sekelebatsenja: May 2009

balada si wewe

wewe gombel. atau wewe saja. tanyakan itu pada bekas murid SMA 6 angkatan 2004. hampir semua [kecuali mereka yang waras] pasti pernah mengucapkan nama itu untuk memanggil seseorang berambut panjang terurai yang suka duduk di bawah pohon beringin baca buku ketika tiba waktu istirahat. tentu orang berambut panjang yang dimaksud adalah saya. wah, saya memang kadang mangkel sama ayu, ayu sekaringtyas lengkapnya, yang pertama kali mencetuskan kata itu sebagai nickname.

kok ya wewe, serem gtu.

apa bukan salah satu kata dari nama saya saja yang lebih apik, tapi temen SMA saya itu ngeyel. katanya nama wewe itu bagus, catchy gituch. setelah mendeklarasikan nama panggilan baru saya, dia mulai memanggil saya dengan nama pilihannya itu. di tengah kantin yang sedang ramai oleh para murid kelaparan mengantri soto, dengan pedenya dia panggil saya "we, wewe! abis makan susul aku ke depan ya" kontan aja semua anak langsung menolah mencari sumber bunyi itu dan kirakira siapa yang sedang diajak ngomong. mulai saat itu nama wewe seakan menjadi nama paten saya.

virus wewe ini menjalar sampai ke seluruh anak kelas 2 [saat itu saya kelas 2 SMA] bahkan sampai ke barisan kakak kelas maupun adik kelas.

pertama kali saya risi ketika mas [duh saya lupa namanya] yang mengajak saya diskusi tentang terbitan memulai pertemuan kami dengan

"jadi dek wewe, sudah paham kan intinya kemarin?"
jder! ape lu kate mas?

atau ketika adik kelas yang imut nan cakep itu bertanya,

"mbak wewe itu kelas 2 apa to?"
aduuuuhhhh dueng! emak..simbook..toloooooooong…..emangnya saya seseram itu, cakep gini.

tapi yang bikin saya paling kaget, pak agus penjual mi ayam depan sekolah menyapa

"mbak wewe mau pesan minum apa?"

baiklah ketika semuanya kompak selalu memanggil saya dengan nama sakti wewe, mau tak mau saya pun menerimanya [karena mustahil, tak ada seorangpun, kecuali guruguru saya, yang memanggil pakai nama saya sesungguhnya]. oh malangnya…

ayu, yang telah saya sebut di awal cerita adalah salah satu anggota kelompok kami [maklumlah anak SMA, masih model nge-geng]. Kami bertujuh suka sekali barengbareng. dari belajar bareng [yang akhirnya cuman jadi acara nggosip] sampai jalan jalan. kami bertujuh memang sempat sekelas di kelas 1 tapi gak pernah sekelas lagi setelah itu.

si ayu ini, diantara kami memang terkenal sebagai orang yang agak keras kepala, tapi pada dasarnya dia adalah seorang yang baik hati. pernah jadi pacar mantan kecengan saya, tapi cuma sebentar, akhirnya putus [meski saya yakin dia tidak bisa melupakan kecengannya yang lain (yang kecengan saya juga. oh no!)]

"we, kapan punya waktu luang..kita ketemuan yuk.." begitu kirakira bunyi pesan pendeknya beberapa waktu lalu.

ah, saya jadi kangen sama mereka semua.

how’s life?

akhirakhir ini saya getol berkunjung ke profil facebook temanteman dan meninggalkan jejak berupa sebuah tanya: ‘how’s life?’. bukan, saya tak sedang berbasa basi untuk buka pembicaraan, saya juga tak sedang bikin sensus. saya benarbenar ingin tahu.

how’s life?
pertanyaan yang pendek. akankah sesederhana itu juga jawabnya?

yang punya waktu balas pertanyaan saya, balik berkunjung. hectic, datar, tak puas, miraculous, nggantung, a little bit harder, semacam itu tulis mereka. saya senyumsenyum sendiri. betapa jawaban atas pertanyaan itu beragam. tak melulu baik saja, atau bagus saja seperti jawaban basabasi biasa saya dengar.

saya jadi berpikir, kalau seandainya pertanyaan itu dilontarkan ke saya pastilah saya akan membuang beberapa menit berharga untuk bengong di depan layar laptop [terlambat. sudah terjadi] pasti saya bingung merumuskan apa yang saya rasakan. mungkin jawaban saya akan begini [terlambat. sudah terjadi]: 
‘hidup sedang tak bisa diduga, dan aku sedang berusaha belajar berkata ya pada hidup’.

adalah seseorang yang membuat saya agak berpikir malam itu. dia bawabawa ungkapan amor fati, berkata ya pada hidup. saya pikir, masa sih melulu ya pada hidup. bosan mungkin. lagipula hidup yang kayak apa dong. apakah saya boleh memilih hidup yang seperti apa? dulu saya pernah punya keinginan untuk milih dilahirkan jadi anak juragan yang sugih 7 turunan, atau anak jenderal biar bisa merasai jadi bos dari orok. tapi saya tak bisa pilih semau saya.

jujur sampai sekarang saya belum paham konsep mengatakan ya pada hidup seperti yang pernah dia singgung [masih untung. saya mau belajar]. apakah artinya mengamini apapun yang terjadi pada saya. pada hidup saya. pada hidup saya yang sekarang, tanpa saya melakukan apaapa? atau?

kok jadi berat begini ya. 
padahal saya cuma ingin cerita

sulit untuk tak mengeluh, untuk tak marahmarah sendiri kalau hasil pekerjaan tak sesuai dengan standar diri. kadang sulit untuk merasa puas dengan hidup sendiri dan tak terkesima dengan hidup orang lain. sulit. 

betul, sulit kok.

how’s life, win?
:: sebentar lagi semi, segalanya akan hijau kembali. itu pasti. tentu aku masih suka naik roller coaster, merasai mata kadang melihat huruf M kadang huruf W bergantian itu terasa ajaib.

saya dilempar batu

hitungan saya belum 10 ketika saya terkejut mendengar bunyi ‘pletaaak’ yang mengganggu. beberapa saat kemudian paha saya terasa sakit. saya melihat batu sekepalan tangan dengan mesranya nampang diatas aspal. apa apaan ini!

setelah itu baru saya sadar kalau batu itu yang tadi sempat mendarat di paha. batu itu pula yang bikin hitungan saya bubar jalan [saya iseng ngitungin berapa detik lampu merah itu nyala]. sial.

alkisah saya pulang dari nonton pertandingan futsal, mampir sebentar ke kos pria gendut di terban dan memutuskan pulang lewat jalan kaliurang. karena rumah saya di gejayan, menurut saran orang pintar saya harus ambil jalan ke kanan di perempatan mbarek [MM UGM]. karena lampu menyala merah, maka saya harus berhenti. karena nyalanya lama maka saya iseng ngitungin. karena iseng ngitung berapa lama lampu merah, saya jadi bertampang bloon banget. itu tuh makanya saya dilempar batu. iya, kayaknya.

atau skenario lain.

saya adalah orang yang sangat penting. kebetulan tadi saya kabur dari penjagaan bodyguard. trus menyamar jadi orang kebanyakan. terus karena saya sudah selesai bersenangsenang saya kembali ke markas. di tengah jalan bertemu dengan intel musuh. trus ketahuan identitas saya. karena si intel khawatir bakal bisa dilacak kalau pakai senjata, jadilah batu dipilih sebagai senjata. dilempar deh saya. begitu sepertinya. 
ya, begitu. 

duh, senang deh mengalahkan rekor jusuf kalla. punya saya kan lebih gede batunya.

bodoh.

konsentrasi saya sekali lagi buyar ketika akhirnya saya tolehkan kepala dan memergoki si pelempar ternyata seseorang bertampang kumal, tak pakai celana dan cengarcengir tak jelas sama saya.