sekelebatsenja: November 2008

bersama kawan, menengok sundak, menunggu senja.


rindu sekali pada pantai selatan.

ah, mari saya bikin lebih rinci.

rindu sekali pada pantai selatan gunung kidul
: krakal, kukup, sepanjang, wediombo, ngandong.
kali ini pantai sundak menjadi tujuan kami, sembilan orang yang haus pantai, kecuali seorang yang tak tahan dengan angin pantai selatan yang keras itu.

berbeda dari pantai di daerah bantul atau kulonprogo, pantai di gunungkidul tampak lebih bersih karena pasirnya putih. diatas hamparan pasir dan air yang maha luas itu, matahari bertengger dengan cantiknya. itulah yang selalu saya rindukan. pasir putih, air dan matahari

dan seperti hujan di bulan juni, larut malam itu saya mendapatkan sebuah pesan di yahoo messenger: “mau ikut gak ke sundak besok sabtu? nyewa mobil aja, nanti kita urunan”
sudah pasti jawaban saya adalah ya. saya tak punya pikiran untuk berkata tidak.

berangkatlah kami selepas dzuhur. mobil APV hitam sewaan punya kapasitas tempat duduk delapan orang, tak apalah kelebihan satu penumpang asalkan masih bisa bernapas dan jalan tanpa hambatan. tentu saja saya pilih duduk di sudut kiri belakang. seperti menumpang mobil bapak saya saja.

ombak bergulung sedang saja. tak seperti ketika saya terakhir kali ke sundak. saat itu tampaknya gravitasi bulan sedang maksimal.

saya pakai celana pendek. langsung menghambur ke air begitu turun dari mobil. setengah menggumam saya bilang: “halo sundak, kita berjumpa lagi” seperti pada kawan lama. perjumpaan kali ini ada bonus: datang bersama empat fotografer dan kameranya masingmasing. kami [saya!] jepratjepret. di atas pasir, dekat pandan laut, di air, batu karang, warung, ketinggian, kapal, senja

ya. kami tinggal sampai matahari mencium cakrawala, meninggalkan semburat jingga di kanvas raksasa. persis seperti bayangan saya. siluet kami bersembilan pun ada di memory card sebuah kamera.

gemuruh semakin gaduh, semua tampak gelap. saatnya berkemas. badan butuh bersandar di kursi empuk. terlelap mungkin.

mungkin tidak. di perjalanan pulang saya masih sempat menjawab: cinta merah jambu nia lavenia ketika seseorang dari kami di kegelapan dan hembusan angin malam bertanya: coba sebutkan lagu apa yang mengandung nama tumbuhtumbuhan?
tentu, sebelum yang lain menyambung dengan: apa nama jubah emas saint seiya?

menyenangkan sekali, kawan!

masih menunggu fotofoto di aplot di facebook dan flickr

selamat hari jadi, ibuk

aku ingin menulis sedikit tentang ibuk, seseorang yang selalu membuatku bersyukur dengan caraku sendiri.

ibukku adalah orang biasa, bukan seorang menteri. tapi ya, kenyataan bahwa dia sibuk itu benar. karena kesibukannya itu pula ketika kecil aku merasa tak punya cukup banyak waktu bersamanya, setidaknya menurutku yang saat itu berumur 5 tahun, manja dan jablay. karena kesibukannya jugalah aku merasa agak jauh dengan ibuk. kami berjarak. ibuk menghabiskan banyak waktunya dengan bekerja. enam hari dalam seminggu, delapan jam dalam sehari. kadang ibuk juga memberi pelajaran tambahan bagi muridmuridnya-ibukku seorang guru. sementara dia mengajar aku ditinggal di sebuah rumah kosong dengan secarik pesan “tidak boleh bermain korek api”. aku kecil merasa ibuk tak cukup memperhatikanku, aku merasa ditinggalkan. namun kelak ketika besar aku tahu bahwa sibuknya ibuk itu untukku juga, agar segala kebutuhanku terpenuhi. 

sedari kecil, sulit bagiku untuk sekedar berkata ”buk, aku sayang ibuk”, memeluknya, ataupun sekedar memberi sebuah senyuman kecil baginya. padahal kulihat temantemanku sepertinya biasa saja melakukannya dengan ibu mereka masingmasing. entah kenapa aku tak bisa, lidahku serasa kelu ketika hendak mengucapkan ‘aku sayang ibuk”, meski dengan lirih. tanganku juga terasa aneh ketika hendak memeluknya. hal paling intim yang pernah kulakukan adalah mencium tangannya, tak lebih. tak ada bisikan sayang, peluk, atau senyuman kecil yang centil sebagai tanda sayang seperti yang kulihat dari temantemanku. 

beranjak remaja tak setiap perkataan ibuk kuikuti dan kuamini, kuanggap ibuk sering mencampuri urusanku, terlalu sering berkomentar ini itu, selalu khawatir yang berlebihan. pernah suatu saat aku membuatnya menangis. aku menyesal. ingin aku minta maaf, namun aku tak mampu. sulit sekali. tapi di hari berikutnya ibuk bersikap biasa saja padaku, aku malu pada diriku sendiri dan pada ibuk, aku pun hanya bisa mengucap maaf dalam hati. kelak aku tahu bahwa ibuk hanya tak pernah inginkan hal buruk terjadi padaku, anaknya. yang aku yakin dengan sepenuh hati selalu dicintainya.

buk, aku bahagia ibuk masih sehat diusia yang tak lagi muda ini. aku bersyukur ibuk masih diberi kesempatan melihat anakmu ini lulus perguruan tinggi seperti yang selalu kau katakan: “anak perempuan harus jadi orang yang kuat. sekolah yang tinggi, terbang yang jauh, jadi orang.” 

aku tenteram karena kau ada disana, melihatku tumbuh. 

buk, aku ingin kau tahu bahwa aku sayang padamu, maaf bila tidak seperti cara orang lain mengungkapkan pada ibu mereka, dengan peluk dan cium. aku menyayangimu dalam tangisku ditengah malam yang sepi, dalam setiap kegagalan yang menimpaku, dalam setiap sikap kasarku yang menerbitkan penyesalan yang dalam.  

buk, aku ingin minta maaf bila di hari ulang tahunmu, anakmu ini belum bisa memberikan hal yang lebih kecuali sebuah ucapan yang selama ini tertambat di bibir..
“selamat hari jadi, ibuk. aku sayang ibuk..”

saya ingin menyanyi lagi

begitu mendengar langsung iga mawarni manggung di acara djarum super on art: ngayogjazz 2008 di desa wisata tembi, bantul semalam membuat saya ingin kembali menyanyi-sekedar catatan: ternyata memang tebal begitu suaranya, jadi bukan mixing, saya tak penasaran lagi. saya jadi setuju juga dengan seorang kawan penggemar jazz kali ini: “tuh perempuan emang layak dipanggil scented goddess, suaranya tebal, adem, dan anggun”.

meskipun saya masih lebih ‘suka’ syaharani-dan agak sedih karena tak jadi datang-yang bersuara seksi itu, tapi iga mawarni oke kok. oke yang berbeda.

kembali lagi pada keinginan saya. sedikit narsis, saya juga pernah menyanyi lho bo’. namun setelah saya ingatingat, terakhir kali saya menyanyi-menyanyi sungguhan! bukan menyanyi di kamar mandi-adalah ketika saya ada di semester lima. ya ampun, sudah lama sekali ya. benar. maklum, saya terlanjur dikubur oleh kegiatan lain. saya sampai lupa apa saja yang bikin saya berhenti mendendangkan lagu. padahal menurut beberapa orang yang saya kenal dan tidak saya kenal, suara alto nan jazzy saya ini oke punya dan ada kesempatan ‘jadi’ kalau saja saya konsisten bernyanyi dan tidak “larilari kesanakemari”.

setidaknya, aura jazz semalam telah menarik saya untuk menyanyi lagi.
selamat buat saya!  

g day

ghra sabha pramana disesaki mereka yang larut dalam seremoni para bekas mahasiswa.

panas. make up. cokelat. berkeringat. PSM. kagama. dekan perempuan. kipaskipas. capek. merah tua. temanteman. biasa saja. fotografer kebanyakan gaya. possibly a mind reader. rok oranye. nduti. pegal. lapar. ngantuk. hujan

ya, aku cabut! 

lainnya: di sini

berawal dari i cento passi

saya suka sekali dengan lagu a whiter shade of pale dari procol harum ini. saking sukanya, lagu ini saya jadikan backsound blog. magical. membuat saya menjadi lebih tenang setelah mendengarnya.

semua berawal dari sebuah kelas bahasa italia. si dosen bule itali, laora romano mengajak para mahasiswa menyimak sebuah film besutan marco tullio giordana-kawannya- yang berjudul i cento passi. film italia tentang mafia (ya iyalah!). saya ada diantara kerumunan itu. menyimak dan menghayati

di film itu ada sebuah adegan ketika sang anak lakilaki sedang melamun memikirkan hubungannya dengan ayahnya yang memburuk dan menyesali maaf yang tak tersampaikan. lagu a whiter shade of pale pun mengalun lembut. sontak air mata saya mengalir dipipi menyaksikan kehebatan kombinasi visual dengan audio yang ada di depan saya. 

kesedihan si anak lakilaki sudah mendatangkan rasa haru. tambah 'disayatsayat' dengan lagu ini!

bisa ditebak, saya lalu jatuh cinta sama lagu ini. saya buru segala info tentangnya. sekaligus mengunduhnya di internet secara ilegal, tentu saja!

ah, dasar orang Indonesia.

lelaki

lelaki, 
masih terasa hangat desah nafasmu di telingaku ketika kau bisikkan sebuah pesan rahasia. aku masih ingat, hatiku yang keras seketika meleleh. lalu hujan bertamu. ia mengetukngetuk kaca jendela berkusen hijau lumut di pojok kamarmu. mengajak hatiku yang melumer untuk menari dalam tariannya.

aku masih ingat. aku larut. seperti gula batu yang diseduh air panas dan kau aduk sebelum kau masukkan cairan teh kental. kau sering bilang teh hangat itu minuman kesukaanmu. juga ketika hujan. 
 
setelah hujan pergi kupikir aku akan melanjutkan terbang. beranjak dari dekap yang nyaman. berjarak dari segala bentuk kehangatan. terbang diatas lautan lepas. melintas padang tinggi. hinggap, meluncur, menari,
terbang. 

namun
tahukah kau, lelaki?

aku tahu,

ternyata yang kuinginkan adalah di sini, duduk di pinggir jendela berkusen hijau lumut di pojok kamarmu. menikmati teh hangat dari gelasmu. menatap pelangi, hadiah dari hujan. mungkin memelukmu sesekali. mencubitmu sambil tersenyum. 

lalu sebelum senja kupastikan aku tak lupa bisikkan sesuatu,
“aku ingin tetap di sini, menjadi tua bersamamu”

jangan kau tanya arti puisiku mario

Untuk Robert Frost dan The Road not Taken-nya

Saya sependapat dengan Horace yang pernah mengatakan bahwa puisi itu layaknya imaji atau gambar. Ut pictura poesis, katanya dalam Ars Poetica. Sederhana, sebab kata-kata yang penyair untai berusaha membangun sebuah penggambaran tertentu dalam benak pembaca. Seberapa berhasil sebuah puisi mengesankan saya tergantung dari sejauh mana ia berhasil mengkonstruksi imaji dalam pikiran ini.

Saya sedari dahulu kagum dengan penyair-penyair tertentu yang mampu menggali kekuatan kata-kata untuk menghadirkan bayangan yang luar biasa magis bagi saya. Coba kita simak bersama salah satu sajak dari Goenawan Mohammad ini, Lagu Pekerja Malam:

Lagu pekerja malam
Di sayup-sayup embun
Deru menderam

Saya terkesan pada larik kedua puisi tersebut yang dengan cermat dan cerdik menaruh kata sifat sayup-sayup untuk embun. Luar biasa. Dalam bayangan yang hadir di kepala saya, terlihat suasana riuh kota dini hari dimana embun tipis putih menghalau pandangan, yang kadang terlihat kadang tidak.

Atau satu sajak lagi yang selalu menjadi favorit saya, La Seis Cuerdas atau The Six Strings dari Federico Garcia Lorca:


The guitar
makes dream weeps
the sobbing of lost
souls
escapes through its round
mouth.


Hati saya tergerak oleh khayalan tentang anak-anak muda yang mengambil gitar lalu mendendangkankan sepatah-dua patah lagu cinta yang mendayu-dayu. Mereka ini lagi nggrantes, kalau orang Jawa bilang. Dan itu benar, saya sendiri merasakan pengalaman ketika cinta ditolak lalu tergesa mengambil gitar dan menyanyikan lagu-lagu cengeng. Jiwa saya yang hilang terisak-isak lewat mulut bundar si gitar bersenar enam.

Hal diatas tadi selalu menjadi pertimbangan utama saya dalam membaca puisi. Oleh karena itu, puisi yang memikat selalu meng-KO saya dengan gambaran yang cantik sejak pembacaan pertama.

Sayangnya, The Road Not Taken dari Robert Frost kurang berhasil untuk melakukan hal tersebut.

Saat membacanya, imaji yang ia hadirkan dalam benak saya adalah seorang tua yang membatin. Frost sendiri. Di dalam termangunya ia mengingat dua buah jalan yang dulu pernah ia hadapi. Yang satu telah ia lalui dan membawanya hingga ke titik ini, sedangkan yang telah ia tinggalkan masih ia ingat jelas dalam kenangan. Jalan itu, dalam benak saya, jalan pedesaan yang bersemak-semak dengan rerumputan liar disisinya. Sebuah gambaran yang saya bingung sisi menariknya dimana.

Apa yang anda harapkan dari saya, seorang anak muda berumur dua puluh tahun dengan jiwa yang masih meledak-ledak, naif, dan tak berpikir panjang? Yang sajak-sajaknya selalu nakal, dan terkesan dengan sajak yang nakal pula. Yang jelas bukan sebentuk kebijaksanaan. Saya berpikir kekuatan puisi ini, saya akui sajak Frost tidak begitu saja gagal, ada di larik terakhir ketika ia menyatakan:

I took the one less travelled by,

And that has made all the difference.

Frost berhasil membuat saya menebak-nebak apakah ia menyesal ataukah jumawa dengan pilihannya. Namun ketika saya menyadari ia telah melalui jalan yang tak banyak diambil oleh orang lain, saya pikir penyesalan tentu bukan hal yang ingin ia sampaikan. Proud, mungkin lebih tepat. Saya akhirnya samar-samar menangkap meaning puisi ini. Namun yang membuat saya enggan adalah referencenya, yang jelas serupa nasehat. Puisi ini ada di luar horison harapan saya sebagai pembaca. Robert Frost jelas ingin mengatakan sesuatu pada saya, yang demi Tuhan saya sungguh tak tertarik.

Puisi yang membuat saya tertarik adalah puisi yang tak pretensius, yang tak ada kandungan nasehat didalamnya, atau setidaknya saya tak menduga seperti itu. Penyair cukup membagi pengalaman yang ia terjemahkan pada bahasa sajak, lalu sajak itu sendiri yang bercerita pada saya. Dalam The Road Not Taken, yang berbicara bukan sajak. Tetapi Robert Frost.

Saya percaya puisi yang bertahan adalah puisi yang selalu dimaknai terus-menerus, yang enggan untuk berhenti dan terjebak pada satu terminal analisis. Untuk itu ia harus dekat dengan dengan pengalaman, agar pembaca dengan subyektivitasnya sendiri menggauli dan menentukan nasib puisi tersebut. Jangan sampai pesan atau pretensi-pretensi yang menghantui pembaca dan memaksa memaknai. Sebab sekali berarti, sesudah itu mati ucap Chairil Anwar suatu kali. Robert Frost dengan The Road Not Taken-nya, menurut saya, lebih dekat ke beban pretensi yang ia bawa daripada membiarkan pembaca asyik dengan imajinya sendiri.

Robert Frost dan puisinya ini, baiknya dikumpulkan dengan Langston Hughes saat periode komunisnya ketika ia membuat puisi yang menggelikan tentang nabi baru bernama Karl Marx.

Lalu bagaimana seharusnya puisi digauli dalam keintiman antara pembaca dan sajak?

Jika anda sempat menonton Il Postino, ada adegan yang berisi pesan bagus dari seorang penyair kepada pembacanya. Digambarkan, suatu sore yang cerah ketika Pablo Neruda sedang mengobrol dengan Mario Ruipollo, si tukang pos yang gandrung dengan puisi cinta Neruda, sempat terlontar kata-kata yang menarik dari Don Pablo;

"Jangan kau tanya arti puisiku Mario. Cukup rasakan saja."

Ya, saya percaya begitulah seharusnya. Puisi yang sarat beban dan pretensius cukuplah jadi bacaan berdebu di perpustakaan, lalu raib ditelan jaman.

soedra

bulaksumur tumbang: kompleks ugm dihantam puting beliung

7 november 2008. jam menunjukkan pukul 14.45. hari panas. saya sedang duduk di bonbin-sebuah kantin makan di kampus sastra-dengan seorang kawan lama yang tertarik dengan pembicaraan tentang puisi dan cerita pendek. kami larut dalam diskusi yang cukup menarik. ia banyak bicarakan karyanya yang banyak tersortir garagara tak memenuhi ekspektasi pribadi. diantara kenikmatan menyeruput es teh dan mendengarkan keluhannya, sesekali saya mengeluhkan rasa gerah yang muncul akibat panasnya cuaca jogja akhirakhir ini.

14.50. 
tibatiba saja keadaan sekeliling menjadi gelap. entah, karena saya yang tidak memperhatikan hal itu atau karena memang tibatiba saja cuaca berubah. menyusul kemudian angin berhembus sangat kencang. bukan kencang, tapi sangat kencang. ia mempermainkan pucukpucuk pepohonan. dedaunan bergoyang hebat. ah, mungkin akan hujan lebat batin saya. beberapa hari belakangan setelah pukul 12 siang biasanya hujan berkunjung ke jogja. diskusi pun dilanjutkan.

benar. tak lama kemudian hujan menghujam dengan ganasnya. saya pikir itu bukan hujan biasa, karena bunyinya sungguh sangat tidak bersahabat. ternyata ia datang disertai angin yang bertiup kencang betul. kami sungguh mulai panik. pasti ini badai. karena tarian dedaunan sudah diluar batas wajar. menghentakhentak tak karuan. lalu berkumpul di tengah seperti terpilin. air hujan pun mulai menghantam seisi bonbin dari berbagai sisi. orangorang mulai saling pandang. “ada apa ini?”

kami semua tambah waswas ketika angin bertambah semakin hebat. melemparkan butiranbutiran air hujan. badan saya kuyup saking banyaknya air yang mampir di badan. kami tampak makin panik. “ini sungguh badai, kalau bukan puting beliung”. gerobak jualan mulai rusak dihantam angin. orangorang di bonbin mulai berlarian kesana kemari menyelamatkan diri. saya sempat mendengar seseorang berteriak dengan putus asa“ ini jumat kan? janganjangan kiamat!”. saya sempat memproses katakatanya dalam kepala, namun saya tak pikirkan lagi kelanjutan racauannya karena saya sudah terlanjur akan berlari menembus hujan menuju plaza-bangunan utama fakultas sastra.

saya meninggalkan kawan yang terjebak dalam kerumunan manusia di bonbin yang sedang berjuang menyelamatkan diri. saya berhasil keluar dari kerumunan panik itu dan berlari menuju plaza. tapi tidak mulus, di tengah jalan saya menjadi saksi tumbangnya pohon tua kalau tidak mau disebut sebagai calon korban pohon tumbang. sungguh. perasaan itu sangat mengerikan. perasaan berada dalam ketidakyakinan akan selamat. beku menghadapi sebuah pohon tua yang mungkin besarnya 3 kali badan anda tumbang ke arah anda. jatuh didepan mata anda yang menatap dengan panik. untungnya saya cuma kena pucuknya saja. saya lalu lari dengan tambah panik.

saya bawa kamera. mulailah saya merekam kejadian itu dari balik lensa setelah nafas saya mulai teratur. barulah saya tahu kalau genteng jatuh bertebaran, koran dinding dari kaca ‘mosak masik’, eternit tak mampu lagi menahan kucuran air yang membanjir membasahi tumpukan buku perpustakaan sastra. instalasi listrik jatuh tak berdaya ditunggangi pohonpohon tua yang tak kuat menghadang angin. para pohon bertumbangan. ada yang tumbang diatas motor sampai knalpot motor penyok jadi satu dengan rujiruji ban, ada yang tumbang diatas mobil escudo hijau tua akhirnya bikin si mobil terbelah dua, ada yang tumbang diatas mobil jazz biru bikin si mobil ringsek tak karuan. ada yang tumbang diatas kursi yang biasa saya duduki ketika makan siang. mengerikan sekali. 

sungguh mengerikan.

setelah amukan itu benarbenar berakhir, saya tersadar bahwa tidak hanya kompleks fakultas sastra saja yang remuk. fakultas ekonomi, filsafat, gelanggang mahasiswa, grha sabha pramana, kompleks purna budaya, pptik, kopma ugm, perumahan dosen ugm, rs dr sardjito, pusat studi wanita, bahkan salon kecantikan larissa tak luput dari kemarahan. hampir semua pepohonan besar tumbang. 

ya, bulaksumur tumbang. menjelang senja yang dirampas oleh hujan dan angin yang benarbenar marah.


*foto lain bisa dilihat disini

fakultas sastra, setelah revolusi tak ada lagi

Saya senang mengaitkan revolusi dengan sastra. Agen-agen peniup angin perubahan seringkali terilhami oleh karya sastra yang ia baca. Bukan kebetulan tampaknya jika Gie ada di Salemba, berjaket kuning dan berada di deretan garda depan generasi '66. Ia yang kini menjadi ikon para demonstran ternyata membaca Chairil dan Andre Gide di masa remajanya. Atau jika ingin contoh yang lebih terkini, Budiman Sudjatmiko dan aktivismenya yang menghebohkan bersama PRD ternyata adalah pengagum Hikmet Ran, penyair Turki yang bersama-sama dengan Pablo Neruda meraih penghargaan dari pemerintah Uni Sovyet di tahun 1950-an. Lalu saat kita berpaling ke seberang lautan, kita tak akan terkejut jika Ernesto Guevara de la Serna ternyata mengapresiasi Garcia Lorca. Kita tentu masih ingat ketika menonton biografi masa mudanya dalam mengelilingi Amerika Latin ditemani seorang sahabat, The Motorcycle Diaries, ia sering mengutip penggalan-penggalan puisi Lorca. Serta yang lebih familiar untuk anak muda sekarang, Subcomandante Marcos, tidak sekedar mengapresiasi tetapi ternyata sudah mengartikulasikan pikirannya lewat karya. Di sini kita jadi akrab dengan kumpulan karyanya yang bertajuk Kata adalah Senjata. Tak heran sebab sebenarnya dia seorang yang berasal dari kalangan ademis. Dunia film juga mengamini hal tersebut. Dancer Upstairs, film yang diadaptasi dari Novel karya Nicholas Shakespeare itu dengan cantik menggambarkan bahwa revolusi dimulai dari seseorang pemimpin yang berjiwa romantis. Disana diceritakan bahwa gerakan Maois revolusioner Sendero Luminoso di Peru, dipimpin oleh seorang yang melawan kekuasaan lewat teror yang puitis.

Tampaknya kesenangan membaca karya sastra membuat nama-nama besar diatas menjadi peka terhadap keadaan di sekeliling mereka. Tak salah, sebab sastra menawarkan semacam dunia kecil dimana mereka bisa terlibat serta berinteraksi sekaligus berempati. Dari empati ini kemudian timbul kesadaran yang mengendap bahwa ada yang tak beres dengan realitas. Banyak ketimpangan yang mungkin tak disadari jika kita tidak mengasah kepekaan dalam membaca keadaan sekitar. Walhasil, darah muda yang menggelegak segera mengambil sikap dan berpihak. Jelas, mereka sadar kemana seharusnya keadaan diperjuangkan; ada yang tertindas dan membutuhkan uluran tangan!  


II

  Pikiran yang agak naif, tapi kira-kira itulah yang saya pikirkan ketika masih berada di sekolah menengah. Saya dulu begitu terobsesi untuk masuk Fakultas Sastra. Saya merasa disinilah tempat bersemainya agen-agen pembawa kabar perjuangan. Terutama setelah saya membaca Catatan Seorang Demonstran-nya Gie, yang tentu saja masih berkover warna merah dan bentuknya kecil seperti novel, bukan yang bersampul Nicholas Saputra seperti sekarang. Saat itu tak jarang saya mengkhayalkan para mahasiswa berjaket kuning berdemonstrasi dan Gie berada di deretan paling depan para demonstran sembari tak henti-hentinya meneriakkan—maaf bukan umpatan semacam Soebandrio andjing Peking dan sebagainya—tetapi sepenggal dari Aku-nya Chairil Anwar: biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang! Sementara di balik aksi lapangan itu kantung-kantung perkumpulan mahasiswa diramaikan dengan diskusi sastra, mungkin sedikit komentar dari hasil pembacaan novel semacam Germinalnya Emile Zola (Saya tak tahu apakah novel itu sudah masuk Indonesia saat-saat Gie jadi aktivis, novel itu terbit tahun 1968). Lalu media kampus diramaikan dengan tulisan yang mengekspresikan protes dan idealisme mahasiswa yang dianggap subversif. Dunia yang dialami Gie romantik, dan eksotis. Ya, eksotis untuk anak SMU yang masih asing dengan dunia mahasiswa. Tak salah kiranya jika saat itu hasrat di hati ini masuk Fakultas Sastra sangat menggebu-gebu. Sederhana, saya merindukan pertemuan dengan rekan-rekan yang memiliki nyala revolusi di dadanya. Saya ingin mereka mengobarkan api yang sedang berkedap-kedip hilang bentuk di hati ini. 

  Tapi rindu saya karam, megap-megap dalam lamunan ketika saya memasuki tahun kedua di Fakultas Sastra Bulaksumur yang tercinta (saya memang tak jadi terdampar di UI). Saya pangling mencari figur-figur dalam khayalan saya dahulu. Lama sudah beta menyelusup tapi tak kunjung juga ketemu. Tak nyana, karena lelah tersesat dalam pencarian, entah kenapa saya menjadi teryakinkan bahwa revolusi enggan berkunjung kembali. Jelas revolusi dalam artian sempit semisal usaha mereproduksi lagi euforia '98 yang sudah lewat telah menjadi obrolan basi. Tapi bagaimana kabar "revolusi" dalam sikap, karya, serta usaha menjaga atmosfir dimana api gairah terhadap perubahan serta hasrat berkarya yang kritis itu tetap menyala-nyala? Indahnya kampus ketika setiap individu yang melakukan perjumpaan adalah entitas yang penuh vitalitas dalam mengemban sebutan mahasiswa sastra di pundaknya. Mereka adalah individu yang mabuk dengan poetry dan virtue. Saya tak tahu. Ah, mungkin benar kata Goenawan Mohamad: revolusi sudah tak ada lagi. Kini, ketika saya memasuki kampus dan melabuhkan pandangan ke sekeliling, saya selalu tergoda untuk berkomentar. Saya sadar, komentar saya pasti subjektif. Tapi tak ada salahnya dan ada baiknya juga kita bersama bertukar cerita.

  Melangkahlah masuk ke Fakultas Sastra, dan langsung saja lurus arahkan kaki anda menuju plaza (atau bahkan kini bonbin!) dimana berbagai mahasiswa berseliweran bertemu selintas lalu, berbagi kesan dan rupa. Di pojok-pojoknya anda akan menemukan sekelompok mahasiswa yang mungkin sulit dibedakan dengan anak SMU. Mereka tampak begitu hip dengan dandanan terkini ala distro dan pencitraan yang akrab bagi pemirsa MTV. Begitu asyik gosip populer bergulir diantara individu-individu tersebut yang mungkin bisa kita identifikasi sebagai mereka yang hanyut dalam konsumsi budaya massa. Bertanyalah tentang lagu-lagu yang menghiasi chart MTV ampuh, novel chicklit yang terbaru untuk kaum wanitanya, sneakers Vans seri apa yang sedang in, atau kapan film Sembilan Naga tayang di Jogja. Anda sedang mendiskusikannya dengan para pakar. Tapi jangan langsung mencoba topik diskusi seperti, apakah kamu sudah baca The Outsider-nya Camus? Eh, kamu punya bukunya Sade ga? Atau sedikit tajam dengan berdebat tentang payahnya hasil terjemahan karya sastra atau buku tertentu. Itu sangat beresiko membuat anda terlihat seperti Zarathustra di tengah pasar. Saya sering merasa sebagai sobat yang tertinggal atau bahkan idiot diantara para hedonis pengkonsumsi produk culture industry ini. Entah, tampaknya saya termakan ucapan Adorno ketika ia berujar bahwa orang-orang yang tak mampu berbicara dalam bahasa mereka bisa dicurigai sebagai idiot atau intelektual. Saya jelas bukan intelektual, jadi mungkin saya idiot.

  Selangkah lebih ke dalam menelusuri lanskap Fakultas Sastra, anda akan menemui mahasiswa-mahasiswa yang lebih serius. Menenteng ransel besar dan berat kesana-kemari, serta bergumam tak jelas tentang SKS atau nilai mata kuliah. Topik obrolan mereka lebih fokus, seperti bagaimana perkembangan skripsimu? Atau untuk yang lebih muda akan bercerita tentang nilainya yang kurang memuaskan ditambah omelan tentang dosen yang keparat. Menyenangkan bila berada di sekitar mereka, terutama mengamati determinasi mereka yang tinggi untuk segera menyelesaikan studi. Tak diragukan lagi, ini akibat pragmatisme yang timbul akibat makin meningkatnya biaya kuliah. Tapi saya takut jikalau sikap apatis mereka terhadap keadaan sekitar bisa berakibat terlalu jauh. Calon intelektual Mandarins, kata para tokoh Frankfurt school. Ya, rekan-rekan yang seperti ini biasanya tak ambil pusing dengan isu-isu seputar kampus maupun yang lebih kritis lainnya. Blueprint masa depan mereka sangat jelas; secepatnya keluar dari neraka kampus dan mencari kerja. Syukur-syukur bisa mandiri dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi bagi saya hidup seperti itu datar, tak bermakna. Dimana romantisme berkarya? Dimana revolusi masa muda? Kasihan. 

  Lebih ke dalam lagi di Fakultas Sastra. Mungkin sekarang sisi-sisi gelap agak terungkap. Berkunjunglah di malam hari ketika Sastra sedang berpesta dalam musik yang ceria. Selain mereka yang berjoget seiring musik yang menghentak, di beberapa sudut mungkin anda akan menemukan beberapa teman yang duduk melingkar mengelilingi gelas minuman. Perkenalkan, ini teman-teman kita yang menghayati Baudelaire dengan sepenuh hati: mabuk dan mabuklah! 


Get drunk and stay that way
On what?
On wine, poetry or virtue, as you wish...  

Jujur, saya juga bagian dari mereka; rekan-rekan yang akrab dengan air kedamaian. Bagi saya alkohol terkadang perlu untuk menjaga kegelisahan, dan kegelisahan adalah tempat bersemainya inspirasi (namun saya juga berusaha mengingat poetry dan virtue, tidak sekedar wine). Satu hal yang ditakutkan; perjamuan dalam kadar yang berlebihan bisa membawa efek yang tidak diinginkan, setidaknya membuat kita menjadi tidak produktif. Karya tidak lahir dari entitas yang hidup dalam dunia bawah sadar. Saya juga segan jika saya lebih dikenal karena hobi saya menenggak minuman daripada sebagai seorang mahasiswa sastra. Terkadang usaha mendisiplinkan tubuh juga perlu, bukan begitu?

  Berlawanan dengan kamerad-kamerad pengkonsumsi alkohol tadi adalah teman-teman kita yang sangat religius. Anda tak usah kemana-kemana untuk mencari mereka, di Sastra mereka ada dimana-mana. Tampaknya tak pas membicarakan revolusi atau karya yang subversif dengan rekan-rekan ini. Sebab tak ada riak ombak di laut yang dalam, pepatah lama mengatakan. Jadi mari kita batasi topik ini hanya pada kita yang masih bingung memilih antara religi dan religiositas, dua hal yang bagi Mangunwijaya jelas bedanya. Apalagi untuk saya yang sering mengutip Subagio Sastrowardoyo, salah satu pahlawanku, untuk menggambarkan hubungan saya dengan Beliau: 

Bapa di sorga.
Biar kita jaga jarak 
Ini antara engkau dan aku
Kau hilang diantara keputihan ufuk
Dan aku tersuruk ke hutan buta...  


Berbahagialah mereka yang merasa telah menemukan lentera di ujung perjalanan.

  Satu lagi dari Fakultas Sastra; "bidadari-bidadarinya". Sayang, saya tak tahu banyak tentang mereka. Apakah mereka kebanyakan bertipe licin dalam memperdaya lelaki seperti Lolita dalam novelnya Nabokov, gemar berpetualang karena materi seperti Madame Bovary, ataukah yang setia walau derita mendera seperti Hester Prince, entahlah. Saya berharap mereka tertarik dengan "revolusi" yang kita bicarakan. Anda lihat-lihat sendiri saja, siapa tahu anda menemukan satu dara yang bergaya Rive Gauche ala Paris '68 atau Flower Generation alias Hippies tahun 60-an. Lumayan, untuk ditanyai motivasinya tampil beda atau ngobrol tentang Howl-nya Allen Ginsberg:


I saw the best mind of my generation destroyed by
madnes, starving hysterical naked,...  


III

  Lalu dimana Fakultas Sastra yang banyak menginspirasi dan melahirkan para pembawa nyala api revolusi di dadanya? Dimana calon Gie-Gie baru? Dimana Rendra-Rendra baru? Mereka tampaknya tersingkirkan diantara keriuhan pesta pora Fakultas Sastra yang kian riang dan dekaden. Mereka makin asing dengan gedung-gedungnya yang makin tinggi dan menebarkan kemapanan. Mereka mengingatkan saya pada perasaan yang Ayip Rosidi ungkapkan dalam puisinya berjudul New York, musim panas tahun 1972: 

Disini matahari terbit 
  tapi entah dimana
Disini matahari terbenam
  tapi entah dimana
  Sinarnya tak pernah tiba di bumi
  tersangkut di gedung-gedung tinggi 


Ya, Fakultas Sastra kini mirip metropolitan New York, dengan bule-bule lalu lalang kesana kemari. Ia makin asing bagi mereka yang merindukan suatu revolusi yang romantis. Ia semakin berjarak dengan sejarahnya yang pernah melahirkan nama besar seperti Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Rendra dan Umar Kayam.

Lalu saya? cuma seorang flaneur di tengah hiruk-pikuk tersebut. Saya berusaha bercerita dari sudut pandang seorang pejalan kaki yang mengamati. Inilah tampaknya realitas di saat aktivisme dalam karya tak lagi memikat, di saat media kampus mulai sekarat, di saat tangan yang terkepal dan lagu darah juang mesti disimpan rapat, disaat Iwan Fals pun mulai menyanyikan lagu cinta, di saat –mungkin—revolusi sudah tak ada lagi.  

(Padahal masalah tetap ada, realitas belum banyak berubah. Negara makin voyeuristic dan represif ketika blog pribadi bisa dipermasalahkan, kampus tak becus dalam mengurus GAMA card, DPR makin menggelikan dengan UU yang nyeleneh, dan seabrek masalah lain yang membuat kita mual secara psikis. Sudahlah, amini saja apa yang terjadi. Mari terus bermimpi!)
2006

potret sang mahasiswa sebagai rimbaud muda

Saya ingin memulai tulisan ini dengan kisah seorang Arthur Rimbaud, sang petualang. Umurnya belum genap dua puluh saat pertama kali ia menyeret langkahnya menggelandang di Eropa pada tahun 1874. Ia lewatkan hari-harinya di Brussel, Antwerpen, London, bahkan hingga ke Stuttgart dan Marseille hanya untuk merangkak dari bar ke bar, meniduri pelacur-pelacur kontinental, dan tak lupa bertaruh nasib di helai-helai kartu remi. Tak heran jika penanya saat itu menggores tajuk-tajuk semacam Le bateau ivre (Kapal Mabuk), atau yang serupa pengakuan: Une saisons en enfer (Semusim di Neraka). 

Di Antwerpen dan Marseille saat ia bekerja sebagai kuli pelabuhan, sempat terdengar olehnya bisik-bisik tentang sebuah terra incognita yang bernama nusantara. Barangkali terpesona atau bahkan tergoda, ia bergegas ke Handerwijk pada 18 Mei 1876 untuk mendaftar sebagai serdadu Nederland Indies. Genap dan usai sudah dua tahun petualangannya di Eropa saat ia diterima keesokan harinya sebagai relawan. Sebuah kapal bernama Prins van Oranje lalu melayarkannya menuju Batavia pada 10 Juni 1876. 

Layar terkembang, ombak beriak, sauh dilempar usai mengayuh, mendaratlah Rimbaud. Tangsi Meester Cornelis di Jatinegara menjadi persinggahan pertamanya sebelum ditempatkan di Salatiga. Kehidupan baru Rimbaud pun dimulai: sebagai serdadu bayaran di Hindia dengan sebatang pena untuk menulis puisi. 
***
Saya menoleh Rimbaud usai bersua seorang rekan yang selama ini saya kenal sebagai aktivis mahasiswa. Ia bercerita banyak. Tentang tualang, suka-duka berkelana di rimba organisasi, serta kemuakan yang terlanjur ia hirup dari kenangan menjadi aktivis. Kesan yang saya peroleh meyakinkan saya bahwa hari-hari ini ia lebih reflektif memandang dirinya. Jauh beda saat silamnya ia masih seorang maba ingusan yang gandrung dengan hiruk-pikuk dunia kampus. 

"Sudahlah. Ada hal lain yang seharusnya bisa saya lakukan". Agak malu juga ia jika mengingat masa lalu yang tak lugu. Saat ia begitu naif, mirip rekan-rekan yang berkobar diatas mimbar dalam demonstrasi tiada henti. 

Saya kemudian berpikir. Pada masanya agaknya organisasi, identitas aktivis, plus Marxisme jadi mitos baru. Serupa doxa bahwa kurang afdol jadi mahasiswa kalau tidak sempat mencicipi dunia para aktivis. Dahsyat jadinya. Ketika jaket hijau kanvas dan emblem slogan hukumnya bukan lagi makruh, jadi sulit dibedakan mana yang aktivis beneran, mana yang kalau rapat organisasi cuma jadi notulen serabutan. Yang penting: tampilan mirip Ali Topan dan bisa ngecap sedikit-dikit tentang Marxisme, proletariat atau semacamnya. 

Saya sendiri pertama kali mengenal Marx lewat tulisan Romo Frans dan kartun Rius. Lalu baca German Ideology juga sedikit-sedikit. The Marx-Engel Readers cuma sempat singgah di kamar kos, tak sempat dibaca. Das Kapital tak jadi dibeli sewaktu ketemu di Soping. Cuplikan Grundrisse baru mulai dibaca sekarang. Yang paling banyak ya baca lewat zine-zine kiri reaksioner. Duh, semangat tenan. Tiba-tiba rasanya jadi kritis membabi buta. Sepatu Adidas yang dipakai di kaki tiba-tiba terasa tak nyaman sejak mengetahui bahwa nilai tambahnya tidak dinikmati oleh para buruh harian di Tangerang melainkan kapitalis gendut berdasi yang lagi rapat di Manhattan. 

Mungkin hal yang sama juga terjadi pada teman saya yang pada masanya adalah orator ulung di atas mimbar. Yang dahulu tanpa pikir panjang ingin gabung organisasi. Menumpas ketidakadilan, misinya.

Mencoba berbicara lepas, rekan tercinta ini sempat militan dengan motivasi tak karuan. Ia seakan beriman teguh pada sebuah "medan tempur". Untungnya ia melakukannya bukan dengan kesengajaan yang fatal. Tapi lebih karena didorong oleh keterpesonaan akan sesuatu yang tampak gagah bagi pikiran seumurannya. Tak salah kiranya jika ini disebut dengan ilusi masa muda: jiwa avonturir dan akal pendek dicampur dengan keterpesonaan tadi bisa menjelaskan pertautan emosionalnya dengan sebuah perjuangan imajinatif. Usaha untuk singgah dan menaklukkan ranah asing yang suatu saat bernama kapitalisme global atau di saat lain komersialisasi pendidikan. Mirip Rimbaud yang tergesa-gesa jadi serdadu Kumpeni.

Kini sikapnya berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Daripada ikut demonstrasi, kenapa tidak menulis saja? Mahasiswa pasti bisa menulis. Daripada koar-koar di jalanan melantur tentang konsep-konsep sakti yang bahkan belum pernah dibaca buku babonnya. Mentok pada aksi turun ke jalan, seakan menunjukkan mahasiswa makin miskin kreativitas." Kamerad saya itu menyemprotkan unek-unek yang sudah karatan ia pendam.

"Musuh mahasiswa sekarang bukan negara, bukan juga kekuasaan global yang mereka sangka memperkosa kampusnya. The true enemy of this bunch was not State Power but Lack of Imagination." Senyum simpul menghiasi bibir saya saat ia melempar joke dari percakapan Watanabe dan Midori dalam Norwegian Wood karya Murakami. 

Masalahnya mungkin seperti ini. Ambil saja contoh mahasiswa yang sedang demo tentang sengkarut pendidikan. Oke lah, kita maklum ada yang tak beres dengan sistem pendidikan kita. Tapi apa semua rekan yang berbicara di mimbar itu bisa menjelaskan dengan baik hubungan antara masalah di kampusnya dengan kata asing semacam neoliberalisme yang mereka ucapkan? Sedikit-sedikit neoliberalisme, serempet kata ketidakadilan langsung tuding kapitalisme. 

Saya mencoba mafhum. Naif mahasiswa yang berlebihan dalam menjelaskan permasalahan makin mirip jamu makjun yang pahit tapi harus kita telan. Santer terdengar dalam diskusi, dan demo tentunya, ketika mereka buru-buru mencari kambing hitam dengan menuding pada entitas mengawang seperti kapitalisme global dan neoliberalisme. Padahal hanya untuk menjelaskan fenomena kenaikan Biaya Operasional Pendidikan. Mereka mengesampingkan begitu banyak variabel permasalahan yang perlu dijelaskan, sementara lokalitas permasalahan luput dari tinjauan.

Namun begitu, sang mantan aktivis ini sekarang berusaha tetap menghargai imajinasi rekan-rekannya tersebut saat berbicara mengenai istilah-istilah sakti semacam sosialisme, komunisme, dan Marxisme hasil olah baca zine-zine reaksioner. Juga usaha mereka untuk tergopoh-gopoh pasang emblem kiri di jidat. Dalam benaknya, ia maklum jika mereka mengaku kiri bukan karena mengerti. Lebih condong karena slogan kiri itu kini semerdu lagu-lagu Nidji. Atau juga karena topinya Castro ternyata matching dengan kaos distro. Akibatnya, pemahaman mereka cenderung terfragmentasi. Sepotong-dua potong yang cukup untuk jadi bahan masakan selebaran propaganda demo. 

"Seingat saya, " Ia bahkan menambahkan. " Ada gurauan tentang begitu banyak orang menjadi Marxist tanpa mengikuti Karl, melainkan Groucho. 'What ever it is, I am against it' kembali terngiang ucapan Groucho yang kondang. "si pembuat rumor itu sungguh tak yakin jika mereka benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang penting anti. Seyakin saya yang percaya kalau mereka tak membaca liberalisme sebagai filsafat, dan tidak melihat kompleksitas dimensi manusia. Saya bertanya-tanya apa reaksi mereka seumpama membaca pernyataan seseorang yang pernah mengatakan bahwa dirinya seorang liberal dalam politik, sosialis dalam hal ekonomi, anarkis dalam mikropolitik? Akibatnya, sangat tragis, terlalu banyak sesat pikir dan jargon kosong di retorika mereka." 

"Apakah ini pengaruh bacaan yang memang dari situnya sakti untuk membakar jiwa muda?" Bantah saya padanya. 

"Mungkin juga. Tapi lebih mungkin lagi tidak. Ada kok rekan yang juga membaca teori-teori Marxisme dan zine reaksioner tapi tak langsung menyodok kepala seorang teman untuk meyadarkannya menjadi kiri, ikut organisasi, lalu berdemonstrasi. Sebagaimana kamu yang baca buku harian Gie dan tak langsung ingin naik gunung."

Rekan saya itu makin berapi-api. "Jujur, kini saya makin menghargai rekan-rekan yang masih menyimpan penanya di saku. Dan tak buru-buru menukarnya dengan selembar tanda keanggotaan organisasi yang berbentuk kartu. Mereka menulis, berkreasi, dan tak banyak bicara. Mereka kiri dan revolusioner sejati, tapi tak perlu siluet Che di dada. Atau jangan-jangan karena mereka sepakat dengan seorang Kasian Tejapira, mantan aktivis dan pejuang gerilya di belantara Thailand tahun 1970-an yang kini malah jadi akademisi ilmu sosial. Ia sempat mengeluh tentang rekan-rekannya yang keras kepala dan berhenti memaknai Marxisme sebagai alat analisis: mereka yang memperlakukan teori-teori Marx layaknya khotbah Musa di Sinai. Dalam kekesalannya ia sempat nyeletuk jika kaum Marxist terbaik ada di luar partai komunis dan yang tersisa di dalam tinggallah yang paling idiot. Dari sudut pandang Tejapira, tiba-tiba saya melihat wajah saya dahulu dan rekan-rekan yang betah di organisasi—yang katanya revolusioner—tak pernah berwajah cerdas."

Saya kemudian sedikit berani menimpali ocehannya. "Seharusnya kita bisa mendengarkan Gramsci kembali barang sejenak. Ia yang memandang intelektual sebagai aktor-aktor penting ketika konflik kelas (mereka tentu masih pakai model analisis ini) dimainkan dalam level ideologis. Hegemoni dari kaum kiri adalah yang melibatkan usaha untuk melepaskan intelektual 'tradisional' dari kelas berkuasa dan membangun apa yang ia sebut dengan intelektual 'organik' dari kelas pekerja. Nah, kenapa mahasiswa demonstran tak berkutat dengan bukunya dan menulis saja untuk menunjukkan kepemimpinan intelektual dan moral? Aktivisme, sependek pengetahuan saya, tak selalu identik dengan demonstrasi." 

"Benar bung," Senyum teman saya mengembang. Sambil terkekeh ia mematikan rokoknya, Camel tanpa filter. 

"Tunggu dulu, jangan-jangan kecurigaan kita ini disebabkan karena tak banyak (lagi) aktivis mahasiswa sekarang yang berprestasi dan mau menulis?" 
Pertanyaan saya terdengar kadung retoris.

"Jika benar begitu, tentu tak heran jika muncul kecurigaan bahwa mungkin, sekali lagi mungkin, usaha berlindung di balik jubah aktivisme adalah untuk menutupi reaksi ketidakberdayaan dalam proses belajar mengajar di kampus." Saya kemudian menambahkan.

Rekan saya itu terdiam sejenak. Matanya menerawang menatap langit, lalu menghela nafas panjang. 

"Untuk mengakhiri unek-unek saya ini, saya ingin mengutip Wallerstein yang pernah berkomentar tentang Marx yang ia pandang (sic) sebagai seorang figur monumental dalam sejarah intelektual dan politik, namun ironisnya mengaku bukan seorang Marxist. Marx tahu, sebagaimana banyak pengikutnya yang memproklamasikan diri sebagai marxist tidak ketahui, bahwa ia adalah seseorang dari abad kesembilanbelas yang mana visinya mau tak mau dibatasi oleh situasi realitas sosial saat itu. Oleh karena itu, marilah kita menggunakan tulisan-tulisannya dalam cara yang dapat dipertanggungjawabkan. Selayaknya seorang kamerad dalam perjuangan, yang mengetahui sebanyak yang Marx ketahui." Hening menyambut ujaran penutup kawan saya tersebut. 

Tiba-tiba kami jadi bersimpati pada mahasiswa yang menyodok bola biliar di tempat-tempat hiburan Seturan. Kebiasaan borjuasi yang menggiring saya pada nostalgia warna sepia rumah bola Harmonie di Batavia dulu. Oh, betapa polos dan ignorannya mereka. Tak teracuni dengan paham revolusioner dan tak malu mengakui diri mereka borjuis.
***

Rimbaud akhirnya raib dari tangsinya suatu hari di bulan Agustus 1876, kurang dari tiga minggu sejak kedatangannya di Salatiga. Empat setengah bulan kemudian, tepat pada tanggal 31 Desember, ia muncul kembali di rumah keluarganya di Charleville. Ia tampaknya memilih desersi daripada melanjutkan kehidupan di tempat yang tak ia sukai. Ia pulang pada kebebasan setelah terjaga dari mimpinya tentang ranah asing tersebut. 

Yakinlah kini, mahasiswa juga tak jauh beda. Saat kita putus asa dengan demonstrasi, lalu tuntutan untuk menamatkan studi kian menyesakkan, kita juga akan kembali bergelut dengan buku dan pena. Seharusnya kita sadar sedari awal, senjata kita hanya dua benda itu. 

Belajar dari Rimbaud, saya tak akan buru-buru menukar pena saya dengan senapan, atau dalam konteks kekinian: keanggotaan organisasi mahasiswa revolusioner agar bisa demonstrasi di jalan. Bagi saya, pulang ke rumah untuk membaca puisi-puisi Laksmi Pamuntjak sambil mengkhayal bisa mengajaknya lunch di salah satu restoran di Orchard Road lalu dilanjutkan dengan bobo siang bareng, jauh lebih menarik. 

Demonstrasi di jalan itu panas, pena saya bisa leleh. 
soedra, Oktober '06

*soedra. Mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, UGM ini adalah seorang penikmat sastra yang murtad ingin jadi ilmuwan sosial. Ia tinggalkan tumpukan novel-novel dan kumpulan puisinya untuk beralih pada jurnal ilmiah dan bundelan monograp. Hal terakhir yang ia lakukan—yang masih berbau sastra—adalah menjadi pemimpin redaksi LPM Dian Budaya, serta menulis sebuah esai berjudul "Jangan Kau Tanya Arti Puisiku Mario" untuk menghindar dari ujian akhir kelas Poetry IV yang memaksanya membaca Rober Frost sampai mabuk. Kadang-kadang jika tak ada aral melintang ia masih sempat berdiskusi dalam 'Kelompok Diskusi Jumat Sore' di Bonbin bersama Anton Septian dan Dwicipta.
ijin dari penulis. tulisannya diculik dari blog carpe diem 
beberapa orang mengimel saya. jadi saya tambahkan info ini.
ingin berdiskusi lebih lanjut? temukan dia di

andai malaikat juga lihat televisi.

ternyata saya punya banyak waktu sampaisampai memilih untuk terlalu banyak menonton televisi dan menuliskan hal ini. 

ada 3 kategori acara yang jadi pilihan ketika lihat televisi. 
pertama adalah acara berita. stasiun apapun boleh. pokoknya yang mengabarkan sesuatu. menyenangkan juga mengetahui sesuatu yang baru, atau yang lama dikasih bumbu baru, atau yang benerbener lama tapi masih saja tak selesaiselesai malah barubaru ini disahkan. kadang juga diselingi debat di TVone yang kadang berbuntut debat kusir yang anehnya malah saya nikmati. eh, tadi saya sebut merek stasiun tivi ya? tak apalah. 

kedua adalah acara musik. biasanya saya denger musik. ya, denger karena sering saya sambi dengan kegiatan lain. dari acara inbox di sctv sampai dahsyat di rcti. lagu indonesia saja juga tak papa, toh saya masih punya youtube untuk mengapdet lagu ’barat’. meskipun saya ternyata tak terlalu suka lagu ’barat’ yang keluar akhirakhir ini. lagian glenn freddly tampak seksi berduet dengan dewi perssik. 

ketiga adalah acara gosip. apa?..gosip?! ya benar sekali. memangnya kenapa kalau saya suka lihat gosip. orang saya suka liat mbakmbak cakep dan masmas ganteng yang berseliweran di acara gosip meskipun kadang kabar yang dihembuskan tak penting sama sekali. kadang tampak dicaricari dan dihubunghubungin biar pas. ditambah si pembawa acara yang berle (berlebihan-red)

selain 3 menu utama, biasanya saya sempatkan juga untuk menonton sinetron. aha, spesies acara tv yang kadang dijauhi karena dianggap nista. biarlah, kata saya. saya ingin menyaksikannya sendiri. menilainya sendiri, dan menyimpulkannya sendiri. dari situ saya bisa tahu apa pendapat saya tentang sinetron. kenapa? soalnya saya pernah bicara sama orang yang katanya anti sinetron tapi belom pernah nonton sama sekali. 
oh ya, mungkin ia berpendapat ’kalau bisa tahu dari orang lain, kenapa harus coba sendiri’. ya, mungkin begitu. saya biarkan saja dirinya. 

mau tahu kesimpulan saya? 
benar sekali adanya sodarasodara. bahwa sinetron indonesia yang saya lihat itu sering mencederai otak dan pikiran saya.
hah, kayak saya punya otak saja. 

saya tak memusuhi televisi. dan menurut saya tak ada yang salah dengan televisi. tak ada untungnya pula saya salahkan televisi. bukankah televisi itu hanyalah alat? masa kita menyalahkan alat? sama halnya kita menyalahkan oven yang dipakai buat bikin roti gosong. lihat siapa yang menggunakannya dong, kelewat dodol apa botol (bodoh dan tolol).

saya masih bersenandung lagu baru mbak dee yang bikin saya jadi sedih.
namun tak kau lihat terkadang malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan.
namun kasih ini silahkan kau adu
malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya


ooh, andai malaikat juga lihat televisi

kalau saja..tapi tidak jadi

kalau saya bisa memilih, saya ingin bisa wisuda sekarang dan semuanya selesai. titik.

malas saya berlamalama mengurus kelulusan ini. orang mau lulus, hengkang dari kampus, say dadagh babay kok dipersulit. ya benar yang anda bilang. saya memang si cerewet yang akhirakhir ini suka mengeluh.

bukannya apa, semuanya berawal dari kejadian minggu kemarin. dari jadwal-aneh-belibet-ngeselin-tentang wisuda yang saya terima. sebagai mahasiswa yang telah menyelesaikan kewajibannya saya merasa tak kunjung bisa bergerak. beralih ke tempat lain. keluar dari kota ini, mungkin. atau tetap di kota ini tapi dengan status yang berbeda sekarang juga.

SKL a.k.a surat keterangan lulus belum juga diterbitkan (revisi: sudah akhirnya! tadi siang!) oleh mereka padahal sudah beberapa hari ini saya memasukkan surat permohonan. dengan bahasa yang mendesak. dengan deadline permohonan yang sengaja saya cetak tebal dan garis bawahi. sampai mampus saya bolakbalik ngecek ke bagian pendidikan.

padahal ada kesempatan bagus bekerja di sebuah tempat. tapi tentu saja jadi terlewati begitu saja (kalau saja saya mau bilang sama tuh ibu pimpinan ”bu, saya aja yang ngisi bagian itu” bisa saja usul saya dipertimbangkan. mengingat saya punya hubungan khusus. bahwa pada suatu saat dimasa lalu saya pernah menjalin kerjasama dengannya. dengan catatan oh-dia-tahu-betapa-saya-dapat-diandalkan)

tapi saya gegayaan mau ikut melamar juga. pakai syarat yang ada di website. sama seperti pelamar yang lainnya. sialnya satu syarat yang dibutuhkan yaitu SKL tadi (revisi: kemarin! karena ini ditulis kemarin) belum bisa diikutkan. ya, betul. yang saya tunggu sampe mampus itu.

terpikir ide lain. tampaknya melecut dirisendiri untuk mencoba menulis sebuah artikel dan memasukkannya (koreksi: berusaha memasukkannya) ke surat kabar menjadi salah satu cara berbobot untuk mengisi harihari kosong (yang benar saja kosong!) saya. sembari menunggu progress dari 2 kerjaan besar dan panjang yang telah saya pegang (dan kacaukan) sejak 2 bulan lalu. satunya tentang buku, satunya tentang foto.

katakata ”berdamai dengan diri sendiri” tampak ajaib. itu sebelumnya. sekarang entah. jadi zombie tampaknya saya.

iseng saya coba tanya sama john lennon, apakah saya sudah terpancing 'mind games' yang dilancarkan birokrat kampus itu. yes is the answer katanya.

saya tambah bingung kan.
oh, ya. anda juga ya.

*ditulis dengan bersungutsungut pada 30oktober2008 

untung selalu didukung pah