa sekelilingnya berubah. terlalu asyik bermain dalam taman khayalnya, asyik berselancar di dunia maya yang jadi hobi barunya. Eh, ia bahkan tak sadar sudah punya hobi baru! 

sekawanan perempuan yang terjebak hujan deras dan mati lampu itu pun larut dalam curhat dan canda. nyala lilin yang tak begitu terang terasa tak begitu penting lagi, kegelapan yang mungkin masih akan berlangsung lama jadi mengasyikkan.  

”untung mati lampu, kalau nggak bisa mati kutu aku! ”, gumam Vero


jogja, okt 2008