sekelebatsenja: August 2008

everyman loves football!!



Dasar pria, batin saya.
Tidak di dunia nyata tak di dunia maya tetap saja sama.yang diubekubek tetap aja SEPAKBOLA! Sumpah, hampir mati bosan saya melihatnya...

sepakbola.
permainan memperebutkan si kulit bundar ini tak disangkal amatlah populer. terutama di kalangan makhluk berjakun ini. tak besar tak kecil mereka suka sepakbola. informasi berkaitan dengan sepakbola pun laris manisss. gampang saja, dari televisi, radio, tabloid, internet dan belakangan servis ketikreg(spasi) kita bisa mendapatkan info berkaitan dengan si kulit bundar ini. dimanamana dah, sesak!

eh, tapi saya bukan orang yang anti pada sepakbola lho, tak berarti juga saya tak suka nonton bola, buktinya saya suka liat pertandingan sepakbola (meskipun seringnya hanya 20 menit pertama. kalau 20 menit pertama miskin gol atau permainannya begitubegitu saja, atau para pemainnya kelewat ‘oon, yah sudah pasti akan saya tinggalkan)

cuman, kalau terusterusan di jejali dengan pembicaraan berkaitan dengan perbolaan, bisa bosen saya.

fenomena yang muncul dua tahun belakangan, dan masih saja eksis sampai saat ini di kalangan pemuda kebanggaan bangsa di seputaran jogja adalah FUTSAL, dan tak begitu salah jika saya bilang futsal adalah hobi ’pasaran’ di kalangan temanteman pria saya, juga para pria tak dikenal yang ada dikampus saya. biasanya mereka menghabiskan waktunya untuk bermain futsal. Kalau ada waktu kosong pastilah buat main futsal. jadilah persewaan lapangan futsal selalu ramai tiap jamnya. tarif 125ribu per jam pun jadi terasa tak begitu berat karena anggota yang datang dipastikan banyaaak.

dampaknya saya sebagai pemudi, eh bukan..maksudnya saya sebagai seorang perempuan cantik, selalu kesepian ditinggal temanteman pria saya bermain futsal. memang, kadang saya ikut datang dan mensupporteri mereka tapi lamalama bosen juga.

di lain kesempatan saya juga merasa ’ditinggalkan’. pasalnya mereka sibuk bermain purapura jadi manager tim sepakbola terkenal setelah bermain futsal atau kadang tanding sepakbola di game. saya bosan dan saya pulang.

satu lagi, ketika mereka balik dari warnet ada kalimat yang sering terdengar, sampai saya cukup bosan ”eh, lo gak tau kan gw tadi dapet trik baru, keren banget pokoknya deh”. dan bisa dipastikan, setelah kalimat itu meluncur temanteman pria saya akan mengerubungi layar komputer dan serius menyimak ’mainan’ terbaru itu. selesai menonton, ruangan akan dipenuhi perdebatan seru tentang bagaimana trik itu bisa dilakukan. tunggu saja sekitar 30 menit kemudian, ada yang mengambil bola dan pergi keluar kamar untuk mempraktekan apa yang baru saja dilihat

hah, gak bosan apa? bola melulu.

lagu sendu dan melankoli masa lalu



23:45
sebuah lagu berhasil menghembuskan aroma masa lalu di kamar saya.

malam ini saya mendengar lagu yang baru saja dikirim oleh seorang sahabat yang pada suatu ketika pernah saya ’sumpahserapahi’ di sebuah blog (saya masih malu karena hal itu, tapi serius saya ingin memperbaiki kebodohan itu)

wah terpesona saya dengan lagu made-in-sendiri ini. liriknya sederhana, gak mulukmuluk tapi entah terasa pas saja rupanya dengan suasana hati. namun yang paling saya suka adalah musik openingnya. bisa berkalikali saya putar ulang kembali ke openingnya…

ah sebuah lagu,
toh kalau saya ceritakan panjang lebar juga tak bisa benarbenar dibayangkan kecuali kalau dengar sendiri, ya tidak?
yang jelas ia berhasil membuat saya terbuai, dan ingin sedikit meneteskan air mata yang entah untuk apa ia harus diteteskan..

apa lagi yang kurang dari campuran lagu sendu dan melankoli masa lalu?




foto diculik dari sini

sidang atau ngobrol bareng?

besok jumat saya sidang,
prosesi kelulusan mendekati akhir. langkah pertama adalah menyusun skripsi, kedua adalah sidang, ketiga adalah revisi, keempat adalah wisuda. degdegan sekali hati ini.

seperti jus…perasaan takut, waswas, gembira dan entah apa lagi, bercampur.

suatu saat saya merasa sangat percaya diri, namun disaat lain saya merasa tak dapat memenuhi standar saya sendiri, disaat yang lain lagi saya merasa enggan membuka kembali skripsi 120 halaman itu. kata seorang sahabat, “tenang saja, yang penting kamu siap kan?santai lah, dulu sidang S1 malah aku anggap mainmain”.

mainmain? ah, saya tak yakin akan mampu seperti dia.

ataukah saya grogi dengan katakata “sidang” itu?
mungkin jika ia digantikan dengan kata ”ngobrol bareng” atau ”coffee break” i make myself feel comfortable…ah, mimpi. tak mungkin kata itu diganti. kalaulah iya, saya pasti geli melihat pengumuman di kantor jurusan yang jadi begini:

ngobrol bareng
skripsi berjudul
“patterns of domination in arundhati roy’s the god of small things: a postcolonial study”
oleh: winda candra.
jumat 29 agustus 2008 pukul 09.00.
tempat: ruang ngobrol lantai satu sayap barat gedung A
tim ngobrol:Dr. Juliasih, Edi Pursubaryanto, MA, Bernard Hidayat, MA.
mahasiswa diharap datang 30 menit sebelum ngobrol bareng ”.

ah, aneh aneh saja.
wish me luck saja deh

pada suatu malam

Dingin malam merasuk sumsumku

Aku bersimpuh ke arah matahari terbit
Kamu di sisiku, tersenyum seraya memberiku sejumput bunga
Aku tersenyum
Kita samasama tersenyum

Itu yang kuingat, sampai dingin percik tirta meminjam ragaku untuk terus terjaga


rabu 20082008 21:00
jagatnatha, banguntapan
bantul

narsis di tengah latihan (lagilagi)

aku ingin pulang

ada sebait rindu dalam benak
mencoba untuk diterjemahkan

aku ingin pulang,
di senjakala yang dingin
seolah esok tak lagi kan memelukku


to: wendra, jadi ketularan kamu

kapan kita dewasa jika pikiran kita diberangus!

penyitaan buku.
kejahatan intelektual yang sadis, hampir sama dengan pembakaran buku.
samasama ingin melenyapkan buah pikiran seorang yang berpikir dan berargumentasi. namun jangan heran bila kejahatan intelektual ini masih terus berlangsung di bumi pertiwi tercinta yang mengkoarkan ’kemerdekaan’ dan mengibarkan tinggitinggi bendera demokrasi.

kasus yang paling hangat adalah penyitaan buku yang dilakukan oleh kajati DIY terhadap buku yang berjudul "Tenggelamnya Rumpun Melanesia: Pertarungan Politik NKRI di Papua Barat" karya Sendius Wonda [lihat disini] dikabarkan buku tersebut ditarik karena didalamnya memuat halahal yang berpotensi memecahbelah bangsa Indonesia.

saya bertanya dalam hati. WHAT? masih jaman hal seperti ini?

tak ada bedanya bagi saya ia dengan era ORBA yang represif. saat seseorang akan dipenjarakan jika melawan mainsteram dan dilenyapkan jika ia berusaha mengajak orang lain bergabung.

memang sayangnya saya tak bisa bercerita banyak mengenai buku tersebut karena saya tak beruntung bisa mendapatkannya plus belum baca isinya. Itu PR untuk saya. Tapi satu yang tercetak tebal dalam benak saya dalam melihat kasus ini:

pemberangusan pikiran adalah kejahatan paling keji

pikiran saya dibayangbayangi pertanyaan tentang kebijakan penyitaan buku tersebut dengan SK! Mekanismenya bagaimana?parameternya apa?duh, pertanyaan yang basi namun masih saja terlontar dari kasus yang seharusnya sudah basi.

saya percaya penulis buku itu pasti memiliki alasan kenapa menulis hal yang ’kontroversial’. dia mungkin bermaksud mengungkap, mempertanyakan dan ingin ditanggapi.

jikalau memang buku itu bertendensi memecahbelah, taruhlah itu benar, jalan yang terbaik adalah membedahnya, mendiskusikannya, dan samasama menemukan jalan keluar yang lebih bijaksana.

saya tertawa getir. ayolah, kapan kita dewasa jika pikiran kita diberangus!

senja di prambanan



hai rumah hitam dingin,
kau sedang dipoles
di berandamu aku berkunjung
ingin mencumbui sekelebat senja

mini trip: prambanan

Air Mata di sebuah Kapel Tua


photo from here

Belasan tahun setelah pertama kali saya datang ke sebuah gereja untuk menghadiri pernikahan, kemarin saya punya kesempatan untuk merasakannya lagi. Disebuah kapel tua saya duduk, khidmat mengikuti prosesi yang sangat agung itu. Seorang bariton dan seorang sopran bersahutan menyanyikan ”I Believe My Heart”, menyampaikan rasa haru. Tak terasa air mata menitik, bulirbulir air mata pun berubah menjadi aliran dan jatuh di gaun putih saya. Air mata haru.

Rasa tenang dan damai itu masih sama. Suasana gereja selalu membuat saya kagum. Keanggunannya, keheningannya, keagungannya

selamat hari raya galungan dan kuningan

Photobucket

to: sahabat sahabatku yang merayakannya...:) 

agama saya narsis

tergelitik.
itulah kata yang bisa mendefinisikan perasaan saya setelah salah seorang sahabat saya menanyakan apa agama saya. pertanyaan itu terus terngiang ditelinga saya meskipun mungkin si penanya hanya menanyakannya dengan kasual.

KEMANUSIAAN, atau malah mungkin NARSIS
itulah jawaban yang paling relevan sekarang ini.
karena selama ini melalui bernarsisnarsis diri saya bisa mensyukuri apa yang telah tuhan berikan buat saya sehingga saya juga tergerak untuk memberikan yang baik pada orang lain.

di KTP memang tercetak tebaltebal termasuk agama apa saya, tapi sesungguhnya saya sedang mempertanyakan dan terus berburu jawaban. termasuk berguru pada orangorang yang saya percaya dapat memberikan gambaran, pandangan maupun referensi tentang agama.

pada lain kesempatan ada seorang sahabat yang menanyakan,
”jadi kalau kamu mempertanyakan agama, kamu gak percaya tuhan itu ada?”
saya jawab: ”saya percaya tuhan itu ada, tapi saya tak akan kotbahi kamu dengan apa yang saya percaya.”

saya sepakat bila agama berbeda dari tuhan.
tuhan adalah entitas yang beyond everything..dan tiada tuhan selain tuhan itu sendiri.

sementara agama itu tak bisa disamakan dengan tuhan.
agama adalah institusi dimana orangorang yang memiliki ’cara’ yang sama dalam ’menjawab’ apa yang tak bisa mereka jelaskan dengan akal pikiran sendiri, bergabung dan mengestablishkan dirinya. makanya ada ritual, ada tuntunan.

dan saya akan sangat menghargai orang yang mengatakan dengan jujur bahwa ia berjuang membela agamanya, dan tak menambahkan katakata ”membela tuhan” dibelakangnya.

selain itu saya juga tak begitu tertarik dengan perbincangan tentang agama mana yang paling benar, paling baik, agama mana yang paling berperan, agama mana yang paling banyak pengikutnya. ya ampyun...tapi kenapa ya saya selalu bertemu dengan orangorang seprti itu..pfffhhh

satu yang saya ingat, seperti kata pak putu suatu hari:
tak penting aku, kamu, dia, atau mereka beragama apa.
yang penting kita berbuat baik pada orang lain

si bolang edisi 18 agustus 2008

brilian!!
senang sekali rasanya hati ini. akhirnya, inilah episode yang saya tunggutunggu dari si bolang di trans7. episode kemerdekaan! seperti biasa, jam setengah satu siang hari ini (18agustus08) saya sudah nongkrong didepan tivi.

suka.
subjektif sekali ya, tapi begitulah yang saya rasakan. Episode kali ini menceritakan si bolang dari kalimantan dan temantemannya yang bermaksud main petak umpet, tapi sayang hutan di kampung sudah terlanjur gundul.

dalam sebuah cerita sederhana ada 3 isu besar yang muncul disini:
kemerdekaan, hilangnya tempat bermain, dan lingkungan
*hehehe, itu menurut saya tuh*.

merdeka diartikan dengan sangat sederhana oleh anakanak ini. merdeka adalah dimana mereka bisa bermain dengan bebas dihutanhutan mereka yang lebat, bukannya di hutan gundul, yang tak bisa dibuat ngumpet. kalaupun dipaksakan bermain petakumpet, langsung ketahuan deh. benarbenar menyebalkan, bukan?

ini nih bagian yang saya suka:

”kemana hutan kita?”
”katanya kita sudah merdeka, tapi kok kita tak bisa bebas bermain ya?” kata si bolang
(visualisasi: mesinmesin pengangkut kayu gelondongan berseliweran, sedang sibuk mengangkat sebuah kayu menuju tumpukan kayu gelondongan yang lain)

sama

”aku berharap suatu saat kami akan punya tempat bermain lagi, mungkin saja jika kami menanam pohon, hutan di kampung kami akan lebat lagi”
(visualisasi: si bolang dan para sahabat sibuk menanam bibit pohon)

Hehehe, ada yang kesentil gak ya?

*dalam pikiran saya,iseng saya menggantinya dengan sebuah kalimat imajinatif yang sarkas: ”mungkin saja jika kami menanam pohon, para pencari kayu itu akan lebih mudah kembali lagi dan memotongi hutan kami kembali, dan menjual kayukayu kami keluar negri”*
hahahaha

saya ucapkan selamat buat sahabat saya.
kali ini episodenya bener bener keren mas, laen kali bikin yang seperti ini ya hehe.
sukses selalu yap!!!!
hehehehe

candi cetho, karanganyar, jawa tengah




candi ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan majapahit yang masih tegak berdiri dan dirawat dengan baik. letaknya di ketinggian 1400 dpl. tepatnya di lereng barat gunung lawu. fungsinya sebagai tempat sembahyang dan menyepi bagi umat hindhu,  sampai sekarang masih tetap digunakan. Kompleks candi ini terdiri dari sembilan tingkat yang ditandai dengan gapura sebagai pintu masuknya 

Trap pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi.

Trap kedua masih berupa halaman namun ditrap ini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur masyarakat Cetho.

Pada trap ketiga terdapat sebuah soubment memanjang di atas tanah yang menggambarkan nafsu badaniah manusia (nafsu hewani) berbentuk phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang lebih dari 2 m, dengan diapit dua buah lambang kerajaan Majapahit menunjukkan masa pembuatan candi.

Pada trap selanjutnya dapat ditemui relief pendek yang merupakan cuplikan kisah Sudhamala, yaitu kisah tentang usaha manusia untuk melepaskan diri dari malapetaka.

Dua trap di atasnya terdapat pendapa-pendapa yang mengapit jalan masuk candi. Sampai saat ini pendapa-pendapa tersebut masih sering digunakan sebagai tempat pelangsungan upacara-upacara besar keagamaan.

Trap ketujuh dapat ditemui dua buah arca di samping kanan kiri yang merupakan arca Sabdopalon dan Nayagenggong, dua orang abdhi kinasih dari Sang Prabu Brawijaya yang juga merupakan penasehat spiritual dari beliau. Hal ini melambangkan kedekatan jiwa beliau dengan rakyatnya yang diwakili kedua tokoh tersebut.

Pada trap kedelapan terdapat arca Phallus (kuntobimo) di samping kiri dan arca Sang Prabu Brawijaya yang digambarkan sebagai “mahadewa”. Arca phallus melambangkan ucapan syukur atas kesuburan yang melimpah atas bumi cetho dan sebuah pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kesuburan yang dilimpahkan itu tak kan terputus selamanya. Arca Sang Prabu Brawijaya menunjukkan penauladanan masyarakat terhadap kepemimpinan beliau, sebagai raja yang bèrbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta yang diyakini pula sebagai utusan Tuhan di muka bumi.

Trap terakhir (trap kesembilan) adalah trap utama yang merupakan tempat pemanjatan doa kepada Penguasa Semesta. Trap terakhir ini berbentuk kubus berukuran 1,50 m2. (id.wikipedia.org)

keheningan dan kesyahduan ala lereng gunung menciptakan ketenangan jiwa. sebelum sampai di lokasi candi, kita akan melewati hamparan kebun teh yang luas sekali (foto ada di postingan saya terdahulu). tapi hatihati karena jalan yang dilewati cukup curam dengan kemiringan yang agak ekstrim.


photo from: here


saran saya,kunjungi sewaktu musim kemarau dan tunggulah sampai senja turun, matahari yang perlahan tenggelam menciptakan lukisan alam yang tidak dapat tergambarkan dalam katakata.

cinta itu merah putih




Saya punya kekasih yang bertanya tentang cinta. Ia bertanya, adakah cinta? Ternyata ia baru saja melihat televisi. Seorang ayah memperkosa anak tirinya. Ia terdiam tanpa berkedip.

Dua jam berlalu. Diwajahnya masih tampak gurat kecemasan dan derap kebimbangan.
Adakah cinta? Kali ini sambil menarik napas pendek-pendek. Rupanya surat kabar nasional berkabar buruk padanya. Pejabat berdasi berkeluh kesah karena dituduh mengambil milik orang lain.

Ketiga kalinya ia bertanya,
adakah cinta jika ibu renta itu masih mengais sisa-sisa nasi di tempat sampah belakang sebuah restoran besar bersama seorang bayi yang entah itu cucunya, atau anak yang dipekerjakan majikannya sebagai properti pelengkap untuknya meminta-minta di jalanan?


Ingin saya bisikkan pada kekasih saya:
Ada
Cinta itu merah putih, sayang
Karena padanya kita yakin
Kita masih punya harapan,
Suatu saat kita benar-benar merdeka




photo from: here

award buat para sahabat



dalam rangka ulang tahun kemerdekaan RI ke 63 (sebenernya gak ada hubungannya sih) saya ingin memberikan award bagi sahabatsahabat yang telah memberi inspirasi dan semangat bagi saya melalui tulisan mereka yang brilian!!


mereka adalah......
dipoetraz: sahabat yang sering memberi ide dan komentar aneh tentang tulisan saya
wendra: sahabat yang brilian, baik, dan rajin memberi komentar dan semangat
bona: sahabat yang kegilaannya selalu bikin saya ketawa
hari lazuardi: sahabat yang punya blog dengan tulisan serasa embun menyejukkan
ngatini: sahabat yang bersemangat, ceria dan cuek apa adanya
komang: sahabat yang blognya menjadi tempat singgah yang amat menyenangkan
ferygustian: sahabat yang setiap komentarnya selalu jujur dan apa adanya
pohonjambudidepanrumahku: sahabat yang mampu menulis dengan sangat realis dan reflektif
archipelagongs: sahabat yang ceritaceritanya jujur dan mengalir



terimakasih sahabat...

award dari teman teman

dalam waktu yang berdekatan ada tiga sahabat yang memberi award buat blog saya, wah senang sekali rasanya dapat award!!!


yang pertama adalah dari wendra: sahabat setia, selalu kasi komen disetiap postingan saya...hu..hu...jadi terharu nih wen..



yang kedua adalah dari fery gustian: jadi inget perjumpaan kami dulu berawal dari komentar bodoh saya di sebuah blog, kalau ingat itu saya malu sekali. thx ya mas....:)



yang ketiga datang dari most crazy: sahabat yang satu ini adalah orang paling gila yang pernah saya temui di dunia maya, thanks a lot bro, jangan pernah putus asa meskipun badai datang menghadang

semoga blog saya bisa lebih baik lagi dari hari ke hari,
semoga...

Telepon Seluler: Vampir dalam Selimut!



Saya tertawa setelah membaca judul diatas. Kelihatannya kok hiperbolis banget. Tapi memang begitulah keadaaanya setelah saya menyadari betapa dekat dan bergantungnya saya pada telepon seluler. Dan betapa kejamnya ia pada saya, hahaha.

Bagi saya, telepon seluler adalah hal yang sangat vital, sama seperti uang tunai dalam dompet atau leptop di kampus. Itu karena saya suka melakukan banyak aktivitas lewat telepon seluler: Ber-SMS, Ber-Telepon, Ber-Internet-an. Itulah sebabnya kenapa saya harus selalu punya pulsa.

Saya memakai kartu XL karena tarifnya relatif murah. Saya tak tahu berapa persisnya harga satu SMS dan 1 menit telpon. Pokoknya murah, titik. XL sudah murah jauh sebelum ada perang tarif seperti sekarang lho. Alasan lain adalah karena banyak teman juga memakai XL. Jadi kalau menghubungi mereka juga tak mahalmahal amat.

Tapi ternyata setelah saya hitunghitung, uang saya kok menguap cepat tanpa saya rasa. Ternyata setelah diingat dan di hitung kembali, kebanyakan habis untuk memberi makan telepon seluler, alias beli pulsa. Wah, telepon seluler bisa menyusahkan juga ya. Kalau dipikirpikir ia jadi mirip vampir. Telepon seluler adalah Vampir abad modern yang gemar menghisap duit!

Contohnya tadi saya syok berat setelah memencet *123# untuk cek sisa pulsa XL. Saya biasa melakukannya sebelum melakukan aktivitas ber-telepon. Tadinya sih pede yakin kalo pulsanya masih banyak dan amatlah cukup untuk sekedar menghubungi teman selama 3 menit. Tapi begitu saya lihat angka yang tertera disana, saya cuman terdiam dan bertanya dalam hati.
WHAT???? RP 0!

LAGI LAGI ISI PULSA. Padahal baru malam kemarin saya kasih makan tuh telepon seluler Rp. 10.000,00!!!



Sebab kenapa telepon seluler saya juluki ”vampir” kan udah terjawab, lalu sekarang kenapa ia ”dalam selimut?” Pokoknya karena telepon seluler barang yang paling dekat sama saya. (jadi inget peribahasa musuh dalam selimut). Kami sohib kental deh. Dalam telepon seluler ada ratusan nomor telepon temanteman saya yang bisa dihubungi kapan saja dimana saja. Selain itu, saya emang suka nyembunyiin telepon seluler dibalik selimut ketika saya mau tidur kok. Hahaha *plis deh, nggak penting banget sih, Win?*

suatu saat di suatu tempat

korek kecil yang bikin penasaran



Ada perasaan takjub sekaligus aneh ketika saya memegang sebuah korek api. Padahal ia selalu tergeletak dekat tempat saya biasa membakar dupa. Tapi saya baru menyadari dan mengamati penampakannya saat bersihbersih kemarin.

Bentuknya sederhana, sama seperti korek api yang lain, tapi gambar yang terpatri di selongsongnya itu bikin saya merinding. Ada rasa yang aneh ketika memandang gambar tersebut. Sepertinya saya sudah sangat familiar dengannya. Bukan karena tiap hari saya menggunakannya lho, ini beda.

Setelah saya berusaha menjungkirbalikkan ingatan, saya yakin seyakinyakinnya bahwa tuh korek api jaman saya kecil dulu. Tak berubah bentuk dan rupa sedikitpun sejak saya masih imutimut (mungkin bahkan sejak nenek saya masih imyutimyut juga). Baik desainnya maupun warnanya. Ya ampun..

Saya jadi bertanyatanya:
dimanakah pabriknya?
Seperti apakah teknologi yang ia gunakan?
Berapa keuntungannya?
Ada berapa pekerjanya?
Kok bisa ia masih eksis?
Mengapa ia kukuh pake desain jadul tapi yoi itu?


Saking penasarannya saya uberuber info lewat tante google. Ternyata tak ada yang membahas tentang korek api ini. Wah, saya semakin penasaran, ada yang tahu tidak ya? Saya akan sangat bahagia dan berterimakasih sekali bila ada yang tahu info tentang korek api ini.

Ternyata benda sekecil korek api pun berhasil bikin saya penasaran abis...


epitaph

Aku kehilangan, dan untuk pertama kalinya aku bersedih. Kenangan tentang seseorang memang tak semudah itu diusir pergi dari bilik memori. Apalagi jika kenangan itu menyangkut sekeping kasih yang turut menuntun langkah-langkahmu; itu mirip menguras air susu yang telah mengalir bersama darah di pembuluh tubuh.

Ada yang datang dan ada yang pergi. Yang pergi enggan kembali. Sebenarnya tak ada yang perlu disesali jika yang pergi sempat melambai dan berucap pamit. Namun untuk saat ini aku bahkan tak sempat merangkul ia yang sudah memberi tanda untuk undur. Entah tak sempat atau aku memang tak siap.

Kukirim doaku lewat bisik-bisik yang berenang bersama malam. Semoga ia sampai di sana, di pembaringanmu.

Tapi, kenapa secepat ini?

dari: sini

Aku rindu..



Aku rindu..
Rindu sebuah senyuman yang tulus dari dalam hati
Senyuman yang tak meminta balas..
Kapankah itu terakhir kali kutemui?

Ketika kutahu hidup tak lagi sesederhana waktu itu
Saat kau dan aku berjanji, takkan berpisah
Saat itu pula kita berdua ingkari janji

Kamu tak pernah bilang aku baik, aku menarik, aku cantik
Kamu tak pernah memujiku
Aku tak pernah memujimu,

Tapi kita saling tahu
Apa yang tak tersampaikan lewat kata..

Ketika sebuah episode dalam hidup membawamu pergi dan tak mungkin kembali,
Aku hanya bisa mendengar dan memutar kembali lagu yang sering kita dengarkan dulu.

Ingatkah kamu senandung Saras Dewi?
Ingatkah?
Kau tersenyum saat kubilang lagu itu bagus

Senyum yang abadi dalam ingatanku

Hingga masih bisa kurangkul dirimu..
Menangis bersama ketika salah satu dari kita patah hati

Aku rindu sekali,
Kau tahu itu?


Jogja, 8-5-07

foto dari: sini

Tentang pacar saya yang tak suka uang receh



Pacar saya tak suka uang receh.


Contohnya:
Saat kami makan berdua disebuah warung dekat kampus dan tibalah waktunya bayar, mbak kasirnya bilang ”Semuanya sembilan belas ribu tujuh ratus. Pacar saya akan mengeluarkan selembar uang 20ribuan sambil tersenyum dan langsung ngeloyor pergi meninggalkan 300rupiahnya di meja kasir. Kalau sudah begitu pasti saya yang “bertugas” mengambil uang kreceknya.

Kali lain ketika saya membayar jajan seharga 1000rupiah dengan uang recehan seratus rupiah pasti dia ketawa sambil menyodorkan selembar uang kertas seribuan yang masih baru pada saya ”nih, pake ini aja”.

Sebal! Apa salah uang receh padanya?

Waktu saya tanyakan hal ini padanya dia cuma tertawa saja dan bilang, ”Orang Bali mana mau krecekan seratusan begitu, mata uang paling kecil tuh 500rupiah. kamu doang kok yang seneng sama krecekan 100an gitu.”

Saya tak mau kalah: Huh, trus emang kenapa kalau aku suka uang krecekan, seratus rupiahpun itu penting. Coba pikir kita pengen beli jajan 1000rupiah tapi uang kita kurang 100, gak bisa beli kan?”

Dia tak menjawab apaapa, cuman tersenyum doang.


Pada kesempatan lain kami makan berdua lagi, dan kembali recehan 300rupiah ditinggal di meja kasir. Kembali lagi saya yang ”bertugas” mengambilnya.

Pacar saya itu memang tak suka uang receh, dan keras kepala!

oleh oleh dari tea plantation


Kasus Ryan: Gay = Pembunuh Sadis?




Bagi saya kesimpulan diatas terlalu terburuburu ditarik. Namun begitulah yang muncul di kalangan masyarakat awam. Gay atau homo, yaitu orang yang memiliki orientasi seksual yang homogen, atau sejenis terlanjur menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat karena pemberitaan kasus Ryan. Karena kasus ini gay diasosiasikan dengan pembunuh berdarah dingin nan sadis. Lebih jelasnya, masyarakat menganggap GAY=PEMBUNUH seperti Ryan. Apalagi didukung oleh komentarkomentar para tokoh yang berseliweran di media cetak dan elektronik. Bahkan tak sengaja saya melihat di televisi seorang bapak berkomentar begini: ”Ya, para homo memang punya emosi yang lebih besar”
WHAT? OH YEAH?

Saya menyimpulkan bahwa bapak itu menganggap gay naturally born dengan emosi yang lebih besar daripada manusia yang punya orientasi seksual heterogen. Menurut yang saya tahu, emosi berlebih yang muncul dan di representasikan dalam tindakan para Gay (salah satunya adalah Ryan) itu adalah bentukan atau konstruksi yang lahir dari tekanan dan benturan dari masyarakat, bukan mutlak bawaan lahirnya.

Beberapa bulan yang lalu saya sempat tergabung dalam komunitas advokasi Gay, Lesbian, Bisexual dan Transexual (GLBT) QMUNITY dan disana saya mempelajari banyak hal mengenai orientasi seksual para gay dan permasalahannya dengan masyarakat. Permasalahan paling signifikan mereka adalah TIDAK DITERIMA MASYARAKAT. Alasannya bermacammacam, karena mereka dituduh sesat, menyimpang dari ajaran agama, atau menjijikkan. Menghadapi stigma masyarakat ini, para gay punya keluh kesah yang bermacammacam.

Pada sesi curhat temanteman gay berbagi pengalaman dan menceritakan bahwa saat paling sulit dalam diri adalah saat mereka harus berinteraksi dengan masyarakat, yang tak jarang melecehkan keberadaan mereka, dan kemudian mengakui pada masyarakat bahwa mereka gay. Istilah kerennya –coming out. Hal ini sangat menakutkan, mengingat konsekuensi yang harus mereka tanggung sangatlah besar. DIJUDGE, DIJAUHI, DICIBIR, DIPANDANG MENJIJIKKAN. Setelah coming out merekamerasa lebih lega karena tekanan yang ada dalam diri mereka berkurang sedikit. Namun karena tak mendapat tempat dalam masyarakat, mereka mengaku masih merasa tertekan dan ketakutan. Itu sebabnya para gay cenderung mencari perlindungan dari kalangan yang punya orientasi sama seperti mereka. Jangan salah, mereka punya ikatan yang sangat erat.

Pada kasus Ryan si pembunuh, kebetulan bahwa dia gay. Permasalahan yang timbul --yang mengetengahkan orientasi seksualnya pun disebutsebut menjadi pemicu pembunuhan yang dilakukannya. Premis ini mungkin tak sepenuhnya salah, namun apakah itu satusatunya dan cukup untuk menarik kesimpulan bahwa gay adalah pembunuh (seperti Ryan)?

Terlahir dalam masyarakat yang sangat ketat dan tidak permisif terhadap wacana homoseksualitas. Ryan ’dipaksa’ menjadi manusia yang hetero. Kasarnya, Ryan tidak memiliki pilihan untuk menjadi homo. Itu artinya tekanan yang dirasakannya lebih besar. Tekanan yang besar memberikan dampak yang besar pula bagi perkembangan diri dan emosinya. Kemungkinan emosi berlebih yang ada dalam dirinya, dipicu dengan masalah lain, memunculkan ide untuk bunuh orang.

Para Gay memiliki emosi yang cenderung berlebih yang bisa memicu tindakan kasar? Harus ditilik, mengapa emosi mereka cenderung berlebih? Apa yang menyebabkannya? Bukankah itu juga berasal dari tekanan-bersumber dari masyarakat-yang meminggirkan dan cenderung ingin melenyapkan wacana gay? Bagaimana jika masyarakat menerima kaum gay sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri? Para Gay tak minta dilahirkan homo kan?

Semoga tulisan saya mampu menjadi gambaran agar kita bisa lebih bijak melihat kasus Ryan dari sisi yang berbeda sehingga tidak terburuburu menarik kesimpulan gegabah bahwa gay  adalah pembunuh berdarah dingin!

foto dari:sini