sekelebatsenja: 2009

the shadow of the city

ada yang menarik ketika saya melewati sepenggal jalan di dekat stasiun kereta lingampally. saya melihat deretan kemah yang berjajar tak begitu rapi. bahkan terkesan asal dibangun. tapi sesungguhnya itu seperti kampung kecil. disitulah sekitar tiga puluh orang tinggal. saya rasa.

ya, saya memang tak menghitung seperti orang melakukan sensus itu. saya ambil satu sampel saja. kebetulan ada sekumpulan orang, mungkin sebuah keluarga, yang duduk di muka sebuah kemah. seorang lelaki tua memakai kain sarung yang sangat lusuh, tanpa alas kaki, memakai tutup kepala mirip handuk yang penuh dengan keringat; seorang nenek tua dengan tindik di hidung dan cincin di kaki, entah kenapa saya lebih tertarik dengan perhiasannya daripada mukanya; seorang perempuan muda yang membawa kardus yang entah isinya apa; dan dua orang anakanak, semuanya perempuan. kalau semua tenda terdiri dari komposisi yang sama, maka akan ada 30 orang. ya, kurang lebih begitu.

seketika hati saya trenyuh. mungkin karena saat itu saya punya kesempatan mengintip apa yang mereka pandangi. mereka sedang duduk agak melingkar dan agak rapat. apakah itu? ternyata ditengah mereka hadir sepotong roti yang sudah tak utuh. mungkin bekas gigitan seorang dari mereka, mungkin juga gigitan entah siapa itu. saya tak bisa pastikan dengan bertanya pada mereka.

saya tak tahu bahasa telugu, mereka tak tahu bahasa inggris.
yang jelas, sungguh, muka mereka amat senang.

potongan roti itu lalu menjadi 4 bagian. satu bagian yang agak besar untuk si lelaki tua. bagian yang dimakan si nenek dan perempuan besarnya sama sedangkan masingmasing bagian untuk kedua anak kecil itu separuh lebih kecil. tapi yang jelas, senyum mereka samasama lebar.

saya seketika ingin meledak karena tangis. lebih karena terharu daripada kasihan.
betapa tulusnya kebahagiaan yang mereka tampakkan. sepotong roti di hadapan mereka mampu membuat senyum tulus mengembang. tangan saya beku, tak mampu mengabadikan momen yang sungguh ajaib itu. entah, mungkin saya tersihir.

saya salah tingkah, tak tahu harus bagaimana.
saya terus berjalan saja.

kemudian bertemu dengan seorang lelaki tua lain, tapi tak setua si kakek tadi. kali ini saya merasa seperti tersihir lagi. tepat ketika langkah saya berhenti, di situlah saya lihat betapa nyata bahwa mereka ini ada. dengan tutup kepala serupa ia tampak mirip, namun lelaki tua ini memakai setelan lusuh berwarna cokelat dan memakai sandal. saya seperti sedang memandang sebuah gambar raksasa. potret sebuah kota.

saya tak berlebihan. mendapatinya duduk di depan kemah yang berlatar belakang apartemen mewah membuat saya miris. benarkah ini yang terjadi. sebegitu miskinkahnya mereka sehingga harus tinggal di kemah yang sungguh jauh dari kata layak? terlebih ketika dikontraskan dengan pemandangan di kejauhan.

ya, lingampally memang sebuah kota. seperti kota lainnya, ia punya sisi kejam. cantik tapi juga kejam. sebelumnya ia adalah sebuah wilayah desa yang tenang sebelum ratusan perusahaan teknologi informasi menggagahinya, merenggut kesunyiannya dan mendandaninya dengan gedung dan simbol peradaban. akhirnya merayu orangorang untuk bermukim. dan buum, jadilah deretan pemukiman padat itu. dengan orang yang mesti bersenggolan ketika berjalan dan mengumpat ketika bertabrakan.

seperti kota yang lain juga, ia tegak beserta bayangbayangnya. tapi bayangan itu tak ingin berbicara, sungguh. mungkin saja ia memang tak mampu berbicara. tetapi sesungguhnya bayangan itu adalah hal yang nyata. dia hadir dalam kemahkemah biru dan lusuh, menyembunyikan mereka yang masih lapar meski telah sempat menikmati sepotong kecil roti. dia hadir di muka sebuah kemah, dibawah terik matahari sabtu siang. entah melamun entah menahan lapar. tak acuh dengan orang lewat.

tangan ini memencet tombol jepret:
abrakadabra! dia telah abadi dalam selembar gambar

mingguminggu yang sibuk

ada kebiasaan yang seragam diantara temanteman dan saya beberapa minggu terakhir. tak tidur sampai pagi. jatah tidur yang seharusnya 8 jam, berkurang drastis jadi hanya sekitar 4 jam. itu pun kalau beruntung, kadang bisa cuma 2 jam. maklum, musim ujian dan paper; benarbenar berat dan memaksa saya jadi zombie pemarah. kalau diajak ngomong loadingnya lama, kalo disenggol dikit maunya langsung bacok.

well, ratarata kami mengambil 4 mata kuliah yang masingmasing jumlahnya 5 credit. dan 4 mata kuliah itu dalam dua bulan ini artinya adalah: malammalam horor mempersiapkan 4 presentasi+makalah, 6 complete paper, beberapa critical analysis pendek, dan kepala yang dingin serta mata yang lebar untuk mengikuti diskusi di kelas.

malam dengan pekatnya jadi kawan kental buat saya. eh boong ding, orang saya lebih sering kencan sama netbook tercinta, tik tok tik tok di word dan sesekali menengok keriuhan dunia maya.

ketika kemarin merampungkan sebuah paper panjang semalaman, tibatiba saya merasa jetlag. bener. jetlag seperti waktu naik pesawat itu lho. jadi ceritanya, terakhir kali saya keluar kamar jam 7.40 an malam, belum gelap benar tapi yang jelas sudah malam, netbook sudah nyala, air mineral sudah terisi penuh, mood sudah di sms. waktunya bekerja! asyik benar saya berceloteh di paper itu sampai tak sempat menengok jam dan halaman yang saya tulis. rasanya menyenangkan menulis topik yang disuka. selesai sudah satu paper sampai akhirnya saya merasa kehausan. saya lihat tak ada air tersisa di botol air mineral.

waktunya mengambil air!

keran air minum ada di ruangan depan yang dipisahkan oleh taman dan jalan kecil. saya agak seram juga kalau harus mengambil air sendirian di pagi buta begini. pasti sepi dan dingin sekali dong. saya ambil jaket dan botol yang kosong. bersiap buka pintu. kunci pun saya buka.

tau apa yang terjadi?

ternyata di luar sudah terang benderang! saya tengok kiri kanan. mencoba memahami keadaan. 'lho kok terang sih? saya gak mimpi kan? kok bisa?' begitu batin saya.
belum hilang rasa penasaran. berlarilah saya ke meja belajar. caricari jam tangan yang ada di dalam gelas. maklum, penunjuk waktu satusatunya cuman itu. eh gak juga dink. ada jam di pojok kanan bawah layar. tapi saya gak begitu peduli sama keberadaannya.

ternyata waktu menunjukkan pukul 9 pagi. buset. gilingan loch. pantas saja sudah terang benderang! oon deh saya.

akhirnya saya paham kalo hari memang sudah siang. ini artinya saya tak perlu ngeri ambil air minum, waktunya mengirim paper dan membayar hutang tidur yang semalam saya pinjam. sambil harus mengingat kudu bangun pada tengah hari untuk kuliah siang.

benarbenar minggu yang sibuk.
benarbenar tak sempat untuk yang namanya senangsenang. kalau duduk di kafetaria sebentar rasanya menyenangkan, tapi begitu ingat pekerjaan yang harus diselesaikan tibatiba perut jadi mual dan kepala langsung pusing.

masih ada sebulan lagi nak, sebelum liburan tiba dan rencana backpacking ke utara.
selalu begitu hibur saya.

si muka telur dan gigi kelinci

aku ingat,

tentang mukamu yang seperti telur.
aku ingat entah kemarin entah kapan, aku pernah bilang mukamu seperti telur.
kamu tertawa dan menjawab 'kok bisa?'
lalu aku jawab
'iya, bisa. memang bentuknya seperti telur kok'
kamu tertawa lagi dan berkata
'ya udah, kalo gitu gigimu kayak kelinci'.

aku tertawa.
ya. kami adalah si muka telur dan si gigi kelinci yang sedang duduk di depan kamar berbagi keringat saat matahari ada di atas pohon mangga.

si muka telur keringatnya bau, si gigi kelinci juga. duduk berdekatan. karena keduanya bau jadi sulit dibedakan mana bau keringat masingmasing. sampai ketika si muka telur sudah habis keringatnya dan bergegas mandi, si gigi kelinci merasa ia sendiri yang bau. lalu protes
'lho kok mandi sih? nanti kamu wangi aku bau dong.'
si muka telur tetap saja melenggang.

si gigi kelinci berusaha menghilangkan keringat yang dipanen dari bergoyangbadan. masuk ke kamar, membuka kaosnya yang sudah basah karena keringat, melipat jarit yang tadi dipakainya menari, mencari handuk yang selalu dibawanya. menyeka keringat. memastikan badannya kembali kering. mencari bedak tabur di selasela tas jinjing. memuntahkan sebagian isinya diatas kulit.

si gigi kelinci merasa sudah wangi
si muka telur keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang.

si muka telur tetap saja tampak seperti telur, meski dengan handuk dan minus keringat.
'uh, bau' katanya
'siapa yang bau?' kata si gigi kelinci
'kamu'
'masa? kamu ngawur. aku sudah pakai bedak' kata si gigi kelinci

jeda sebentar

'melihat mukamu aku ingin makan telur'
'siapa?'
'kamu. mukamu'
'aku sudah mandi lho'
'aku belum mandi gak papa?'
'gak papa gak masalah'


kami merebus telur. dua saja.

tanah air dan mbrebes mili

bilang saya cemen, bilang saya cengeng. bolehboleh saja.
yang jelas saya mbrebes mili, untuk tidak bilang saya menangis.

pagi buta ini saya masih disibukkan dengan acara mengetik paper yang deadline-nya [juga] hari ini. namanya juga saya, apa sih kalo bukan last minutes panic. tentu saja saya baru mengerjakan di detikdetik terakhir. jadi mau tak mau pasti begadangan. untunglah tadi sore saya sudah nyicil tidur 4 jam. wayangan jadi tak begitu terasa berat, sempat berhenti sebentar karena kepentok ide, tapi akhirnya setelah dimulai, bisa selesai juga.

ah, kok saya jadi melenceng kesini?

sebenarnya ingin bilang: saya merasa relung hati yang terdalam ini sedang disentuh. percaya atau tidak, oleh sebuah lagu. lagu yang tidak bisa dibilang favorit saya. yang jelas lagu ini hanya saya dengar ketika upacara bendera, kegiatan pemuda, paduan suara dan acara seremonial sebangsa itu. ya, tanah airku dari ibu sud. benarbenar lagu ini yang telah mampu membuat saya mangap, dan tak dapat melanjutkan acara mengetik. sejenak saya merasa beku, dan degdegan. benarbenar lagu yang mengalun dari setriming radio PPI Dunia pagibuta ini bikin saya terhenyak. dan tak sadar...[ya itu tadi] mbrebes mili. mungkin karena sekeliling saya sedang terlelap, dan suasana sepi. mungkin juga karena saya ada di tempat yang jauhnya ribuan kilometer dari tanah air. mungkin juga karena saya sedang sentimentil dan melankolis. mungkin juga karena lagu ini memang punya kekuatan dahsyat, ditulis berdasarkan pengalaman yang otentik dan jernih.

saya tak bisa mendefinisikan secara rinci apa yang saya rasakan. gabungan antara rasa rindu yang sangat, terharu, dan semacam itu. mungkin juga rasa cinta pada negeri, yang bangkit karena sebuah lagu! [tuh kan saya curhat]

...biarpun saya pergi jauh... tidak kan hilang dari kalbu.
tanah ku yang kucintai...engkau ku hargai...

ah, pagi buta yang begitu ajaib!

tentang bapak

bapak saya itu orang yang unik. pokoknya unik.

saya tahu itu.

bapak tak pernah sekalipun mengijinkan saya pulang larut apalagi menginap di rumah kawan, bahkan kawan yang sangat dekat dengan saya, sudah kenal dengan keluarga saya, dan perempuan pula. waktu saya tanya kenapa seperti itu? dia menjawab:
kamu punya kamar, kamu punya rumah. kamu tidur di kamarmu di rumah ini. kenapa kamu pengin tidur di rumah orang lain?saya jawab: kenapa saya tak boleh tidur menginap di rumah teman?setiap hari saya tidur di rumah?sekali ini saja.dia bilang: ya sudah, sekalian saja tak usah pulang.

saya masih ingat persis. hari itu saya masih pakai baju putih biru, suka dikepang dua, dan gendut sekali. temanteman saya berkumpul di rumah salah seorang teman untuk menginap. tinggal saya seorang yang belum minta ijin. dan siapa lagi kalo bukan saya, minta ijin di detikdetik terakhir.

sampai saya lulus kuliah, tak pernah sekalipun saya menginap di rumah teman.

di lain hal, bapak membebaskan saya pilih sekolah, pilih cat kamar tidur, pilih barangbarang yang saya suka, melakukan hal yang saya inginkan. kami berdiskusi tentang agama, tentang fashion, tentang politik dan orangorang bodoh yang bertebaran.

jurusan yang saya pilih, apa yang ingin saya pelajari, bapak tak turut campur. pokoknya satu. menurutnya, anaknya ini tetap harus sekolah. mengenyam pendidikan. meski saya tahu, kadang dia tak setuju dengan caracara sekolah 'memperlakukan' murid. mungkin dia akan lebih puas mengajar anaknya dengan cara sendiri, tentu saja tak mungkin. bapak tak punya cukup waktu.

sepanjang yang saya ingat: cetak tebal dan garis bawah, saya sering sekali punya pendapat yang berbeda dengan bapak. itu buat kami sering bertengkar. tapi saya tahu, itu karena saya memang tukang ngotot, dan kebetulan bapak saya tak suka dibantah.

pernah saat itu saya sengaja pulang jam 2 dinihari. itu cara saya memprotes larangan bapak. saya pulang naik motor yang biasa saya naiki, tapi kali ini saya diantar pulang sekompi temanteman pria. mereka khawatir saya kenapanapa di jalan. jadi pikir mereka, lebih baik ditemani. kalau yang menemani seorang, kelihatan aneh. makanya banyak orang.

saya mencoba membuka pintu, ternyata terkunci. saya coba memencet bel rumah. agak lama. tapi kemudian pintu terbuka. bapak saya berdiri membelakangi lampu ruang tengah, satusatunya yang dinyalakan. saya bilang "aku pulang kemaleman". bapak saya tak menjawab. saya masuk kamar, menaruh tas. bapak masih tak berkatakata. saya keluar kamar, menuju dapur ingin minum. seteguk dua teguk. cuci muka dan bersiap tidur. saat melewati ruang tengah menuju kamar saya lirik bapak saya masih diam saja. berdiri di ruang tengah yang menyala. saya sengaja tak sapa. lalu dia menampar saya. saya diam saja. masuk kamar.

kami tak berbicara selama dua minggu. tak ada uang saku. fasilitas dicabut. saya marah sekali. bahkan saat itu saya berjanji, kelak ketika saya ingin menikah, tak ingin cari suami [akan jadi ayah dari anakanak kami] yang seperti bapak.

larangan bapak saya untuk pulang larut dan menginap di rumah orang lain memang terasa aneh untuk saya, remaja usia belasan tahun yang beranjak 20. saya pikir bapak seorang yang kolot, tak mengerti anaknya, otoriter, tak mau tahu. tapi setelah dipikirpikir, seingat saya itulah satusatunya larangan bapak untuk saya. dan saya pikir, mungkin itu cara dia satusatunya untuk melindungi saya; karena saya kadang tak mempan kalau hanya diberi tahu.

ah, bapak saya. ternyata sudah 3 bulan tak bertemu. seingat saya bapak tampak menua, badannya tambah gendut, dan kepalanya mulai beruban juga botak. saya yakin itu ada hubungannya dengan hobi mencabuti rambut uban. biasanya kalo saya pulang, di bawah jendela kamar tamu ibu mencabuti rambut uban bapak. kalau ibu bilang sudah, biasanya bapak tak percaya "coba sekali lagi, dicari. di sebelah sini pasti masih banyak, soalnya bisa tak rasain, di sini pasti masih banyak". ah bapak, saya jadi tahu kalo sebenarnya saya sayang bapak. sekarang saya jauh sekali dari rumah. saya kangen.

benar juga kata orang: kadang jarak membuat pikiran lebih jernih, kadang bikin benak jadi lebih bijak.

selamat ulang tahun bapak, maaf aku tak bisa kasih kado [anyway, aku tahu bapak gak inginkan kado.] aku tahu bapak cuman ingin anaknya yang paling besar ini baikbaik di negeri orang. tak bertindak anehaneh. belajar bertanggung jawab. i hope, we hope.

hyd, 5.10.2009

secunderabad: ketika hujan

ada yang menarik saat saya melewati secunderabad, kota industri dan perdagangan supersibuk di utara hyderabad. teringat tulisan suketu mehta (kalau tidak salah) dalam maximum city, tentang mumbay tempat campur aduknya beraneka ragam manusia. ya, saya merasa jadi saksi mata di buku itu, cuman kali ini settingnya dipindah ke timur mumbay. saya berdua saja dengan kawan, menjelajah sepenggal kecil jalanan india.


saat itu pukul setengah tujuh malam. hujan turun deras. saya dan seorang kawan perempuan berdiri di bawah payung hitam di pinggir jalan. kami berdua menunggu auto lewat. sudah beberapa yang berlalu begitu saja, beberapa berhenti. saya bertanya "kitna paisa, baya? to seethaphal mandi over the bridge? maklum ne?" (berapa duit, bang? ke seethaphal mandi setelah jembatan? tahu gak?") dia kemudian menjawab "150 rupees".

ah, apa apaan nih, harusnya berdua cuma sekitar 40 rupees ya, 50 lah kalau hujan. saya pun menggeleng "hare baya. nehi, baya. 50 rupees? tike?"(weleh, bang. nggak dong. 50 rupees. oke?). dia tak mau. begitu juga beberapa auto setelahnya. "jaldi jaldi" kata saya sambil membuat gerakan tangan menyuruhnya pergi.
fyuh..

akhirnya kami menemukan seorang tukang auto yang bisa dirayu. meski sampai di atas auto masih eyel-eyelan dengan bahasa hindi saya yang sangat minimal. dia minta 60, saya ngotot 50. jadilah dia menggerundel tak jelas sambil menyetir auto di bawah guyuran hujan yang lebat.

hujan membuat secunderabad terasa sangat jorok. air menggenang di manamana. sampah berserakan. ribuan orang dengan berbagai rupa berjalan tergesa, mengejar bis yang tak berhenti dengan sempurna. macet di perempatan karena bis besar menghalangi mobilmobil baru-tapi-tak-mulus yang ingin melintas. saat seperti ini rasanya saya ingin ber-apparate dan muncul di jalanan jogja, yang meski tak bisa dibilang tertib, tapi paling tidak lebih teratur.


saat hujan dan kacau seperti ini, saya jadi teringat jakarta!


seorang pejalan kaki berkulit gelap dan tinggi tegap yang dari pakaiannya saya duga baru pulang dari kerja menenteng sebuah tas hitam yang dibungkus plastik putih, tak ketinggalan kepalanya pun ikut dibungkus plastik. dia tak membawa payung atau jas hujan. mungkin saja dia tak punya. mungkin juga lupa membawa. yang jelas badannya basah. di depan dia saya melihat 3 orang perempuan mengenakan saree warna ungu, hijau dan merah muda. masingmasing membawa tas tangan yang tak dibungkus plastik. yang mencuri perhatian saya adalah roncean melati yang ada di rambut mereka bergelayut basah. jadi agak layu. saya duga mereka adalah pegawai juga.


auto berjalan tertahan, menyusuri tirai manusiamanusia yang jumlahnya bikin pusing. blooming of people! ingin saya teriakkan katakata itu. lumayan pusing kepala ini menyadari bahwa saat ini mata saya seperti dijejali gambargambar kabur yang bertumpukan.manusiamanusia dengan wajah beraneka dengan pakaian warnawarni, basah karena hujan. air berwarna cokelat, tempat sampah yang kepenuhan dan sekarang isinya kemanamana karena ditarik oleh sapisapi yang sedang mengais makanan. "arrrrrrrgh!"

ya, saya sedang di secunderabad. tempat orangorang bekerja di dalam gedunggedung tua peninggalan inggris yang bagian depannya telah disulap sangat modern. dan saya sedang di secunderabad ketika gedunggedung tua itu memuntahkan semua muatan tubuhnya, dan mencecerkannya di jalanan, di haltehalte, di persimpangan, di tempattempat pemujaan yang ada di semua ruas jalan.

masih tempat yang sama di mana orang bermobil keluaran terbaru jumlahnya hampir sebanding dengan yang mengejar (dan kadang, ketika sedang tak beruntung: terseret) bis. tempat yang sama dimana para pemuda tanggung mendengar dil le ke dari Ipod dan seorang nenek tua berjalan tergopoh, meminta uang dan belas kasihan pada setiap orang yang lewat . tempat yang sama dimana preman berbadan kekar sedang mengencingi pagar yang ditulisi “do not pass urine, penalty 200 rupees” sementara melintas di sebelahnya (mungkin) segerombolan programmer sedang berdiskusi sengit dalam bahasa inggris tentang coding dan rencana menghadapi perusahaan saingan. Tempat yang sama dimana seorang perempuan bisa saja tampil dalam pakaian gemerlapan macam penari ular atau anggun dengan saree hitam yang menampakkan sebagian perut. semuanya tampak kontras dan ganjil di mata saya, seorang penumpang auto kuning yang kebetulan tak begitu punya banyak hal yang dipikirkan.


tampak kontras dan ganjil. seperti gedung tua dan jalanan becek dengan lampu terang benderang dan display mewah. hanya saja semua gambar itu tampak basah. hujan tengah membalut mereka semua dalam kebasahan total. dingin dan lengket.


auto terus saja merambati jalanjalan yang telah saya kenal. beberapa kali sempat melewati jalan yang pertama kali saya lewati, menghindari kemacetan rupanya. namun sepertinya sama saja. perjalanan jadi lebih lama karena jalanjalan kecil lagilagi dipadati manusia. tapi saya yakin, auto berjalan di jalur yang benar. kompas alami saya mengatakan arah timur. sebentar lagi saya sampai dekat jembatan layang. kawan saya memberitahu toko tempat dia membeli aneka rasa kue dan pastry beberapa hari yang lalu. ternyata tempatnya bagus dan bersih. saya rasa saya akan ke sana besokbesok.


rombongan kecil dalam auto telah sampai hyderabad. tepatnya seethaphal mandi, lingkar luar kota yang lebih sunyi dan tampak lebih religius. jauh dari pusat kota dimana ritual keagamaan berjalan pada saat yang sama dimana beberapa bar memasang pengumuman “ladies night: free welcome drink”. tak lupa di seperempat akhir ruas jembatan layang saya menengok sebelah kiri, mencoba mencari dan mengingat di mana letak toko tawakal, yang seorang penjaga tokonya adalah seorang anak lugu, mempunyai mata mirip salman khan, kebetulan bernama salman khan, berusia 12 tahun, tak bersekolah, dan hanya bisa berbahasa telugu, bahasa ibunya. tentu saja, saya tak tahu apakah anak kecil itu ada di sana, bahkan atap toko itu pun tak bisa saya lihat. semuanya dikaburkan hujan yang masih saja deras.


cringcring, 2 buah logam 2 rupees dan sebuah logam1 rupees beradu. mereka saya jatuhkan di telapak tangan tukang auto, menyertai uang kertas 50 rupees, bergambar mbah gandhi berwarna ungu.


hari ini berdua, besok harus berani sendiri.



catatan: hyderabad-secunderabad: kota kembar. secunderabad di utara, hyderabad di selatan

ketika sampai pada titik jenuh

kalau saya sedang bosan biasanya saya diam, atau berteriak sekalian. kalau ada acara menangis tentulah penyebabnya sungguh luar biasa. kali ini saya hanya diam dan bengong. itu artinya tak begitu parah, hanya kebosanan biasa yang datang pada saat tak tepat.

ya, saya tertarik untuk tahu halhal baru. ya, saya senang bertemu orang baru, mendiskusikan sesuatu, belajar dari sudut pandang lain. melatih otak dan hati, begitu kirakira.

tapi kadangkadang saya ingin mengunci pintu di kamar, tak menjalin pembicaraan tentang apapun dengan siapapun, melempar jauhjauh buku bacaan dan setumpuk tugas yang menunggu dieksekusi, memakai baju yang sama dengan kemarinnya kemarin, tak mandi, tak makan, telentang di atas kasur. memandang langitlangit beton yang semburat oranye karena lampu tidur. dan perlahan badan terasa menggigil karena udara yang dihantar pendingin ruangan.

saya percaya, semua orang pernah mengalami titik jenuh. bosan akan segala kegiatan yang teratur dan berulang; seakan badan ini mesin yang dimatinyalakan. ON/OFF/ON/OFF. hari senin akan dimulai dengan culture studies, selasa dengan contemporary prose; religion secularism & modernism;text & pretext, rabu dengan culture studies lagi, kamis dengan religion secularism & modernism, jumat dengan prose dan text&pretext lagi. sabtu dan minggu libur dan diisi dengan acara tidur sampai siang.

"bosan itu biasa, justru merasa beruntung kalau pernah bosan, itu artinya masih punya hati", kata kawan saya.

lalu?

chicken dressed


dress itu kalo tidak salah kan artinya pakaian ya
?

nah, kalau kebetulan saya melewati sebuah jalan kecil di bawah jembatan seethaphalmandi dan tak sengaja mata tertambat ke sebuah papan iklan di balik jendela kaca: chicken dressed, boleh dong kalau saya bingung? sebenarnya saya sudah ingin tertawa waktu itu. tapi ternyata rasa penasaran saya lebih besar daripada keinginan untuk tertawa. atau janganjangan sama, karena saya akhirnya ketawa juga.

saya terka itu bukan toko yang menjual ayam pakai baju, juga bukan toko tukang sulap atau tukang lawak. jelas terlihat dari papan namanya. jual chicken, begitu kok. jadi saya asumsikan bahwa itu adalah toko yang menjual daging ayam. lumayan, kebetulan saya sedang kurang gizi dan butuh asupan energi dari makhluk hidup lain. tapi kenapa dressed sih?

ya. di india daging ayam dijual dalam beberapa variasi: daging ayam pakai kulit, tanpa kulit, dan tanpa tulang. kalau memakai istilah di sini: chicken dressed; skinless, dan boneless. tentu saja harganya berbeda. yang memakai kulit itu jelas saja paling murah per kilonya daripada 2 jenis yang lain.

saya beli yang mana? sudah tentu jawabannya. jelas yang paling murah. maklum, cuma mahasiswa. nah, berhubung saya mahasiswa indonesia [baca: yang bisa makan hampir seluruh bagian ayam], saya juga beranikan diri menanyai si penjual: “do you sell any liver here?”

saya beruntung. ternyata di india, sama seperti di indonesia, hati ayam dimakan manusia! [tak seperti di australia, us dan inggris yang tak menjual hati dan jeroan untuk manusia.] wah, senang sekali saya, kebetulan salah satu makanan favorit kan hati ayam. tak jadi puasa makan hati selama 2 tahun.

kembali lagi ke dressed tadi, saya masih tak mengerti kenapa dinamai begitu, si bapak penjual serta anaknya yang masih kelas 8 juga tak tahu. iseng saya bilang: kenapa tak dinamai chicken skinfull [karena yang tak pakai kulit dinamai skinless] saja?

sukriya, dan saya berlalu

rindukah saya?

saya sedang rindu. tak tahu seperti apa bentuk rindu saya sekarang. jangankan disuruh mendefinisikan dengan rinci, saya saja bahkan tak mengerti apakah ini benarbenar rindu. yang jelas saya sedang ingin kembali ke kamar. berkutat dengan laptop. menata ulang susunan bukubuku dalam rak. tidur hampir pagi hari dan bangun pagipagi. menyapu lantai dan menyembunyikan kotorannya di balik pintu.

mungkin saya sedang rindu?

ibuk saya sedang ngapain ya hampir tengah malam begini? tayangan tv favoritnya kan bukan hari ini. bapak saya pasti tidak sedang dapat giliran ronda kampung. ah, adik saya pasti sedang mumet bikin essay buat beasiswa. poppo dan bubbi sedang bermalasmalasan karena kekenyangan. monmon dan zombie semoga baikbaik saja [amin].

oh, rasanya ingin berdua dengan [lebih dari] pacar gendut tercinta. bukan. maksud saya bukan yang begitubegitu. maksud saya bukan melulu adegan romantis yang ada di kepala. bukan rindu berciuman dan bersentuhan [jelas, itu saya selalu rindu!]. saya rindu ketika dia marahmarah karena saya datang terlambat. saya rindu sama bau tubuhnya sehabis futsal. saya rindu makan soto dengannya pagipagi. saya rindu berkunjung ke kampus dengannya ketika puasaan. saya rindu makan ayam bakar di depan fitness center UGM. saya rindu bersenandung di dekatnya. saya rindu ketika dia bilang saya sok tahu. saya rindu ketika matanya itu pengin bilang "sayang, mbok bukunya dibaca. jangan cuman dipajang."

rindukah saya?
masak sih?

saya bukan orang yang suka berkeluhkesah sepanjang hari.
tapi saya kan sedang rindu?

balada mahasiswa yang makan gaji buta

sudah sebulan saya ada di sini. doing nothing. useless. bermalasmalasan dan tak produktif. penyakit lama seperti membeli berbagai macam buku lalu menumpuknya dengan rapi di lemari mulai kambuh. blas. beberapa buku yang tampak menarik ketika dibeli [waktu sempat menyusuri toko buku besar di sini] benarbenar mulai tak disentuh. malas. doh.

jadi begini sodarasodara, kerjaan saya seharihari adalah makan-tidur-online-jalanjalan-fotofoto-menengok jadwal-bergembiraria. intinya, hanya segala macam aktivitas keduniawian *halah*, jauh dari AKTIVITAS INTELEKTUAL yang SEHARUSNYA dilakukan mahasiswa. apalagi mahasiswa s2.

dalam benak saya, seorang mahasiswa s2 itu punya beban yang lebih berat. master gitu loch *halah lagi* lha kok saya ini malah ndak sadarsadar. belajar gitu kek. baca buku gitu. ato apalah, seperti ikutan forum diskusi mingguan, film criticism club gitu. udah sekolahnya gratisan, masih diberi gaji buat hidup, diberi lagi duit buat beli buku, dikasih pula duit buat berhaha hihi di tempat wisata, eh kok malah bermalasmalasan. gawat. makan gaji buta, bu? betul!

dua minggu pertama jelas saya menikmati acara bangun siang sekali dan tidur larut malam. minggu ketiga saya juga masih menikmati acara bangun siang dan tidur larut malam. minggu ke empat? bosan tauk. rasanya ingin segera memulai segala aktivitas yang biasanya saya lakukan *jiahh, gaya! emang pernah belajar po saya?*

tapi kemalasan saya rupanya diamini pihak kampus. hostel belum jadi, ruangan belajar belum selesai direnovasi, kartu mahasiswa belum jadi, gak boleh masuk perpustakaan pinjam buku, jadwal sudah ada tapi terus saja diundur.
wow, bosan.
ah, tapi ada sisi baiknya kok. paling tidak saya sadar kalo bermalasmalasan itu gak baik. apalagi sampai makan gaji buta.



*ditulis di dalam kamar, masih malasmalasan. ditambah, sekarang saya mulai ditinggal sama kawankawan. kawan lawas saya, si bapak benjamin franklin sudah tak setia. mbah gandhi juga mulai suka dolan kesana kemari sementara saya masih ingin belanja ini itu. fyuh. walhasil harus ambil jatah buat bulan depan nih untuk mencukupi kebutuhan bermalasmalasan saya.

black out

black out alias listrik padam adalah masalah terbesar selama sebulan saya tinggal di sini. kalau ingin dihitung dengan jari, sepertinya saya perlu kulonuwun sama beberapa orang untuk pinjam jarinya buat mengenapi hitungan saya. bottom-line in bold: terlalu sering!

tentu saja penyakit model begini tak kenal waktu. di saat saya sedang khusyuk memasak di dapur [tentu saja pakai kompor listrik dan panci ajaib itu], sedang menjahit celana yang sobek, atau sedang ciumciuman sama layar desktop di lab kampus. tak terkecuali ketika saya sedang menancapkan charger buat piranti komunikasi tercinta. sebel deh pokoknya saya sama listrik padam. sudah begitu, periode padamnya juga bervariasi. dari cuman 2 detik sampai 6 jam. sukasuka si listrik deh pokoknya. karena penyakit laknat india ini, sebuah charger ponsel saya yang ada cap original nokia, yang dibeli dengan tangis dan darah [ah lebay!] tibatiba mak pettt ambyar ngambeg gak mau bekerja. bikin saya kudu merogoh kocek dalamdalam dan menghitung ulang konfigurasi pengeluaran. oh teganya.

jadi kawankawan yang mau mampir ke india buat jalanjalan atau ingin sekedar ketemu saya [halah pede!] monggo disiapkan alat tempur yang kuat dan tahan banting dikala bergulat dengan listrik yang naik turun.

sudah ah, segitu saja. curhat kok panjangpanjang. bikin capek yang baca.

supir auto metal hyderabad


kalau anda pergi ke hyderabad pasti akan sering menjumpai kendaraan umum beroda tiga berwarna kuning [yang di jakarta biasa disebut bajaj], nah itulah auto. ya, inilah angkutan paling populer di kalangan mahasiswa kere asal indonesia [penulis termasuk]. untuk mencapai tempat yang agak jauh kami biasanya naik auto, tentu setelah didahului dengan tawar menawar pakai bahasa hindi seadanya [yang sering dijawab dengan anggukan atau gelengan doang, mungkin mereka sama gak mudengnya sama kami. maklum cuman bisa beberapa kata saja]. tapi sebenarnya bukan itu yang menarik, yang menarik adalah bagaimana cara supir itu mengendalikan autonya. uedan tenan. metal rek! meliukliuk gak karuan deh pokoknya. dalam hati cuman bisa membatin dan mengumpat: asemiik!

jadi begini ceritanya, saya baru tahu si mobil kuning kecil ini ternyata adalah penguasa jalanan. semua kendaraan takut padanya deh. dengan berbekal klakson yang mirip milik penjual roti jaman saya masih kuncung dulu dia sudah bisa nggasak mobilmobil mewah. maksud saya, melewati deretan mobil milik 'the have' [ya, sesekali juga nyerempet body mulusnya dikit lah]. mungkin dia berasa naik motor gitu ya. dan agak sedikit lupa kalau dia bawa 3 penumpang di belakangnya. saran saya, kalau anda kebetulan main ke india dan bermaksud mencoba auto, siapkan perut yang kosong [literally] agar bisa mengikuti permainan menjelajah jalan raya yang dipimpin oleh pak supir.

sekarang coba saya tanya, kalau anda ada di perempatan yang tak ada lampu merahnya dan kebetulan jalan di sebelah kiri anda mau melintas sebuah bus besar yang kirakira bisa membahayakan diri anda kalau nekat motong jalannya, apa yang anda lakukan? ya, orang yang masih waras biasanya akan setia menunggu. tapi itu tak berlaku buat para supir auto. mereka malah tancap gas sambil bunyikan klakson yang kayak punya bakul roti di indonesia itu. ya gitu deh salah satu studi kasusnya. selain kejadiankejadian lain yang gak akan bisa saya lupakan. herannya, menurut statistik kecelakaan di india, kecelakaan yang melibatkan auto ini rendah sekali angkanya. mencengangkan bukan?


anda tertarik? datanglah kemari.
jangan lupa. jika punya nyawa isi ulang, boleh dibawa.

makanan impian

siapa sangka saya bisa menjejakkan kaki di tanah kering asia selatan ini. saya ndak menyangka sama sekali kok. hahaha, terkesan dramatis tapi memang begitulah hidup. kemarin saya ada di mana sekarang saya ada di mana, tak tentu. tapi satu yang jelas, disinipun saya masih bermimpi, karena mimpi itu yang bisa membuat saya bertahan, hidup dan bersemangat.
halah, kok malah kayak mario teguh begini sih. nggombal abis deh.

seperti hari ini, mimpi untuk bisa makan makanan negeri sendiri yang membuat kami tergerak untuk memasak. halah, sok dramatis yo ben. yang jelas, dengan keterbatasan peralatan yang ada di guest house kami mulai meracik makanan yang diharap sama rasanya dengan masakan rumah. dengan berbekal 2 buah panci kami mulai bikin ramuan rahasia. heran bo' di sini tuh orang gak ngefans sama merica putih. sudah diubekubek kesana kemari kok gak nemu juga yang namanya merica putih, padahal kalo dipikir mau bikin sup kan butuh merica putih ya. ya sudah deh, kami pikir tak usahlah kami bikin sup pakai merica, cukup dengan bawang putih dan bawang merah [hah, sup model apa ini!]. kejadian pertama yang bikin geli adalah kejadian dengan kompor. maklumlah kami orang ndeso yang gak begitu berkawan sama kompor listrik. eh di sini ternyata yang digunakan adalah kompor listrik, lha bingung dah gak ngerti cara mempergunakannya. beruntung akhirnya kami punya cara nyalain tuh kompor. berbekal mengira dan mencoba menerjemahkan gambar akhirnya tuh kompor berhasil nyala. voila!

sudah selesai masalah dengan kompor, datang masalah berikutnya yaitu panci! hahaha, kami terlalu punya banyak panci, tapi gak punya wajan sama sekali. padahal saat itu kami sudah siapkan ramuan bakwan istimewa. semua bahan sudah terlanjur dicampur jadi satu, telur dan tepung juga sudah ditambahkan, eh kami ndak nemu yang namanya wajan. kalo disimpen di kulkas yo kok kelihatan wagu. walhasil kami pakai saja tuh panci buat nggoreng. geli sih geli, masak panci dipake goreng. tapi ternyata rasanya sama kok, gak beda jauh. hahahaha.

panci itu juga kami pakai buat goreng tomat dan kawan kawan, maksudnya sih mau bikin sambel, tapi oh ternyata, kami ndak punya cobek dan ulekan, habis digoreng tuh bahan sambal cuman digerus pakai sendok. jangan dibayangin bentuknya deh, nggilani banget. tapi herannya kok ya tetap dimakan, soalnya rasanya enak sih. tinggal ditambahin nasi putih ngepul panas diatasnya, sudah bisa dimakan doonk.. eh, sopnya tadi gimana makannya ya? nah begini sodarasodara, tuh sop tadi dimasukin ke wadah bekas pop mie yang dibawa dari indonesia [kami belum punya mangkok betewe, jadi pake itu aja dulu. keadaan mendesak. oh ya kami juga potong itu galon air minum buat wadah nyuci sayuran. gemblung yo ben]

taraa, akhirnya kami makan juga tuh sup, bakwan panci dan sambal impian. biar bikinnya tampak ndak higienis tapi kami habisin kok. maklum lapar berat. =))

pantai oh oh

benarbenar sedang ingin ke pantai. oke, aku tak begitu suka pasir pantai yang berwarna gelap. aku suka pasir pantai yang terang. aku tak suka pantai yang penuh beting.aku lebih suka yang polos saja. aku suka ombak yang bergulung tinggi. suaranya "byuur". lalu cuma bersuara lirih ketika menghantam pasir pantai. aku cuma suka lihat dari kejauhan saja kalau ombak sedang besar begitu. aku tak berani mendekat.

kadang ombak terlalu besar, kadang angin bertiup terlalu kencang. bodo amat. namanya juga pantai. kalau tak butuh ombak tak butuh angin, pergi saja ke gua. hangat. sebentar kau tak tahu apa yang hendak dilakukan, aku bocorin sini: mungkin kau bisa bikin gambar dan tulistulis namamu dan nama pacarmu sambil berpelukan. bukannya itu yang biasa dilakukan?

fokus, nonaa!

aku suka matahari, aku suka pasir pantai aku suka air. aku suka ketika matahari, air, dan pasir pantai berpelukan.
ya, benar senja.

aih aih, aku tak perlu lagi jelaskan begitu sukanya aku akan senja, tampaknya akan terdengar murahan. akhirakhir ini kata itu sering [amat sering sekali] disebut. aku eja dalam hati saja sajak cintaku pada senja di pinggir pantai.

ya. bagus nona, you don't have any point to say!:
sekarang yang kudapat dari ceritamu tadi adalah kata aku, suka, pantai, berulangulang.

aku suka pantai


good nite. sleep tight
kau mulai tak waras.

balada si wewe

wewe gombel. atau wewe saja. tanyakan itu pada bekas murid SMA 6 angkatan 2004. hampir semua [kecuali mereka yang waras] pasti pernah mengucapkan nama itu untuk memanggil seseorang berambut panjang terurai yang suka duduk di bawah pohon beringin baca buku ketika tiba waktu istirahat. tentu orang berambut panjang yang dimaksud adalah saya. wah, saya memang kadang mangkel sama ayu, ayu sekaringtyas lengkapnya, yang pertama kali mencetuskan kata itu sebagai nickname.

kok ya wewe, serem gtu.

apa bukan salah satu kata dari nama saya saja yang lebih apik, tapi temen SMA saya itu ngeyel. katanya nama wewe itu bagus, catchy gituch. setelah mendeklarasikan nama panggilan baru saya, dia mulai memanggil saya dengan nama pilihannya itu. di tengah kantin yang sedang ramai oleh para murid kelaparan mengantri soto, dengan pedenya dia panggil saya "we, wewe! abis makan susul aku ke depan ya" kontan aja semua anak langsung menolah mencari sumber bunyi itu dan kirakira siapa yang sedang diajak ngomong. mulai saat itu nama wewe seakan menjadi nama paten saya.

virus wewe ini menjalar sampai ke seluruh anak kelas 2 [saat itu saya kelas 2 SMA] bahkan sampai ke barisan kakak kelas maupun adik kelas.

pertama kali saya risi ketika mas [duh saya lupa namanya] yang mengajak saya diskusi tentang terbitan memulai pertemuan kami dengan

"jadi dek wewe, sudah paham kan intinya kemarin?"
jder! ape lu kate mas?

atau ketika adik kelas yang imut nan cakep itu bertanya,

"mbak wewe itu kelas 2 apa to?"
aduuuuhhhh dueng! emak..simbook..toloooooooong…..emangnya saya seseram itu, cakep gini.

tapi yang bikin saya paling kaget, pak agus penjual mi ayam depan sekolah menyapa

"mbak wewe mau pesan minum apa?"

baiklah ketika semuanya kompak selalu memanggil saya dengan nama sakti wewe, mau tak mau saya pun menerimanya [karena mustahil, tak ada seorangpun, kecuali guruguru saya, yang memanggil pakai nama saya sesungguhnya]. oh malangnya…

ayu, yang telah saya sebut di awal cerita adalah salah satu anggota kelompok kami [maklumlah anak SMA, masih model nge-geng]. Kami bertujuh suka sekali barengbareng. dari belajar bareng [yang akhirnya cuman jadi acara nggosip] sampai jalan jalan. kami bertujuh memang sempat sekelas di kelas 1 tapi gak pernah sekelas lagi setelah itu.

si ayu ini, diantara kami memang terkenal sebagai orang yang agak keras kepala, tapi pada dasarnya dia adalah seorang yang baik hati. pernah jadi pacar mantan kecengan saya, tapi cuma sebentar, akhirnya putus [meski saya yakin dia tidak bisa melupakan kecengannya yang lain (yang kecengan saya juga. oh no!)]

"we, kapan punya waktu luang..kita ketemuan yuk.." begitu kirakira bunyi pesan pendeknya beberapa waktu lalu.

ah, saya jadi kangen sama mereka semua.

how’s life?

akhirakhir ini saya getol berkunjung ke profil facebook temanteman dan meninggalkan jejak berupa sebuah tanya: ‘how’s life?’. bukan, saya tak sedang berbasa basi untuk buka pembicaraan, saya juga tak sedang bikin sensus. saya benarbenar ingin tahu.

how’s life?
pertanyaan yang pendek. akankah sesederhana itu juga jawabnya?

yang punya waktu balas pertanyaan saya, balik berkunjung. hectic, datar, tak puas, miraculous, nggantung, a little bit harder, semacam itu tulis mereka. saya senyumsenyum sendiri. betapa jawaban atas pertanyaan itu beragam. tak melulu baik saja, atau bagus saja seperti jawaban basabasi biasa saya dengar.

saya jadi berpikir, kalau seandainya pertanyaan itu dilontarkan ke saya pastilah saya akan membuang beberapa menit berharga untuk bengong di depan layar laptop [terlambat. sudah terjadi] pasti saya bingung merumuskan apa yang saya rasakan. mungkin jawaban saya akan begini [terlambat. sudah terjadi]: 
‘hidup sedang tak bisa diduga, dan aku sedang berusaha belajar berkata ya pada hidup’.

adalah seseorang yang membuat saya agak berpikir malam itu. dia bawabawa ungkapan amor fati, berkata ya pada hidup. saya pikir, masa sih melulu ya pada hidup. bosan mungkin. lagipula hidup yang kayak apa dong. apakah saya boleh memilih hidup yang seperti apa? dulu saya pernah punya keinginan untuk milih dilahirkan jadi anak juragan yang sugih 7 turunan, atau anak jenderal biar bisa merasai jadi bos dari orok. tapi saya tak bisa pilih semau saya.

jujur sampai sekarang saya belum paham konsep mengatakan ya pada hidup seperti yang pernah dia singgung [masih untung. saya mau belajar]. apakah artinya mengamini apapun yang terjadi pada saya. pada hidup saya. pada hidup saya yang sekarang, tanpa saya melakukan apaapa? atau?

kok jadi berat begini ya. 
padahal saya cuma ingin cerita

sulit untuk tak mengeluh, untuk tak marahmarah sendiri kalau hasil pekerjaan tak sesuai dengan standar diri. kadang sulit untuk merasa puas dengan hidup sendiri dan tak terkesima dengan hidup orang lain. sulit. 

betul, sulit kok.

how’s life, win?
:: sebentar lagi semi, segalanya akan hijau kembali. itu pasti. tentu aku masih suka naik roller coaster, merasai mata kadang melihat huruf M kadang huruf W bergantian itu terasa ajaib.

saya dilempar batu

hitungan saya belum 10 ketika saya terkejut mendengar bunyi ‘pletaaak’ yang mengganggu. beberapa saat kemudian paha saya terasa sakit. saya melihat batu sekepalan tangan dengan mesranya nampang diatas aspal. apa apaan ini!

setelah itu baru saya sadar kalau batu itu yang tadi sempat mendarat di paha. batu itu pula yang bikin hitungan saya bubar jalan [saya iseng ngitungin berapa detik lampu merah itu nyala]. sial.

alkisah saya pulang dari nonton pertandingan futsal, mampir sebentar ke kos pria gendut di terban dan memutuskan pulang lewat jalan kaliurang. karena rumah saya di gejayan, menurut saran orang pintar saya harus ambil jalan ke kanan di perempatan mbarek [MM UGM]. karena lampu menyala merah, maka saya harus berhenti. karena nyalanya lama maka saya iseng ngitungin. karena iseng ngitung berapa lama lampu merah, saya jadi bertampang bloon banget. itu tuh makanya saya dilempar batu. iya, kayaknya.

atau skenario lain.

saya adalah orang yang sangat penting. kebetulan tadi saya kabur dari penjagaan bodyguard. trus menyamar jadi orang kebanyakan. terus karena saya sudah selesai bersenangsenang saya kembali ke markas. di tengah jalan bertemu dengan intel musuh. trus ketahuan identitas saya. karena si intel khawatir bakal bisa dilacak kalau pakai senjata, jadilah batu dipilih sebagai senjata. dilempar deh saya. begitu sepertinya. 
ya, begitu. 

duh, senang deh mengalahkan rekor jusuf kalla. punya saya kan lebih gede batunya.

bodoh.

konsentrasi saya sekali lagi buyar ketika akhirnya saya tolehkan kepala dan memergoki si pelempar ternyata seseorang bertampang kumal, tak pakai celana dan cengarcengir tak jelas sama saya. 

selalu membuatku tersenyum kecil...

kau bilang: "ini buatmu.."
ku bilang: "aku kan tak sedang ulang tahun dan kita tak sedang merayakan sesuatu"
kau bilang: "bukalah"
jeda sebentar dan kau tambahi "tapi maaf... aku tak bisa membungkus kado"

ini lho yang selalu bikin aku tersenyum kecil 
seperti ketika kubaca selarik ucapan di halaman muka sebuah buku

"sebagai pengganti bunga"

:)

hari yang tak jelas

siang tadi saya ikut kawan ke kampus, menengok perpustakaan milik fakultasnya. pada mulanya saya tertarik dengan cerita si kawan tentang si perpus. perpustakaan yang saya kenal itu kan tempat yang tenang, dan penuh orang yang khusyuk baca buku. mau sedot ingus, batuk atau berdeham aja perlu pikirpikir dulu.
 
tapi disana lain

suasana perpustakaan di kampus kawan itu beda banget dari yang saya kenal. tak tenang blas lah pokoke. suasana ‘singgg’ yang biasa saya alami saat masuk perpustakaan macam amcor, ignatius, sadhar, dan perpustakaan lain yang pernah saya datangi tak muncul. diganti suasana glegh. 
kenapa? 
karena di perpustakaan itu saya melihat pemandangan yang sungguh lain. datangdatang udah disuguhi suara lagu pop cengeng dalam negeri yang mengalun lumayan kenceng [dari speaker deket plafon], lalu sesekali terdengar cekakak bunyi tawa ditengah pembicaraan gosip oleh entah itu siapa. ya ampun! lebih mirip selasar ambarrukmo plaza deh, atau lantai 1 mirota kampus.

ah memang tempat yang aneh, jadi agak ribet memulai ritual bersetubuh dengan buku. saya kaget dan mulanya merasa canggung, untuk menguranginya saya ambil sebuah buku kumpulan cerpen tipis dan mulai duduk membaca diantara mahasiswa yang lagi baca skripsi. sekitar 6 halaman bisa saya selesaikan namun karena masih merasa aneh saya putuskan tak jadi baca buku. walhasil saya malah ngikut ngobrol kayak orangorang yang lain itu.

bosen duduk mengobrol di perpustakaan akhirnya saya dan kawan pindah ke kantin yang tak jauh dari sana. tapi kegiatan mengobrol jilid 2 di kantin ini cuma sebentar saja karena si kawan yang sedang menyusun skripsi harus mengikuti bimbingan dengan dosen. jadilah saya duduk menunggu sendiri di pojok kantin, eh sebenarnya tak sendiri sih ada 2 buku yang temani saya kok. yang satu adalah buku favorit yang sudah berulangkali saya baca [dan akan saya baca lagi untuk kesekian kalinya] sama satunya buku rekomendasi kawan [si kawan ini selalu kasi rekomendasi (terutama kuliner) yang tak pernah beres tapi anehnya selalu saya coba. heran saya…kenapa ya?].

weh mulai kesana kemari ceritanya.

seharusnya saya kan merasa kikuk dan tak nyaman berada di tempat yang ramainya minta ampun dan asing ini. sendirian pula. tak ada yang saya kenal sama sekali. tak ada juga yang kenal saya. tapi anehnya saya malah nyaman banget. baca bukunya tak keganggu orang panggilpanggil nama. semakin khusyuk saja saya balik halaman demi halaman sampai tak menyadari ternyata yang duduk di depan saya sudah ganti orang. saya masih baca buku sampai akhirnya si kawan datang bawa draft skripsi yang bakal bersampul ungu itu.

lengkap sudah hari yang aneh. skripsi kok sampulnya ungu. ada ada saja fakultas timur persis kampus saya itu.

pagi ini

pagi ini saya bangun dan merasa agak lebih bodoh dari hari biasanya. 

bukan, 
maksud saya bukan “biasanya saya pintar” 
biasanya saya memang bodoh, tapi hari ini merasa agak lebih bodoh. wow!

setelah dipikirpikir lagi mungkin garagara pola tidur saya lagi nggak bagus. belakangan saya selalu mulai tidur dini hari. membawa kegelisahan dan racauan yang baru tiap harinya. udah tahu dini hari, tapi gak kunjung tertidur.
kadang heran dengan kuota pikiran sendiri. bisabisanya menampung berbagai hal yang kayaknya tidak penting. coba bayangin saja, masak bisabisanya saya tak merem hanya garagara ada suara dari dalam kepala: “menurutmu kenapa tempat duduk di KFC itu gak ada yang empuk”. belom lagi kejawab sudah disusul yang lain macam “kok jambu air bentuknya gitu sih”, atau “kenapa ya di depan gedunggedung penting yang terkenal di dunia depannya pasti ada kolam” tuh kan, benarbenar gak penting kan?
kadangkadang karena terlalu sibuk mengirangira jadinya malah ketiduran. sampe pagi. kalo saya masih ingat berbagai pertanyaan semalam, pasti paginya langsung search di google. tapi sayangnya lebih seringan gak inget sih.

nah lho, saya mau cerita apaan sih?

dan pagi ini rasanya saya mengalami lebih suhu (=overheat). pas bangun yang terasa cuman kepala berat dan loding lambat, mata mengerjap tak keruan, badan pegel. kayak abis digiles traktor mungkin.

eh tapi siapa bilang saya gak semangat?
saya semangat kok, horeeee!!!

(postingan macam apa ini, sangat tidak berseni tinggi!! 
*tapi suka kaaaannn?*^$#*()*&%$)

rejang dewa di prambanan



duh saya rindu

tadi saya tak sengaja memandang bintang di atas langit jogja, ternyata muncul banyak sekali. saya terkejut dan kaget. entah apa memang setiap malam bintang terlihat begitu banyak berkilauan dan saya terlalu cuek melewatkannya, saya tak begitu tahu. 

yang jelas tebaran bintang yang tak sengaja saya lihat itu sudah bawa ingatan saya kembali. ingatan tentang perjalanan 2 jam di kegelapan setiap malam, menembus hutan jati yang lebat dan sunyi, meniti hatihati jalan kecil yang mirip sungai yang dikeringkan daripada jalanan, memandang bintang yang terasa lebih terang dan besar di kegelapan total, di atas rumpun pepohonan jati, di puncak tertinggi perbukitan.

apakah saya rindu?
ya, saya rindu saat itu dan seketika mencintai saatsaat dimana kesunyian terasa sangat erat mendekap.
 
beginilah yang sering dikatakan orang, rasa mencintai itu akan terasa lebih besar ketika kita tak lagi bisa dekat dengannya [siapapun…apapun]..dan hanya bisa mengenang dengan senyum kecil yang tersungging tulus…
dari lubuk hati.

duh, saya rindu benar

been there

sekaten


borobudur



kota tua

oh so angkutan umum..

kalau mengandalkan kendaraan umum, sepertinya saya bakal selalu susah, not to mention hati dower kebanyakan mengumpat. 

sepanjang yang saya ingat, pengalaman saya dengan public transportation a.k.a kendaraan umum memang tak pernah beres. entah ya, saya yang tak sabaran atau emang transportasi umum yang kelewat menyebalkan.

biarlah saya tampak seperti neneknenek bawel ataupun tante galak di sinetron. saya lagi butuh pelampiasan. pasalnya kemarin saya baru saja dikecewakan. untuk menuju jogja saya harus menyediakan 1 jam waktu tambahan. 

berbekal jadwal hasil sms-an dengan teman saya, saya putuskan untuk naik kereta pramex XVII [kereta kedua terakhir] yang berangkat jam 17.55 dari stasiun purwosari, yang artinya dikurangi 15 menit kalau dari solo balapan. sengaja saya naik dari stasiun solo balapan, dengan harapan bisa dapat tempat duduk. hari sabtu sore penumpang biasanya lebih banyak.

becak sudah ngebut, saya datang tepat waktu. beli tiket beres, menunggu sebentar tak papalah, kereta datang. saya naik, akhirnya dapat tempat duduk. dalam bayangan saya, 60 menit kemudian pasti saya sudah ada di rumah, entah sudah mandi entah masih dudukduduk dulu. 

tapi bayangan kadang tak sejalan dengan kenyataan. kereta tak kunjung bergerak. 10 menit pertama, saya mencoba bersabar, 5 menit kemudian saya mulai garuk garuk kepala, 10 menit lagi saya gelenggeleng mencoba tak mengumpat,10 menit kemudian saya asyik dengan kamera dan ponsel, menitmenit kemudian sampai genap 1 jam tampaknya muka saya sudah terlihat abstrak. begitu pintu tertutup dan kereta mulai bergerak saya merasa aneh. entah senang karena kereta akhirnya berangkat [dengan label: kereta terakhir], bosen banget, atau kesal bersambung. 

dalam hati: besokbesok lagi jadi orang tak usahlah terlalu tepat waktu, toh keretanya ngetem lama.

pengalaman dengan kereta bukan satusatunya. kali ini bus sempat bikin saya kesal juga.
turun dari kereta, saya berniat naik transjogja. bergegaslah saya menuju halte dekat stasiun tugu, percaya bahwa dengan naik kendaraan ini saya bisa sampai halte cik ditiro dengan nyaman.
 
oh tentu tidak, pikir saya setelah dengar bus cuma akan berhenti sampai halte RS bethesda. ya tak papalah pikir saya, asal sampai. saya bisa menerima bila harus berjalan kaki lebih jauh. akhirnya saya duduk nyaman dalam bus mini AC itu. tapi tak cukup lama saya merasa nyaman. bis bergerak merayap karena ikut terjebak macet [kali ini setidaknya saya agak maklum karena jalanan jogja memang tak bisa mengakomodasi jalur khusus bagi kendaraan ini, tapi tetep kesal juga soalnya tadi sudah dikecewakan oleh pramex]. ya setidaknya kesal saya agak berkurang karena si mas pramugara bis ramah sekali dan tetap tersenyum meskipun hari sudah larut [tak seperti pramugara transjakarta yang suka marahin penumpang. rasanya ingin saya katakatain: “mas, pesen senyumnya satu ya..masukkan saja ke bill tambahan saya”]

cuma bus dan kereta saja?
tentu tidak..saya juga pernah bermasalah dengan angkot di bogor yang tak kasih tahu bahwa saya sudah sampai, taksi di solo yang minta saya bayar lebih dari angka yang tertera di argo, taksi di jakarta yang supirnya sungguh purapura tak tahu jalan. atau supir taksi aneh [masih di jakarta!] yang bikin saya langsung minta berhenti karena entah curhat entah berdeklamasi “99 persen yang tinggal disini adalah setan, termasuk saya dan anda. kita semua adalah setan. hiduplah setan. lihatlah, sebentar lagi kota ini akan tenggelam. tenggelam ke dasar samudera”

ingin rasanya saya dimasukkan karung dan diekspor ke jepang saja. 

kereta bengong

sendirian, dan tak ada yang menarik mungkin. 
hanya duduk bengong di sebelah orang yang tak dikenal dan tak ingin saya kenal, memotret lanskap kabur di luar jendela dalam ingatan, mengamati anak kecil yang suka menghadap belakang 3 baris di depan kursi saya [ia membuat saya ingat beberapa adegan di film pendek lux dian sastro], sambil mendengarkan pilihan musik taksaka yang tak begitu bagus. saya jadi tahu bahwa ‘hijau daun’ adalah band favorit mereka untuk bulan ini.

saya memang tak seperti norah jones yang mampu bikin lirik lagu di atas secarik tisu [lagipula tisu saya ada di bagasi], atau ka dalam novel pamuk ‘snow’ yang sedang saya baca; mampu bikin puisi dalam keheningannya saat naik kereta di stuttgart. 

di atas kereta ini saya benarbenar hanya bengong. titik. 
bukan, saya bukan sedang berpikir. saya bengong. tidak produktif. 

sebelumnya saya memang sedang membaca, tapi berhenti di halaman 129 karena kepala ini tibatiba pusing setelah menenggak kopi susu yang ditubrukkan dengan mi telor. saya tampak tertidur sebentar, 5 menit mungkin. rekor bagi saya yang tak pernah bisa percaya orang tak dikenal yang jadi teman duduk dalam perjalanan. ketika bangun saya merasa ingin ke kamar mandi. sekali lagi saya bikin rekor baru. membiarkan dokumendokumen penting tergeletak di sebelahnya. rekor bodoh, pikir saya sepanjang lorong sebelum lanjut ke aktivitas bengong seperti tadi.

tibatiba pikiran membayangkan jakarta [kota yang selalu bikin saya bersyukur tinggal di jogja: jakarta cuma bagus ketika lepas tengah malam] yang sudah pasti macet pada pukul kedatangan saya senja itu membuat kebengongan saya terusik. saya jadi berpikir. jadi produktif. mungkin kisah saya jadi menarik.

tapi saya tak suka, karena bengong saya buyar garagara membayangkan macetnya jakarta.

ah, cerita apa saya ini.
mungkin saya hanya sedang ingin menulis.

hujan lingkaran di langit

lepas tengah malam entah kenapa langit tampak tak biasa. ada pendar merah disekeliling lingkaran cahaya putih samar di beberapa bagian langit yang hitam pekat. saat itu saya duduk di pinggir dipan. terbangun dari tidur yang tak cukup nyenyak. mata ini masih mengerjap ngerjap mencoba menyesuaikan diri melihat sekeliling dalam gelap. satusatunya cahaya yang cukup menyilaukan mata itu mencuri perhatian saya. saya longok langit dari jendela yang memang daritadi sengaja dibuka agar udara dalam kamar tak pengap. saya menggumam 
“aneh betul, cahaya apa itu ya”.

kebiasaan mengabadikan halhal aneh mendorong saya untuk segera bangkit dan meraih nikon D90 di atas meja pojok kamar. maksud hati ingin menjepret, siapa tahu cuma saya saja yang punya kesempatan melihat fenomena itu langsung. sembari melangkah ke pintu depan dalam hati saya masih bertanya, apa itu ya?

ketika mata mencoba membidik cahaya aneh lewat viewfinder tibatiba saja lingkaran itu tampak semakin dekat, seperti mau jatuh. cepat sekali lajunya. mirip gerak tetes air tapi yang ini tampak garang, panas dan lebih cepat. sontak saya panik dan menghambur masuk ke rumah.

ah, lingkaran itu serupa bola api yang berukuran sedang. meteor kah? 
bummm, 
ternyata ia tersuruk di jalan depan rumah. tak cukup parah memang, hanya sedikit menyisakan cekungan pada permukaan jalan.

kaget, tapi saya tak hiraukan. lagi lensa dibidikkan ke arah langit, ke cahaya yang lain.masih sama seperti yang tadi, ia jatuh dengan kencangnya. meski masih tak habis pikir, saya dapat pengetahuan yang baru. bahwa setiap saya membidik lingkaran putih berpendar merah di langit itu, pasti ia jatuh dan menghantam bumi. menyisakan cekungan pada tempat dimana saya berdiri. permukaan jalan, samping rumah, atau dekat pagar.

saya tampak sedang berpikir dan sedikit ketakutan. sampai ratusan bola api berukuran sedang itu meluncur bersamaan tanpa saya bidik pakai kamera dulu. saya lari masuk rumah. 

hmm, mungkin saya hanya sedang bermimpi buruk yang sama berulangkali. 
mungkin.

oh ya, yang saya sukai dari mimpi semalam dan malammalam kemarin cuma satu:
disana saya tampak sudah memiliki nikon D90 yang aduhai itu.

dipalak, blog humanis dan zombie vegetarian.

saya belum lupa caranya posting, tak seperti yang dikatakan kawan di kotak teriak pojok kanan bawah blog ini. tapi saya memang agak lupa bagaimana menulis hal yang menarik. senyumsenyum saya baca pesan pendeknya. kok ya lucu orang ini. tahu saja kalau saya lagi malas bercerita.

ah, saya mulai banyak basabasi. 

beberapa minggu ini memang hectic buat saya. tak seperti biasanya, di akhir minggu saya tak punya waktu santai untuk mengisi blog. setelah latihan tari pagi harinya, biasanya saya sudah capek dan inginnya tidur saja. waktu bangun tahutahu sudah sore. kalau tidak tidur ya biasanya saya jalanjalan. ke pantai, ke pusat kota, atau kemana saja seenak saya melangkah. oh tentu saja, sesuai tebakan, saya fotofoto.

saya sempat dipalak tukang taksi depan novotel solo tempat saya kemarin punya urusan. sudah saya bilang pakai argo saja, agar samasama enak. eh si tukang ini ngotot juga minta dibayar 12ribu. padahal jelasjelas di argo ada tulisan 6000 besar sekali. ya sudah daripada ketinggalan pramex saya kasih saja dia 10.000, saya bilang: ”bapak ambil aja kembaliannya, saya doakan semoga cepat kaya.”

untung tak ketinggalan kereta, kalau iya bisa mati bosan saya menunggu 1 jam di stasiun balapan. sendirian.  

apalagi ya yang mau saya ceritakan. 

saya ingat. sabtu malam bulan desember itu saya bertemu dengan kawan baik yang datang dari jakarta untuk berlibur. kami berjumpa di nol kilometer. wah, rasanya senang akhirnya bisa ketemu dengannya. obrolan yang biasanya terjadi lewat kabel tilpun dan modem yang dicolok ke laptop akhirnya bisa berlangsung live. tentu saja sebelum gerimis membubarkan kami dan kerumunan lain di angkringan depan BI.

juga sebelum kawan saya itu kembali ke jakarta mengendarai mobil dengan kecepatan 120 km/jam di jalur selatan.
 

oh iya, minggu kemarin saya juga mendapat sebuah award dari seorang bli di jembrana, bali. blog ini dibilang humanis. makasih saya haturkan banyakbanyak buat bli noq karena sudah memberi apresiasi terhadap isi blog yang hampir semuanya membahas hal yang bisa dibilang tak penting. tapi tentu saja penting buat saya. 
 
poppo, bubbi dan monmon sehatsehat saja. malah tambah gemuk dan besar. rasanya beberapa minggu kedepan mereka sudah bisa dilepas, seperti si kucing zombie. 

ya, saya memang belum pernah cerita tentang kucing ini. zombie adalah seekor kucing kampung kembang telon (tiga warna) berumur sekitar 3 bulan, pemberian seorang pengusaha bebek goreng di klaten sana yang berkawan dengan bapak. si pemilik bilang kalau kucing ini unik. bapak saya yang suka hal unik ternyata terbujuk rayuan maut si tukang bebek. jadilah bapak bermobil dari klaten sampai jogja bersama zombie. 

eh, dimana letak keunikannya?
selama ini ia hanya mau dikasih makan darah bebek yang digoreng atau biasa disebut didih alias saren. 

saya yang ngeri dengan riwayat si kucing mendukung aksi mengembalikannya ke alam. begitu turun dari mobil dan menyantap makanan bekal terakhirnya (setumpuk saren dalam plastik) kami membiarkan ia ngelayap kemana saja ia mau. 

beruntung sampai saat ini saya belom dengar ada seekor ayam, bebek, atau kambing tetangga yang mati. mungkin si zombie yang sekarang jadi pengembara itu mencoba jadi vegetarian. saya tak begitu tahu.