sekelebatsenja: February 2009

oh so angkutan umum..

kalau mengandalkan kendaraan umum, sepertinya saya bakal selalu susah, not to mention hati dower kebanyakan mengumpat. 

sepanjang yang saya ingat, pengalaman saya dengan public transportation a.k.a kendaraan umum memang tak pernah beres. entah ya, saya yang tak sabaran atau emang transportasi umum yang kelewat menyebalkan.

biarlah saya tampak seperti neneknenek bawel ataupun tante galak di sinetron. saya lagi butuh pelampiasan. pasalnya kemarin saya baru saja dikecewakan. untuk menuju jogja saya harus menyediakan 1 jam waktu tambahan. 

berbekal jadwal hasil sms-an dengan teman saya, saya putuskan untuk naik kereta pramex XVII [kereta kedua terakhir] yang berangkat jam 17.55 dari stasiun purwosari, yang artinya dikurangi 15 menit kalau dari solo balapan. sengaja saya naik dari stasiun solo balapan, dengan harapan bisa dapat tempat duduk. hari sabtu sore penumpang biasanya lebih banyak.

becak sudah ngebut, saya datang tepat waktu. beli tiket beres, menunggu sebentar tak papalah, kereta datang. saya naik, akhirnya dapat tempat duduk. dalam bayangan saya, 60 menit kemudian pasti saya sudah ada di rumah, entah sudah mandi entah masih dudukduduk dulu. 

tapi bayangan kadang tak sejalan dengan kenyataan. kereta tak kunjung bergerak. 10 menit pertama, saya mencoba bersabar, 5 menit kemudian saya mulai garuk garuk kepala, 10 menit lagi saya gelenggeleng mencoba tak mengumpat,10 menit kemudian saya asyik dengan kamera dan ponsel, menitmenit kemudian sampai genap 1 jam tampaknya muka saya sudah terlihat abstrak. begitu pintu tertutup dan kereta mulai bergerak saya merasa aneh. entah senang karena kereta akhirnya berangkat [dengan label: kereta terakhir], bosen banget, atau kesal bersambung. 

dalam hati: besokbesok lagi jadi orang tak usahlah terlalu tepat waktu, toh keretanya ngetem lama.

pengalaman dengan kereta bukan satusatunya. kali ini bus sempat bikin saya kesal juga.
turun dari kereta, saya berniat naik transjogja. bergegaslah saya menuju halte dekat stasiun tugu, percaya bahwa dengan naik kendaraan ini saya bisa sampai halte cik ditiro dengan nyaman.
 
oh tentu tidak, pikir saya setelah dengar bus cuma akan berhenti sampai halte RS bethesda. ya tak papalah pikir saya, asal sampai. saya bisa menerima bila harus berjalan kaki lebih jauh. akhirnya saya duduk nyaman dalam bus mini AC itu. tapi tak cukup lama saya merasa nyaman. bis bergerak merayap karena ikut terjebak macet [kali ini setidaknya saya agak maklum karena jalanan jogja memang tak bisa mengakomodasi jalur khusus bagi kendaraan ini, tapi tetep kesal juga soalnya tadi sudah dikecewakan oleh pramex]. ya setidaknya kesal saya agak berkurang karena si mas pramugara bis ramah sekali dan tetap tersenyum meskipun hari sudah larut [tak seperti pramugara transjakarta yang suka marahin penumpang. rasanya ingin saya katakatain: “mas, pesen senyumnya satu ya..masukkan saja ke bill tambahan saya”]

cuma bus dan kereta saja?
tentu tidak..saya juga pernah bermasalah dengan angkot di bogor yang tak kasih tahu bahwa saya sudah sampai, taksi di solo yang minta saya bayar lebih dari angka yang tertera di argo, taksi di jakarta yang supirnya sungguh purapura tak tahu jalan. atau supir taksi aneh [masih di jakarta!] yang bikin saya langsung minta berhenti karena entah curhat entah berdeklamasi “99 persen yang tinggal disini adalah setan, termasuk saya dan anda. kita semua adalah setan. hiduplah setan. lihatlah, sebentar lagi kota ini akan tenggelam. tenggelam ke dasar samudera”

ingin rasanya saya dimasukkan karung dan diekspor ke jepang saja.