sekelebatsenja: May 2008

on film CATATAN AKHIR SEKOLAH

Hmm...
tak ada salahnya bernostalgia. reflek, film hidup dalam kepala saya ini memutar sendiri kembali ke masa putih abuabu. garagaranya saya menonton film CATATAN AKHIR SEKOLAH yang diputar stasiun RCTI tadi pagi.

film yang mengisahkan usaha tiga orang anak kelas 3 sebuah SMA yang ingin membuat breakthrough dengan membuat sebuah catatan akhir masa sekolah yang “gue banget” yaitu dengan cara mengabadikan hal apapun yang sering terjadi dilingkungan sekolah secara natural dan wajar ini menyegarkan kembali ingatan saya tentang indahnya masa sekolah.

                        


apa yang saya lihat di film itu; persahabatan, hubungan senior-yunior, passion untuk mencinta sang idola, kenakalan yang kadangkadang menjurus kearah kriminalitas, dan idealisme anak muda berhasil diramu dengan pas dan disuguhkan dengan wajar dan tak mengadaada. seperti mengulang kisah masa sekolah dulu.

ketika menonton film ini kita juga seakan diajak untuk mengidentifikasikan diri dengan salah satu tokoh yang ada di sekolah. apakah ketika kamera menangkap gambar si atlet sekolah kita akan menggumam dalam hati

“jadi gue dulu kayak gitu ya??hehehe, anjir soksokan banget tuh gue!”


atau ketika muncul si pintar yang menolak menyontek dengan alasan ribet kita bakal menganggukangguk dan tersenyum puas
”nah lho, emang bener kok. nyontek itu lebih susah daripada belajar.makanya dulu gue paling males nyontek” .

itu juga yang membuat saya pribadi senang dengan ide film ini.

Kalo saya sendiri sih kayaknya miripmirip teman si tokoh cewek yang ditaksir marcell chandrawinata. ketika SMA saya masuk golongan biasabiasa. tidak heboh dan juga tak terlalu nerd. tapi tetap menawan hati dan digilai (bukan dikatakain “gila lu” lho) hehehehe (narsis !!!!!)

yang tak kalah bikin saya suka film ini adalah lagu backsound dari MOCCA yang berjudul ON THE NIGHT LIKE THIS yang dengan cantiknya mengalun pas pada adegan dimana raymon y tungka sedang berusaha mencium cewek yang ditaksirnya di balkon sekolah ketika malam pentas seni. tak usah mengelak deh, pasti suatu saat dimasa lampau kita sering memimpikan kejadian ini terjadi pada kita dan seseorang yang kita taksir, hehehe

wah, saya jadi malu

Bunga dan Hobi Ibu


Perempuan sering diidentikkan dengan bunga. Sebutan bunga kampus, kembang desa, maupun janda kembang tentu sudah tak asing lagi. Perempuan pun biasanya menyukai bunga, salah satunya adalah ibu saya.

 
   

Hobi beliau dimulai sejak kami pindah pertamakali di rumah yang sekarang kami tinggali ini. Saya masih ingat dulu halaman depan rumah kami dipenuhi dengan tanaman bunga. Disebelah pohon beringin ibu menaruh berbagai macam pot bunga beraneka warna, saking banyaknya, yang saya ingat kemudian hanya bunga mawar dan bougenville.

Tempat tinggal kami tidak bisa dikatakan besar. Hampir 95 persen lahan habis untuk rumah. Lahan di tengah kota yang terbatas membuat kami tidak bisa mewujudkan impian memiliki rumah lengkap dengan halaman luas. Dalam perkembangannya ruang kosong didepan rumah telah lenyap menjadi beranda, sementara disamping rumah sudah disulap menjadi pagar.

Ibu saya yang menyukai bunga tidak kekurangan ide. Beliau membeli banyak tempat menaruh bunga susun sekaligus beberapa tempat pot melingkar sehingga semua koleksinya bisa tertampung dan mejeng dengan cantik disamping rumah.

Seiring dengan waktu, koleksi Ibu saya pun berubah. Beliau mengganti beberapa tanaman dengan tanaman baru. Yang tinggal cuma bunga bougenville saja. Yang lainnya berubah menjadiberbagai macam jenis Orchid, Adenium, Euphorbia dan beberapa tanaman daundaunan.

Ikut tren kah?
”Bukan mengikuti tren”. kata beliau.

Percaya atau tidak jauh sebelum tanaman gelombang cinta dan aglaonema yang lainlain itu terkenal dan heboh, ibu saya sudah memilikinya.

Dari ratusan tanaman ibu, saya paling suka bunga Cattleya. Ketika mekar sempurna bunga ini sangat cantik. Warnanya yang merah agak oranye kelihatan mencolok. Kelopaknya berkilau. Yang paling saya suka adalah baunya. Bunga ini punya ciri khas berbau harum. Mirip melati, tapi lebih lembut harumnya.

Euphorbia milii juga tak kalah menarik. Yang paling saya suka adalah yang berwarna merah darah. Kalo di katalog namanya Red Dragon. Bunganya yang tumbuh bergerombol dan berwarna cerah menarik mata langsung tertuju untuk menikmatinya. Saking menariknya bunga ini, saya pernah menjadikannya bahan presentasi dan rela menggotong dua pot besar ke kampus.

Hobi ibu berlanjut sampai hari ini. Saya pernah memberi ide pada beliau untuk membuka semacam nursery, namun beliau berkata kalau hobi itu beda dengan jualan.

Saya mengangguk-angguk

INDONESIA BISA naikkan BBM


saya adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak ingin BBM naik, namun apa dikata pemerintah telah merancang hendak menaikkan BBM per-awal juni ini dari semula premium 4500 menjadi 6000, solar 4300 menjadi 5500, minyak tanah dari 2000 jadi 2500

waduh-waduh. berat sekali rasanya, biasanya bila BBM naik harga yang lain juga ikut naik

memang harga BBM Indonesia itu jauh lebih rendah dari harga di luar negeri, tapi perlu diingat ya biaya hidupnya kan ya ndak sama, upah minimum juga ndak sama jadi keputusan untuk menaikkan BBM di Indonesia secara ekstrim seperti itu kok ya dirasa tetap memberatkan

Kalo saya coba berpendapat dari pandangan orang awam ya, sebenarnya salah satu hal mengapa bisa terjadi hal ini (kenaikan BBM) selain karena harga minyak dunia yang naik dan APBN yang terancam, adalah kebijakan pemerintah yang memberi support berlebih pada industri otomotif, buktinya sekarang motor bisa didapatkan dengan mudah, baik itu cash maupun kredit. Akibatnya keberadaan kendaraan bermotor itu berlebih, yang artinya lebih banyak BBM yang diperlukan. Nah lho?

Memang benar juga bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam (minyak bumi mentah), namun apa iya Indonesia sampai sekarang mampu mengolahnya? Terlebih jumlahnya tidak sebanding dengan yang dibutuhkan oleh para pengguna BBM diseluruh Indonesia, tetap saja harus impor kan? Dan itu artinya mengikuti harga minyak dunia kan?

Tolong beritahu saya jika pendapat saya ini keliru

Yang bisa saya lakukan bila ternyata BBM memang jadi naik hanyalah menghemat dan menghemat. Sebaiknya saya sentil diri saya sendiri yang sering mondarmandir dengan kendaraan pribadi, mungkin sudah saatnya saya kembali ke sepeda, atau ke kendaraan umum sebelum saya menyentil para artis di TV yang tertangkap kamera berangkat syuting dengan mobil pribadi sendirian (padahal mobilnya bisa mengangkut 8 orang yang lain, bayangkan bila ada 50 orang lain berkelakuan seperti ini, ada berapa banyak premium terbuang) dan mereka masih bisa bilang
”iya nih, gue gak setuju BBM naik, kan ntar gw jadi gak bisa bolak balik lokasi syuting”



saya tahu jika BBM dinaikkan akan berdampak buruk pada segala sektor kehidupan manusia Indonesia,
tapi kalo BBM ndak dinaikkan akan seperti apa ya?Akankah Indonesia bangkrut pelanpelan?

Pak SBY, maksudnya slogan Indonesia Bisa itu yang seperti apa to pak?
Atau mungkin,
INDONESIA BISA NAIKKAN BBM gitu kali ya?

darma


izinkan malam ini aku datang.
dengan senyum, bukan dengan air mata

izinkan malam ini aku datang.
biar kubawakan sekeranjang cerita untuk pengantar tidurmu
biar kubacakan satu cerita tentang kesetiaan
saat Karna musti berseteru dengan Panca Pandawa
Karna lahir dari telinga Kunthi,
Surya adalah ayahnya, dan Karna dibuang oleh keluarganya
Karna dibesarkan oleh seorang sais
belajar Karna tentang hidup, kasih sayang yang hilang ditemukannya.
satu waktu ada perlombaan memanah
Panca Pandawa adalah para juara
dada mereka busung karena bangga
gumpalan darah bernama ksatria.
Karna hanya anak seorang sais,
hidupnya tak jauh dari istal,
namun Karna pintar. dia juga bisa memanah.
Arjuna kalah, Pandawa malu
Pandawa tidak terima, dengan congkak mereka berkata
"anak seorang sais tidak selayaknya ikut lomba ksatria!"
Karna tak bisa berkata apa apa
hingga akhirnya datang Duryudana, memberi Karna kuasa atas Anga
hingga Karna menjadi raja, dan Pandawa tak bisa lagi mengejeknya.
Karna sangat berhutang budi pada Duryudana
Karna bersumpah untuk selalu membela Duryudana
apapun yang terjadi Karna akan selalu berada di samping Duryudana
satu waktu pecah perang Pandawa dan Kurawa
Kunthi datang pada Karna
memberitahu bahwa Pandawa adalah saudaranya
bahwa tak semestinya saudara saling bunuh hanya untuk tahta
namun Karna tetap dengan sumpah setia
Duryudana adalah sumpahnya
sampai mati Karna akan jadi tamengnya.
Karna adalah ksatria
dan darmanya adalah untuk menepati janjinya
sampai mati Karna akan selalu membawa sumpah janjinya
bahkan Kunthi pun tak bisa meluluhkan tembok hati Karna.

kupikir kau sudah tertidur,
biarlah tak apa, toh kau tahu Karna bukanlah orang salah
dia hanya menepati sumpahnya.

lalu izinkan malam ini aku pulang.
kau tahu aku juga berusaha menepati darma yang kubawa
janji setiaku pada taut indah senyummu itu.



**ya, saya percaya, Karna bukanlah orang yang salah, dia hanya menepati sumpahnya, sumpah seorang ksatria

Cowok Metrosexual dan Saiful Jamil

Umurnya sekitar 18 tahun. Badannya tinggi dan tegap. Body tegapnya ditutupi kemeja full-pressed-body lengan panjang kotakkotak agak kabur keluaran distro. Ia memakai celana jeans, lagilagi keluaran distro, dengan pinggang sedikit turun dan ujung pipa menyempit di mata kaki. Tak ketinggalan sepatu sneakers yang masih bisa ditemukan di display Sport Station mejeng di kakinya. Rambutnya dipotong trendy gabungan antara jambul Tria vokalis the Changcuters dengan botaknya Marcell Siahaan.

Seorang lagi cowok sekitar 29 tahun. Bodynya tak kalah oke hasil berlatih di gym. Memakai kemeja sedikit ketat merk wahid. Celana Chino yang harganya ditaksir sekitar 500ribu keatas. Sepatu kulit dengan tongkrongan yang sporty plus gadget mahal di genggaman. Jam berkilat menyembul malumalu dari balik tangan kemejanya. Rambut tak terlalu ekstrim, cukup cepak dan rapi. 

Gaya mereka boleh saja berbeda, tapi ada yang menghubungkan mereka berdua. Yaitu:
wangi, dilihat, dan dikerubungi cewekcewek.
Teman saya menyebutnya Cowok Metrosexual

Kalau kita cukup peka dengan lingkungan, pasti kita menyadari bahwa tipe pria seperti mereka berdua diatas akhirakhir ini banyak sekali ditemui di mana saja. Mulai dari gang sempit kostkostan sampai atrium mall yang mentereng

Mengapa mereka begitu banyak?
Rupanya menjamurnya tren pria metro ini disebabkan oleh kebutuhan dasar purba para pria yang semakin mendapat tempat, yaitu kebutuhan untuk
dilihat. Hal ini didukung oleh pemberitaan media cetak dan elektronik, terutama televisi dan internet. Setiap hari kita disuguhi model pria famous yang bergaya tertentu sehingga para pria beramairamai meniru.

Saya memang bukan pakar fashion atau per-pria-an tapi saya menyadari betul bahwa masingmasing pria yang punya kecenderungan untuk bergaya metrosexual diatas punya tujuan berbeda, disamping kebutuhan dasar untuk
dilihat.

Cowok pertama jelas saja masih berstatus pelajar atau mahasiswa yang sedang dalam masa tebar pesona. Tujuan mereka adalah menunjukkan pada teman seperjuangan bahwa dirinya adalah orang yang up to date dan tidak katro’. Sukursukur berhasil menggaet cewek satu spesies; cakep dan trendy, yang bisa diajak pacaran atau dipamerin didepan temanteman. Aksesoris dari distro dipilih untuk menguatkan identitas itu. Jangan heran bila ia kemudian mungkin lebih cocok dipajang di display distro saking banyaknya aksesoris yang ia kenakan.Ingat bu, jaman sekarang kalo nggak distro berarti nggak modern dan kalau nggak modern berarti nggak oke.
.
Kalau cowok-atau pria- kedua pastinya sudah melewati tahap menunjukkan ’siapa gue’ pada temanteman. Let’s say lah pria yang hampir menginjak 30 tahun ini adalah seorang eksekutif muda (berdasarkan rumus teman saya: lulus S1 umur 22, Lulus S2 umur 25, lalu kerja di Perusahaan asing mulai umur 26). Ia tak perlu lagi dipusingkan dengan pemakaian aksesoris yang berlebihan dan terkesan noraknorak bergembira. Ia sudah cukup pede dengan kategori ’siapa dia’. Itu artinya ia telah lewat level 1 dan melangkah ke level selanjutnya yaitu kompetisi menunjukkan ’seberapa sukses gue’ ke temanteman dan perempuanperempuan muda. Dari deskripsi pakaian yang dikenakannya tentulah dibutuhkan budget yang lumayan gede untuk membelinya.

Yang kemudian muncul di benak orangorang tentu bukan ”anak siapa ya dia?” atau ”anak mana sih dia?” atau ”ikut kelompok gaul apa sih dia?”
Kenapa? Karena kita menganggap pria seumuran dia pastinya tidak lagi mendapatkan uang tersebut dari orang tua. Pasti dari kerjaannya lah. Kalo sudah begitu pembicaraan yang akan terjadi adalah

A:
wah, tuh cowok keren sekali
B:
Iya. Masih muda tapi sudah berduit. Pasti dia orang sukses ya.

Ketika body sudah oke,itu belum cukup karena harus ditambah dengan wangi yang mampu bikin para perempuan ingat dirinya (entah kemudian para perempuan jadi ingat si pria karena memang suka baunya atau karena saking enegnya.)
Lengkaplah persenjataan pria ini untuk sliwar sliwer

Sukses sudah pula mereka berdua dengan misi masingmasing.

saiful jamil for blogTerserah anda para pria untuk memilih gaya. Pengen seperti salah satu dari mereka atau tetap mengikuti Saiful Jamil yang masih setia dengan kaos ketat dan rambut ala aa’ burjo tapi pernah berhasil menggaet Dewi Persik yang naujubile seksinya..

kenalkanh, sayah cintah laurah


fenomena logat berbicara bule ala cinta laura di tv memang bukan hal baru. Sepengetahuan saya gaya seperti ini sudah ada dari jaman nadine hutagalung masih menjadi vj mtv.

menurut saya, tidak ada yang salah dari logat mereka. sebagai seorang anak keturunan bule wajar saja bila cara bicaranya agak belibet. lha wong dirumah dan di sekolah biasa menggunakan bahasa inggris. sama saja seperti ketika orang jawa berbicara. tak usah sulitsulit mencari contoh, saya sendiri memiliki kecenderungan medhok ketika berbahasa indonesia, bahkan bahasa inggris. hal ini dikarenakan penggunaan bahasa jawa dalam kegiatan sehari-hari saya yang merasuk di dalam kalbu. orangorang mencela saya ketika ke-medhok-an itu muncul dalam pembicaraan. saya merasa finefine saja. that’s me, what’s your problem?

mengapa orang harus mempermasalahkan cara bicara cinta laura? kecuali kalau ia adalah campuran jawa-sunda, kita harus merasa heran ketika logat bule muncul pas ngomong bahasa indonesia. Tapi dia memang half bule gitu loh.

yang justru perlu kita cermati adalah kata-katanya
”saya ingin memperdalam bahasa indonesia di australia” itu.

kenapa kalimat itu bisa muncul dari mulut cinta laura yang saya yakin ia cukup pintar untuk mengetahui bahwa bahasa indonesia itu adalah bahasa nasional indonesia? saya juga masih terheranheran dengan hal ini. siapa yang tahu apa yang sedang ia pikirkan.

asumsi saya ada tiga.
pertama, ia merujuk pada penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang tidak bisa ia akses dari indonesian speaker sekitarnya. secara invasi bahasa gaul dan lo-gue, which is dimanamana gitu loch.

kedua, ia mungkin pernah mendengar bahwa banyak pengajar bahasa indonesia yang berkompeten dan hebat mengajar diluar negeri. karena yang paling dekat dari jakarta itu australia, makanya ia menyebutkan australia. kalau dia ada di riau pasti dengan senang hati akan menyebutkan singapura.

ketiga, yang saya harap tidak pernah terlintas di benaknya adalah: ia memang tidak cukup paham bahwa bahasa indonesia adalah bahasanya orang Indonesia.

semoga cinta laura suatu saat mampu bilang
”kenalkan, saya cinta laura” sebaik ia bilang ”kenalkanh, sayah cintah laurah”

Foto dan Narsis

“keinginan untuk dibidik kamera merupakan bawaan lahir.”

dalam kasus saya itu benarbenar cocok.
setelah membuka album lawas saya tambah yakin dengan pendapat entah siapa itu. pasalnya, hampir di semua foto jaman antah berantah itu saya bergaya. entah sendirian, bergaya dengan boneka beruang, atau dengan teman sepermainan. seingat saya dimana ada kamera saya selalu bergaya; baik menatap langsung atau purapura tidak lihat kamera.

saya membuka file foto ketika sekolah baik itu SD, SMP, SMA maupun kuliah dan mendapati kecenderungan yang sama. saya tetap saja bergaya di depan kamera dengan berbagai variasi. yang lebih mencengangkan adalah besar file foto yang ada dalam hardisk yaitu 14.7 giga berisi 6.889 foto.
ya ampun saya saja kaget.

 


sebenarnya alasan saya untuk selalu muncul di depan kamera ada empat.
pertama, saya ingin muncul di setiap kejadian karena saya selalu berpikir kalau momen itu tidak mungkin akan terulang, dan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya turut muncul dalam foto. di suatu kesempatan saya dan adik pergi ke kawasan wisata kaliadem. waktu itu kabut tebal menyelimuti kaliadem namun saya dan adik nekat menembus kabut dan mencari tempat baik untuk berfoto. kebetulan disana sedang ada rombongan anak sekolah berlibur akhir pekan, akhirnya kami semua pun berfoto di dekat sebuah rumah kosong yang misterius.

beberapa bulan kemudian merapi meletus dan mengubur seluruh kawasan wisata itu. saya pikir saya beruntung sempat berfoto disana.

kedua, saya selalu penasaran dengan rupa dan penampakan saya. narsis kali ya. meskipun setiap hari saya menemukan bayangan wajah di cermin, namun tetap saja saya penasaran seperti apakah penampakan saya itu. misalnya, seperti apakah saya ketika berfoto dengan temanteman di tepi pantai, atau seperti apakah saya ketika tercebur di kolam, atau seperti apakah saya memakai baju merah berjalajala ala pekcun.

ketiga, karena saya punya kamera. memang bukan kamera yang memenuhi syarat profesional untuk memotret. tapi digital camera canon a640 ini dilengkapi mode manual sehingga cukup bagus untuk dipakai berlatih. apalagi punya fitur self portrait, sehingga memudahkan saya untuk menjepret diri sendiri di manapun saya ingin berfoto.

keempat, karena saya memiliki kawan yang punya hobi memotret sehingga saya beruntung sekali permintaan bertemu dengan penawaran. temanteman saya suka memotret, dan saya suka di potret. klop deh. meskipun kebanyakan dari mereka juga ingin saya potret setelah dia memotret saya.

Binatang Peliharaan



pernah suatu saat saya ingin memiliki binatang peliharaan. alasannya sederhana. karena temanteman saya memilikinya. saya pun bergegas mencari bapak dan minta dibelikan binatang peliharaan. tidak spesifik, hanya binatang peliharaan. bapak saya bingung dan bertanya” binatang peliharaan itu kan banyak, kamu mau yang seperti apa?” saya tidak punya bayangan apapun dan menjawab ”hamster”.

karena setiap hari saya selalu merengek, akhirnya bapak pun membelikan binatang bernama hamster di pasar ngasem. saya baru tahu kalau ternyata hamster itu adalah tikus.

saya menaruhnya di akuarium kecil. dibawahnya diberi sekam dan di pojokan ditaruh wadah makanan. bapak membelikan sepasang agar saya tidak berebut dengan adik.

saya berusaha menjadi pemilik binatang peliharaan yang baik. memberi makan yang bagus dan mengajak bermain. ternyata hamster adalah binatang yang lucu. saya suka sekali ketika ia mengangkat kedua kaki depannya memegang makanan dan sibuk mengunyah. tampak seperti anak kecil yang imut.

tapi kegiatan itu hanya bertahan dua minggu. saya sudah bosan. kembali saya berkutat dengan bukubuku cerita bergambar. shela dan soni, nama hamster itu, terlupakan. malahan adik saya yang rajin menengoknya. sesekali saja saya mengajaknya bermain.

suatu siang sepulang sekolah saya terkejut. tidak seperti biasanya saya rindu pada hamsterhamster kecil nan lucu itu dan ingin mengajak main sebentar. alangkah kagetnya saya mendapati akuarium kecil itu sudah kosong melompong. sepasang hamster itu lenyap. saya pikir seekor kucing telah memangsa mereka, tapi tidak ada tandatanda kearah itu. saya curiga mereka melarikan diri. iya, melarikan diri.

saya menangis seharian. saya tidak memiliki binatang peliharaan lagi. hamsterhamster itu lucu sekali tapi sudah lenyap. saya merasa tidak bisa menjadi tuan yang baik. saya rasa saya belum siap memiliki binatang peliharaan. pokoknya saya berjanji dalam hati untuk tidak pernah memiliki binatang peliharaan lagi karena saya tidak ingin para binatang itu menderita..

Sebulan kemudian saya punya tupai.

Belajar Tari Bali (lagi!) di Saraswati




Gek Dani: “duhh, cuapek banget. perasaan dulu waktu masih kecil gak seberat ini deh                      latihannya.”
Winda: “iya gek, seingatku dulu aku have fun kok. Janganjangan karena kita tambah berat di                pantat en dada”
Berdua: ”huahahahahaha”

Capek sekali. Itulah katakata yang bisa mendeskripsikan latihan kemarin. Keringat deras yang mengucur tak hentihentinya dari badan kami kayaknya udah jadi bukti yang cukup kuat. Padahal itu baru latihan dasar dan belum masuk ke bagian tari yang diiringi musik.

Ide awal untuk ikut latihan tari bali di asrama saraswati sebenarnya datang sekitar dua bulan lalu, namun karena saat itu tengah season latihan intensif menjelang ujian, kami ditawari untuk masuk kelas baru yang dimulai awal mei. Kami setujusetuju saja.

                                                                                                                                         
                                
Minggu pagi itu pun menjadi latihan perdana kami. Saking semangatnya latihan, kami pun datang lebih awal dari seharusnya (padahal udah ditambah dengan kejadian gek dani nyasar di daerah jl. tribrata tuh). Setelah sampai di tempat latihan kami menunggu sebentar sambil melihat anakanak yang sudah level 2 sedang latihan tari Panji. Selagi menunggu, kami daftar ulang dulu sebelum ikut latihan. Karena awal season yang berarti belajar tari baru, semua siswa baik yang baru maupun lama wajib daftar ulang dulu sebelum mulai latihan. Pendaftarannya 30ribu, dan SPP bulanan 20ribu. Pretty cheap, right?



Jam pun menunjukkan pukul 9 dan kami pun dipanggil untuk mulai latihan. Latihan dipimpin oleh seorang instruktur tari yang biasa dipanggil bu nyoman. Karena kami masuk kelas dasar, tari yang diajarkan adalah pendhet. Kata beliau karena tari pendet relatif lebih mudah daripada tarian yang lain ex: panji semirang, panyembrama, legong, etcetc. Latihan pun dimulai dengan peregangan dan pemanasan badan. Dilanjutkan dengan latihan kaki, tangan, kepala, maupun lirikan mata. Waduhwaduh, aku merasa kesulitan nih. Maklumlah, meskipun aku sudah pernah ikut latihan tari bali tetep kerasa kagok juga. Secara tuh latihan tari terjadi ribuan tahun yang lalu ketika badan ini masih setinggi pohon jeruk purut mini dan badan juga gak begitu berkambium, hehehehe. Bu nyoman pun senyumsenyum sambil membetulkan posisi mendakku.

”yak, bagus. Tapi dadanya dibusungin lagi donk...diliatin tuh yang gedegede didepan.”
duh, buset nih ibu. Gak tau aja tulang-tulang yang mulai menua (hiperbolis) ini udah keretak keretek daritadi. Walhasil aku pun berhasil memposisiskan diri (he?) dengan perfecto (seenggaknya menurutku). Hasil dari recalling latihan jaman antah berantah itu tuh...

Tari bali selalu jadi tantangan buatku. Gerak rancak, dengan kombinasi gerakan yang cukup banyak tentu saja needs big effort. Bayangin aja, ketika dirimu sedang mendak yang membutuhkan energi cukup banyak, disaat yang sama tanganmu harus siku, dan matamu nyeledet. Konsentrasi itu sangat dibutuhkan! Itu baru tekniknya, belum penjiwaannya. Gak heran, seorang penari butuh waktu yang cukup lama untuk menghayati tariannya sebelum ia bisa menampilkan tarian yang perfect. Kata guru tariku dulu, paling bagus sih latihan mulai dari kita kecil banget biar badan dan soulnya bisa terbentuk dengan natural, gak instant. Yah, dulu maunya sih terus belajar intensif tapi karena jadwalku sebagai anak sekolah padat buanget, vakum deh. Tapi gakpapa aku ikutan latihan lagi ketika udah gede begini. Belum telat banget khan?hehehe


”yak, perutnya ditarik ke belakang, pantatnya juga. ingat dada sejajar lutut..yak mendak..bagusbagus..sekarang tangan...”



*pfffh....*

PS: karena gak pernah latihan, badanku jagi pegelpegel semua deh


seleksi PPAN 2008

Tepat satu minggu yang lalu aku berangkat ke sebuah seleksi yang di pandu oleh Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Jogja. Seleksi ini diadakan untuk mencari seorang wakil Jogja yang akan ikut Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN). Kebetulan aku masuk tahap akhir, alias final selection. Perhatianperhatian: dari 7 orang yang masuk final cuman dicari 1 wakil sadja!!!!

Kata mbake n mase komite, seleksi di Jogja ini adalah yang paling rumit dibandingkan seleksiseleksi daerah lain. Khusus Jogja, ada 3 tahap seleksi. Yang pertama adalah seleksi administrasi (pokoke kudu lengkap dah), trus seleksi kedua adalah wawancara (of course, ada banyak penanya, banyak pertanyaan dan banyak meja, pertanyaannya mirip satu sama lain, yaitu sama-sama harus dijawab. hehehe). Kalau bisa melewati kedua tahap itu, barulah kita diadu (cie, diadu bo’...) di babak final. Kalau di daerah lain, abis wawancara kalo lolos ya langsung berangkat.

Nah lo,
Ternyata seleksi final di Jogja ini amatlah ribet. Pake yang namanya karantina segala tuh (let’s say “karantina” lah yaaa). Tepatnya di Youth Center daerah Ambarbinangun, Bantul selama 3 hari.

Jujur saja sih, seumurumur aku gak begitu suka sama yang namanya karantina (dan sebangsanya). Masalahnya aku merasa kebebasanku sebagai manusia yang punya privasi sedikit terusik (blah blah blah....) dan yang bikin tambah gak sreg adalah peraturannya. Aku emang agakagak ribet menyesuaikan diri dengan peraturan karantina. Terutama adalah kewajiban untuk berpakaian rapi (everywhere, for whatever reasons), dan tepat waktu (even for a minute!). Ditambah lagi dengan banyaknya kegiatan yang baru berakhir pada pukul 3 dini hari bikin kepala jadi nyutnyutan dan susah konsentrasi.

Sebagai bayangan: Anda bangun pukul 5 pagi. break 1 jam, berkegiatan, break lagi 15 menit, berkegiatan, break 1 jam dan berkegiatan lagi sampai pukul 3 dini hari berikutnya

Rasa-rasanya mata ini pengeeen banget terpejam.
Pas duduk kok yang kebayang kasur dan bantal empuk mulu.
Ditambah dengan sakit kepala yang nyutnyutan, ah bikin heboh aja..

Tapi nyatanya aku berhasil mengikuti kegiatan dengan baik (catatan: kalo ngantuk gak dibilang jelek lho ya..) sampai hari terakhir. Minus sakit yang serius.

Anyway, seneng rasanya punya pengalaman baru yang tak terlupakan. Yang menyenangkan adalah ketemu dengan temanteman baru yang baikbaik and supportif so, seleksi final tidak terlihat seperti kebut-kebutan menjadi yang juara, tapi lebih pada sharing antar teman. Pokoke berbagi lah...

Buat temen2 yang berhasil lolos, you deserve it!!!
Mbak Meika (SSEAYP), Kiky (AIYEP), and Mas Indra (ICYEP), complimente!!!

Menulis


aku senang menulis. apa saja baik puisi cerpen cerpen anak travel writing atau sekedar curhat. tapi keinginan untuk menuangkan pikiran kedalam secarik kertas terasa cukup sulit bagiku. terutama akhir-akhir ini. entah, kupikir ini akibat dari sifatku yang moody dan cepat bosan sering muncul. namun satu hal yang membuatku berpikir adalah hilangnya kebebasanku : ketika aku berucap maupun menulis aku merasa kebebasan itu hilang.

kebebasan itu tak pernah ada dalam ucapan ataupun dalam tulisan. kebebasan itu hanya ada dalam alam pikiran!

nah, kalau sudah begini pasti lagi-lagi aku akan merenung. berpikir dan berputar-putar.

hai kawan, kapan kita akan mulai menulis lagi? (tanyaku pada alam pikiran)

saya punya rumah baru

saya pindah. ke rumah baru ini. semoga bisa menjadi rumah yang nyaman.
:)

lalu

kau mencintaiku dalam diam, dengan cara yang aneh, dengan halhal yang kadang tak kumengerti dan kupahami. yang lebih sering membuatku memberontak dengan hujaman tanya. tidak dengan sederhana, tak pula serumit perekonomian dunia ketiga. 

aku mencintaimu dengan egois, dengan hasrat menyalanyala, dengan kilat dan guntur menggelegar dalam hati, dengan ketabahan layaknya kayu basah dalam api unggun.

kita tidak dalam frekuensi yang sama, kau sudah tahu itu. tapi kau dan aku paham, kita tak pernah selesai mendoakan satu sama lain;

dan itu kasih level mahadewa