sekelebatsenja: January 2009

kereta bengong

sendirian, dan tak ada yang menarik mungkin. 
hanya duduk bengong di sebelah orang yang tak dikenal dan tak ingin saya kenal, memotret lanskap kabur di luar jendela dalam ingatan, mengamati anak kecil yang suka menghadap belakang 3 baris di depan kursi saya [ia membuat saya ingat beberapa adegan di film pendek lux dian sastro], sambil mendengarkan pilihan musik taksaka yang tak begitu bagus. saya jadi tahu bahwa ‘hijau daun’ adalah band favorit mereka untuk bulan ini.

saya memang tak seperti norah jones yang mampu bikin lirik lagu di atas secarik tisu [lagipula tisu saya ada di bagasi], atau ka dalam novel pamuk ‘snow’ yang sedang saya baca; mampu bikin puisi dalam keheningannya saat naik kereta di stuttgart. 

di atas kereta ini saya benarbenar hanya bengong. titik. 
bukan, saya bukan sedang berpikir. saya bengong. tidak produktif. 

sebelumnya saya memang sedang membaca, tapi berhenti di halaman 129 karena kepala ini tibatiba pusing setelah menenggak kopi susu yang ditubrukkan dengan mi telor. saya tampak tertidur sebentar, 5 menit mungkin. rekor bagi saya yang tak pernah bisa percaya orang tak dikenal yang jadi teman duduk dalam perjalanan. ketika bangun saya merasa ingin ke kamar mandi. sekali lagi saya bikin rekor baru. membiarkan dokumendokumen penting tergeletak di sebelahnya. rekor bodoh, pikir saya sepanjang lorong sebelum lanjut ke aktivitas bengong seperti tadi.

tibatiba pikiran membayangkan jakarta [kota yang selalu bikin saya bersyukur tinggal di jogja: jakarta cuma bagus ketika lepas tengah malam] yang sudah pasti macet pada pukul kedatangan saya senja itu membuat kebengongan saya terusik. saya jadi berpikir. jadi produktif. mungkin kisah saya jadi menarik.

tapi saya tak suka, karena bengong saya buyar garagara membayangkan macetnya jakarta.

ah, cerita apa saya ini.
mungkin saya hanya sedang ingin menulis.

hujan lingkaran di langit

lepas tengah malam entah kenapa langit tampak tak biasa. ada pendar merah disekeliling lingkaran cahaya putih samar di beberapa bagian langit yang hitam pekat. saat itu saya duduk di pinggir dipan. terbangun dari tidur yang tak cukup nyenyak. mata ini masih mengerjap ngerjap mencoba menyesuaikan diri melihat sekeliling dalam gelap. satusatunya cahaya yang cukup menyilaukan mata itu mencuri perhatian saya. saya longok langit dari jendela yang memang daritadi sengaja dibuka agar udara dalam kamar tak pengap. saya menggumam 
“aneh betul, cahaya apa itu ya”.

kebiasaan mengabadikan halhal aneh mendorong saya untuk segera bangkit dan meraih nikon D90 di atas meja pojok kamar. maksud hati ingin menjepret, siapa tahu cuma saya saja yang punya kesempatan melihat fenomena itu langsung. sembari melangkah ke pintu depan dalam hati saya masih bertanya, apa itu ya?

ketika mata mencoba membidik cahaya aneh lewat viewfinder tibatiba saja lingkaran itu tampak semakin dekat, seperti mau jatuh. cepat sekali lajunya. mirip gerak tetes air tapi yang ini tampak garang, panas dan lebih cepat. sontak saya panik dan menghambur masuk ke rumah.

ah, lingkaran itu serupa bola api yang berukuran sedang. meteor kah? 
bummm, 
ternyata ia tersuruk di jalan depan rumah. tak cukup parah memang, hanya sedikit menyisakan cekungan pada permukaan jalan.

kaget, tapi saya tak hiraukan. lagi lensa dibidikkan ke arah langit, ke cahaya yang lain.masih sama seperti yang tadi, ia jatuh dengan kencangnya. meski masih tak habis pikir, saya dapat pengetahuan yang baru. bahwa setiap saya membidik lingkaran putih berpendar merah di langit itu, pasti ia jatuh dan menghantam bumi. menyisakan cekungan pada tempat dimana saya berdiri. permukaan jalan, samping rumah, atau dekat pagar.

saya tampak sedang berpikir dan sedikit ketakutan. sampai ratusan bola api berukuran sedang itu meluncur bersamaan tanpa saya bidik pakai kamera dulu. saya lari masuk rumah. 

hmm, mungkin saya hanya sedang bermimpi buruk yang sama berulangkali. 
mungkin.

oh ya, yang saya sukai dari mimpi semalam dan malammalam kemarin cuma satu:
disana saya tampak sudah memiliki nikon D90 yang aduhai itu.

dipalak, blog humanis dan zombie vegetarian.

saya belum lupa caranya posting, tak seperti yang dikatakan kawan di kotak teriak pojok kanan bawah blog ini. tapi saya memang agak lupa bagaimana menulis hal yang menarik. senyumsenyum saya baca pesan pendeknya. kok ya lucu orang ini. tahu saja kalau saya lagi malas bercerita.

ah, saya mulai banyak basabasi. 

beberapa minggu ini memang hectic buat saya. tak seperti biasanya, di akhir minggu saya tak punya waktu santai untuk mengisi blog. setelah latihan tari pagi harinya, biasanya saya sudah capek dan inginnya tidur saja. waktu bangun tahutahu sudah sore. kalau tidak tidur ya biasanya saya jalanjalan. ke pantai, ke pusat kota, atau kemana saja seenak saya melangkah. oh tentu saja, sesuai tebakan, saya fotofoto.

saya sempat dipalak tukang taksi depan novotel solo tempat saya kemarin punya urusan. sudah saya bilang pakai argo saja, agar samasama enak. eh si tukang ini ngotot juga minta dibayar 12ribu. padahal jelasjelas di argo ada tulisan 6000 besar sekali. ya sudah daripada ketinggalan pramex saya kasih saja dia 10.000, saya bilang: ”bapak ambil aja kembaliannya, saya doakan semoga cepat kaya.”

untung tak ketinggalan kereta, kalau iya bisa mati bosan saya menunggu 1 jam di stasiun balapan. sendirian.  

apalagi ya yang mau saya ceritakan. 

saya ingat. sabtu malam bulan desember itu saya bertemu dengan kawan baik yang datang dari jakarta untuk berlibur. kami berjumpa di nol kilometer. wah, rasanya senang akhirnya bisa ketemu dengannya. obrolan yang biasanya terjadi lewat kabel tilpun dan modem yang dicolok ke laptop akhirnya bisa berlangsung live. tentu saja sebelum gerimis membubarkan kami dan kerumunan lain di angkringan depan BI.

juga sebelum kawan saya itu kembali ke jakarta mengendarai mobil dengan kecepatan 120 km/jam di jalur selatan.
 

oh iya, minggu kemarin saya juga mendapat sebuah award dari seorang bli di jembrana, bali. blog ini dibilang humanis. makasih saya haturkan banyakbanyak buat bli noq karena sudah memberi apresiasi terhadap isi blog yang hampir semuanya membahas hal yang bisa dibilang tak penting. tapi tentu saja penting buat saya. 
 
poppo, bubbi dan monmon sehatsehat saja. malah tambah gemuk dan besar. rasanya beberapa minggu kedepan mereka sudah bisa dilepas, seperti si kucing zombie. 

ya, saya memang belum pernah cerita tentang kucing ini. zombie adalah seekor kucing kampung kembang telon (tiga warna) berumur sekitar 3 bulan, pemberian seorang pengusaha bebek goreng di klaten sana yang berkawan dengan bapak. si pemilik bilang kalau kucing ini unik. bapak saya yang suka hal unik ternyata terbujuk rayuan maut si tukang bebek. jadilah bapak bermobil dari klaten sampai jogja bersama zombie. 

eh, dimana letak keunikannya?
selama ini ia hanya mau dikasih makan darah bebek yang digoreng atau biasa disebut didih alias saren. 

saya yang ngeri dengan riwayat si kucing mendukung aksi mengembalikannya ke alam. begitu turun dari mobil dan menyantap makanan bekal terakhirnya (setumpuk saren dalam plastik) kami membiarkan ia ngelayap kemana saja ia mau. 

beruntung sampai saat ini saya belom dengar ada seekor ayam, bebek, atau kambing tetangga yang mati. mungkin si zombie yang sekarang jadi pengembara itu mencoba jadi vegetarian. saya tak begitu tahu.