sekelebatsenja: potret sang mahasiswa sebagai rimbaud muda

potret sang mahasiswa sebagai rimbaud muda

Saya ingin memulai tulisan ini dengan kisah seorang Arthur Rimbaud, sang petualang. Umurnya belum genap dua puluh saat pertama kali ia menyeret langkahnya menggelandang di Eropa pada tahun 1874. Ia lewatkan hari-harinya di Brussel, Antwerpen, London, bahkan hingga ke Stuttgart dan Marseille hanya untuk merangkak dari bar ke bar, meniduri pelacur-pelacur kontinental, dan tak lupa bertaruh nasib di helai-helai kartu remi. Tak heran jika penanya saat itu menggores tajuk-tajuk semacam Le bateau ivre (Kapal Mabuk), atau yang serupa pengakuan: Une saisons en enfer (Semusim di Neraka). 

Di Antwerpen dan Marseille saat ia bekerja sebagai kuli pelabuhan, sempat terdengar olehnya bisik-bisik tentang sebuah terra incognita yang bernama nusantara. Barangkali terpesona atau bahkan tergoda, ia bergegas ke Handerwijk pada 18 Mei 1876 untuk mendaftar sebagai serdadu Nederland Indies. Genap dan usai sudah dua tahun petualangannya di Eropa saat ia diterima keesokan harinya sebagai relawan. Sebuah kapal bernama Prins van Oranje lalu melayarkannya menuju Batavia pada 10 Juni 1876. 

Layar terkembang, ombak beriak, sauh dilempar usai mengayuh, mendaratlah Rimbaud. Tangsi Meester Cornelis di Jatinegara menjadi persinggahan pertamanya sebelum ditempatkan di Salatiga. Kehidupan baru Rimbaud pun dimulai: sebagai serdadu bayaran di Hindia dengan sebatang pena untuk menulis puisi. 
***
Saya menoleh Rimbaud usai bersua seorang rekan yang selama ini saya kenal sebagai aktivis mahasiswa. Ia bercerita banyak. Tentang tualang, suka-duka berkelana di rimba organisasi, serta kemuakan yang terlanjur ia hirup dari kenangan menjadi aktivis. Kesan yang saya peroleh meyakinkan saya bahwa hari-hari ini ia lebih reflektif memandang dirinya. Jauh beda saat silamnya ia masih seorang maba ingusan yang gandrung dengan hiruk-pikuk dunia kampus. 

"Sudahlah. Ada hal lain yang seharusnya bisa saya lakukan". Agak malu juga ia jika mengingat masa lalu yang tak lugu. Saat ia begitu naif, mirip rekan-rekan yang berkobar diatas mimbar dalam demonstrasi tiada henti. 

Saya kemudian berpikir. Pada masanya agaknya organisasi, identitas aktivis, plus Marxisme jadi mitos baru. Serupa doxa bahwa kurang afdol jadi mahasiswa kalau tidak sempat mencicipi dunia para aktivis. Dahsyat jadinya. Ketika jaket hijau kanvas dan emblem slogan hukumnya bukan lagi makruh, jadi sulit dibedakan mana yang aktivis beneran, mana yang kalau rapat organisasi cuma jadi notulen serabutan. Yang penting: tampilan mirip Ali Topan dan bisa ngecap sedikit-dikit tentang Marxisme, proletariat atau semacamnya. 

Saya sendiri pertama kali mengenal Marx lewat tulisan Romo Frans dan kartun Rius. Lalu baca German Ideology juga sedikit-sedikit. The Marx-Engel Readers cuma sempat singgah di kamar kos, tak sempat dibaca. Das Kapital tak jadi dibeli sewaktu ketemu di Soping. Cuplikan Grundrisse baru mulai dibaca sekarang. Yang paling banyak ya baca lewat zine-zine kiri reaksioner. Duh, semangat tenan. Tiba-tiba rasanya jadi kritis membabi buta. Sepatu Adidas yang dipakai di kaki tiba-tiba terasa tak nyaman sejak mengetahui bahwa nilai tambahnya tidak dinikmati oleh para buruh harian di Tangerang melainkan kapitalis gendut berdasi yang lagi rapat di Manhattan. 

Mungkin hal yang sama juga terjadi pada teman saya yang pada masanya adalah orator ulung di atas mimbar. Yang dahulu tanpa pikir panjang ingin gabung organisasi. Menumpas ketidakadilan, misinya.

Mencoba berbicara lepas, rekan tercinta ini sempat militan dengan motivasi tak karuan. Ia seakan beriman teguh pada sebuah "medan tempur". Untungnya ia melakukannya bukan dengan kesengajaan yang fatal. Tapi lebih karena didorong oleh keterpesonaan akan sesuatu yang tampak gagah bagi pikiran seumurannya. Tak salah kiranya jika ini disebut dengan ilusi masa muda: jiwa avonturir dan akal pendek dicampur dengan keterpesonaan tadi bisa menjelaskan pertautan emosionalnya dengan sebuah perjuangan imajinatif. Usaha untuk singgah dan menaklukkan ranah asing yang suatu saat bernama kapitalisme global atau di saat lain komersialisasi pendidikan. Mirip Rimbaud yang tergesa-gesa jadi serdadu Kumpeni.

Kini sikapnya berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Daripada ikut demonstrasi, kenapa tidak menulis saja? Mahasiswa pasti bisa menulis. Daripada koar-koar di jalanan melantur tentang konsep-konsep sakti yang bahkan belum pernah dibaca buku babonnya. Mentok pada aksi turun ke jalan, seakan menunjukkan mahasiswa makin miskin kreativitas." Kamerad saya itu menyemprotkan unek-unek yang sudah karatan ia pendam.

"Musuh mahasiswa sekarang bukan negara, bukan juga kekuasaan global yang mereka sangka memperkosa kampusnya. The true enemy of this bunch was not State Power but Lack of Imagination." Senyum simpul menghiasi bibir saya saat ia melempar joke dari percakapan Watanabe dan Midori dalam Norwegian Wood karya Murakami. 

Masalahnya mungkin seperti ini. Ambil saja contoh mahasiswa yang sedang demo tentang sengkarut pendidikan. Oke lah, kita maklum ada yang tak beres dengan sistem pendidikan kita. Tapi apa semua rekan yang berbicara di mimbar itu bisa menjelaskan dengan baik hubungan antara masalah di kampusnya dengan kata asing semacam neoliberalisme yang mereka ucapkan? Sedikit-sedikit neoliberalisme, serempet kata ketidakadilan langsung tuding kapitalisme. 

Saya mencoba mafhum. Naif mahasiswa yang berlebihan dalam menjelaskan permasalahan makin mirip jamu makjun yang pahit tapi harus kita telan. Santer terdengar dalam diskusi, dan demo tentunya, ketika mereka buru-buru mencari kambing hitam dengan menuding pada entitas mengawang seperti kapitalisme global dan neoliberalisme. Padahal hanya untuk menjelaskan fenomena kenaikan Biaya Operasional Pendidikan. Mereka mengesampingkan begitu banyak variabel permasalahan yang perlu dijelaskan, sementara lokalitas permasalahan luput dari tinjauan.

Namun begitu, sang mantan aktivis ini sekarang berusaha tetap menghargai imajinasi rekan-rekannya tersebut saat berbicara mengenai istilah-istilah sakti semacam sosialisme, komunisme, dan Marxisme hasil olah baca zine-zine reaksioner. Juga usaha mereka untuk tergopoh-gopoh pasang emblem kiri di jidat. Dalam benaknya, ia maklum jika mereka mengaku kiri bukan karena mengerti. Lebih condong karena slogan kiri itu kini semerdu lagu-lagu Nidji. Atau juga karena topinya Castro ternyata matching dengan kaos distro. Akibatnya, pemahaman mereka cenderung terfragmentasi. Sepotong-dua potong yang cukup untuk jadi bahan masakan selebaran propaganda demo. 

"Seingat saya, " Ia bahkan menambahkan. " Ada gurauan tentang begitu banyak orang menjadi Marxist tanpa mengikuti Karl, melainkan Groucho. 'What ever it is, I am against it' kembali terngiang ucapan Groucho yang kondang. "si pembuat rumor itu sungguh tak yakin jika mereka benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang penting anti. Seyakin saya yang percaya kalau mereka tak membaca liberalisme sebagai filsafat, dan tidak melihat kompleksitas dimensi manusia. Saya bertanya-tanya apa reaksi mereka seumpama membaca pernyataan seseorang yang pernah mengatakan bahwa dirinya seorang liberal dalam politik, sosialis dalam hal ekonomi, anarkis dalam mikropolitik? Akibatnya, sangat tragis, terlalu banyak sesat pikir dan jargon kosong di retorika mereka." 

"Apakah ini pengaruh bacaan yang memang dari situnya sakti untuk membakar jiwa muda?" Bantah saya padanya. 

"Mungkin juga. Tapi lebih mungkin lagi tidak. Ada kok rekan yang juga membaca teori-teori Marxisme dan zine reaksioner tapi tak langsung menyodok kepala seorang teman untuk meyadarkannya menjadi kiri, ikut organisasi, lalu berdemonstrasi. Sebagaimana kamu yang baca buku harian Gie dan tak langsung ingin naik gunung."

Rekan saya itu makin berapi-api. "Jujur, kini saya makin menghargai rekan-rekan yang masih menyimpan penanya di saku. Dan tak buru-buru menukarnya dengan selembar tanda keanggotaan organisasi yang berbentuk kartu. Mereka menulis, berkreasi, dan tak banyak bicara. Mereka kiri dan revolusioner sejati, tapi tak perlu siluet Che di dada. Atau jangan-jangan karena mereka sepakat dengan seorang Kasian Tejapira, mantan aktivis dan pejuang gerilya di belantara Thailand tahun 1970-an yang kini malah jadi akademisi ilmu sosial. Ia sempat mengeluh tentang rekan-rekannya yang keras kepala dan berhenti memaknai Marxisme sebagai alat analisis: mereka yang memperlakukan teori-teori Marx layaknya khotbah Musa di Sinai. Dalam kekesalannya ia sempat nyeletuk jika kaum Marxist terbaik ada di luar partai komunis dan yang tersisa di dalam tinggallah yang paling idiot. Dari sudut pandang Tejapira, tiba-tiba saya melihat wajah saya dahulu dan rekan-rekan yang betah di organisasi—yang katanya revolusioner—tak pernah berwajah cerdas."

Saya kemudian sedikit berani menimpali ocehannya. "Seharusnya kita bisa mendengarkan Gramsci kembali barang sejenak. Ia yang memandang intelektual sebagai aktor-aktor penting ketika konflik kelas (mereka tentu masih pakai model analisis ini) dimainkan dalam level ideologis. Hegemoni dari kaum kiri adalah yang melibatkan usaha untuk melepaskan intelektual 'tradisional' dari kelas berkuasa dan membangun apa yang ia sebut dengan intelektual 'organik' dari kelas pekerja. Nah, kenapa mahasiswa demonstran tak berkutat dengan bukunya dan menulis saja untuk menunjukkan kepemimpinan intelektual dan moral? Aktivisme, sependek pengetahuan saya, tak selalu identik dengan demonstrasi." 

"Benar bung," Senyum teman saya mengembang. Sambil terkekeh ia mematikan rokoknya, Camel tanpa filter. 

"Tunggu dulu, jangan-jangan kecurigaan kita ini disebabkan karena tak banyak (lagi) aktivis mahasiswa sekarang yang berprestasi dan mau menulis?" 
Pertanyaan saya terdengar kadung retoris.

"Jika benar begitu, tentu tak heran jika muncul kecurigaan bahwa mungkin, sekali lagi mungkin, usaha berlindung di balik jubah aktivisme adalah untuk menutupi reaksi ketidakberdayaan dalam proses belajar mengajar di kampus." Saya kemudian menambahkan.

Rekan saya itu terdiam sejenak. Matanya menerawang menatap langit, lalu menghela nafas panjang. 

"Untuk mengakhiri unek-unek saya ini, saya ingin mengutip Wallerstein yang pernah berkomentar tentang Marx yang ia pandang (sic) sebagai seorang figur monumental dalam sejarah intelektual dan politik, namun ironisnya mengaku bukan seorang Marxist. Marx tahu, sebagaimana banyak pengikutnya yang memproklamasikan diri sebagai marxist tidak ketahui, bahwa ia adalah seseorang dari abad kesembilanbelas yang mana visinya mau tak mau dibatasi oleh situasi realitas sosial saat itu. Oleh karena itu, marilah kita menggunakan tulisan-tulisannya dalam cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Selayaknya seorang kamerad dalam perjuangan, yang mengetahui sebanyak yang Marx ketahui." Hening menyambut ujaran penutup kawan saya tersebut. 

Tiba-tiba kami jadi bersimpati pada mahasiswa yang menyodok bola biliar di tempat-tempat hiburan Seturan. Kebiasaan borjuasi yang menggiring saya pada nostalgia warna sepia rumah bola Harmonie di Batavia dulu. Oh, betapa polos dan ignorannya mereka. Tak teracuni dengan paham revolusioner dan tak malu mengakui diri mereka borjuis.
***

Rimbaud akhirnya raib dari tangsinya suatu hari di bulan Agustus 1876, kurang dari tiga minggu sejak kedatangannya di Salatiga. Empat setengah bulan kemudian, tepat pada tanggal 31 Desember, ia muncul kembali di rumah keluarganya di Charleville. Ia tampaknya memilih desersi daripada melanjutkan kehidupan di tempat yang tak ia sukai. Ia pulang pada kebebasan setelah terjaga dari mimpinya tentang ranah asing tersebut. 

Yakinlah kini, mahasiswa juga tak jauh beda. Saat kita putus asa dengan demonstrasi, lalu tuntutan untuk menamatkan studi kian menyesakkan, kita juga akan kembali bergelut dengan buku dan pena. Seharusnya kita sadar sedari awal, senjata kita hanya dua benda itu. 

Belajar dari Rimbaud, saya tak akan buru-buru menukar pena saya dengan senapan, atau dalam konteks kekinian: keanggotaan organisasi mahasiswa revolusioner agar bisa demonstrasi di jalan. Bagi saya, pulang ke rumah untuk membaca puisi-puisi Laksmi Pamuntjak sambil mengkhayal bisa mengajaknya lunch di salah satu restoran di Orchard Road lalu dilanjutkan dengan bobo siang bareng, jauh lebih menarik. 

Demonstrasi di jalan itu panas, pena saya bisa leleh. 
soedra, Oktober '06

*soedra. Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini adalah seorang penikmat sastra yang murtad ingin jadi ilmuwan sosial. Ia tinggalkan tumpukan novel-novel dan kumpulan puisinya untuk beralih pada jurnal ilmiah dan bundelan monograp. Hal terakhir yang ia lakukan—yang masih berbau sastra—adalah menjadi pemimpin redaksi LPM Dian Budaya, serta menulis sebuah esai berjudul "Jangan Kau Tanya Arti Puisiku Mario" untuk menghindar dari ujian akhir kelas Poetry IV yang memaksanya membaca Rober Frost sampai mabuk. Kadang-kadang jika tak ada aral melintang ia masih sempat berdiskusi dalam 'Kelompok Diskusi Jumat Sore' di Bonbin bersama Anton Septian dan Dwicipta.
ijin dari penulis. tulisannya diculik dari blog carpe diem 
beberapa orang mengimel saya. jadi saya tambahkan info ini.
ingin berdiskusi lebih lanjut? temukan dia di

37 komentar:

suwung said...

pertamax pertamax
belom baca panjaaaaannnnnnnnnnnggg

Dewi Pinatih said...

fiuh... panjang bener... tapi selesai juga bacanya... sekuat tenaga berusaha memahami yang ditulis :D... satu yg aku setuju... demo itu panas, mending di rumah... ngerujak sambil nonton gosip ;))

suwung said...

jadi mau berjuang lewat pena?
lewat tuts keyboard aja kalo boleh usul

gajah_pesing said...

mari kita berjuang liwat blog ataupun tulisan...

nanoq da kansas said...

"Musuh mahasiswa sekarang bukan negara, bukan juga kekuasaan global yang mereka sangka memperkosa kampusnya." -- negara, atawa suatu sistem (kekuasaan), apapun, tidak penting untuk dimusuhi atau diterima. tetapi bagaimana mahasiswa dan setiap siapa saja bisa mempengaruhi negara atawa kekuasaan atawa bahkan suatu kebijakan dengan pemikiran dan perilaku intelektual humanis. dan sejauh ini hal itulah yang belum tercermin pada kita sehingga negara dan demokrasi di negeri ini cenderung belum beranjak dari pola parlemen jalanan. dan akan selalu sulit menghadapkan "sistem" dengan "pola". kita sudah belajar di 1966 dan 1998 :)

wempi said...

panjang amir ni postingan, mestinya kirim ke kompas ato media indonesia deh, hehehe

nothing said...

pemerintah tetaplah menjadi musuh ...
mereka belum bisa memanusiakan warganya untuk menjadi manusia yang manusiawi...
negoro cen telek

riosisemut said...

Hah...akhirnya kelar jg aq membacanya.
Sampae muruh cangkemku.
Dan stlh berusaha memahami apa yg trsirat dsni,.. akhirnya sekarang aq sadar bhw trnyata aq emang dudul, aq g mampu memahami apa makna dr smua ini.
Dulu aq trlalu menganggab remeh kuliah, aq kuliah cma utk sbuah gelar, meski tanpa i2pun aq uda bs makan enak tidur nyenyak.
Trnyata aq salah besar.
Wis emboh wis sak karebmu..
Yg penting usahaku bsa maju dan terus berkembang...
Salut bwt jari-jemarimu Jeng...
Kuat tenan drijine...

Halaman Samping said...

Postingan panjang nan asik, ilustrasi Rimbaudnya bikin makin keren.

Oya, sebulan kemaren dapet pengakuan dari seorang aktivis mhs humaniora akt 2002, sekarang dah lulus, kerja di Jakarta. dia doyan turun ke jalan, menggerakkan massa, bikin mogok kuliah di fakultas nuntut pembangunan gedung dll. dia nyeritainnya heboh deh, ngadepin satpam/SKK di gd Pusat dah kayak Rama bertaruh nyawa bertempur ama Rahwana.

Perjuangannya akhirnya mentok juga ketika berdamai (baca: takluk) pada dekanat.

Pas rame2nya demo soal BOP, tim inti demo didekati secara fisik ama staf dekanat: pelan-pelan hentikan demo dan BOP kalian gratis!

Busyet, keempat orang tim inti rembugan sebentar tanpa debat dan menerima tawaran dekanat.

"Bagaimana dengan misi kalian yang sebelumnya mengklaim berjuang untuk semua angkatan termasuk adik2 angkatan?" tanyaku.

"Mereka harus cari sendiri dong," jawabnya enteng. Beberapa temen di ruang depan rumah kos langsung geleng2 kelapa. Jawaban mengaju bahwa para adik2nya yang jadi massa demo mesti cari jalan bagaimana membebaskan kewajiban BOP, apapun caranya. Dan, bukan melanjutkan perjuangan. Wadhuh!!!

Dia nggak lupa berpesan ini adalah rahasia besar (aib) mereka dan jangan sampai adik2 di fakultasnya (yg masih kuliah atau dah lulus) tahu karena dia dkk merasa dikenal sebagai patriot.

Gedung perkuliahan baru itu menjadi saksi bisu, seperti yang ia tunjukkan ketika aku dan dia main ke UGM, pas mudik ke Jogja lebaran kemarin.

Hmm, nggak harus jauh2 nunjuk kalo kapitalis global punya daya kreatif untuk menawarkan kompromi (baca: penaklukan), ketika lingkungan lokal fakultas begitu cerdas merespon kebutuhan riil keempat mahasiswanya.

Itungan matematikanya gampang: mending kasih gratis Rp 500 ribu x 4 orang daripada menanggung kemungkinan kehilangan pemasukan setengah juta rupiah x ratusan mahasiswa.

halamansamping - inung, akt 95 (pernah muda alias wis tuwek he3)

btw: komment panjang lha wong postingane juga dowiii, regratz :)

kucingkeren said...

IDealisme yang menjadi dilema... ujung2nya kompromi diam2...begitukah ? mungkin ini juga permainan elit politik dunia..AKhirnya idealisme cuma sekedar teori yang ada di buku2 tebal yang berdebu....

Dony Alfan said...

'Kiri' is a new word for sexy. Pernah baca buku 'Menjadi kiri itu sexy'? Mungkin pada waktu itu saya khilaf, buku itu pun terbeli dan terbaca, tapi sekarang entah hilang dimana. Dulu, saya bersama teman2 juga pernah menerbitkan sebuah zine, yg sok reaksioner, sok kontra dgn berbagai hal, dan sok kiri.
Entah mahkluk apa saya sekarang, kiri, tengah, ato kanan? Saya jalani saja hidup ini dengan riang gembira dan hati yang berseri. Semoga ini tak berarti ignoransi.

jakamuda said...

Melihat dari luar itu bagus. Anda jadi bisa memetakan persoalan sebaik ini. Tapi tolong jangan lupa untuk masuk lagi ke dalam, ya. Dunia yang sengkarut ini membutuhkan partisipasi orang-orang seperti Anda.

Salam.

holden said...

saya masih menyimpan cita-cita saya kok bung jaka.cuma mungkin, saya memilih the road less traveled by saja

salam kenal,
soedra

Anang said...

berjuang lewat blog yuk... berjuang kan bisa dengan banyak media.....

kuli said...

wah.. kirain tulisannya dikau sekelebat bayang.. eh, senja...

wah siapakah orang ini? kirain tadi dia Tya Setiadi.
hehe

mutia Koto said...

wah.. kirain tulisannya dikau sekelebat bayang.. eh, senja...

wah siapakah orang ini? kirain tadi dia Tya Setiadi.
hehe

cahpesisiran said...

" "Sudahlah. Ada hal lain yang seharusnya bisa saya lakukan". Agak malu juga ia jika mengingat masa lalu yang tak lugu. Saat ia begitu naif, mirip rekan-rekan yang berkobar diatas mimbar dalam demonstrasi tiada henti."

kata2 semacam itu juga terucap dari seorang kawanku mantan aktivis yg kemudian berubah fikiran di masa akhir kuliahnya. cuma mungkin sedikit berbeda, dia bilang "ternyata hidup ini simpel. dengan siklus yang simpel. kuliah, belajar, lulus, bekerja, nikah,... betapa bodohnya aku, kenapa dulu tidak fokus kuliah seperti teman2 yang sekarang sudah lulus. .."

tp, itulah pilihan. setiap manusia memang harus membuat pilihan.

menurutku sih, berjuang memang tidak haya dengan cara koar2 demonstrasi di jalanan, tapi bisa juga dengan langsung mengerjakan sesuatu. "melakukan, tidak hanya berbicara."
bukan berarti saya tidak setuju dengan perjuangan melalui demonstrasi. saya tetap menghargainya sebagai salah satu cara berjuang, diantara cara-cara yg lainnya. dan sepertinya memang tetap harus ada yang berjuang dengan cara itu, tentunya harus dibarengi dg memahami permasalahan. *gak nyambung komengku nie* hehe

postingan yg sangat bagus non.

Caroline Sutrisno said...

mahasiswa berjuang lewat tulisan lebih berarti daripada sekadar berkoar2 di jalanan...

btw, puisi2 robert frost itu puisi sepanjang masa buat anak sastra inggris... hihihi

adrozenahmad said...

Saya jg suka tulisan anda, berbicara.. tp kepanjangan.. (IMHO.. :)

rumahsiput said...

hmm..hmm..
salah satu previlege sebagai mahasiswa adalah kita bisa mengeksplor dan menuangkan segala sesuatu secara bebas dan objektif..tapi ya itu, sebaiknya di-ejawantahkan dalam suatu yang riil, yang bisa memberikan sumbangan pada kelompok masyarakat/komunitas yang sudah terjebak dalam sistem dan taklagi bisa objektif..bukan sekedar mantra-mantra kosong yang takberarti.. :)

raie said...

ah daku masih berpikir menukar pena dengan pena (jadi wartawan mungkin)

Cebong Ipiet said...

saya g pernah nyesel jadi mahasiswa yg g pernah turun ke jalan yg g pernah jadi aktivis yg cuma berkutat dg buku kuliah ama nyari duit
yah itulah saya
entah org bilang apatis egois oportunis *nang ndi yho biyen poro seniorku sing misuh2i aku dg kata kata soko alengka iku kekekekke*
ya begitulah
mungkin memang belum bisa berbuat apapun bagi org laen, tapi seenggaknya g nambahi kesemrawutane ndunyo




*mateni mikropon, mudun mimbar,xixixixix

Haris Firdaus said...

wah wah wah. ini baru sebuah pamflet pemberontakan yang menarik. ha2. saya benar2 seneng bacanya. ada semangat yang lama gak sy temukan di mana-mana. bener2 membuat nostalgia. ha2.

trims senja dan soedra!

masDan said...

Berjuang Berjuang, Berjuang Sekuat tenaga, * Kama Qoola Rhoma Irama ...

t_ardhan said...

saya belum pernah.............. :D


saya mahasiswa culun neh....... :D

Anonymous said...

Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!

Anonymous said...

A person essentially assist to make critically posts I might state.

This is the first time I frequented your web page and up to now?
I amazed with the research you made to make this particular submit
amazing. Wonderful job!

My web blog; green coffee bean extract for weight loss

Anonymous said...

I’m impressed, I have to admit. Rarely do I come upon a blog that’s equally educative and fascinating on web 2.
0 site, and let me tell you, you have hit the nail on the head.
Very few individuals these days take the time to actually put some thought into this issue.
Now I’m very happy I stumbled upon this throughout my search for
anything related to this.

Here is my weblog ... ingredient

Anonymous said...

I encountered this site through http://sekelebatsenja.

blogspot.com/ and if I could I'd like to point out to you some interesting things or ideas. Perhaps you could write your next articles pointing to these ideas. I would like to read more things about what you're talking about.


Feel free to visit my web blog - Super Nanny Jo Frost

Anonymous said...

I got onto blogger.com from http://sekelebatsenja.
blogspot.com/ and I gotta admit, you have an attractive blog
layout. How long have you been doing this? The way you
do all of this makes it look like a cinch. The overall look
of your page is splendid, let alone the content.

Take a look at my webpage - shiur.com

Anonymous said...

Might I just say that after finding Blogger: sekelebatsenja
on Monstra, what a comfort to uncover somebody who finally knows what
they're talking about on the web. You truly understand how to bring a problem to light and make it crucial. A lot more people need to look at this and understand this side of the story. It's surprising
you're not more prevalent, as you most really have the gift.

my website: http://youulike.com

dewi fira said...

OBAT PERANGSANG WANITA
Sex Drops Cair
Potenzol Cair
Perangsang Jel
Red Spider Cair
Viagra Cair
DH2O Cair
Blue Wizard Cair
Black Ant Cair
Spanish Fly Cair
Spanish Fly D5
Obat Plant Vigra
Permen Ailida
Permen Karet Perangsang
Perangsang Serbuk
Black Ant Serbuk

ALAT PEMBESAR PENIS
Pro Extender
Vakum Pompa Penis

OBAT PEMBESAR PENIS
Neosize XL
Vigrx Plus
Vimax

OBAT MANDUL
Obat Penyubur Sperma
Obat Penyubur Kandungan
Obat Penambah Sperma

PEMBESAR PAYUDARA
Vakum Pompa Payudara

dewi fira said...

SEX TOYS PRIA
Vagina Getar Suara
Vagina Ngangkang Getar Suara

SEX TOYS WANITA
Penis Tempel Manual
Penis Maju Mundur Putar
Vibrator Lipstik
Penis Sakky Elektrik
Penis Kelabang

OBAT tAHAN LAMA
Maximum Powerfull
Africa Black Ant Kapsul
Procomil Spray
Darling
Stud 007

Anita Tri Ulina said...

Wonder Full. Semoga allah swt akan selalu mempermudah hambanya. Insya Allah Sukses Selalu. Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini :
Toko Online HerbalKing Obat HerbalGudang Obat HerbalJual Obat HerbalJual HerbalJual Produk HerbalJual Herbal MurahHerbal BandungProduk HerbalHerbal HabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwarePenyakitObatbusinesKesehatanHot NewsDownload E-bookKhasiat dan ManfaatHidup SehatDokter HerbalPenyakit

Anita Tri Ulina said...

Insya Allah Sukses Selalu. Silahkan Klik Tautan Dibawah Ini :
Toko Online HerbalKing Obat HerbalGudang Obat HerbalJual Obat HerbalJual HerbalJual Produk HerbalJual Herbal MurahHerbal BandungProduk HerbalHerbal HabbatsAozora Shop Onlinetoko onlineJual Baju AnakJual Baju BayiJual Baju DewasaJual Sepatu BayiJual Sepatu anak AnakJual Sepatu DewasaJual Perlengkapan BayiJual Perlengkapan Anak AnakJual Perlengkapan DewasaTupperwareTupperware MurahTupperware UpdateTupperware Bandung juaraJual TupperwareKatalog TupperwareJual Online TupperwareTupperware ResepTupperware katalog baruRaja Tupperware BandungCollection TupperwarePenyakitObatbusinesKesehatanHot NewsDownload E-bookKhasiat dan ManfaatHidup SehatDokter HerbalPenyakit

Game online said...

SHINCHANPOKER.COM AGEN POKER DAN DOMINO TERBAIK DI INDONESIA

MIYABIPOKER.COM AGEN POKER DAN DOMINO ONLINE TERBAIK DI INDONESIA

CAHAYAPOKER.COM AGEN JUDI POKER DAN DOMINO UANG ASLI ONLINE TERPERCAYA INDONESIA

SAHABATQQ.COM AGEN DOMINO99 DAN POKER ONLINE TERBESAR DI ASIA

ituDewa.net Agen Judi Poker Domino QQ Ceme Online Indonesia

Anita Tri Ulina said...

Mantaps :) CurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerifCurzerif