sekelebatsenja: 2010

hurt

'when tears are no longer able to flow, it's when you're hurt the most' -
                                                                                            imma

harga

M.R.P 129
tak berapa lama begitu mendarat di jogja libur summer kemarin kerongkongan saya terasa gatal, jadi saya putuskan untuk membeli air mineral kemasan 600ml. sengaja saya keluarkan uang pas 5ribu rupiah karena saya sudah tahu bahwa air mineral di bandara pasti dibandrol lebih tinggi dari harga warung sebelah rumah. betul saja, si mbak penjaga konter bilang "5 ribu mbak"

saya tak pernah mengalami hal seperti itu selama tinggal di india. sebagai pembeli setia beberapa macam produk kemasan, saya merasa tidak dibohongi. semua produk kemasan sudah dilabeli MRP atau Maximum Retail Price, atau harga eceran paling tinggi. dicap langsung dari pabriknya sesuai dengan Package Commodities Rules (1977) saya kurang tahu detil penghitungan MRP oleh pabrik itu bagaimana yang jelas, keuntungan pedagang eceran itu harus sudah ada di dalamnya.

menguntungkan sih, berkurang tuh kemungkinan 'ditipu' soalnya si pedagang mau gak mau harus jual segitu. kalo jual lebih tinggi bisa diolokolok yang beli, kalo dia masih ngeyel jual di atas harga MRP ya palingpaling ditinggal ngeloyor gitu.

tapi buat saya tetap ada sisi mengganggunya lho ini MRP. tak ada hubungannya sama keuntungan atau penipuan dagang. tapi hubungannya sama perasaan. cieh saya.

jadi ceritanya begini. kadang ketika terlanjur membeli barang yang terlalu mahal dan akhirnya tak begitu berguna tapi ga tega buangnya saya segera berusaha melupakan berapa yang saya keluarkan waktu beli. berbahagia dengan keberadaannya sambil mengatakan "ah, itu murah kok". eh tapi benda kemasan yang ada di rak itu tampak ngece, pamer sambil bertengger cantik pakai tag harga.

lagian saya tak bisa menyembunyikan harga suatu benda yang saya pakai.soalnya kan bisa langsung diminta tunjukkin harga. terus terang saya itu kadang agak sungkan lho dengan pertanyaan "berapa harganya?" agak aneh saja harus menjawab pertanyaan itu. kalo ditanya itu mbok ya "di mana belinya?" nah abis itu si orang bisa cari tahu sendiri berapa harganya, gitu lho.

sampai suatu ketika saya amati seorang kawan india saya sedang memandang lekatlekat alas sandal yang saya lepas di dekat keset kemudian berseru "eh, winda sandal jepitmu bagus banget, simple tapi chic. kualitasnya juga bagus tuh. harganya agak sedikit mahal sih memang, tapi kayaknya worth it. beli di mana?"

saya cuma bisa melongo. trus bunyi "eng....itu..."

sunset

senja dari jendela kamar


kabel

abids, hyderabad
ceritanya saat itu saya sedang sibuk melihat beraneka macam ponsel di sebuah arena besar yang bernama Abids ketika mata tibatiba tertumbuk ke sebuah titik yang menarik. betul. menarik karena kabelkabel sedang berpelukan saling menindih.

di sebagian besar daerah di Hyderabad, kabelkabel tampak berjalinan, membentuk semacam kumparan raksasa yang rumit. ya ampun, kumparan. kata itu terakhir saya dengar ketika rok saya masih belah satu dan abuabu.

tak banyak kata yang keluar dari mulut kecuali 'buset', dengan mata sedikit membelalak, konsentrasi yang agak terpecah dan nada yang menggantung.

melihat yang terpapar di depan saya itu, pikiran tidak langsung mengoreksi dan mengevaluasi bahaya yang mungkin timbul bagi orang yang ada di sekitar, tapi malah pikiran saya lompat ke nasib si tukang listrik. apa ndak bingung itu si tukang listrik? bagaimana ya cara dia mengetahui kabel yang harus dibetulkan, atau sambungan mana yang perlu diganti, mana kabel yang harus dipotong, warnanya sama gitu. ya ampun.

suatu saat yang lain saya sempat terkejut mendengar suara manja seorang presenter televisi dari dalam sebuah gubuk terpal biru. bukan saya takjub dengan suaranya yang merdu merayu tapi lebih pada keberadaan tv di dalam situ. kok bisa menyalakan tv. dapat ide dari mana coba orang ini mencatut listrik. mencatut dalam artian sesungguhnya, memakai catut atau tang. kabel telanjang dililitkan di kawat utama, dijepit pakai tang. selebihnya kabel yang berpakaian ditarik ke dalam sana. dan saya lihat tidak hanya masuk ke satu gubug, tapi banyak. wah.

saya ndak mau sok tahu ah dengan bilang mereka tak berpendidikan, tapi ide bahwa kabel telanjang apalagi terkena air hujan akan membuat manusia yang tak sengaja menyentuh bisa njeprak atau kalo sedang tidak beruntung bisa tewas rasanya ndak pernah mampir di kepala orangorang ini. misal saja kalau terkena senar gelas anakanak mereka yang sedang mengarak layang-layang gitu. eh tapi sepertinya saya tak pernah menjumpai anak kecil main layangan di sekitar pemukiman padat penduduk itu sih. jadi mungkin ga kepikiran.

dan kemudian dengan sok tahu ala pejalan iseng, saya lekas menyimpulkan bahwa kabelkabel di india punya tingkat keintiman yang relatif lebih tinggi daripada tempat lain. ya, itu kalo sampeyan mudeng sih sama apa yang saya bicarakan.

sapi

cow is a mother
ekor itu mengibas dengan kencang. tak cukup sekali. mungkin rasa gatal menjalari tubuh tambun si sapi yang tampak kumal. saya tak begitu ahli dalam memperkirakan umur sapi, tapi menurut perasaan saya, dia sudah lama malang melintang di jalanan ini.

itu menurut saya.

saya yakin perkara kibasan ekor itu bukan hal baru nan menarik diperbincangkan. simbah saya di desa punya sapi. dan saya rasa semua sapi mengibaskan ekor. tapi itu menjadi daya tarik ketika latar belakangnya adalah antrian kendaraan yang terjebak macet, bukannya suasana pedesaan yang penuh dengan hijau rerumputan.

begitu juga bagi saya yang sedang duduk manis di auto menunggu jalanan lancar kembali. rupanya saya jadi agak bergidik ngeri dan waswas. pasalnya auto ini adalah kendaraan semacam bajaj di jakarta yang tentu saja tak dikelilingi kaca samping ataupun pelindung lain kecuali atap. terbayang kemungkinan buruk akibat kibasan ekor itu pada kelangsungan hidup dan pakaian saya di dalam auto. saya tak berlebihan. mungkin sedikit. tapi sungguh.

ya. sapisapi di india yang macamnya ada 26 ini mungkin salah satu dari kawanan sapi di belahan bumi lain yang punya hak berkeliaran di jalanjalan publik, kadang membuang hajat di sana, dan bersanding dengan manusiamanusia bermesin dengan segala aktivitasnya. sapi tak perlu nyalakan lampu sen kalau moodnya tibatiba mendorong tubuh besar itu ke kanan atau kiri. dia juga tak perlu menuliskan jaga jarak di dekat bokongnya. bisa saja, kalau dia mau dia akan berhenti. begitu saja. dan sungguh, tak ada yang berani mengumpat pada sapisapi ini.

pernah suatu saat yang lalu saya melihat seorang tua membungkuk pada seekor sapi yang lewat, mengucapkan salam, lalu memegang ekornya dan mengusapkan tangan yang sudah nempel di ekor sapi tadi di ujung bibir, dahi dan puncak kepalanya. saya asumsikan itu sebagai ungkapan hormat si bapak tua.

menurut cerita kawan india saya, sapi adalah simbol pertiwi-ibu. oleh karena itu ia di hormati, karena memberi tanpa meminta. tanpa kehadiran mereka, tak ada ghee atau semacam minyak yang timbul dalam proses pengolahan susu sebelum menjadi mentega. kalau tidak ada ghee, itu artinya tak ada persembahan. jumlah mereka besar karena hewan ini tak boleh dibunuh. beberapa kota di india bahkan melarang pembunuhan sapi. lagian kalau dibunuh untuk apa? sebagian besar penduduk india itu kan vegetarian.

jadi jangan heran akan sering menjumpai mamalia ini sedang mengunyah rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalan, membongkar tumpukan sampah di dekat pemukiman padat penduduk, atau membaui sayuran yang diberikan oleh para pedagang.

atau mengibas ekornya dengan santai di sebelah seorang penumpang auto yang khawatir berlebihan.

250

beberapa waktu belakangan banyak sekali saya dengar patokan waktu dijadikan tantangan untuk entah menulis entah beraksi, entah memotret. misalnya: tantangan 30 hari menulis, tantangan 365 hari memposting foto, atau tantangan 100.000  pendukung dalam 1 minggu  untuk suatu grup atau komunitas.

menarik juga. saya lalu berpikir untuk melakukannya juga pada diri saya. bukan untuk kepentingan ikut lomba atau konteskontesan, tapi lebih kepada menantang konsistensi saya dalam menulis/memotret/menghidupkan blog saya ini. masak saya ndak bisa membuktikan pada diri saya sendiri kalo saya itu masih cinta sama blog ini (yang belakangan mulai lagi saya utak atik lay out, widget dan lain2nya.)
pada awalnya 30 hari saya patok, tapi saya pikir itu waktu yang pendek. jadi saya kemaruk nyari hari yang lebih panjang. berhubung 365 hari itu kelamaan. makanya saya ambil saja waktu 250. lagipula ini ada tetengernya, yaitu bertepatan dengan tanggal berakhir visa saya di india. 
rencananya saya mau nulis tentang apa saja hal menarik yang pengen saya unggah. bisa jadi saya nulis tentang hidup saya di india, atau perasaan saya. ya mesti tidak pasti itu mewakilkan perasaan saya tentang hari itu, ya saya akan tetap update. kalau seandainya saat itu mati lampu atau apalah yang tak memungkinkan saya bercengkrama dengan internet ya saya tetep nulis/motret/komentar meski nantinya baru diposting kalau sudah nyala. karena ini tantangan pada diri sendiri, term of condition nya juga tak terlalu ribet. 
sukasuka saya gitu. 

.

di depanku terbaring dirimu yang pucat, setengah tertidur di balik selimut. mandi sore dengan handuk yang dibasahi air hangat dan diusapkan ke seluruh tubuh baru usai 30 menit yang lalu. lantai bangsal baru saja disapu. matahari ada di titik lengkung. dan aku duduk memandangimu.

kamu yang biasanya balas memandang ketika kutatap sedang memejamkan mata, menahan sakit. sesekali kamu mengerang kesakitan. dingin, begitu kamu bilang. aku berdiri dan menyentuh dahimu, lalu lehermu. lalu tanganmu aku genggam erat. seakan genggamanku bisa menghangatkanmu.

tubuhmu menggigil, meringkuk serupa bayi dalam perut ibu dengan tangan kepayahan karena infus yang menancap di pergelangan tanganmu. sesekali mulutmu bergerakgerak. tanpa kata yang keluar. badanmu semakin bergetar. lalu kudengar suara.

kamu menangis. jantungku berdegup kencang. airmataku hampir pecah, sekuat hati berusaha kutahan. pelukku menghambur.

masih kuingat jelas, kamu berkata “aku ingin bertemu ibu. aku rindu ibu.”, di sela isakmu kubisikkan “tentu saja kamu bisa bertemu ibu, tapi nanti setelah sembuh. sabar”

senja itu, tanganku bergetar, atas perasaan yang tak bisa terjelaskan dengan kata.
aku menemukan lelaki yang kucintai.
rumah yang ingin kutinggali dan padanya aku pulang…

i miss you, i miss us
11.10.10

cemburu

perempuan itu tertunduk. rambutnya hitam legam sepinggang,

jatuh menutupi wajah putih dengan sepasang mata sayu.
tatapnya kosong.

pada harihari yang jauh,
sepasang mata itu terasa hidup.
dengan lekuk yang khas di sebelah dalam kelopak.
bulan sabit.
agak janggal bertemu bibir tebal empuk merah jambu
yang selalu tertarik ke atas.

ya, senyum itu pun absen dari rautnya
tidak untuk kemarin, baru hari ini
ia cemburu pada
dedaunan yang dicumbu angin,
pada rumput yang dihela semilir,

angin telah mengkhianatinya,
atau ia yang memilih pergi

dua jam yang lalu
tubuhnya ditanam pada bumi

silinder plastik dan kotak hijau kebiruan

terakhir saya bawa kotak bekal dari rumah ketika saya duduk di kelas 2 smp. saya masih ingat bentuk kotak makan itu, hijau kebiruan dengan tutup warna putih polos. dulunya ada gambar di tutup itu, tapi tangan usil saya selalu ingin mengorek dan melepas plastik gambarnya. jadilah ia telanjang tanpa gambar. yang paling saya suka itu adanya batas antara tempat nasi dan lauk yang permanen, bukan yang bisa dilepas karena kadang yang seperti itu sering bikin kuah gudeg meluber ke nasi. dan itu bikin nasi jadi cepat bau. maklum, saya memang paling sering bawa gudeg yang dibeli dari tetangga subuh hari sebelum si tetangga buka lapak di tepi jalan raya sepanjang pagi.

ingatan saya tibatiba meloncat pada kotak makanan itu. sungguh kehadirannya tampak begitu nyata. bukan, saya tak sedang membicarakan saya yang tengah menemukan kembali kotak makan jaman kecil itu. saya menemukan kotak itu dalam perwujudan lain.

saya amati dan berusaha tebak raut wajah seorang pria yang berdiri di samping saya, berapa umurnya? jelas dia bukan seorang anak usia smp yang harus menyantap makan siang di sekolah karena tak sempat pulang ke rumah yang jauh untuk sekedar makan, seperti saya dulu. saya taksir umurnya sekitar hampir 40 tahun. saya yakin tebakan saya tak banyak meleset. cara berpakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pegawai yang sudah bertahuntahun mengabdi di sebuah perusahaan yang sama. kalung tanda pengenalnya tampak terselip di saku, saya tak sempat bisa mengintip namanya. tangan kanannya menggenggam tas kerja agak lusuh serupa koper. tebal juga. sementara di tangan kirinya bergelayut mesra sebuah benda yang tak saya pikirkan akan dibawa seorang pria dewasa yang berpakaian kerja. sebuah silinder plastik warna merah hati berinisial R dengan tali panjang warna sama yang sudah agak koyak di beberapa tempat.

ketika saya bercerita perihal silinder plastik itu, teman saya, seorang india tulen berbagi cerita tentang kebiasaannya membawa tiffin, benda silinder aneh yang belakangan baru saya tahu namanya. tiffin itu kotak makan, bisa juga berarti bekal makan. dan itu hal yang biasa di india. sudah jamak, begitu mungkin. dia bahkan sempat bercerita tentang ayahnya yang selalu ceria dan bahagia membawa benda silinder imut itu setiap hendak berangkat kerja. si ibu setiap hari bangun pagi dan menyiapkan bekal untuk suami dan anakanaknya. setiap orang memiliki silinder sendiri, punya dia dan si adik ada inisial masingmasing yang ditulis di sebuah kertas lalu diselotip, kalau punya ayahnya ditulis dengan marker permanen hitam. seringkali isinya nasi yang dimasak dengan daun kari, biasanya dalam porsi besar. lauknya tak lebih biasanya kentang yang dibumbu kari dan dicampur dengan sedikit buncis dan wortel. maklum, mereka keluarga vegetarian sama seperti sebagian besar keluarga di india. teman saya bangga sekali menceritakan masakan ibunya yang sungguh lezat dan bikin rindu. bahkan ia bilang kalau tak ada tempat makan yang bisa menyaingi nasi kari seperti buatan ibunya. dia juga bercerita kalau mereka sekeluarga sungguh senang bisa menghemat uang dengan bawa bekal setiap hari, mengurangi kerepotan mencari tempat makan, dan menghemat waktu istirahat sekolah atau kerja. lagian, tiffin itu adalah tanda cinta dari sang ibu untuk menemani mereka semua ketika di luar rumah.

waktu saya tanya apakah silinder itu juga dicangklong di pundak mereka semua. dia mengangguk dan tersenyum, “what’s wrong?” saya balas “kuch nahi hua”, gapapa.

saya cuma agak terkejut. merasa agak janggal saja. masalahnya ingatan tali benda itu bergelayut di pundak seorang pria dewasa yang menunggu bis datang itu masih melekat kuat. pemandangan itu aneh dan tak biasa. masa bawa kayak gitu, kayak anak kecil aja, begitu batin saya.

jadi ingat kalau dulu si kotak plastik hijau kebiruan itu saya bungkus 2 kali pakai plastik kresek sebelum saya masukkan tas. ada dua alasan kenapa saya melakukannya. yang pertama agar isi bekal kalau tumpah tidak mengenai tas sekolah, yang kedua agar temanteman saya tak lihat kalau saya bawa bekal nasi ke sekolah, bukannya uang jajan lebih seperti mereka.

dan saya ingat betul alasan kedua itu yang utama

hampa

sungguh hampa perasaan saya.
saya seperti zombie yang tak mampu merasai apaapa.
sudah,
begitu saja.

pak menteri mau datang

saya pikir orangorang ini manusia-super. pasalnya mereka bekerja hingga dini hari seperti ini. saya maksud...bapakbapak yang sedang mengangkut pasir dari bawah bangunan international hostel ke seberang jalan..beberapa mengemudikan mesin penghalus jalan dan truk.

angka 2 sudah ditunjuk oleh jarum pendek. sudah pagi. aktivitas seharusnya sudah berhenti. bercumbu dengan mimpi..seharusnya begitu. tapi ini tidak. pak menteri mau datang besok pagi. jalanan harus sudah bersih. pekerjaan sudah rapi. sudut yang kelihatan harus sudah cantik dan dihias. perkara ketika buka pintu ada banyak sarang labalaba..mana ada urus.

saya bertengger di lantai 5. melongok ke bawah..membidikkan kamera telepon genggam yang kepayahan mengumpulkan sinar membentuk gambar. saya menjadi pengamat yang tampak sombong di ketinggian. tapi peran saya memang itu..gimana lagi. dari ketinggian tanpa kata saya menyaksikan keriuhan di bawah sana. semua tampak sibuk. tampak jelas raut para pekerja itu kecapekan...namun demi uang lembur yang jumlahnya lebih besar dari upah biasa semuanya dijalani.
demi pak menteri.
eh bukan.. demi uang
ya deh..demi pak menteri juga.

hahaha. seperti menyaksikan dagelan saya ketawa. aneh sekali sebenarnya keriuhan ini. kemunculan pak menteri saya yakin sudah dijadwalkan jauhjauh hari. kenapa masih terjadi seperti ini?

seperti cerita legenda. kerja sepanjang malam. semua jin diberi batas waktu sampai subuh untuk menyelesaikan semua detil. saya jadi ingat tangkuban perahu...jadi ingat prambanan.

apa iya ini proyek serampangan dengan duit miliaran?
penilaian saya sebagai orang yang buta detil sebuah proyek rasanya tak begitu akurat.
sebaiknya saya mungkin ndak usah banyak cerita. bacrit kata orang medan.
lihat saja. diam. ndak usah komentar.


yang jelas besok pagi pak menteri datang. semua diminta berdandan rapi dan istimewa. jangan lupa gosok gigi. soalnya siapa tahu ditanyatanya gitu. malu kalo gak gosok gigi


*tulisan absurd di pagi hari yang begitu lengket penuh keringat. mata ndak bisa terpejam. padahal kepala sudah berat dan pening.

ketika saya tak punya tanda koma

ada yang aneh dengan laptop saya belakangan ini..tanda koma saya mogok dipencet.
saya pikir ada yang nyelip di bawah tuts itu. mungkin remahan keripik kentang yang sering saya makan atau ada binatang bersarang. atau virus.
saya kurang begitu tahu. tapi yang jelas ini menjengkelkan.
ketika menulis saya kerepotan... bagaimana cara agar saya bisa membuat kalimat tanpa melibatkan tanda koma. saya perlu buka simbol untuk menulis tugas paper. untuk menyapa dan menulis dinding kawan di jejaring sosial pun saya perlu putar otak.

akhirnya saya selalu membuat kalimat pendek dan mengakhirinya dengan titik. atau kalau sangat terpaksa sekali saya jejerkan tiga tanda titik untuk membuat jeda. terlihat seperti koma...tapi bukan koma.

kalau menuliskan tanda koma di belakang sapaan kelihatan biasa saja tapi kalau menggabungkan tiga tanda titik terlihat manja.

"mbak (koma) gimana kabarnya?"
"mbak...gimana kabarnya?"
berbeda.

saya ingin tanda koma saya kembali!

saya baru tahu bahwa tanda koma itu sangat penting.
itu seperti memisahkan dua hal atau merinci banyak hal

itu seperti jeda sebelum berakhir

sebal, marah dan geli

1 jam= 5 jam dan atau waktu tak terhingga

tak tepat waktu. ini adalah hal yang selalu buat saya marah dan geli tapi sekaligus bikin saya berpikir. banyak orang india yang saya temui punya kecenderungan tidak tepat waktu. mending kalau telatnya satu jam setelah jam yang ditentukan, seperti jam karetnya indonesia [meski saya juga gak suka kalau ada orang punya kebiasaan tak tepat waktu. ya paling tidak untuk perbandingan] kalau di india jangan harap telatnya maksimal 1 jam, sejauh pengalaman saya bisa saja 5 jam sampai waktu yang tak terhingga. kalau sudah begini rasanya ingin marah dan ketawa bersamaan. saya jadi berpikir, orang yang tak tepat waktu itu menyebalkan ya ternyata. jadi sekarang saya berusaha tepat waktu.

be back on really 2 minutes or i’ll kick you

“ok, winda. i’ll be back on 2 minutes and we’ll start our discussion”

“wait. this 2 minutes indian time or international time?”

“really, 2 minutes. just wait”

“ok, i’ll start counting down, now.”

begitulah percakapan yang sering terjadi antara saya dengan siapapun yang berani ucap janji dengan sebut satuan menit. minggu awal saya tinggal di sini, saya masih percaya kalau mereka akan kembali dalam waktu 2 menit. saya hanya akan senyum dan menunggu kalau dibilang begitu. tapi, setelah melalui minggu ke 3, saya mulai paham. rupanya senang dan mudah sekali mereka menyebutkan 2 menit, do minit, 2 minutes agar saya gak rewel. ah, janjijanji surga. sebal saya. trus ketika kawan saya butuh plumber untuk benerin saluran air, si orang india ini bilang, “oke madam do minit madam” tapi ternyata dia tidak balik lagi. entah apa yang ada di benak si tukang ledeng-cuma-saya-tukang-ledeng-di-dunia-ini-jadi-kamu-pasti-butuh-saya itu.

come tomorrow

selalu saja ada kata ini keluar sebagai alasan karena tak tepat waktu dan kemalasan, entah itu di kantor, di tukang jual buku, di bank, di toko kelontong, di bioskop!

di kantor ketika saya ingin mengambil dokumen dibilang “come tomorrow, madam”

di tukang jual buku “i’ll find it soon, madam. please come tomorrow”

di bank dibilang “the system is not working. come tomorrow”

di toko kelontong “maybe it is locked somewhere. come tomorrow”

di bioskop “oh, you want to watch this movie, come tomorrow or try to book online but for tomorrow”

kacau.

do not pass urine

kalimat itu tercetak dengan cantik di dinding, pagar, dan tempattempat umum serta terbuka di pinggir jalan. kadang dengan huruf roman, kadang dengan tulisan hindi atau telugu. namun nyatanya kalau saya lewat daerah berhiaskan tulisan cantik itu tetap saja bau pesing yang tak tertahankan itu mampir di hidung. bikin pening tibatiba. kalau saat itu tiba, ingin rasanya punya ilmu menghilang.

tak jarang saya melihat banyak pria berdiri khusyuk menghadap tembok. tentu saja bukan berdoa, melainkan pipis. yang bikin saya heran, kadang mereka buang air di sebelah wc umum yang sengaja dibangun di pinggir jalan, tapi karena entah kebiasaan, terburuburu atau entah karena mereka gak punya uang sebesar 1 rupee mereka pilih tempat di dinding jalan. jorok banget. saya kadang berpikir, apa iya masalah kejorokan india adalah orangorangnya yang gak bisa diajak bersih. padahal kalo saya lihat hyderabad, di mana saya tinggal sekarang, bangunan fisiknya itu bagus. tata kotanya juga. cuma ya itu tadi, jorok!

semrawut mawut

kabelkabel saling terlilit. arah mereka sama, ke sebuah tiang besar tempat lampu jalan menyala. ujung lain dari kabelkabel itu berakhir di rumahrumah petak kecil yang terkumpul di suatu daerah. ya begitulah pemandangan yang sering saya lihat. pencatutan listrik bukan hal asing, malah sudah sangat biasa. saya gak paham kenapa tak ada petugas yang mengecek dan tak ada warga yang melapor. kabelkabel pun semakin banyak seiring semakin bertambah sesak rumah setengah permanen, semakin ruwet langit hyderabad terlihat dari seorang pejalan kaki yang bangun terlalu pagi.

lain kali perlu berkendara siang hari atau sore, atau malam juga boleh. dan kalau sudah turun ke jalan, mohon disiapkan hati yang lapang dan kuping yang agak budeg. masalahnya adalah orang lokal ini senang sekali melarikan motor atau mobilnya kencangkencang, dan membunyikan klakson sesering mungkin. jangan harap juga mereka akan dengan senang hati berhenti di belakang zebra cross yang telentang di tengah jalan, sudah mau berhenti ketika lampu merah pun sudah sujud syukur.

makanya gak salah ketika menonton film outsourced yang entah untuk keberapa kalinya saya masih ketawaketiwi geli. saya tak cuma sedang menonton film bersetting india, saya sedang hidup di india!