sekelebatsenja: November 2009

the shadow of the city

ada yang menarik ketika saya melewati sepenggal jalan di dekat stasiun kereta lingampally. saya melihat deretan kemah yang berjajar tak begitu rapi. bahkan terkesan asal dibangun. tapi sesungguhnya itu seperti kampung kecil. disitulah sekitar tiga puluh orang tinggal. saya rasa.

ya, saya memang tak menghitung seperti orang melakukan sensus itu. saya ambil satu sampel saja. kebetulan ada sekumpulan orang, mungkin sebuah keluarga, yang duduk di muka sebuah kemah. seorang lelaki tua memakai kain sarung yang sangat lusuh, tanpa alas kaki, memakai tutup kepala mirip handuk yang penuh dengan keringat; seorang nenek tua dengan tindik di hidung dan cincin di kaki, entah kenapa saya lebih tertarik dengan perhiasannya daripada mukanya; seorang perempuan muda yang membawa kardus yang entah isinya apa; dan dua orang anakanak, semuanya perempuan. kalau semua tenda terdiri dari komposisi yang sama, maka akan ada 30 orang. ya, kurang lebih begitu.

seketika hati saya trenyuh. mungkin karena saat itu saya punya kesempatan mengintip apa yang mereka pandangi. mereka sedang duduk agak melingkar dan agak rapat. apakah itu? ternyata ditengah mereka hadir sepotong roti yang sudah tak utuh. mungkin bekas gigitan seorang dari mereka, mungkin juga gigitan entah siapa itu. saya tak bisa pastikan dengan bertanya pada mereka.

saya tak tahu bahasa telugu, mereka tak tahu bahasa inggris.
yang jelas, sungguh, muka mereka amat senang.

potongan roti itu lalu menjadi 4 bagian. satu bagian yang agak besar untuk si lelaki tua. bagian yang dimakan si nenek dan perempuan besarnya sama sedangkan masingmasing bagian untuk kedua anak kecil itu separuh lebih kecil. tapi yang jelas, senyum mereka samasama lebar.

saya seketika ingin meledak karena tangis. lebih karena terharu daripada kasihan.
betapa tulusnya kebahagiaan yang mereka tampakkan. sepotong roti di hadapan mereka mampu membuat senyum tulus mengembang. tangan saya beku, tak mampu mengabadikan momen yang sungguh ajaib itu. entah, mungkin saya tersihir.

saya salah tingkah, tak tahu harus bagaimana.
saya terus berjalan saja.

kemudian bertemu dengan seorang lelaki tua lain, tapi tak setua si kakek tadi. kali ini saya merasa seperti tersihir lagi. tepat ketika langkah saya berhenti, di situlah saya lihat betapa nyata bahwa mereka ini ada. dengan tutup kepala serupa ia tampak mirip, namun lelaki tua ini memakai setelan lusuh berwarna cokelat dan memakai sandal. saya seperti sedang memandang sebuah gambar raksasa. potret sebuah kota.

saya tak berlebihan. mendapatinya duduk di depan kemah yang berlatar belakang apartemen mewah membuat saya miris. benarkah ini yang terjadi. sebegitu miskinkahnya mereka sehingga harus tinggal di kemah yang sungguh jauh dari kata layak? terlebih ketika dikontraskan dengan pemandangan di kejauhan.

ya, lingampally memang sebuah kota. seperti kota lainnya, ia punya sisi kejam. cantik tapi juga kejam. sebelumnya ia adalah sebuah wilayah desa yang tenang sebelum ratusan perusahaan teknologi informasi menggagahinya, merenggut kesunyiannya dan mendandaninya dengan gedung dan simbol peradaban. akhirnya merayu orangorang untuk bermukim. dan buum, jadilah deretan pemukiman padat itu. dengan orang yang mesti bersenggolan ketika berjalan dan mengumpat ketika bertabrakan.

seperti kota yang lain juga, ia tegak beserta bayangbayangnya. tapi bayangan itu tak ingin berbicara, sungguh. mungkin saja ia memang tak mampu berbicara. tetapi sesungguhnya bayangan itu adalah hal yang nyata. dia hadir dalam kemahkemah biru dan lusuh, menyembunyikan mereka yang masih lapar meski telah sempat menikmati sepotong kecil roti. dia hadir di muka sebuah kemah, dibawah terik matahari sabtu siang. entah melamun entah menahan lapar. tak acuh dengan orang lewat.

tangan ini memencet tombol jepret:
abrakadabra! dia telah abadi dalam selembar gambar

mingguminggu yang sibuk

ada kebiasaan yang seragam diantara temanteman dan saya beberapa minggu terakhir. tak tidur sampai pagi. jatah tidur yang seharusnya 8 jam, berkurang drastis jadi hanya sekitar 4 jam. itu pun kalau beruntung, kadang bisa cuma 2 jam. maklum, musim ujian dan paper; benarbenar berat dan memaksa saya jadi zombie pemarah. kalau diajak ngomong loadingnya lama, kalo disenggol dikit maunya langsung bacok.

well, ratarata kami mengambil 4 mata kuliah yang masingmasing jumlahnya 5 credit. dan 4 mata kuliah itu dalam dua bulan ini artinya adalah: malammalam horor mempersiapkan 4 presentasi+makalah, 6 complete paper, beberapa critical analysis pendek, dan kepala yang dingin serta mata yang lebar untuk mengikuti diskusi di kelas.

malam dengan pekatnya jadi kawan kental buat saya. eh boong ding, orang saya lebih sering kencan sama netbook tercinta, tik tok tik tok di word dan sesekali menengok keriuhan dunia maya.

ketika kemarin merampungkan sebuah paper panjang semalaman, tibatiba saya merasa jetlag. bener. jetlag seperti waktu naik pesawat itu lho. jadi ceritanya, terakhir kali saya keluar kamar jam 7.40 an malam, belum gelap benar tapi yang jelas sudah malam, netbook sudah nyala, air mineral sudah terisi penuh, mood sudah di sms. waktunya bekerja! asyik benar saya berceloteh di paper itu sampai tak sempat menengok jam dan halaman yang saya tulis. rasanya menyenangkan menulis topik yang disuka. selesai sudah satu paper sampai akhirnya saya merasa kehausan. saya lihat tak ada air tersisa di botol air mineral.

waktunya mengambil air!

keran air minum ada di ruangan depan yang dipisahkan oleh taman dan jalan kecil. saya agak seram juga kalau harus mengambil air sendirian di pagi buta begini. pasti sepi dan dingin sekali dong. saya ambil jaket dan botol yang kosong. bersiap buka pintu. kunci pun saya buka.

tau apa yang terjadi?

ternyata di luar sudah terang benderang! saya tengok kiri kanan. mencoba memahami keadaan. 'lho kok terang sih? saya gak mimpi kan? kok bisa?' begitu batin saya.
belum hilang rasa penasaran. berlarilah saya ke meja belajar. caricari jam tangan yang ada di dalam gelas. maklum, penunjuk waktu satusatunya cuman itu. eh gak juga dink. ada jam di pojok kanan bawah layar. tapi saya gak begitu peduli sama keberadaannya.

ternyata waktu menunjukkan pukul 9 pagi. buset. gilingan loch. pantas saja sudah terang benderang! oon deh saya.

akhirnya saya paham kalo hari memang sudah siang. ini artinya saya tak perlu ngeri ambil air minum, waktunya mengirim paper dan membayar hutang tidur yang semalam saya pinjam. sambil harus mengingat kudu bangun pada tengah hari untuk kuliah siang.

benarbenar minggu yang sibuk.
benarbenar tak sempat untuk yang namanya senangsenang. kalau duduk di kafetaria sebentar rasanya menyenangkan, tapi begitu ingat pekerjaan yang harus diselesaikan tibatiba perut jadi mual dan kepala langsung pusing.

masih ada sebulan lagi nak, sebelum liburan tiba dan rencana backpacking ke utara.
selalu begitu hibur saya.

si muka telur dan gigi kelinci

aku ingat,

tentang mukamu yang seperti telur.
aku ingat entah kemarin entah kapan, aku pernah bilang mukamu seperti telur.
kamu tertawa dan menjawab 'kok bisa?'
lalu aku jawab
'iya, bisa. memang bentuknya seperti telur kok'
kamu tertawa lagi dan berkata
'ya udah, kalo gitu gigimu kayak kelinci'.

aku tertawa.
ya. kami adalah si muka telur dan si gigi kelinci yang sedang duduk di depan kamar berbagi keringat saat matahari ada di atas pohon mangga.

si muka telur keringatnya bau, si gigi kelinci juga. duduk berdekatan. karena keduanya bau jadi sulit dibedakan mana bau keringat masingmasing. sampai ketika si muka telur sudah habis keringatnya dan bergegas mandi, si gigi kelinci merasa ia sendiri yang bau. lalu protes
'lho kok mandi sih? nanti kamu wangi aku bau dong.'
si muka telur tetap saja melenggang.

si gigi kelinci berusaha menghilangkan keringat yang dipanen dari bergoyangbadan. masuk ke kamar, membuka kaosnya yang sudah basah karena keringat, melipat jarit yang tadi dipakainya menari, mencari handuk yang selalu dibawanya. menyeka keringat. memastikan badannya kembali kering. mencari bedak tabur di selasela tas jinjing. memuntahkan sebagian isinya diatas kulit.

si gigi kelinci merasa sudah wangi
si muka telur keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang.

si muka telur tetap saja tampak seperti telur, meski dengan handuk dan minus keringat.
'uh, bau' katanya
'siapa yang bau?' kata si gigi kelinci
'kamu'
'masa? kamu ngawur. aku sudah pakai bedak' kata si gigi kelinci

jeda sebentar

'melihat mukamu aku ingin makan telur'
'siapa?'
'kamu. mukamu'
'aku sudah mandi lho'
'aku belum mandi gak papa?'
'gak papa gak masalah'


kami merebus telur. dua saja.