sekelebatsenja: lalu

lalu

kau mencintaiku dalam diam, dengan cara yang aneh, dengan halhal yang kadang tak kumengerti dan kupahami. yang lebih sering membuatku memberontak dengan hujaman tanya. tidak dengan sederhana, tak pula serumit perekonomian dunia ketiga. 

aku mencintaimu dengan egois, dengan hasrat menyalanyala, dengan kilat dan guntur menggelegar dalam hati, dengan ketabahan layaknya kayu basah dalam api unggun.

kita tidak dalam frekuensi yang sama, kau sudah tahu itu. tapi kau dan aku paham, kita tak pernah selesai mendoakan satu sama lain;

dan itu kasih level mahadewa

0 komentar: