sekelebatsenja: August 2009

rindukah saya?

saya sedang rindu. tak tahu seperti apa bentuk rindu saya sekarang. jangankan disuruh mendefinisikan dengan rinci, saya saja bahkan tak mengerti apakah ini benarbenar rindu. yang jelas saya sedang ingin kembali ke kamar. berkutat dengan laptop. menata ulang susunan bukubuku dalam rak. tidur hampir pagi hari dan bangun pagipagi. menyapu lantai dan menyembunyikan kotorannya di balik pintu.

mungkin saya sedang rindu?

ibuk saya sedang ngapain ya hampir tengah malam begini? tayangan tv favoritnya kan bukan hari ini. bapak saya pasti tidak sedang dapat giliran ronda kampung. ah, adik saya pasti sedang mumet bikin essay buat beasiswa. poppo dan bubbi sedang bermalasmalasan karena kekenyangan. monmon dan zombie semoga baikbaik saja [amin].

oh, rasanya ingin berdua dengan [lebih dari] pacar gendut tercinta. bukan. maksud saya bukan yang begitubegitu. maksud saya bukan melulu adegan romantis yang ada di kepala. bukan rindu berciuman dan bersentuhan [jelas, itu saya selalu rindu!]. saya rindu ketika dia marahmarah karena saya datang terlambat. saya rindu sama bau tubuhnya sehabis futsal. saya rindu makan soto dengannya pagipagi. saya rindu berkunjung ke kampus dengannya ketika puasaan. saya rindu makan ayam bakar di depan fitness center UGM. saya rindu bersenandung di dekatnya. saya rindu ketika dia bilang saya sok tahu. saya rindu ketika matanya itu pengin bilang "sayang, mbok bukunya dibaca. jangan cuman dipajang."

rindukah saya?
masak sih?

saya bukan orang yang suka berkeluhkesah sepanjang hari.
tapi saya kan sedang rindu?

balada mahasiswa yang makan gaji buta

sudah sebulan saya ada di sini. doing nothing. useless. bermalasmalasan dan tak produktif. penyakit lama seperti membeli berbagai macam buku lalu menumpuknya dengan rapi di lemari mulai kambuh. blas. beberapa buku yang tampak menarik ketika dibeli [waktu sempat menyusuri toko buku besar di sini] benarbenar mulai tak disentuh. malas. doh.

jadi begini sodarasodara, kerjaan saya seharihari adalah makan-tidur-online-jalanjalan-fotofoto-menengok jadwal-bergembiraria. intinya, hanya segala macam aktivitas keduniawian *halah*, jauh dari AKTIVITAS INTELEKTUAL yang SEHARUSNYA dilakukan mahasiswa. apalagi mahasiswa s2.

dalam benak saya, seorang mahasiswa s2 itu punya beban yang lebih berat. master gitu loch *halah lagi* lha kok saya ini malah ndak sadarsadar. belajar gitu kek. baca buku gitu. ato apalah, seperti ikutan forum diskusi mingguan, film criticism club gitu. udah sekolahnya gratisan, masih diberi gaji buat hidup, diberi lagi duit buat beli buku, dikasih pula duit buat berhaha hihi di tempat wisata, eh kok malah bermalasmalasan. gawat. makan gaji buta, bu? betul!

dua minggu pertama jelas saya menikmati acara bangun siang sekali dan tidur larut malam. minggu ketiga saya juga masih menikmati acara bangun siang dan tidur larut malam. minggu ke empat? bosan tauk. rasanya ingin segera memulai segala aktivitas yang biasanya saya lakukan *jiahh, gaya! emang pernah belajar po saya?*

tapi kemalasan saya rupanya diamini pihak kampus. hostel belum jadi, ruangan belajar belum selesai direnovasi, kartu mahasiswa belum jadi, gak boleh masuk perpustakaan pinjam buku, jadwal sudah ada tapi terus saja diundur.
wow, bosan.
ah, tapi ada sisi baiknya kok. paling tidak saya sadar kalo bermalasmalasan itu gak baik. apalagi sampai makan gaji buta.



*ditulis di dalam kamar, masih malasmalasan. ditambah, sekarang saya mulai ditinggal sama kawankawan. kawan lawas saya, si bapak benjamin franklin sudah tak setia. mbah gandhi juga mulai suka dolan kesana kemari sementara saya masih ingin belanja ini itu. fyuh. walhasil harus ambil jatah buat bulan depan nih untuk mencukupi kebutuhan bermalasmalasan saya.

black out

black out alias listrik padam adalah masalah terbesar selama sebulan saya tinggal di sini. kalau ingin dihitung dengan jari, sepertinya saya perlu kulonuwun sama beberapa orang untuk pinjam jarinya buat mengenapi hitungan saya. bottom-line in bold: terlalu sering!

tentu saja penyakit model begini tak kenal waktu. di saat saya sedang khusyuk memasak di dapur [tentu saja pakai kompor listrik dan panci ajaib itu], sedang menjahit celana yang sobek, atau sedang ciumciuman sama layar desktop di lab kampus. tak terkecuali ketika saya sedang menancapkan charger buat piranti komunikasi tercinta. sebel deh pokoknya saya sama listrik padam. sudah begitu, periode padamnya juga bervariasi. dari cuman 2 detik sampai 6 jam. sukasuka si listrik deh pokoknya. karena penyakit laknat india ini, sebuah charger ponsel saya yang ada cap original nokia, yang dibeli dengan tangis dan darah [ah lebay!] tibatiba mak pettt ambyar ngambeg gak mau bekerja. bikin saya kudu merogoh kocek dalamdalam dan menghitung ulang konfigurasi pengeluaran. oh teganya.

jadi kawankawan yang mau mampir ke india buat jalanjalan atau ingin sekedar ketemu saya [halah pede!] monggo disiapkan alat tempur yang kuat dan tahan banting dikala bergulat dengan listrik yang naik turun.

sudah ah, segitu saja. curhat kok panjangpanjang. bikin capek yang baca.