sekelebatsenja: October 2009

tanah air dan mbrebes mili

bilang saya cemen, bilang saya cengeng. bolehboleh saja.
yang jelas saya mbrebes mili, untuk tidak bilang saya menangis.

pagi buta ini saya masih disibukkan dengan acara mengetik paper yang deadline-nya [juga] hari ini. namanya juga saya, apa sih kalo bukan last minutes panic. tentu saja saya baru mengerjakan di detikdetik terakhir. jadi mau tak mau pasti begadangan. untunglah tadi sore saya sudah nyicil tidur 4 jam. wayangan jadi tak begitu terasa berat, sempat berhenti sebentar karena kepentok ide, tapi akhirnya setelah dimulai, bisa selesai juga.

ah, kok saya jadi melenceng kesini?

sebenarnya ingin bilang: saya merasa relung hati yang terdalam ini sedang disentuh. percaya atau tidak, oleh sebuah lagu. lagu yang tidak bisa dibilang favorit saya. yang jelas lagu ini hanya saya dengar ketika upacara bendera, kegiatan pemuda, paduan suara dan acara seremonial sebangsa itu. ya, tanah airku dari ibu sud. benarbenar lagu ini yang telah mampu membuat saya mangap, dan tak dapat melanjutkan acara mengetik. sejenak saya merasa beku, dan degdegan. benarbenar lagu yang mengalun dari setriming radio PPI Dunia pagibuta ini bikin saya terhenyak. dan tak sadar...[ya itu tadi] mbrebes mili. mungkin karena sekeliling saya sedang terlelap, dan suasana sepi. mungkin juga karena saya ada di tempat yang jauhnya ribuan kilometer dari tanah air. mungkin juga karena saya sedang sentimentil dan melankolis. mungkin juga karena lagu ini memang punya kekuatan dahsyat, ditulis berdasarkan pengalaman yang otentik dan jernih.

saya tak bisa mendefinisikan secara rinci apa yang saya rasakan. gabungan antara rasa rindu yang sangat, terharu, dan semacam itu. mungkin juga rasa cinta pada negeri, yang bangkit karena sebuah lagu! [tuh kan saya curhat]

...biarpun saya pergi jauh... tidak kan hilang dari kalbu.
tanah ku yang kucintai...engkau ku hargai...

ah, pagi buta yang begitu ajaib!

tentang bapak

bapak saya itu orang yang unik. pokoknya unik.

saya tahu itu.

bapak tak pernah sekalipun mengijinkan saya pulang larut apalagi menginap di rumah kawan, bahkan kawan yang sangat dekat dengan saya, sudah kenal dengan keluarga saya, dan perempuan pula. waktu saya tanya kenapa seperti itu? dia menjawab:
kamu punya kamar, kamu punya rumah. kamu tidur di kamarmu di rumah ini. kenapa kamu pengin tidur di rumah orang lain?saya jawab: kenapa saya tak boleh tidur menginap di rumah teman?setiap hari saya tidur di rumah?sekali ini saja.dia bilang: ya sudah, sekalian saja tak usah pulang.

saya masih ingat persis. hari itu saya masih pakai baju putih biru, suka dikepang dua, dan gendut sekali. temanteman saya berkumpul di rumah salah seorang teman untuk menginap. tinggal saya seorang yang belum minta ijin. dan siapa lagi kalo bukan saya, minta ijin di detikdetik terakhir.

sampai saya lulus kuliah, tak pernah sekalipun saya menginap di rumah teman.

di lain hal, bapak membebaskan saya pilih sekolah, pilih cat kamar tidur, pilih barangbarang yang saya suka, melakukan hal yang saya inginkan. kami berdiskusi tentang agama, tentang fashion, tentang politik dan orangorang bodoh yang bertebaran.

jurusan yang saya pilih, apa yang ingin saya pelajari, bapak tak turut campur. pokoknya satu. menurutnya, anaknya ini tetap harus sekolah. mengenyam pendidikan. meski saya tahu, kadang dia tak setuju dengan caracara sekolah 'memperlakukan' murid. mungkin dia akan lebih puas mengajar anaknya dengan cara sendiri, tentu saja tak mungkin. bapak tak punya cukup waktu.

sepanjang yang saya ingat: cetak tebal dan garis bawah, saya sering sekali punya pendapat yang berbeda dengan bapak. itu buat kami sering bertengkar. tapi saya tahu, itu karena saya memang tukang ngotot, dan kebetulan bapak saya tak suka dibantah.

pernah saat itu saya sengaja pulang jam 2 dinihari. itu cara saya memprotes larangan bapak. saya pulang naik motor yang biasa saya naiki, tapi kali ini saya diantar pulang sekompi temanteman pria. mereka khawatir saya kenapanapa di jalan. jadi pikir mereka, lebih baik ditemani. kalau yang menemani seorang, kelihatan aneh. makanya banyak orang.

saya mencoba membuka pintu, ternyata terkunci. saya coba memencet bel rumah. agak lama. tapi kemudian pintu terbuka. bapak saya berdiri membelakangi lampu ruang tengah, satusatunya yang dinyalakan. saya bilang "aku pulang kemaleman". bapak saya tak menjawab. saya masuk kamar, menaruh tas. bapak masih tak berkatakata. saya keluar kamar, menuju dapur ingin minum. seteguk dua teguk. cuci muka dan bersiap tidur. saat melewati ruang tengah menuju kamar saya lirik bapak saya masih diam saja. berdiri di ruang tengah yang menyala. saya sengaja tak sapa. lalu dia menampar saya. saya diam saja. masuk kamar.

kami tak berbicara selama dua minggu. tak ada uang saku. fasilitas dicabut. saya marah sekali. bahkan saat itu saya berjanji, kelak ketika saya ingin menikah, tak ingin cari suami [akan jadi ayah dari anakanak kami] yang seperti bapak.

larangan bapak saya untuk pulang larut dan menginap di rumah orang lain memang terasa aneh untuk saya, remaja usia belasan tahun yang beranjak 20. saya pikir bapak seorang yang kolot, tak mengerti anaknya, otoriter, tak mau tahu. tapi setelah dipikirpikir, seingat saya itulah satusatunya larangan bapak untuk saya. dan saya pikir, mungkin itu cara dia satusatunya untuk melindungi saya; karena saya kadang tak mempan kalau hanya diberi tahu.

ah, bapak saya. ternyata sudah 3 bulan tak bertemu. seingat saya bapak tampak menua, badannya tambah gendut, dan kepalanya mulai beruban juga botak. saya yakin itu ada hubungannya dengan hobi mencabuti rambut uban. biasanya kalo saya pulang, di bawah jendela kamar tamu ibu mencabuti rambut uban bapak. kalau ibu bilang sudah, biasanya bapak tak percaya "coba sekali lagi, dicari. di sebelah sini pasti masih banyak, soalnya bisa tak rasain, di sini pasti masih banyak". ah bapak, saya jadi tahu kalo sebenarnya saya sayang bapak. sekarang saya jauh sekali dari rumah. saya kangen.

benar juga kata orang: kadang jarak membuat pikiran lebih jernih, kadang bikin benak jadi lebih bijak.

selamat ulang tahun bapak, maaf aku tak bisa kasih kado [anyway, aku tahu bapak gak inginkan kado.] aku tahu bapak cuman ingin anaknya yang paling besar ini baikbaik di negeri orang. tak bertindak anehaneh. belajar bertanggung jawab. i hope, we hope.

hyd, 5.10.2009

secunderabad: ketika hujan

ada yang menarik saat saya melewati secunderabad, kota industri dan perdagangan supersibuk di utara hyderabad. teringat tulisan suketu mehta (kalau tidak salah) dalam maximum city, tentang mumbay tempat campur aduknya beraneka ragam manusia. ya, saya merasa jadi saksi mata di buku itu, cuman kali ini settingnya dipindah ke timur mumbay. saya berdua saja dengan kawan, menjelajah sepenggal kecil jalanan india.


saat itu pukul setengah tujuh malam. hujan turun deras. saya dan seorang kawan perempuan berdiri di bawah payung hitam di pinggir jalan. kami berdua menunggu auto lewat. sudah beberapa yang berlalu begitu saja, beberapa berhenti. saya bertanya "kitna paisa, baya? to seethaphal mandi over the bridge? maklum ne?" (berapa duit, bang? ke seethaphal mandi setelah jembatan? tahu gak?") dia kemudian menjawab "150 rupees".

ah, apa apaan nih, harusnya berdua cuma sekitar 40 rupees ya, 50 lah kalau hujan. saya pun menggeleng "hare baya. nehi, baya. 50 rupees? tike?"(weleh, bang. nggak dong. 50 rupees. oke?). dia tak mau. begitu juga beberapa auto setelahnya. "jaldi jaldi" kata saya sambil membuat gerakan tangan menyuruhnya pergi.
fyuh..

akhirnya kami menemukan seorang tukang auto yang bisa dirayu. meski sampai di atas auto masih eyel-eyelan dengan bahasa hindi saya yang sangat minimal. dia minta 60, saya ngotot 50. jadilah dia menggerundel tak jelas sambil menyetir auto di bawah guyuran hujan yang lebat.

hujan membuat secunderabad terasa sangat jorok. air menggenang di manamana. sampah berserakan. ribuan orang dengan berbagai rupa berjalan tergesa, mengejar bis yang tak berhenti dengan sempurna. macet di perempatan karena bis besar menghalangi mobilmobil baru-tapi-tak-mulus yang ingin melintas. saat seperti ini rasanya saya ingin ber-apparate dan muncul di jalanan jogja, yang meski tak bisa dibilang tertib, tapi paling tidak lebih teratur.


saat hujan dan kacau seperti ini, saya jadi teringat jakarta!


seorang pejalan kaki berkulit gelap dan tinggi tegap yang dari pakaiannya saya duga baru pulang dari kerja menenteng sebuah tas hitam yang dibungkus plastik putih, tak ketinggalan kepalanya pun ikut dibungkus plastik. dia tak membawa payung atau jas hujan. mungkin saja dia tak punya. mungkin juga lupa membawa. yang jelas badannya basah. di depan dia saya melihat 3 orang perempuan mengenakan saree warna ungu, hijau dan merah muda. masingmasing membawa tas tangan yang tak dibungkus plastik. yang mencuri perhatian saya adalah roncean melati yang ada di rambut mereka bergelayut basah. jadi agak layu. saya duga mereka adalah pegawai juga.


auto berjalan tertahan, menyusuri tirai manusiamanusia yang jumlahnya bikin pusing. blooming of people! ingin saya teriakkan katakata itu. lumayan pusing kepala ini menyadari bahwa saat ini mata saya seperti dijejali gambargambar kabur yang bertumpukan.manusiamanusia dengan wajah beraneka dengan pakaian warnawarni, basah karena hujan. air berwarna cokelat, tempat sampah yang kepenuhan dan sekarang isinya kemanamana karena ditarik oleh sapisapi yang sedang mengais makanan. "arrrrrrrgh!"

ya, saya sedang di secunderabad. tempat orangorang bekerja di dalam gedunggedung tua peninggalan inggris yang bagian depannya telah disulap sangat modern. dan saya sedang di secunderabad ketika gedunggedung tua itu memuntahkan semua muatan tubuhnya, dan mencecerkannya di jalanan, di haltehalte, di persimpangan, di tempattempat pemujaan yang ada di semua ruas jalan.

masih tempat yang sama di mana orang bermobil keluaran terbaru jumlahnya hampir sebanding dengan yang mengejar (dan kadang, ketika sedang tak beruntung: terseret) bis. tempat yang sama dimana para pemuda tanggung mendengar dil le ke dari Ipod dan seorang nenek tua berjalan tergopoh, meminta uang dan belas kasihan pada setiap orang yang lewat . tempat yang sama dimana preman berbadan kekar sedang mengencingi pagar yang ditulisi “do not pass urine, penalty 200 rupees” sementara melintas di sebelahnya (mungkin) segerombolan programmer sedang berdiskusi sengit dalam bahasa inggris tentang coding dan rencana menghadapi perusahaan saingan. Tempat yang sama dimana seorang perempuan bisa saja tampil dalam pakaian gemerlapan macam penari ular atau anggun dengan saree hitam yang menampakkan sebagian perut. semuanya tampak kontras dan ganjil di mata saya, seorang penumpang auto kuning yang kebetulan tak begitu punya banyak hal yang dipikirkan.


tampak kontras dan ganjil. seperti gedung tua dan jalanan becek dengan lampu terang benderang dan display mewah. hanya saja semua gambar itu tampak basah. hujan tengah membalut mereka semua dalam kebasahan total. dingin dan lengket.


auto terus saja merambati jalanjalan yang telah saya kenal. beberapa kali sempat melewati jalan yang pertama kali saya lewati, menghindari kemacetan rupanya. namun sepertinya sama saja. perjalanan jadi lebih lama karena jalanjalan kecil lagilagi dipadati manusia. tapi saya yakin, auto berjalan di jalur yang benar. kompas alami saya mengatakan arah timur. sebentar lagi saya sampai dekat jembatan layang. kawan saya memberitahu toko tempat dia membeli aneka rasa kue dan pastry beberapa hari yang lalu. ternyata tempatnya bagus dan bersih. saya rasa saya akan ke sana besokbesok.


rombongan kecil dalam auto telah sampai hyderabad. tepatnya seethaphal mandi, lingkar luar kota yang lebih sunyi dan tampak lebih religius. jauh dari pusat kota dimana ritual keagamaan berjalan pada saat yang sama dimana beberapa bar memasang pengumuman “ladies night: free welcome drink”. tak lupa di seperempat akhir ruas jembatan layang saya menengok sebelah kiri, mencoba mencari dan mengingat di mana letak toko tawakal, yang seorang penjaga tokonya adalah seorang anak lugu, mempunyai mata mirip salman khan, kebetulan bernama salman khan, berusia 12 tahun, tak bersekolah, dan hanya bisa berbahasa telugu, bahasa ibunya. tentu saja, saya tak tahu apakah anak kecil itu ada di sana, bahkan atap toko itu pun tak bisa saya lihat. semuanya dikaburkan hujan yang masih saja deras.


cringcring, 2 buah logam 2 rupees dan sebuah logam1 rupees beradu. mereka saya jatuhkan di telapak tangan tukang auto, menyertai uang kertas 50 rupees, bergambar mbah gandhi berwarna ungu.


hari ini berdua, besok harus berani sendiri.



catatan: hyderabad-secunderabad: kota kembar. secunderabad di utara, hyderabad di selatan

ketika sampai pada titik jenuh

kalau saya sedang bosan biasanya saya diam, atau berteriak sekalian. kalau ada acara menangis tentulah penyebabnya sungguh luar biasa. kali ini saya hanya diam dan bengong. itu artinya tak begitu parah, hanya kebosanan biasa yang datang pada saat tak tepat.

ya, saya tertarik untuk tahu halhal baru. ya, saya senang bertemu orang baru, mendiskusikan sesuatu, belajar dari sudut pandang lain. melatih otak dan hati, begitu kirakira.

tapi kadangkadang saya ingin mengunci pintu di kamar, tak menjalin pembicaraan tentang apapun dengan siapapun, melempar jauhjauh buku bacaan dan setumpuk tugas yang menunggu dieksekusi, memakai baju yang sama dengan kemarinnya kemarin, tak mandi, tak makan, telentang di atas kasur. memandang langitlangit beton yang semburat oranye karena lampu tidur. dan perlahan badan terasa menggigil karena udara yang dihantar pendingin ruangan.

saya percaya, semua orang pernah mengalami titik jenuh. bosan akan segala kegiatan yang teratur dan berulang; seakan badan ini mesin yang dimatinyalakan. ON/OFF/ON/OFF. hari senin akan dimulai dengan culture studies, selasa dengan contemporary prose; religion secularism & modernism;text & pretext, rabu dengan culture studies lagi, kamis dengan religion secularism & modernism, jumat dengan prose dan text&pretext lagi. sabtu dan minggu libur dan diisi dengan acara tidur sampai siang.

"bosan itu biasa, justru merasa beruntung kalau pernah bosan, itu artinya masih punya hati", kata kawan saya.

lalu?