sekelebatsenja: December 2008

mari kita sebut: catatan akhir tahun

desember hadir dengan beberapa penyesalan, rasa bersyukur dan sebuah rencana besar. mungkin saya tak lebih baik dari siapapun, tapi saya tahu persis siapa saya. meringkas apa yang telah berjalan selama 366 hari dalam beberapa poin boleh juga, tak begitu salah kan bila saya mencatatnya?

1. mengkritik itu mudah, memperbaiki kesalahan kecil juga tidak lebih sulit
2. kalau bisa menghemat, menyelamatkan beberapa hal.
3. butuh teman yang bisa 24 jam bersamamu? ke laut aja. pada dasarnya kita sendirian kok.
4. musti banyak belajar tentang: moral imperative of being superior. masalah tak penting tak usah diperbesar. setidaknya tahu dimana menempatkan diri.
5. honesty is a universal currency. klise bukan? saya pikir juga begitu.
6. semua orang punya 24 jam tiap harinya. masalahnya mau diapain 24 jam itu.
7. menulis bukan hanya masalah memulai tanpa memikirkan jeda dan akhirnya. 
8. beasiswa itu dimanamana. sebenarnya tinggal dijemput saja. sayang diluar hujan, saya tak punya payung dan tak cukup berani berlari dibawah guyurannya.
9. pada saatsaat tertentu orang butuh waktu untuk sendiri.
10. mencoba membayangkan perasaan yang tak pernah dimiliki itu butuh penghayatan. kadang saya bukan penghayat yang baik.
11. saya tak ingin lagi diributkan dengan masalah percintaan. saya sudah sampai pada apa yang kuinginkan. saatnya bersiap untuk hal yang lain.
12. keinginan untuk didengarkan itu besar, tapi bersabar untuk bisa mendengarkan itu perkara lain. saya tahu saya tidak sabar.
13. kegagalan adalah kegagalan. dan akan tetap jadi sebuah kegagalan kalau terlalu keras kepala. dan tentu saja... penakut.
14. sering saya salah menilai orang. ternyata saya sampai pada kesimpulan sementara: tak cukup percaya pada kesan pertama. 
15. sst, saya sailor mars. sailor mars. bukan sailor moon. 
16. ego saya besar namun ternyata saya tak cukup baik mengelolanya. lain kali tak boleh begitu.
17. skala prioritas tetap penting, meski dalam beberapa hal saya butuh variasi.
18. bukan masalah bagi saya untuk anggap diri saya lebih baik dari orang lain. tapi itu masalah bagi beberapa orang. i don’t give a shit. do i?
19. saatnya menghadapi orangorang berkepala batu, sama seperti saya. tapi setidaknya saya masih mau dengar apa kata orang lain. saya tidak bebal. mau coba?


akan lebih panjang lagi bila saya ingat semuanya 
hmm

poppo, bubbi, monmon


saya punya binatang peliharaan lagi!
sebenarnya agak kaget juga, setelah tragedi tupai tewas dan pus yang melanjutkan pengembaraan ternyata saya tak kapok punya binatang peliharaan.

ada 3 kucing kampung berumur satu minggu yang kini menghuni beranda samping rumah. 2 ekor berwarna hitam putih dan abuabu, sedangkan seekor lagi berwarna putih dengan sedikit totol hitam dan abuabu, ketiganya punya mata biru. saya pikir kedua ekor yang hampir sama warna bulunya itu kembar sedangkan satunya lahir belakangan.

bapak saya yang tibatiba saja menekuni hobi lamanya naik sepeda pagi itu menemukan mereka pertama kali di jalan yang sepi dekat sawah, tampaknya sengaja dibuang oleh si pemilik sebelumnya.

para kucing dibawa pulang, dimasukkan kardus dan diberi selimut. mereka tampak masih lemas. mungkin kaget, mungkin kehausan. pemilih juga rupanya kucingkucing ini, karena susu anlene punya ibuk yang saya taruh di wadah kecil di pojokan tidak disentuh sama sekali. mereka kan haus dan butuh susu. bukankah anlene juga susu? ah, sampai disini tampak bodoh sekali saya.

akhirnya hari itu juga berbelanjalah saya ke department store (karena pet gallery di sagan tutup!) membeli perlengkapan bayi. pikir saya tentulah para kucing itu belum dapat minum sendiri dan perlu campur tangan induknya, dalam kasus ini saya bertindak sebagai induknya. jadilah saya ambil dot kecil, selimut berbahan handuk dan susu bayi usia 0 bulan. langsung saya menuju kasir tak menghiraukan tatapan para SPG yang seolah berkata “wah si mbak ni pasti MBA deh, liat aja masih muda banget udah punya bayi. kasihan ya”.

untuk hal ini, saya setuju mereka di bagian “masih muda banget”.

para kucing sudah menanti dirumah dengan meongan yang paling mellow. benarbenar haus rupanya. saya cukup kasihan dengan mereka, masih kecil sudah harus merasakan derita dunia. ah, mulai ber-drama-queen saya. untung para kucing suka dengan susu bayi dalam dot itu, lalu tidur. saya pun lega.

tapi ada yang tertinggal tampaknya.

ya. sebuah hal penting.
memberi nama! ini bagian yang saya suka. nama apa saja. bayi saudara, pohon, kucing tetangga, bunga, pokoknya saya suka memberi nama. rasanya seperti orang indonesia yang heboh ketika obama terpilih jadi presiden amerika serikat.

berbagai nama melintas dikepala saya. pertama kali para kucing akan saya namai temanteman saya, tapi saya yakin mereka akan bermuka sepet ketika main ke rumah besokbesok. kedua kali, saya pikir nama tokoh pujaan akan tampak oke saya sematkan, tapi ternyata saya tak cukup baik hati untuk membaginya dengan para kucing. akhirnya nama makhluk tak terdefinisikan macam poppo, bubbi dan monmon jadi milik mereka.

poppo untuk si hitam-abu-putih ekor panjang, totol putih di belakang kepala dan paling agresif.
bubbi untuk si putih totol hitam ekor panjang, totol hitam, paling manja dan genit.
monmon untuk si hitam-abu-putih ekor pendek dan paling doyan susu.

humm, puas juga dengan namanama lucu ditelinga itu. tampak baikbaik saja dan tidak terlalu wagu seperti pilihan seorang pemilik anjing semalam ketika saya membeli aksesoris telepon genggam di dekat pasar kranggan. saat itu saya agak terkaget ketika ada seekor anjing golden retriever amat besar, tampak kuat (ukurannya macam kambing gigantis) diberi nama “nadia”. niat mau tertawa kuatkuat tapi untung tak bisa. ya sudah, dalam hati saja saya membatin “anjing segede itu kok dikasih nama nadia. wagu tenan. gak cucok bener sih bo’ ”

saya bersyukur. untung para kucing yang tampak jantan itu tidak jadi saya kasih nama: dina, dewi dan candra.

balada jeruk anget

minuman yang paling sering saya pesan kalau sedang jajan adalah air jeruk yang dikasih sedikit gula dan air hangat, alias jeruk anget. 

kenapa jeruk dan kenapa anget?
saya pikir, ini pilihan standar. bisa dipastikan hampir semua warung makan yang saya singgahi punya menu minuman ini. 

jeruk karena daripada nanti saya jadi manyun setelah bilang “mbak, pesan blueberry milkshake creamy satu” yang disusul serupa wajah nyengir campur bingung bilang
”apaan tuh mbak”. 
anget karena saya tak terlalu percaya dengan kualitas es balok selain bikinan rumah sendiri. apalagi saya punya masalah dengan perut yang melempem saat diguyur air dingin.

alasan lain: demi amannya saja. 
maksudnya, agar terhindar dari perasaan aneh seperti ketika saya menenggak campuran minuman ajaib macam es bumi hangus setelah makan soto pecel banyuwangi.

saya bersyukur, sampai saat ini jeruk anget cocok dengan makanan apa saja.

saking seringnya, saya jadi cukup pede untuk berpendapat bahwa si mbak warung srikandhi di sagan sana lebih punya taste yang baik serta ingatan oke akan jaminan mutu dan kepuasan pelanggan daripada si mas warung nasi talempong depan kedokteran hewan meski samasama memberi bandrol 1500 per gelas. 

perlu dicatat, walaupun resep jeruk anget sebenarnya sederhana: terdiri dari air jeruk, gula dan air anget, ternyata belakangan saya sadar bahwa untuk meraciknya memang perlu sedikit otak dan perasaan.

bagaimana tidak???
 
*ndangndut sekali ya judul saya diatas.
ah tak papa. barangkali saya hanya ingin curhat