sekelebatsenja: fakultas sastra, setelah revolusi tak ada lagi

fakultas sastra, setelah revolusi tak ada lagi

Saya senang mengaitkan revolusi dengan sastra. Agen-agen peniup angin perubahan seringkali terilhami oleh karya sastra yang ia baca. Bukan kebetulan tampaknya jika Gie ada di Salemba, berjaket kuning dan berada di deretan garda depan generasi '66. Ia yang kini menjadi ikon para demonstran ternyata membaca Chairil dan Andre Gide di masa remajanya. Atau jika ingin contoh yang lebih terkini, Budiman Sudjatmiko dan aktivismenya yang menghebohkan bersama PRD ternyata adalah pengagum Hikmet Ran, penyair Turki yang bersama-sama dengan Pablo Neruda meraih penghargaan dari pemerintah Uni Sovyet di tahun 1950-an. Lalu saat kita berpaling ke seberang lautan, kita tak akan terkejut jika Ernesto Guevara de la Serna ternyata mengapresiasi Garcia Lorca. Kita tentu masih ingat ketika menonton biografi masa mudanya dalam mengelilingi Amerika Latin ditemani seorang sahabat, The Motorcycle Diaries, ia sering mengutip penggalan-penggalan puisi Lorca. Serta yang lebih familiar untuk anak muda sekarang, Subcomandante Marcos, tidak sekedar mengapresiasi tetapi ternyata sudah mengartikulasikan pikirannya lewat karya. Di sini kita jadi akrab dengan kumpulan karyanya yang bertajuk Kata adalah Senjata. Tak heran sebab sebenarnya dia seorang yang berasal dari kalangan ademis. Dunia film juga mengamini hal tersebut. Dancer Upstairs, film yang diadaptasi dari Novel karya Nicholas Shakespeare itu dengan cantik menggambarkan bahwa revolusi dimulai dari seseorang pemimpin yang berjiwa romantis. Disana diceritakan bahwa gerakan Maois revolusioner Sendero Luminoso di Peru, dipimpin oleh seorang yang melawan kekuasaan lewat teror yang puitis.

Tampaknya kesenangan membaca karya sastra membuat nama-nama besar diatas menjadi peka terhadap keadaan di sekeliling mereka. Tak salah, sebab sastra menawarkan semacam dunia kecil dimana mereka bisa terlibat serta berinteraksi sekaligus berempati. Dari empati ini kemudian timbul kesadaran yang mengendap bahwa ada yang tak beres dengan realitas. Banyak ketimpangan yang mungkin tak disadari jika kita tidak mengasah kepekaan dalam membaca keadaan sekitar. Walhasil, darah muda yang menggelegak segera mengambil sikap dan berpihak. Jelas, mereka sadar kemana seharusnya keadaan diperjuangkan; ada yang tertindas dan membutuhkan uluran tangan!  


II

  Pikiran yang agak naif, tapi kira-kira itulah yang saya pikirkan ketika masih berada di sekolah menengah. Saya dulu begitu terobsesi untuk masuk Fakultas Sastra. Saya merasa disinilah tempat bersemainya agen-agen pembawa kabar perjuangan. Terutama setelah saya membaca Catatan Seorang Demonstran-nya Gie, yang tentu saja masih berkover warna merah dan bentuknya kecil seperti novel, bukan yang bersampul Nicholas Saputra seperti sekarang. Saat itu tak jarang saya mengkhayalkan para mahasiswa berjaket kuning berdemonstrasi dan Gie berada di deretan paling depan para demonstran sembari tak henti-hentinya meneriakkan—maaf bukan umpatan semacam Soebandrio andjing Peking dan sebagainya—tetapi sepenggal dari Aku-nya Chairil Anwar: biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang! Sementara di balik aksi lapangan itu kantung-kantung perkumpulan mahasiswa diramaikan dengan diskusi sastra, mungkin sedikit komentar dari hasil pembacaan novel semacam Germinalnya Emile Zola (Saya tak tahu apakah novel itu sudah masuk Indonesia saat-saat Gie jadi aktivis, novel itu terbit tahun 1968). Lalu media kampus diramaikan dengan tulisan yang mengekspresikan protes dan idealisme mahasiswa yang dianggap subversif. Dunia yang dialami Gie romantik, dan eksotis. Ya, eksotis untuk anak SMU yang masih asing dengan dunia mahasiswa. Tak salah kiranya jika saat itu hasrat di hati ini masuk Fakultas Sastra sangat menggebu-gebu. Sederhana, saya merindukan pertemuan dengan rekan-rekan yang memiliki nyala revolusi di dadanya. Saya ingin mereka mengobarkan api yang sedang berkedap-kedip hilang bentuk di hati ini. 

  Tapi rindu saya karam, megap-megap dalam lamunan ketika saya memasuki tahun kedua di Fakultas Sastra Bulaksumur yang tercinta (saya memang tak jadi terdampar di UI). Saya pangling mencari figur-figur dalam khayalan saya dahulu. Lama sudah beta menyelusup tapi tak kunjung juga ketemu. Tak nyana, karena lelah tersesat dalam pencarian, entah kenapa saya menjadi teryakinkan bahwa revolusi enggan berkunjung kembali. Jelas revolusi dalam artian sempit semisal usaha mereproduksi lagi euforia '98 yang sudah lewat telah menjadi obrolan basi. Tapi bagaimana kabar "revolusi" dalam sikap, karya, serta usaha menjaga atmosfir dimana api gairah terhadap perubahan serta hasrat berkarya yang kritis itu tetap menyala-nyala? Indahnya kampus ketika setiap individu yang melakukan perjumpaan adalah entitas yang penuh vitalitas dalam mengemban sebutan mahasiswa sastra di pundaknya. Mereka adalah individu yang mabuk dengan poetry dan virtue. Saya tak tahu. Ah, mungkin benar kata Goenawan Mohamad: revolusi sudah tak ada lagi. Kini, ketika saya memasuki kampus dan melabuhkan pandangan ke sekeliling, saya selalu tergoda untuk berkomentar. Saya sadar, komentar saya pasti subjektif. Tapi tak ada salahnya dan ada baiknya juga kita bersama bertukar cerita.

  Melangkahlah masuk ke Fakultas Sastra, dan langsung saja lurus arahkan kaki anda menuju plaza (atau bahkan kini bonbin!) dimana berbagai mahasiswa berseliweran bertemu selintas lalu, berbagi kesan dan rupa. Di pojok-pojoknya anda akan menemukan sekelompok mahasiswa yang mungkin sulit dibedakan dengan anak SMU. Mereka tampak begitu hip dengan dandanan terkini ala distro dan pencitraan yang akrab bagi pemirsa MTV. Begitu asyik gosip populer bergulir diantara individu-individu tersebut yang mungkin bisa kita identifikasi sebagai mereka yang hanyut dalam konsumsi budaya massa. Bertanyalah tentang lagu-lagu yang menghiasi chart MTV ampuh, novel chicklit yang terbaru untuk kaum wanitanya, sneakers Vans seri apa yang sedang in, atau kapan film Sembilan Naga tayang di Jogja. Anda sedang mendiskusikannya dengan para pakar. Tapi jangan langsung mencoba topik diskusi seperti, apakah kamu sudah baca The Outsider-nya Camus? Eh, kamu punya bukunya Sade ga? Atau sedikit tajam dengan berdebat tentang payahnya hasil terjemahan karya sastra atau buku tertentu. Itu sangat beresiko membuat anda terlihat seperti Zarathustra di tengah pasar. Saya sering merasa sebagai sobat yang tertinggal atau bahkan idiot diantara para hedonis pengkonsumsi produk culture industry ini. Entah, tampaknya saya termakan ucapan Adorno ketika ia berujar bahwa orang-orang yang tak mampu berbicara dalam bahasa mereka bisa dicurigai sebagai idiot atau intelektual. Saya jelas bukan intelektual, jadi mungkin saya idiot.

  Selangkah lebih ke dalam menelusuri lanskap Fakultas Sastra, anda akan menemui mahasiswa-mahasiswa yang lebih serius. Menenteng ransel besar dan berat kesana-kemari, serta bergumam tak jelas tentang SKS atau nilai mata kuliah. Topik obrolan mereka lebih fokus, seperti bagaimana perkembangan skripsimu? Atau untuk yang lebih muda akan bercerita tentang nilainya yang kurang memuaskan ditambah omelan tentang dosen yang keparat. Menyenangkan bila berada di sekitar mereka, terutama mengamati determinasi mereka yang tinggi untuk segera menyelesaikan studi. Tak diragukan lagi, ini akibat pragmatisme yang timbul akibat makin meningkatnya biaya kuliah. Tapi saya takut jikalau sikap apatis mereka terhadap keadaan sekitar bisa berakibat terlalu jauh. Calon intelektual Mandarins, kata para tokoh Frankfurt school. Ya, rekan-rekan yang seperti ini biasanya tak ambil pusing dengan isu-isu seputar kampus maupun yang lebih kritis lainnya. Blueprint masa depan mereka sangat jelas; secepatnya keluar dari neraka kampus dan mencari kerja. Syukur-syukur bisa mandiri dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi bagi saya hidup seperti itu datar, tak bermakna. Dimana romantisme berkarya? Dimana revolusi masa muda? Kasihan. 

  Lebih ke dalam lagi di Fakultas Sastra. Mungkin sekarang sisi-sisi gelap agak terungkap. Berkunjunglah di malam hari ketika Sastra sedang berpesta dalam musik yang ceria. Selain mereka yang berjoget seiring musik yang menghentak, di beberapa sudut mungkin anda akan menemukan beberapa teman yang duduk melingkar mengelilingi gelas minuman. Perkenalkan, ini teman-teman kita yang menghayati Baudelaire dengan sepenuh hati: mabuk dan mabuklah! 


Get drunk and stay that way
On what?
On wine, poetry or virtue, as you wish...  

Jujur, saya juga bagian dari mereka; rekan-rekan yang akrab dengan air kedamaian. Bagi saya alkohol terkadang perlu untuk menjaga kegelisahan, dan kegelisahan adalah tempat bersemainya inspirasi (namun saya juga berusaha mengingat poetry dan virtue, tidak sekedar wine). Satu hal yang ditakutkan; perjamuan dalam kadar yang berlebihan bisa membawa efek yang tidak diinginkan, setidaknya membuat kita menjadi tidak produktif. Karya tidak lahir dari entitas yang hidup dalam dunia bawah sadar. Saya juga segan jika saya lebih dikenal karena hobi saya menenggak minuman daripada sebagai seorang mahasiswa sastra. Terkadang usaha mendisiplinkan tubuh juga perlu, bukan begitu?

  Berlawanan dengan kamerad-kamerad pengkonsumsi alkohol tadi adalah teman-teman kita yang sangat religius. Anda tak usah kemana-kemana untuk mencari mereka, di Sastra mereka ada dimana-mana. Tampaknya tak pas membicarakan revolusi atau karya yang subversif dengan rekan-rekan ini. Sebab tak ada riak ombak di laut yang dalam, pepatah lama mengatakan. Jadi mari kita batasi topik ini hanya pada kita yang masih bingung memilih antara religi dan religiositas, dua hal yang bagi Mangunwijaya jelas bedanya. Apalagi untuk saya yang sering mengutip Subagio Sastrowardoyo, salah satu pahlawanku, untuk menggambarkan hubungan saya dengan Beliau: 

Bapa di sorga.
Biar kita jaga jarak 
Ini antara engkau dan aku
Kau hilang diantara keputihan ufuk
Dan aku tersuruk ke hutan buta...  


Berbahagialah mereka yang merasa telah menemukan lentera di ujung perjalanan.

  Satu lagi dari Fakultas Sastra; "bidadari-bidadarinya". Sayang, saya tak tahu banyak tentang mereka. Apakah mereka kebanyakan bertipe licin dalam memperdaya lelaki seperti Lolita dalam novelnya Nabokov, gemar berpetualang karena materi seperti Madame Bovary, ataukah yang setia walau derita mendera seperti Hester Prince, entahlah. Saya berharap mereka tertarik dengan "revolusi" yang kita bicarakan. Anda lihat-lihat sendiri saja, siapa tahu anda menemukan satu dara yang bergaya Rive Gauche ala Paris '68 atau Flower Generation alias Hippies tahun 60-an. Lumayan, untuk ditanyai motivasinya tampil beda atau ngobrol tentang Howl-nya Allen Ginsberg:


I saw the best mind of my generation destroyed by
madnes, starving hysterical naked,...  


III

  Lalu dimana Fakultas Sastra yang banyak menginspirasi dan melahirkan para pembawa nyala api revolusi di dadanya? Dimana calon Gie-Gie baru? Dimana Rendra-Rendra baru? Mereka tampaknya tersingkirkan diantara keriuhan pesta pora Fakultas Sastra yang kian riang dan dekaden. Mereka makin asing dengan gedung-gedungnya yang makin tinggi dan menebarkan kemapanan. Mereka mengingatkan saya pada perasaan yang Ayip Rosidi ungkapkan dalam puisinya berjudul New York, musim panas tahun 1972: 

Disini matahari terbit 
  tapi entah dimana
Disini matahari terbenam
  tapi entah dimana
  Sinarnya tak pernah tiba di bumi
  tersangkut di gedung-gedung tinggi 


Ya, Fakultas Sastra kini mirip metropolitan New York, dengan bule-bule lalu lalang kesana kemari. Ia makin asing bagi mereka yang merindukan suatu revolusi yang romantis. Ia semakin berjarak dengan sejarahnya yang pernah melahirkan nama besar seperti Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Rendra dan Umar Kayam.

Lalu saya? cuma seorang flaneur di tengah hiruk-pikuk tersebut. Saya berusaha bercerita dari sudut pandang seorang pejalan kaki yang mengamati. Inilah tampaknya realitas di saat aktivisme dalam karya tak lagi memikat, di saat media kampus mulai sekarat, di saat tangan yang terkepal dan lagu darah juang mesti disimpan rapat, disaat Iwan Fals pun mulai menyanyikan lagu cinta, di saat –mungkin—revolusi sudah tak ada lagi.  

(Padahal masalah tetap ada, realitas belum banyak berubah. Negara makin voyeuristic dan represif ketika blog pribadi bisa dipermasalahkan, kampus tak becus dalam mengurus GAMA card, DPR makin menggelikan dengan UU yang nyeleneh, dan seabrek masalah lain yang membuat kita mual secara psikis. Sudahlah, amini saja apa yang terjadi. Mari terus bermimpi!)
2006

30 komentar:

junjungpurba said...

pecahkan saja gelasnya biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh :D

iman brotoseno said...

Cuma ingat di kampus UI saya dulu..selalu saja ada gadis gadis Fakultas Sastrsa yang memikat saya.
He he

sitijenang said...

hmmm... numpang ninggalin jejak aja deh. :D

hari Lazuardi said...

teruslah berjalan kaki, karena bisa lebih dekat dan leluasa melihat...

boy said...

selamat pagi, pagi yang penuh pencerahan...
mau komen tapi dah lengkap...klop..he..he..

cahpesisiran said...

"Melangkahlah masuk ke Fakultas Sastra, dan langsung saja lurus arahkan kaki anda menuju plaza.."

sptnya, mbak yayuk blm terpetakan dalam postingan ini ya..

hehehehe...

zee said...

Saya jadi ingat temen2 di fak sastra dulu. Terutama yg di jurusan etnomusikologi. Jurusannya etno kan? Tp nge-band bawa musik yg kenceng2.. hehehe..
Tp mereka biasanya pinter2 klo menciptakan lirik.

akuhayu said...

apa yg kamu keluhkan ini terjadi di semua lini kok (baca: fakultas)
barusan aku bertemu dengan anak sospol, pake high heels, pake maskara, alisnya setinggi monas, tak jamin, dia pasti ga tahu mars fisipol, apalagi darah juang..
T_T

Dewi Pinatih said...

hahahaha.... ikutan comment ah... cuman di angkatan kalian aja kali :)

jaman aku, kampus biru kita tercinta belum se-hedonis itu kok... masih banyak diskusi - diskusi panjang sambil minum wedang jahe di angkringan - angkringan.... kayana sih setaun dibawahku mulai hedonis dan mulai study oriented ( pengaruh SPP yg mahal kali ya )...

Jaman aku sih masih berlaku "jangan sampai kuliah ganggu jadwal organisasi" :D

Haris Firdaus said...

masih sama dg kemarin: meledak-ledak. terus meledak. ha2. akan tiba saatnya kita diam, kawan. akan tiba saatnya kita, seperti Chairil, mengucap lirih: "hidup hanya menunda kekalahan.... dan tahu ada yang tetap tidak diucapkan/ sebelum pd akhirnya kita menyerah."

:)

Cebong Ipiet said...

ku berlari ke hutan kemudian menangisku
kuberlari ke pantai kemudian teriakku
kuberlari ke pasar kemudian belanjaku
kuberlari ke warung kemudian makanku
aaaaaaaaaaaaaaaaa...owalaaah jadi anak sastra pantes susunan katanya begitu menggelayut
kalo saya kan anak statstratistika

Cebong Ipiet said...

kangen ITS ku
kampus yg ndak nganeh nganehi
berjepit ria
mengonthel ria
tanpa gaya hedonis
g tau de sekarang

angel said...

Jd inget dlu pngn masuk sastra malah kejerumus k psik0l0gi. . .
Alhasil aq paksain jg masuk teater. . .Pkoknya ngandung sastra dlu d benak aq. . .
Gak taunya malah betah d sanggar skedar maen gitar ato bc naskah absurd daripada ke kampus berkutat ma ilmu freud. . .
Tapi stidaknya aq bs lulus jg stelah merangkak melawan predikat "maba" alias mahasiswa basi karna kelamaan ngend0n d sanggar n manggung kanan kiri. . .Hehehe.

nita said...

dulunya ingin masuk fak sastra tapi batal:(

kaka said...

gua selalu suka sastra

Tendangan Bebas said...

kalau begitu sastra butuh otoriter
otoriter yg melahirkan ketidakadilan
ketidakadilan yg melahirkan sastra

nara said...

Wuih, panjang banget tapi baru kali ini lumayan ngerti dari awal sampai akhir. Membangkitkan lagi niat baca sastra yang sudah lama saya tinggalkan karena kesibukan kuliah.

Apakah perlu revolusi terus mbak? Yg saya lihat setiap mahasiswa berhasil menjungkalkan setiap rezim yang ada selalu tidak ada tindak lanjut. Maksud saya rezim terguling tapi sebenarnya akarnya masih ada dan hanya berubah nama: Orde lama menjadi orde baru tapi dalemannya masih orde lama. Orde baru berganti era reformasi tapi benihnya tetap orde baru. Kemana mereka yang memberontak? Apa larut dalam pesta kemenangan karena tujuan yang baru selangkah itu? Romantisme membuat lupa kalau merubah tidak berhenti hanya sampai menjungkalkan. Mengamati beberapa aktivis yang saya kenal saya bertanya apakah pikiran mereka benar tertuju pada perubahan? ataukah karena kebutuhan akan rasa sakit dan heroik dalam diri? Saya rasa tidak usah dijawab karena hanya diri masing2 yang tahu. Toh saya memang perlu berterima kasih pada mereka karena perubahan memang terasa, masih mending ketimbang sy yg cuma bisa nggrutu.

Moga revolusi bukan hanya karena mengisi masa muda. Baru tahu kalau alkohol munculin gelisah padahal pernah mikir pingin nenggak ketika pikiran terlalu gelisah butuh ketenangan :p

Besok jadi punya alasan ke toko buku nih

Angga Wijaya said...

Oh, ini tulisannya pacarnya Winda toh..

Revolusi ada di dalam diri kita masing-masing. Hanya kita belum membangunkannya.


Angga.

Pijar Publishing said...

ketika jurnalisme dibungkam, sastra bicara. ketika sastra terdiam, negara semakin merajalela ngobok-obok rakyatnya.

saya jadi teringat cerita lama tentang kalijaga yang bertoleransi dengan beberapa budaya lokal/hindu demi agama baru yang dibawanya. saya jadi teringat ketika beberapa waktu lalu berhasil nongkrong dengan remaja MTV dan senang menyaksikan mereka bangga bisa nge-band dengan lirik-lirik puisi. musikalisasi puisi, kata mereka. hingga saat2 berikutnya mereka mulai ke toko buku dan tak hanya membeli naruto tapi juga pelan-pelan nabung demi tetralogi pram. tapi tentu saja itu hanya sebagian kecil, sebab negara tak akan pernah rela rakyatnya membaca.
ah, saya rindu jogja setahun pasca kemenangan sementara para mahasiswa atas nama runtuhnya orde baru. semester 1 pada waktu itu, 99, setelah tak lulus dari fak sastra gama dan fak pertunjukan isi. beruntung punya banyak teman yang mengadili puisi di pendopo tamansiswa.

sembilan tahun lewat. kemarin sempat mampir liburan lebaran. dari dalam trans jogja, betapa perih melihat keberhasilan negara menurunkan kepal tangan mahasiswa untuk kemudian berbondong-bondong masuk amplaz.

saya rindu jogja. sehingga berharap tak pernah lagi kembali ke kota tua itu sebab ujung malioboro tak lagi ramah dengan sepasukan diksi yang urung ditulis.

kalau ada waktu, mampirlah ke borneo barat, tempat aku pelan-pelan mencoba untuk tetap akrab dengan jogja.

salam

sumiregusa said...

ah sastra...

ceweknya tambah oke2 semua,,ya gag win???

septy said...

temen2 sastra = unik :D

masDan said...

Tanpa sastra Kurang Rame, Kurang ada Pemandangan Indah Cewek Cewek Cantik nan Seksi ....

icha said...

hmmm...dulu waktu eraku jadi mahasiswa, hedonisme juga bertahta...lalu thn 98, berbaliklah sudah, jadi aktivitis itu membanggakan. dan sekarang nampaknya sudah terlena lagi ya, merasa tugas sudah selesai. atau justru frustasi ternyata perubahan tidak seperti yang mereka mau?

tapi dari orang-orang seperti kamu Win, revolusi bukan sekadar kata. revolusi yang bukan cuma perubahan aturan, tapi juga perubahan pola pikir..

btw..aku dah yakin dr awal, sering berkunjung kemari akan makin memijarkan bilur-bilur otakku pada satu frekwensi yang sama denganmu...

wahhhhhh panjangnya komentarku....
eh kena puting beliung ndak hari ini, Win?

h.anugrah said...

Hadoh puanjang buanget,,

Baru baca stengah,,tapi yg pasti keren tulisannya :D

Salam kenal,,rgds,,

dewi fira said...

OBAT PERANGSANG WANITA
Sex Drops Cair
Potenzol Cair
Perangsang Jel
Red Spider Cair
Viagra Cair
DH2O Cair
Blue Wizard Cair
Black Ant Cair
Spanish Fly Cair
Spanish Fly D5
Obat Plant Vigra
Permen Ailida
Permen Karet Perangsang
Perangsang Serbuk
Black Ant Serbuk

ALAT PEMBESAR PENIS
Pro Extender
Vakum Pompa Penis

OBAT PEMBESAR PENIS
Neosize XL
Vigrx Plus
Vimax

OBAT MANDUL
Obat Penyubur Sperma
Obat Penyubur Kandungan
Obat Penambah Sperma

PEMBESAR PAYUDARA
Vakum Pompa Payudara

dewi fira said...

SEX TOYS PRIA
Vagina Getar Suara
Vagina Ngangkang Getar Suara

SEX TOYS WANITA
Penis Tempel Manual
Penis Maju Mundur Putar
Vibrator Lipstik
Penis Sakky Elektrik
Penis Kelabang

OBAT tAHAN LAMA
Maximum Powerfull
Africa Black Ant Kapsul
Procomil Spray
Darling
Stud 007

Anita Tri Ulina said...

Wonder Full. Semoga allah swt akan selalu mempermudah hambanya. Insya Allah Sukses Selalu. Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini :
Toko Online HerbalKing Obat HerbalGudang Obat HerbalJual Obat HerbalJual HerbalJual Produk HerbalJual Herbal MurahHerbal BandungProduk HerbalHerbal HabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwarePenyakitObatbusinesKesehatanHot NewsDownload E-bookKhasiat dan ManfaatHidup SehatDokter HerbalPenyakit

Anita Tri Ulina said...

Insya Allah Sukses Selalu. Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini :
Toko Online HerbalKing Obat HerbalGudang Obat HerbalJual Obat HerbalJual HerbalJual Produk HerbalJual Herbal MurahHerbal BandungProduk HerbalHerbal HabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwarePenyakitObatbusinesKesehatanHot NewsDownload E-bookKhasiat dan ManfaatHidup SehatDokter HerbalPenyakit

Game online said...

SHINCHANPOKER.COM AGEN POKER DAN DOMINO TERBAIK DI INDONESIA

MIYABIPOKER.COM AGEN POKER DAN DOMINO ONLINE TERBAIK DI INDONESIA

CAHAYAPOKER.COM AGEN JUDI POKER DAN DOMINO UANG ASLI ONLINE TERPERCAYA INDONESIA

SAHABATQQ.COM AGEN DOMINO99 DAN POKER ONLINE TERBESAR DI ASIA

ituDewa.net Agen Judi Poker Domino QQ Ceme Online Indonesia

Anita Tri Ulina said...

Mantaps :) CurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerif