sekelebatsenja: October 2008

mbok ya otaknya dipakai

lagi ndak mood bikin postingan e. ndak ada ide. lagi buntu. secara (what?! secara??) otak saya lagi ngebul, perlu didinginkan dulu. dibikin adem dulu biar gak overheat. halah, kebanyakan basa basi saya. 

lalu teringatlah saya pesan khusus mbak icha tempo hari liwat FB untuk mendeskripsikan diri dalam sepuluh poin. saya kok dejavu, perasaan pernah bikin yang begituan dulu. tapi ndakpapa, saya mau menepati janji.

tapi saya ganti dengan menceritakan 3 pengalaman bodoh yang pernah saya lakukan:

1. dulu waktu kecil saya terpana dengan iklan pak tani bu tani di tivi. itu loh yang adegan pak tani menuntun sepeda di pematang sawah. kalau ndak salah yang diiringi lagu ”nasi putih terhidang dimeja..blablahblah”. karena begitu terinspirasinya, saya dan adik ingin mencoba adegan itu. kebetulan dekat rumah kami masih banyak sawah. akhirnya tibalah hari naas itu. kami bersemangat sekali melewati pematang sawah. bodohnya, sepeda tak kami tuntun, tapi kami tumpangi! padahal pematangnya kecil banget. hanya bisa dilewati satu orang. walhasil kami nyebur di sawah yang becek karena waktu itu kebetulan juga musim tanam. cuma bisa cengar cengir. bodoh banget deh pengalaman itu kok ya punya otak ndak dipakai, gitu.
 
2. kelas 6 SD pernah coba memotong poni sendiri. karena tak punya pengalaman sebagai hairdresser (ya iyalah!) terjadilah malpraktek. potongnya miring sekitar 60 derajat. ya ampun, waktu itu mau nangis dan mengadu ke ibu malu, saya merasa sudah besar dan bisa melakukan semua hal sendiri. jadilah saya beberapa saat bengong di depan cermin tak tahu apa yang hendak dikerjakan. timbul ide yang cukup ekstrim (kalau pakai kacamata masakini) untuk memotongnya rata pendek sekali, sebagai ukuran adalah yang paling pendek. setelah saya coba potong, muka saya jadi aneh bin ajaib untuk tidak menyebutnya kelihatan tolol. duh, serasa mau nangis keras sekali. tapi untungnya saya sudah agak make otak waktu itu. jadilah saya ambil lagi satu bagian rambut diatasnya untuk saya potong dengan cermat. maksudnya untuk menutupi poni yang kependekan tadi. voila! akhirnya berhasil. sebagai konsekuensi dari perbuatan bodoh itu saya harus pegang poni tiap mau nyebrang jalan sampai dirasa poni yang kependekan (yang ada dilapisan dalam) itu sudah agak panjang. capek gak tuh!  

3. pernah melakukan kebodoh-bin-wagu-an di muka umum barubaru saja (jamanjaman mahasiswa). ceritanya ketika seleksi final pertukaran pemudi/a keluar negeri, ada satu sesi unjuk kemampuan. masingmasing finalis boleh menampilkan apa saja. boleh menari, nyanyi, mbatik, ngebor, ngapain kek. nah, tiba giliran saya. saya melakukan apa yang saya bisa. pokoke sik biasabiasa wae. nah, diakhir penampilan para panitia menanyai “kamu bisa ngapain lagi, nduk?” saya kan yo bingung perasaan semua sudah ditampilkan, iseng saya jawab ”saya juga bisa striptis lho mbak, mas. mau liat po?”
*masi kebayang mereka semua melongo*

wah, begitulah. sebenernya saya yakin masi banyak lagi kebodohan di masa lalu. tapi masih belum ingat, tar coba saya buka diary saya yang abalabal gambar tweety itu dulu.
*betewe, kalo diliat dari rentang waktunya kok saya jadi sangsi, sebenarnya saya beneran punya otak nggak sih?

dia menyebalkan

dia menyebalkan. seandainya saja saya punya kesempatan menimpuknya, saya akan menimpuknya dengan es batu yang besar sekali. biar dia merasakan sensasi aneh antara panas karena ditimpuk dan dingin karena es batu. itu lebih tidak menyenangkan daripada ditimpuk pakai panci. apalagi panci panas yang berjelaga.

kami sudah berkawan cukup lama. dulu dia tidak terkenal, sekarang ya. tapi bukan itu yang bikin hubungan kami memburuk. atau mungkin ya, saya tak tahu pasti. mungkin saya saja yang cemburu. tak ada apaapa sebenarnya. mungkin saya cuma tak paham keadaan ini. mungkin juga dia yang memang keterlaluan kurangajarnya. wah banyak kemungkinan rupanya.

sam saimun bukan alasan tepat. tak ada jatinegara. tak perlu janji muluk untuk sebuah alamat. saya ingin berbuat baik. saya tak bermaksud mengusik oranglain. tapi kalau toh itu yang terjadi saya akan minta maaf. dan memulainya lagi dari satu. bukan nol. karena satu berarti ada awal. jika dia adalah garis bilangan x saya akan memilih berjalan kekanan, ke angka yang lebih besar.

saya tahu. kalau ada awal pasti ada akhir. meskipun akhir kadang tak diharapkan. dan dipanjangpanjangkan agar tak datang, diharapharap cemas agar tak terjadi.

aih, kalau ternyata ia sandi yuda si pemanjat seksi nan menawan dengan tubuh pejal tembaga yang berkilat dibawah timpa matahari, dengan semangat saya akan menubruknya. meskipun ia tak mendengarkan sam saimun dan tak peduli apakah si juwita malam itu lebih suka berjenggot tebal atau berkumis saja. 

tapi aku senang ia masih mendengarkan feist yang mirip melenguh saat bersenandung i’m sorry, we don’t need to say goodbye. seksi sekali.

absurd. sama seperti biasanya. 

sekedar mencatat: goBLOG

mungkin ada banyak orang yang berpikir, kok saya ini getol banget ngapdet blog, apa tidak punya kerjaan lain. rajin mencumbunya tiap hari, menambahinya dengan yang baru. coba tengok tanggal setiap postingan saya, taruhan pasti berdekatan satu sama lain. bahkan ada dalam satu tanggal banyak postingannya. apa enaknya sih ngeblog? 

sesibuk apapun saya pasti saya sempatkan waktu untuk mengurusi blog. jadi, pernyataan bahwa saya ini getol ngisi blog itu benar sekali. alasannya karena saya senang mencatat, apa saja. penting atau tak penting (meski lebih sering tak penting sih). 

sejak tahun 2005 saya meninggalkan diary dan bolpoin untuk mencatat, dan beralih pada layar komputer dan tutstuts keyboard. ya, di blog ini (eh bukan dink, di blogdrive sebelum saya berpaling dan pindah ke pelukan blogspot). saya memperlakukan blog sama seperti diary tweety saya jaman baheula dulu. bedanya, saya tak lagi butuh laci bergembok. semua orang bebas membacanya, memberikan komentar, atau menyumpahnyerapahi catatan saya. ini yang saya senangi.

pada akhirnya saya menemukan kenikmatan meramu ketika menulis blog. jadi tukang masak nih ceritanya (fyi, catatancatatan disini tidak semuanya asli kisah saya, meski ada banyak juga yang punya saya)

kebanyakan muncul karena ketertarikan saya pada beberapa cerita orang lain. kadang karena iri, kadang karena kagum, kadang juga karena biasabiasa saja. saya mencomotnya, mencampurcampur, mengubah seenaknya sendiri, mendramatisir sana sini, sampai akhirnya jadi cerita saya sendiri, cerita yang muncul di blog saya. tapi tak semua orang suka dengan cara saya ini. pernah ada beberapa orang yang mengeluhkan cerita mereka jadi kacau dan entah tak karuan setelah saya templok sana sini. ya, saya bisa apa donk?

formula tipikal dalam beberapa postingan saya: sejumput fakta, segenggam penuh cerita orang lain, secangkir bumbu dramatis dan setetes rahasia. ya, benar. dalam catatancatatan sering saya sisipkan banyak rahasia kecil yang hanya diketahui beberapa orang. rahasiarahasia kecil yang berbeda satu sama lain.. 

hmm, dalam perjalanan saya mengarungi dunia maya ini saya bertemu dengan banyak kawan baru yang punya ketertarikan sama, ketertarikan sama dengan cara pandang berbeda, ketertarikan berbeda dengan cara pandang sama, atau yang benarbenar berbeda. 

ada beberapa yang bertahan masih suka kunjung mengunjungi, ada juga yang tibatiba hilang dari peredaran. tentunya dengan berbagai alasan.

ada yang tibatiba hilang karena hal kecil dan hal besar. kadang juga karena kesalahan bodoh yang saya perbuat. kesalahan satu huruf yang berakibat fatal. mirip ketika bermaksud menyapa seorang kawan di YM, karena mengantuk jari tergelincir satu tuts lebih kekanan menjadi “hai lawan” padahal sebenarnya bermaksud bilang “hai kawan” (coba lihat tust keyboard, betapa kawan dan lawan itu sangat dekat jaraknya?tuts k dan l bersebelahan bukan?) 

oh ya, kok saya jadi melantur kesana kemari. tentang kenapa saya tampak rajin apdet blog: semua postingan yang berurutan itu terjadi berkat teknologi ngeset jadwal terbit tiap postingan, istilah kerennya “scheduled post”. jadi begini misalnya, dalam satu hari, biasanya hari minggu (days off). saya banyak mencatat di word, dari kegiatan mencatat itu ada kirakira 5 hal berbeda yang jadi 5 postingan. trus saya masukin ke blog, dibikin mereka terbit setiap 2 hari sekali. lalu saya tinggal melakukan aktivitas yang lain.

jadi mungkinmungkin saja ketika tementemen membaca postingan baru fresh from the oven di blog ini, saya sedang asyik ngubekubek selasar shopping center, atau makan es krim rasa coklat dipinggir jalan. hehe

aku, aku, aku!

ya. kalau kau lihat sesosok berjaket tebal memandang langit pagi buta berkabut, itu aku. aku dengan segala kesedihan yang entah tak terhitung. pun ketika kau coba bangunkan ia dari lamunan, tetap aku tak bergeming. ketika kau berpaling dan pandanganmu tertuju pada ia yang mengusap air mata yang kering, itu aku.. 

aku dan air mataku yang kering.
mencoba berhitung mundur dari 100 untuk bisa sedikit memejamkan mata, 
kau tahu itu?  


rambut cokelat

rambut saya baru saja dicat. bukan maksud ingin menyaingi cincah lawrah yang memang bule itu kalau saya juga milih warna cokelat untuk mewarnai rambut yang tadinya panjang hitam halus mulus mengkilat cantik nan kemilau *tsah..*. 

tapi memang karena saya suka warna cokelat. dah, itu saja. titik.

ide itu muncul begitu saja, trus langsung dieksekusi alias dicoba. selama dua jam saya mendekam di salon murmer (murah meriah-red) dekat rumah demi mewujudkan ide yang lumayan nyaho’ ini. bayangkan, seumurumur saya belum pernah mengubah warna rambut, eh ini tibatiba saya benarbenar melakukannya hanya karena ide yang terlintas sekelebatan.. duh, sepertinya ada dorongan kuat yang bikin saya jadi berani mengambil keputusan entah bagus entah gebleg ini *apologi*

tapi saya puas dengan rambut cokelat hazel seperti sekarang. 
bikin saya cantik soalnya. 
Buktinya ada yang sampai nyeletuk:
“da, sekarang kamu tambah eksotis e..”
“da, kamu tambah hot”
bukankah itu pujian, kalo saya tak salah mengartikan ucapanucapan yang benernya bermaksud mencela a.k.a ngece a.k.a ngenyek yang sebenernya berarti:“tambah item lu, ndro”

*what?* 
bwahahaha

malioboro di batas senja



oleholeh berjalanjalan menyusuri malioboro.
ia begitu ramah senja itu..
klik dimari untuk liat yang lainnya.

good morning rawapening

katakata seakan tak berdaya dihadapan selembar foto. ia menjelma menjadi rentetan bunyi yang tak cukup mampu mengungkapkan isi hati. maka, istirahatlah katakata kembalilah dalam melankolia

begitu pula dihadapan selembar foto ini. berdesir saya memandangnya. pagi yang magis diabadikan oleh lensa. ah, entahlah. ia terlalu sulit diungkapkan.

berjudul “good morning rawapening”, rasanya pagi menjadi kesukaan saya setelah senja. mungkin. jadi, selamat datang pagi. 



foto oleh sayoga wicaksana, kawan saya yang mengaku fulltime tukang potret dan parttime mahasiswa isipol ugm
lokasi: rawapening

tentang jejak yang menjauh

“Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.” (senja di balik jendela, SGA)

Kujumpai jejak tapak kakimu yang berjalan menjauh berbekas di pasir halus di depan pagar. Kau pergi, bahkan sebelum mentari menampakkan diri. Saat malam masih erat memelukku dalam selimutku dengan kehangatan yang semu sebab saat aku terbangun paginya tak kudapati dirimu tersenyum sambil menghadap ke luar jendela. Aku tak pernah tahu apa alasanmu selalu berdiri menghadap jendela setiap pagi. Saat pertama kita menghabiskan malam bersama sama, aku terbangun mendapatimu bertelekan siku di jendela sambil menggigiti bibir. Juga pada hari hari yang lain, aku selalu melihatmu berdiri menghadap jendela, atau kadang duduk sambil memeluk guling. Aku tak pernah tahu apa yamg kau pandangi, jendela itu menghadap ke barat. Jika kau ingin memandang matahari terbit seharusnya kau berdiri di dapur dan memandangnya dari sana. Mungkin dengan secangkir kopi atau susu coklat.

Tak kudapati pesan darimu, kau tak meninggalkan pesan ataupun sesuatu untuk menjelaskan kepergianmu yang tiba tiba. Hanya bekas tapak kakimu di halaman, dan sebuah cangkir kosong bekas kopi yang tanpak kau letakkan tergesa gesa di meja dapur hingga ada sedikit noda di taplak meja yang baru saja kau beli kemarin lusa.
Kuseduh secangkir kopi, dan berjalan ke depan. Jejakmu masih ada, agak mengabur dan ada jejak lain yang tertumpuk di atasnya-jejak pengantar koran. Kupungut koranku dan kulongok kotak surat dan ternyata ada selembar kertas disana, tulisan tanganmu.

Kepergian ini adalah jejak yang mengabur. Aku pergi bukan karena dirimu melakukan salah, juga bukan karena aku ingin menjauhimu. Justru aku merasa dengan aku pergi, aku bisa semakin merasakanmu dekat di hatiku. Seperti bayangan di sore hari yang perlahan makin memanjang dan akhirnya hilang, maka biarkan aku jadi bagian dari senja yang selalu jadi kesukaanmu. Maka nantikanlah aku pulang satu senja nanti, pandanglah ke barat dan teruslah berharap. Aku sudah tersesat sekarang, berharaplah aku menemukan jalan untuk pulang. Dan jangan khawatir, karena jika hari itu datang kau akan tahu bahwa aku pulang hanya untukmu.

Maka kulewati hari itu dengan membersihkan rumah, membenahi atap rumah yang bocor dan mengecat lagi dinding dindingnya. Di sore hari kutanam rumput untuk menghijaukan pekarangan, lalu kubeli beberapa tangkai bunga segar di kios bunga dan kupasang di vas bunga tepat di samping pintu masuk. Lalu kujerang air karena mungkin kau hanya akan pergi satu hari saja, dan aku yakin kau pasti letih oleh sebab itu mandi air panas akan sangat menyegarkan badanmu. Setelah itu aku duduk di depan pintu, dengan buku di tangan, memandang senja yang memudar, bayangan bayangan yang memanjang lalu menghilang, jejak jejak yang mengabur dan semakin dalam membekas di dalam laci kenangan.

Aku sekarang tahu apa yang kau lihat setiap pagi. Aku sekarang mengerti kenapa kau selalu memeluk guling sambil menggigiti bibirmu saat melihat ke luar jendela. Kau melihat jalan itu, jalan yang menuju ke entah mana. Kau berharap kau akan menemukan apa yang hilang darimu selama ini. Kenangan.

Aku paham apa yang kau maksud dengan suratmu itu. Kau menginginkan aku dekat di hatimu, di tempat yang hanya kau sendiri yang tahu. Dan hanya berupa kenangan aku bisa hidup di hatimu, maka kau memilih pergi. Dan membawa semuanya karena kau menginginkan semua kenangan itu bersamamu. Dan kau tahu aku selalu menyukai senja, oleh sebab itu jendela kamarku menghadap ke barat, tempat aku biasa berbaring dan membuka jendela, menikmati senja yang turun perlahan menciumi pucuk pucuk pohon di kejauhan.

Kau pergi, meninggalkan senja sunyi yang kemerahan menggantung di pucuk pucuk pinus di kejauhan. Meninggalkan jejak jingga di depan pintu pada setiap penghujung hariku.

45 menit pondok cabe

apakah kau suka menunggu? kalau pertanyaan itu diajukan pada saya pasti akan saya jawab TIDAK dengan huruf kapital. tapi rupanya saya sedang tidak beruntung malam ini. saya dipaksa menunggu lebih lama dari batas maksimal. 

kejadian berawal dari perut yang lapar dan perlu diisi. atas saran bono, kami memutuskan untuk makan di pondok cabe jl. c simanjuntak. menurutnya, tempat itu punya makanan yang enak dengan harga yang relatif murah. ah ya, saya belum menjelaskan. kami adalah saya, nduti, bono dan andy (hope i did'nt misspell your name, dude) 

selepas hujan kami pun meluncur kesana. begitu memasuki pintu utama dan satusatunya pondok makan itu kami disambut dengan senyuman ramah waiter yang memberikan daftar menu dan kertas pesanan. saya terkesan dengan keramahan mereka. “ah, bagus juga servis pelayannya disini” gumam saya. tentu saja ekspektasi saya agak berlebih pada servis keseluruhan. “sudah katanya murah, ramah pula..wah pasti akan menyenangkan makan disini” well, i do have the reason right?

ya, pendapat saya belum berubah sampai akhirnya kami memesan beberapa menu yang tersedia. tak banyak, cukup untuk 4 orang saja. saya mencoba paha atas bakar manis, katanya salah satu menu favorit pondok makan ini. nduti, bono dan andy memesan telur sponge bob dan tempe bakar manis, juga menu favorit. sementara minuman yang saya pilih adalah es lemon tea dan mereka masingmasing es jeruk, es jeruk dan kunyit asam. tak banyak bukan? hanya 4 porsi makan minum. tapi kami harus mendapatkan waktu menunggu yang berlebih, sebagai bonus mungkin.

ya saya memang tahu bahwa saat itu pondok makan itu sedang ramai karena memang jam makan. hampir semua meja di lantai bawah penuh terisi sehingga rombongan kecil kami harus naik ke lantai dua untuk duduk. tapi bukankah itu tak tepat dijadikan excuse untuk tak memberikan layanan yang memuaskan? 

setelah memesan 4 porsi makan itu kami harus menunggu selama 45 menit sebelum semua pesanan datang! coba bayangkan betapa laparnya kami, dan yang paling penting betapa banyaknya waktu yang terbuang untuk menunggu?

untung saja kami tak kekurangan bahan pembicaraan. mulai dari ketawa ketiwi membicarakan kenapa belum ada orang jawa yang di hire vivid production, filmfilm mengharukan yang oke, apakah orang australia macam andy juga suka meninggalkan tips bagi pelayan, sampai mengenai penyusunan sejarah indonesia yang sedang menjadi subjek studi andy di indonesia. akhirnya darn 45minutes itu menjadi sedikit lebih baik. ya, lebih baik.

semoga suatu saat nanti bila saya punya uang dan berpikir untuk mendirikan pondok makan saya akan hire pelayan dan tukang masak yang seimbang dengan kapasitas maksimal pondok makan saya, agar tak ada yang menunggu. apalagi selama 45 menit!

saya jadi tahu kenapa kebanyakan orang jawa sering bilang ”sudah, ambil hikmahnya saja.”

segelas kopi hitam dan sebuah pesan pendek

”besok kalau aku pulang, aku ingin ngopi denganmu”

rasanya ingatan saya masih cukup tajam untuk merekam sebuah pesan pendek dari kawan lama beberapa waktu lalu. namun ada yang ganjil dari pesannya. entah bentangan waktu dan kilometer yang memisahkan kami berdua mampu mengaburkan ingatannya akan kebiasaan saya atau memang ia salah kirim. tak tahu pasti. namun saya masih cukup ingat juga bahwa nyatanya saya hanya mampu memandang pesannya tanpa berbuat sesuatu. tidak menghapusnya tidak pula membalasnya dengan sebuah kalimat pendek ”kamu yakin?”

ya, saya memang tidak biasa minum kopi. tak punya kebiasaan minum kopi di cafe dan mungkin saya juga tak bisa meminumnya, dengan nikmat. tidak pernah juga mencoba mengambil bubuk hitam itu dengan sendok kecil, memasukkannya ke gelas. menyeduhnya dengan air panas, mengaduknya perlahan agar tidak mengendap di bawah sambil menatap kepulannya. saya tak juga berminat membaui harumnya yang khas. itu kenapa saya bilang pesannya ganjil. pesan yang menyiratkan sebuah pemandangan kami berdua duduk agak jauh dari kipas angin sambil memandang langit malam jogja dari jendela cafe di lantai dua, bercerita tentang pahitnya hidup yang seakan menggenang di gelasgelas kopi dihadapan kami. atau hanya sekedar memutar ingatan usang tentang kerinduan dan perjodohan. pemandangan yang hampir tak muncul dalam catatancatatan harian saya.  

saya jadi ingat kapan terakhir kali saya mencicip segelas besar kopi hitam pahit. di perbukitan malang selatan, setelah menerobos perjalanan tigapuluhmenit menyusuri hutan jati di malam yang gelap berlenterakan bintang dan secercah sinar sepedamotor saya dan beberapa kawan disambut oleh hangatnya dekapan tubuhtubuh dengan wajah polos yang menyuguhkan minuman terbaik mereka. bak seorang tamu agung kami diboyong ke ruang perjamuan. segelas kopi hadir sebagai wujud akhir dari perjalanan mengambil di kebun, menyangrai, dan mencacah. wajahwajah polos dengan senyum tulus itu dengan bangga memperkenalkan racikan kopi hitam khas dusun sambil harapharap cemas menunggu reaksi kami.

rasanya terlalu jahat jika saya menolak tawaran mereka. begitulah yang terbersit dalam pikiran saya waktu itu. namun kekhawatiran juga muncul. tentunya saya tak ingin ditemukan sekarat garagara menenggak kopi hitam di pucuk perbukitan terpencil ini. saya pikir saya harus cepat memutuskan. 

akhirnya terbitlah keputusan yang cukup meresikokan diri saya. dan terbukti saya tak cukup mampu menolak kebaikan orang lain. tidak juga untuk segelas kopi hitam kebanggaan mereka. tak sekedar mencecap saja, saya menghabiskan satu gelas penuh kopi hitam pahit hingga menyisakan ampasnya saja. sekalian, batin saya. lambung yang dalam keadaan biasa tak mampu mentolerir kopi ternyata punya kekuatan luar biasa malam itu. sepanjang yang saya ingat, itu terakhir kali saya minum kopi hitam. dengan akibat terjaga sepanjang malam dan siang hari bangun dalam keadaan mabuk dan perut perih.

ah, saya yakin kawan lama itu hanya lupa kiranya saya hampir selalu lebih tertarik memesan secangkir cokelat hangat, lemon tea atau teh manis jika terperangkap di sebuah cafe. rupanya saya tak sempat bercerita kepadanya tentang kopi hitam malang selatan itu ya. atau saya sudah bercerita? ah saya juga tak begitu ingat. tapi mungkin juga ia salah kirim. buktinya ia tak menanyakan apapun pada saya. tak juga hendak meluruskannya.

atau saya yang tak sadar telah sekali lagi memutuskan kontak kami?

jogja, okt 08 

pachelbel: canon in d

komposisi ini salah satu favorit saya. selalu berhasil membuat saya menangis termehekmehek mirip bebek. entah itu ketika saya sedang sendiri mengurung diri dalam kamar maupun ketika saya ada ditengah kerumunan manusia.

btw, si pengupload rupanya tak bisa membedakan orang jerman dengan austria ya? *udah nge-grab, terlalu banyak protes*

cheap talk!

dan perasaan saya sekarang mirip kombinasi john cusack di film  1408  yang dengerin lagu tom waits, little drop of poison di bawah ini

nyesek abis!

tom waits: little drop of poison

jadi inget dosen saya kalau dengar lagu ini. pasalnya waktu itu sempat seru garagara saya dan temanteman bilang lagu itu nge'ROCK' dengan vokal khas. sementara si dosen dengan reputasi mendengarkan musik yang lumayan dengan santainya bilang itu LAGU PEMUJA SETAN!, hahaha

anyway saya tetep dengerin, sapa tahu bisa ketemu setan..

PS: kalau mau dengerin lagu ini bisa dimatiin dulu backsound blog dibawah. atau kalo gak ngabur langsung ke youtube aja


mary poppins: nostalgia

ketika ditanya apa yang saya dapat dari menonton mary poppins (1964), salah satu film kesukaan saya, jawaban saya: nostalgia. 

ya, nostalgia karena di film ini imajinasi kanakkanak saya serasa dimanjakan. hampir semua yang mampir di otak saya waktu kecil seakan digelar dan ditata rapi melalui adegan demi adegan yang muncul. ya, ketika dulu kecil saya memang memimpikan punya petualangan menantang seperti huckleberry finn, atau yang sedihsedih macam oliver twist, atau yang penuh keharuan ala the secret garden. tapi tak menolak juga pilihan lain yang tetap menarik yaitu punya pengasuh yang bisa terbang, atau punya kekuatan merapikan kamar dengan menjentikkan tangan saja. 

masih dalam rangka nostalgia, saya merasa share the same experience dengan tokoh anakanak. masa kecil saya juga hampir mirip dengan tokoh anakanak dalam film ini. bapak dan ibu saya samasama bekerja sehingga waktu untuk anakanak mereka banyak tersita untuk urusan kerja. sama seperti jane dan michael yang ditinggal dengan pembantu dan pengasuh tanpa pengawasan orang tua. bedanya saya tak punya pembantu maupun pengasuh yang tinggal dirumah. tiap hari selepas sekolah saya dititipkan di tetangga yang kebetulan menganggur, atau jika mereka sedang tidak dirumah, saya dimasukkan rumah, dan dikunci dari luar oleh orang tua saya dengan pesan tidak boleh bermain korek api atau saya akan tewas terpanggang. 

kalau untuk hal yang lain tampaknya sama saja. kedua orangtua saya tipe pekerja keras yang bermuka serius dan punya banyak citacita sama seperti karakter orang tua, terutama bapak si anakanak dalam film ini. itu sebabnya anakanak dalam keluarga kami kadang merasa kurang perhatian dan tidak begitu dekat dengan mereka. tapi namanya juga manusia, pasti bisa survive, buktinya sampai sekarang saya dan adik saya masih tahan hidup dengan orang tua kami. cuma gak bisa sangat dekat seperti yang saya lihat dikeluarga temanteman saya. well, that’s my problem not yours, hehe 

kembali ke mary poppins, saya tidak ambil pusing apakah film ini sering dibahas karena kritisasi terhadap keberadaan bank, masalah kelas pekerja: chimney sweeper atau protes terhadap perempuan yang mulai mengambil tempat dalam ranah sosial. yang lebih menarik perhatian saya adalah hal sederhana: perlunya keceriaan dalam hubungan orang tua dengan anak yang ‘sehat’. 

kalau diperhatikan, suasana yang terbangun dari awal cerita memang gloomy, kaku dan dingin, sekaku sikap sang ayah, mr bank yang sibuk dengan pekerjaannya dan urusan serius orang tua, sampaisampai melupakan anakanaknya yang butuh perhatian dan kasih sayang. jalanan lengan, orangorang dewasa bermuka masam dan serius, angin berhembus terlalu kencang. duh pokoknya pas bener untuk mendeskripsikan situasi yang tak menyenangkan. 

sampai pada suatu hari muncul si mary poppins, seorang pengasuh yang punya kekuatan ajaib yang menebarkan keceriaan pada anakanak keluarga bank yang terkenal jahil dan usil karena kurangnya perhatian dari orangtua. si mary ini mampu membuat kedua anak keluarga bank menjadi ‘bisa diatur’ dan lebih ceria. ia mengajari katakata yang lucu kalau diucapkan (duh saya lupa katakatanya), mengajak mereka berpetualang ke dalam lukisan, naik kuda komedi putar keliling desa dalam lukisan, menyanyi di atap rumah bersama para chimney sweeper, bottomlinenya: halahal menyenangkan yang pernah mampir di imajinasi saya ketika anakanak! 

pada akhir film, berkat mary poppins, hubungan keluarga ini jadi membaik dan keceriaan muncul. yah.. happy ending deh. tipikal sih, tapi tetap saja perjuangan mencapai hal itu membuat haru.  

pesan saya kalau nonton film ini, ndak usah dipikir berat lah..ikuti saja imajinasi kanakkanak yang menyenangkan itu..  

chim chim chimney 
chim chim chimney
chim cheree

bad mood

aku sedang bad mood! tentang scholarship, kerjaan menumpuk, orangorang yang mulai menyebalkan, situasi hati yang tak menentu, tekanan batin, mimpi buruk, kerusakan tak perlu, skl ga terbit, pdf belom dikumpul, tulisan belum diedit, kurang tidur, makan gak teratur, gelas, surat referensi belum dibuat, dosen susah ditemui padahal tinggal tandatangan, hape lowbatt dan mulai ngadat, ditipu produsen, kemahalan, lampu minyak, blog mulai ngacau, YM suka trouble dan ngeselin, tampilan fesbuk kacau, kemaleman, hujan terlalu deras, sound di GSP jelek, gatalgatal, koneksi seret, susah aplot, semua orang tampaknya makin reseh, degdegan, gondok, penasaran, labil, mouse susah gerak, kertas A4 habis, tegangan listrik naik turun, jendela gak bisa dikunci, panas, 50rebu gak worth it, player dvd ngadat, heran bendabenda disekelilingku lagi pada rusak ya?flickr mulai ngebosenin, plurk juga, blog juga kuhapus aja kali ya biar sekalian. eh, semua accountku di dunia maya seru juga tu kalau dihapus FS, FB, plurk mybloglog, blogspot, flickr, JIS, multiply, youtube, englishers, pa lagi ya? hmm perlu dipikirkan! over quota 40 jam, uringuringan terus, gak punya temen, capek, letih   :(

ugh, lega!

tapi masalah belom selesai! apa yang harus kulakukan?

pena dan senja


photo from: here

akhirakhir ini aku kehilangan kekuatan untuk menggoreskan katakata. aku pernah bilang penaku patah, dan aku belum memperbaikinya. ah mungkin aku akan membeli pena baru, dan pena yang terlanjur patah itu akan kusimpan di laci kecilku yang nyaman, untuk kutengok sewaktuwaktu, ketika aku butuh senyuman kecil yang tulus akan ingataningatan yang dibawa olehnya. 


tak begitu sentimentil kalau aku mengatakan ini dengan suara seksi jason mraz meneriakkan i’m yours berkalikali dari speaker. 

aku harap perasaan ini hanya sebentar. tak terlalu berlarut, hanya sebentar saja. seperti senja yang datang hanya sekelebat, lalu hilang dalam peluk malam yang dingin. namun senja tetap membawa kebahagian tersendiri. sebagai isyarat bagi para pengembara jauh yang melintasi ilalang tinggi untuk beristirahat, atau tanda selesainya kerja hari ini bagi cewek kantoran di kartun “100 tokoh yang mewarnai jakarta”.

senja hadir untuk kebahagiaan,
dengan caranya sendiri
dan kenyataan itu membuatku selalu menunggunya...

come what may

comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay comewhatmay

keep saying..

i'm so sorry

barisan kata terasa begitu hambar. entah, mungkin aku sudah begitu jenuh. jenuh untuk apa pun aku tak tahu. yang jelas ia hambar, seperti hanya sengaja di tempelkan satu sama lain dan direkatkan dengan lem yang terlalu pekat. ia menjelma jadi mimpi buruk dalam baitbait yang mengambang. seperti kertas yang biasa ditemui di toko alat tulis, penuh dengan coretan  sampaisampai kau harus mencoba bolpen baru di tepinya, atau diantara coretcoretan yang lain. 

merasa bersalah atas sesuatu yang seharusnya bisa dihindari adalah perasaan yang sangat tidak menyenangkan. kupukupu itu terus terbang diatas perutku, membuat isinya bergejolak dan serasa menggelegak. aku bingung harus bagaimana. apa yang harus kulakukan?

i say i'm sorry.

for what?

i don't know... to much

*berpikir untuk menghapusnya saja, kalau ini hilang, hilanglah pula segalanya. ah, mungkin jadi lebih baik*

hampir mati

ya ampun, aku benarbenar bersyukur karena gak jadi mati malam itu. duh, kayaknya mata minusku ini semakin nambah saja. gak pakai kacamata, jadi lampu motormobil di jalan raya terlihat kacau dan banyak sekali. ceritanya habis ngisi bensin di SPBU Gejayan, mau nyebrang jalan yang ke arah selatan, ya kan rumahku di deketdeket situ doang. sebenarnya cuman butuh waktu 3 menit doang nyampe rumah, tapi jadi lama karena nunggu kendaraan yang lewat banyak beneerr.trus ada satu orang naik motor nih kayaknya lagi mabuk nih orang (masa jam 8 malem mabuk?) tibatiba hampir menabrakku yang jelasjelas udah ada dipinggir jalan..ya ampun..untung nih ya aku ndak papa. coba kalau jadi ketabrak, bisa mati keknya aku..

malam itu

Malam itu dia berkata padaku ingin pulang ke negri yang jauh
Negri dimana tidak ada ayam yang berkeliaran bebas di jalan jalan
Juga tidak ada rumpun bambu yang menunggumu di tiap tikungan

Malam itu dia bertanya apakah perlu dia meninggalkan kenang kenangan
Apakah aku perlu sesuatu untuk mengingatnya
Mungkin seuntai manik manik atau selembar gambar diri

Jawabku tak perlu
Aku bisa mengingatnya hanya dengan menyusuri malam kota ini
Membaui setiap sudutnya dan menghampiri setiap jejak yang kutemukan

Malam itu dia pergi ke negri yang jauh
Negri dimana senja selalu datang terlambat
Dimana malam adalah kegelapan yang sempurna, dingin dan menakutkan

Malam itu sempat kusampaikan padanya pesan sebelum dia melangkah pergi
“pulanglah ke negri ini, negri dimana malam selalu hangat dan bersahabat”

Dan tiba tiba senyumnya seperti ribuan pisau yang menyayat

diculik dengan hormat dari: bono

mati lampu

tak seperti biasanya, menjelang hari gelap itu jari jemari Vero tak menari diatas keyboard compaq presario v3000 kesayangannnya. kukunya yang baru saja dipercantik dengan kuteks terbaru terlihat berkilauan dibawah timpa sinar lilin.

Vero duduk di pojok ruangan, diatas sebuah sofa dekat meja kecil tempat menaruh lilin. ia tampak sibuk dengan telepon selulernya. ada saja yang dilakukannya, sebentarsebentar ia mengecek sms masuk, membaca kembali sms yang ia kirimkan beberapa saat lalu, dan memainkan beberapa games yang terinstall disitu. ia tak dapat menghubungi kawankawan kampusnya karena pulsa terakhir sudah habis tadi jam 3 sore. Vero ingin ngobrol dengan mereka, tapi ia malas menembus deras hujan yang jatuh di pertengahan oktober ini untuk membeli pulsa. tak berapa lama ia merasa bosan. kepalanya lalu rebahan diatas sandaran sofa.  

menjelang magrib itu listrik padam, ”mati lampu” Vero biasa bilang. kamar kostnya gelap gulita. dari beranda kamar di lantai tiga ia bisa melihat kegelapan menghampar sampai sebuah titik yang cukup jauh, menara milik Mirota Kampus, nama sebuah department store. ia menyadari cuma lampu di menara itu yang terang benderang dari tempat ia berdiri.

Vero tak tahu pasti apakah padamnya listrik ada hubungannya dengan angin besar yang tadi sempat mampir di daerahnya. kebetulan tadi sore sekitar pukul 5, langit Jogja tibatiba menghitam dan angin berhembus cukup kencang sampai potpot bunga di depan kost menggelinding tak karuan. padahal sepanjang siang cuaca terik dan matahari bersinar membakar kulit. Vero tak betah berlamalama sendiri di lantai tiga yang gelap itu, buruburu ia turun dan menghidupkan lilin di ruang depan yang terletak di lantai satu, tempat biasa anakanak kost menerima tamu lakilaki.

sekitar 5 menit Vero tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. ia pun lelap dalam lamunan diantara pandangnya pada deras hujan yang turun membabibuta. kacakaca di jendelajendela serasa dipukulpukul. sementara bunyi gelegak air melewati pipa pralon yang sengaja dipasang untuk mengalirkan air hujan dari atap ke parit kecil di samping rumah itu terdengar semakin ribut. Pas benar mirip setting film horror jaman Suzzana, batinnya.  

tak berapa lama satu persatu teman kostnya muncul. ada Ira yang ternyata baru potong rambut jadi semakin pendek mirip Maia Ahmad, ada Raras yang pipinya semakin tembem karena stress mengerjakan tugas akhir, ada Dina yang tampak letih karena mengambil kerja part-time sampai larut malam, ada Dewi yang berkutat dengan hobi barunya, membaca National Geographic edisi lawas. ada Winda yang bahagia karena tulisannya baru saja dimuat di jurnal kampus. 

semua perubahan terlewat dari mata Vero yang tidak minus. Vero tersadar, ia selama ini terlalu sibuk dengan dirinya dan urusannya sendiri sampai tak tahu bahwa sekelilingnya berubah. terlalu asyik bermain dalam taman khayalnya, asyik berselancar di dunia maya yang jadi hobi barunya. Eh, ia bahkan tak sadar sudah punya hobi baru! 

sekawanan perempuan yang terjebak hujan deras dan mati lampu itu pun larut dalam curhat dan canda. nyala lilin yang tak begitu terang terasa tak begitu penting lagi, kegelapan yang mungkin masih akan berlangsung lama jadi mengasyikkan.  

”untung mati lampu, kalau nggak bisa mati kutu aku! ”, gumam Vero


jogja, okt 2008

sekali waktu aku

“sekali waktu aku ingin bercinta denganmu di kaliurang”

begitu katamu tengah malam itu. katakatamu yang sedikit menggantung, mengajak tapi tak memaksa mau tak mau bikin jantungku berdegup. kau gila! ingin kuteriakkan itu tepat di telingamu. tapi terlambat, terlanjur aku bisikkan ya. lalu bibirku beku.

ada jeda dari pembicaraan kita. jelas, aku yakin itu. mungkin saja aku saat itu sedang menyesalinya. menyesali bahwa aku takluk; mengingat kau bukan jenis orang yang kuajak tidur. aku membencimu, kau ingat? 

’seks, bumbu terbaik yang membuatmu terkenal’ itu cercamu atas sajaksajakku yang selalu berlendir. satu kalimat disela bunyi gelasgelas berdenting; dan detik itu sempurna. aku sempurna membencimu. 

kudesak kau dalam bilik ingatan. melesak jauh di sana. tertimbun dalam menitmenit yang penuh dengan hitam. menitmenit yang rawan. 

entah apa yang membawamu bertemu denganku lagi begitu intim. padahal kita sepakat untuk tak begitu mengenal satu sama lain. selain itu tak ada yang membuat kita bisa sepaham. kau bahkan tak pernah setuju dengan pendapatku bila bumi manusia itu kisah yang terlalu kental dan memusingkan. dan aku tak hendak mengamini scent of a woman sesungguhnya bau lelehan deras di vagina setelah orgasme.
 
menjelang pagi, aku ingat sekali
masingmasing dari kita sibuk 
mengeja khayal tentang percintaan yang tak akan pernah terjadi


hei! penaku patah. tertindih berat tubuhmu semalam.

jogja, 2008

...

dan,
rasanya ingin kujelajahi tiap lekuk bibirmu;
ia yang melelehkan lega

yogya

sepanjang senja itu
cinta memeluk nafas kami
karena dingin gerimis semalam
kami sepakati untuk tak menangis
bagi sebagian perjalanan yang terhapus
oleh ketergesaan sejarah

dengan kejujuran angin
yang mengelus hamparan hijau tebu
jalanan ke bantul masih menyisakan
lori-lori jelita
aroma lumpur dan sepeda tua
senyum tabah penjual dawet, pengayuh becak
cukup sederhana untuk membangun kembali
kenangan seorang penyair

dan puisi dapat hidup senantiasa
di mana saja, seperti air mengalir
menemukan bentuknya di coklat kali code
atau di eskalator departement store
yang mencuri kesahajaan malioboro
untuk akhirnya pulang kepada cinta
dan kami belajar jadi air
kalaupun tak sepenuhnya sama
kami tak lebih dari penari
bagian kecil sandiwara zaman

di copas dengan ijin dari:
nanoq da kansas

perempuan bertelanjang dada itu

perempuan bertelanjang dada itu sedang menggumam
perutnya yang gendut, semakin gendut dari hari kehari
pikirannya mengembara 
tentang apa nama anaknya nanti
apakah surti atau parti
atau yang sedikit trendi, 
mince
biar anaknya kelak jadi artis tipi
desahan berat
sulur sulur otaknya kembali menggeliat,
dimana anaknya akan lahir
tempat bu bidan atau dalam bis kota
atau ditempat dia sering bercinta
rupanya ada yang berteriak dalam liang telinganya
konsultasi sama mbah dukun, goblok!
ah, perempuan bertelanjang dada itu
(bukan…sekarang dia bertelanjang bulat)
yang perutnya semakin gendut dari hari ke hari
masih punya pertanyaan diujung sepi
“Siapa mau jadi bapaknya nanti?” 


Jogja’8 Februari’06

semalam aku berpikir

sudah sekitar 3tahunan lebih saya ngeblog (dulu di blogdrive) banyak hal yang saya dapatkan dari klak klik ratusan alamat yang nyungsep di kotak pos saya maupun kotak pos tementemen,

saya sampai pada sebuah kesimpulan sederhana: semua orang mampu menulis. yah, dengan berbagai macam gaya tentunya. bahkan halhal yang bagi beberapa orang tak penting dan layak masuk kotak sampah nyatanya menjadi goresan yang menarik untuk diikuti..

ah, tak terlalu berlebihan bila saya membuat semacam award bagi alamat yang sering saya kunjungi, yang memberikan pandangan baru buat saya. bukan dari jumlah komentar yang sering saya tinggalkan di blog mereka, namun dari isi yang saya dapatkan dari mengobrak abrik alamat tersebut.

saya pernah bilang bukan, bahwa tak selalu saya meninggalkan komentar bagi tulisan yang saya baca (saya pasti baca tulisan di posting terbaru sebuah blog..sampai habis. sepanjang apapun itu) tapi belum tentu saya meninggalkan komentar..bisa karena koneksi seret sehingga tak muncul kotak komen, bisa karena memang saya ingin tulisan itu begitu adanya tanpa "direcoki" dengan komentar saya.

ini beberapa alamat yang saya rasa mewakili hati saya untuk dilimpahi award ini

blog inspiratif versi cerita senja:

cafeterianiks: good writing, brilliant!dengan gaya bahasa yang oke dan kadang satir yang sukses 

apple pie: yang mampu menyuguhkan kisah hidup dengan racikan yang pas

gacanti swastika:she's great! pikiran segar dan brilian!

nanoq: dengan pemikiran yang kadang, atau beberapa cocok dengan saya. 

ibed: tulisan tentang bali yang bikin saya tertarik membaca sampai habis, semua.

sudutmata: meramu pikiran dalam kolam katakatanya. semangatmu itu!

lintanglanang: pikirannya tajam, baca tulisannya senang..

pohonjambudidepanrumahku: she's right, kadang kita perlu melihat sesuatu dari balik kaca pembesar

pejalanjauh: sudah mati sekarang tapi kutunggu hidup kembali. tulisannya kadang kontroversial

hamemayu: smart woman, smart thought!

cebong ipiet: dengan gaya tulisan lucu. mengundang senyum simpul sampai ngakak. yang bikin saya sampai berpikir, berapa jam kah maksimal manusia tahan untuk tertawa?

*saya yakin, masih ada banyak alamat lagi menyusul..

belajar dari pasar beringharjo

sabtu,

mendung menggantung di langit jogja, tapi tidak menyurutkan keinginanku untuk menjelajah pasar terbesar di kota ini

beringharjo, tentu saja.
berkaos katun dan bercelana pendek, rasanya pas benar kostumku;
simpel dan tidak gerah. ah, aku sudah tidak sabar untuk mengayunkan kaki masuk

hari sabtu ini pasar beringharjo ramai benar. maklumlah akhir pekan, kebanyakan orang sengaja datang ke pasar untuk membeli stok kebutuhan selama seminggu mendatang, untuk kulakan atau cuma jalanjalan saja seperti aku. pokoknya berbagai macam jenis manusia tumplek-blek, menyatu dalam denyutan nadi beringharjo. 

perjalananku dimulai di loslos batik. aku tersenyum melihat seorang ibu muda yang sedang mengandung dengan gigih merayu calon pembeli. disinilah mereka mendapatkan uang untuk hidup…sejenak aku berpikir,berapa ya keuntungan yang mereka dapat dalam sehari? apa sepadan dengan tenaga yang ia dikeluarkan? terlintas juga rasa kasihan pada calon ibu muda itu dan sedikit rasa kesal pada sang nyonyah juragan …perutnya makin membesar, namun masih bekerja. apa dia nggak boleh cuti sama juragannya?entah…

sulit memang untuk menyalahkan…si ibu muda butuh uang maka ia bekerja, dan sang juragan juga tentunya akan kerepotan bila si mbak cuti kelamaan...

tibatiba terdengar suara bergemuruh dari atap pasar. ternyata hujan turun dengan lebatnya, menciptakan suara yang sangat berisik dan sedikit…mengerikan. seperti triplek yang dipukulpukul pake batu. namun, tak ada yang berubah di dalam pasar. orangorang tetap mengacungacungkan dagangannya dan para calon pembeli masih menawar seperempat dari harga yang ditawarkan. yang berbeda cuma yu penjual gudheg dan simbahsimbah penjual sayuran saja yang pindah karena tempatnya tadi basah ketampu air hujan. 

padahal baru sebentar aku tiba dipasar ini, dan baru seperlima-nya saja yang kujelajahi tapi kakiku sudah letoy, dan kerongkongan tidak bisa berkompromi. aku haus tak terkira. untung saja aku membawa air mineral. glek..glek..segaarr.

aku memutuskan untuk duduk sebentar dibawah tangga didekat penjual es teh- jasmine tea kalo di menu restoran- dan menikmati orang yang berlalu lalang dihadapanku, sibuk dengan apa yang mereka lakukan. kegiatan ini ternyata sangat menyenangkan lho…apalagi melihat segerombolan mas-mas pengamen yang berusaha berdandan dan berlagak layaknya artis terkenal -hmm usahanya boleh juga dihargai-. aku tersenyum-senyum dikulum melihat tingkah laku mereka. apalagi ketika gerombolan itu menggoda seorang mbak yang tinggi semampai dengan rambut agak merah -mahakarya johnny andrean tampaknya- terurai. agak menggelikan…si mbak saking ketakutan diganggu sama para artis jalanan yang berkostum hampir seragam itu, lari terbiritbirit masuk ke dalam salah satu los dan mencari perlindungan disana.  

tiba-tiba aku ingat kalau harus selalu waspada bila berada dalam pasar segede ini, kabarnya copet disana sini. mungkin itu juga yang membuat pemerintah kabarnya mulai memikirkan pemasangan CCTV di beberapa titik rawan. aku merabaraba bagian luar saku celana. ahhh..lega, dompet dan HP masih ada ditempatnya. karena kupikir sudah kelamaan duduk, aku beringsut dari tempat duduk yang tidak nyaman sama sekali itu, mau melanjutkan penjelajahanku. 

belum lagi aku berdiri, tibatiba kuterhenyak melihat seorang bapak tua sedang memanggul beras yang kelihatannya sangat berat. dia berjalan pelanpelan menyusuri lorong pasar yang saat itu semakin ramai dengan orangorang yang berteduh dari hujan. kelihatannya beras itu beratnya sekuintal, atau mungkin lebih…pandanganku pun mengikuti sampai dimana bapak itu berhenti dan menurunkan beban di punggungnya. aku terkejut ketika mendapati badannya yang sekarang tanpa beban itu, tetap membungkuk. ah, waktu dan beban yang berat telah berhasil memaksa tulang belakangnya tidak lagi dapat tegak. air mataku hendak merebak, namun kuurungkan tangisku.

kuakui aku memang orang yang mudah sekali terharu, apalagi pada saatsaat seperti ini ketika aku menyadari bahwa setiap orang itu memang digariskan untuk punya peran masingmasing; dan yang perlu dilakukan hanyalah melakonkan peran itu dengan sebaik-baiknya, dengan rasa nrimo, tidak menuntut banyak dan mengeluh.

bapak itu, dengan matanya yang lugu, adalah seseorang dari sekian ribu manusia yang ada di pasar ini; yang bekerja keras dan tak kenal lelah untuk bertahan hidup. aku membayangkan kira-kira ia tinggal dimana dan berapa jumlah anaknya dan apakah kebutuhan mereka tercukupi dengan penghasilan bapak itu. umurnya mungkin tidak selisih begitu banyak dari bapakku, namun hidup yang keras telah memperbanyak kerutan di wajahnya, hingga tampak beberapa tahun lebih tua dari umurnya. pucat dan letih...

aku…dimana aku? 

aku tetap disini, ditempatku tadi duduk, dan sekarang berdiri. tidak tahu apa yang akan kulakukan. detik itu kusadar begitu banyak hal yang selama ini terlewatkan dari kehidupan kampusku, rutinitasku…nilainilai akademis, yang kurasa jauh dari kehidupan yang sesungguhnya. 

seperti mimpi. 
mungkin terlalu filosofis, namun dipasar inilah kurasa, hidup yang sesungguhnya. 

senyuman manis dari mbak penjual aksesori rambut membuyarkan lamunanku. dengan ramah dia menawariku jepit rambut yang katanya model paling baru- keramahan khas nyogja- tapi aku bilang "mboten mbak, maturnuwun…" menolak dengan halus supaya aku tidak merasa bersalah atas keramahannya. 

kulanjutkan pengembaraanku selama 2 jam. aku sudah mendapatkan apa yang aku cari, yang hanya ada di pasar gedhe beringharjo-setidaknya menurutku. semacam akarakaran yang biasanya untuk jamu dan beberapa jajan pasar yang langka. setelah itu aku memutuskan untuk pulang. 

hal terakhir yang membuatku terhenyak adalah pemandangan yang kulihat sebelum aku menembus hujan rintikrintik untuk mengambil mobil diparkiran. seorang simbah yang sudah sangat tua, mungkin 90an mungkin juga sudah 100tahunan lebih terlihat menggendong sisa dagangan dipunggungnya yang sudah renta itu. tak terlihat rasa letihnya setelah berdagang seharian, malahan ia sempat bercanda dengan seorang tukang becak yang kakinya bengkak karena tersandung pinggir pintu pendopo pasar. mereka tertawa lepas. mengakhiri berdagang hari ini dengan perasaan bahagia, dan bersiap lagi besok pagi untuk memulai hal yang sama.

rutinitas harian.

ah, simbah itu…membuatku teringat pada almarhumah simbahku yang semasa hidupnya menghabiskan hariharinya dengan berjualan di pasar. aku menaruh rasa hormat yang tinggi pada orangorang seperti mereka, yang bekerja keras dan tidak suka menggantungkan hidupnya pada orang lain, para perempuan kuat yang tidak sekedar menengadahkan tangannya memohon belas kasihan orangorang.

aku pulang, pulang kembali pada kehidupan mahasiswiku yang penuh tugas dan menghabiskan berlembarlembar kertas. pikiranku terus tertuju pada rangkaian kejadian tadi. seperti memutar film saja (aku suka sekali frase ini). teringat janji bertemu dengan seseorang, akupun menghentikan kesibukanku mengetik…

sayang, aku datang...

sebuah isyarat, kau tulus

katakata itu begitu rapih meluncur dari bibirmu. mengisyaratkan kau telah mempersiapkannya jauh hari. semalaman mungkin kau menanyakannya pada dirimu, pada teman baikmu yang berusaha kau hubungi namun ia terlalu sibuk dengan ritual perayaan, dan pada akhirnya teman yang duduk di bangku cadangan karena kau terlalu putus asa tak dapat menghubungi siapapun. 

ia tak begitu kau kenal, makanya kau sangat senang mengatakan apapun. bagai fanta yang ditaburi garam. menggelegak. kau meracau tak jelas. padanya yang terbengong bengong kau hujani pertanyaan ini itu.

ia tak dapat memberimu secercah titik terang. seperti yang sudah kauduga. malah membuatmu semakin kesal karena terus mengejarmu dengan kalimat nyinyirnya. ia tak salah. kau tak salah. tak ada yang salah. karena memang salah dan benar itu mungkin sangat tipis tabirnya. mungkin tak ada sama sekali.
tapi ia sudah berusaha keras membantumu, setidaknya.

ah, persetan dengannya. yang jelas kala senja basah di pucuk bukit ini kubaca isyarat ketulusan dari raut wajahmu. aku tahu betul kau ingin meminta sebuah kata, kata yang sekian lama telah membuat jarak diantara kita. kata yang tak hendak kauungkit karena ingin kaubiarkan semua tetap menjadi entah. seperti saat mengharap botol berisi pesan yang dahulu samasama kita lemparkan kelaut kembali dimana kita berdiri, di tepi pantai itu. 

maaf.
aku memaafkanmu bukan karena kau memintanya. aku memaafkanmu karena memang aku MEMAAFKANMU. sungguh, berat rasanya memikul beban ingatan akan dirimu. ketika kurasa waktu tak berpihak padaku, kau datang. aku tak tahu harus menyambutmu atau menamparmu. untuk sebuah alasan yang tak kumengerti. 

tapi kau tulus, kuyakin itu. kuputuskan untuk berdamai dengan masa lalu. kurangkul kau. 
dan tak ada lagi yang perlu kita risaukan.  

dipucuk bukit kala senja basah, kau dan aku mengakhiri seteru. bersatu dalam desah yang berkejaran. tanpa kata, tanpa beban. 
tubuh panas melekuk dalam isyarat.
ada maaf yang tersampaikan.
meleleh, hangat..

to: the invisible. ceritamu kugubah seenaknya. jangan marah padaku