sekelebatsenja: January 2010

sebal, marah dan geli

1 jam= 5 jam dan atau waktu tak terhingga

tak tepat waktu. ini adalah hal yang selalu buat saya marah dan geli tapi sekaligus bikin saya berpikir. banyak orang india yang saya temui punya kecenderungan tidak tepat waktu. mending kalau telatnya satu jam setelah jam yang ditentukan, seperti jam karetnya indonesia [meski saya juga gak suka kalau ada orang punya kebiasaan tak tepat waktu. ya paling tidak untuk perbandingan] kalau di india jangan harap telatnya maksimal 1 jam, sejauh pengalaman saya bisa saja 5 jam sampai waktu yang tak terhingga. kalau sudah begini rasanya ingin marah dan ketawa bersamaan. saya jadi berpikir, orang yang tak tepat waktu itu menyebalkan ya ternyata. jadi sekarang saya berusaha tepat waktu.

be back on really 2 minutes or i’ll kick you

“ok, winda. i’ll be back on 2 minutes and we’ll start our discussion”

“wait. this 2 minutes indian time or international time?”

“really, 2 minutes. just wait”

“ok, i’ll start counting down, now.”

begitulah percakapan yang sering terjadi antara saya dengan siapapun yang berani ucap janji dengan sebut satuan menit. minggu awal saya tinggal di sini, saya masih percaya kalau mereka akan kembali dalam waktu 2 menit. saya hanya akan senyum dan menunggu kalau dibilang begitu. tapi, setelah melalui minggu ke 3, saya mulai paham. rupanya senang dan mudah sekali mereka menyebutkan 2 menit, do minit, 2 minutes agar saya gak rewel. ah, janjijanji surga. sebal saya. trus ketika kawan saya butuh plumber untuk benerin saluran air, si orang india ini bilang, “oke madam do minit madam” tapi ternyata dia tidak balik lagi. entah apa yang ada di benak si tukang ledeng-cuma-saya-tukang-ledeng-di-dunia-ini-jadi-kamu-pasti-butuh-saya itu.

come tomorrow

selalu saja ada kata ini keluar sebagai alasan karena tak tepat waktu dan kemalasan, entah itu di kantor, di tukang jual buku, di bank, di toko kelontong, di bioskop!

di kantor ketika saya ingin mengambil dokumen dibilang “come tomorrow, madam”

di tukang jual buku “i’ll find it soon, madam. please come tomorrow”

di bank dibilang “the system is not working. come tomorrow”

di toko kelontong “maybe it is locked somewhere. come tomorrow”

di bioskop “oh, you want to watch this movie, come tomorrow or try to book online but for tomorrow”

kacau.

do not pass urine

kalimat itu tercetak dengan cantik di dinding, pagar, dan tempattempat umum serta terbuka di pinggir jalan. kadang dengan huruf roman, kadang dengan tulisan hindi atau telugu. namun nyatanya kalau saya lewat daerah berhiaskan tulisan cantik itu tetap saja bau pesing yang tak tertahankan itu mampir di hidung. bikin pening tibatiba. kalau saat itu tiba, ingin rasanya punya ilmu menghilang.

tak jarang saya melihat banyak pria berdiri khusyuk menghadap tembok. tentu saja bukan berdoa, melainkan pipis. yang bikin saya heran, kadang mereka buang air di sebelah wc umum yang sengaja dibangun di pinggir jalan, tapi karena entah kebiasaan, terburuburu atau entah karena mereka gak punya uang sebesar 1 rupee mereka pilih tempat di dinding jalan. jorok banget. saya kadang berpikir, apa iya masalah kejorokan india adalah orangorangnya yang gak bisa diajak bersih. padahal kalo saya lihat hyderabad, di mana saya tinggal sekarang, bangunan fisiknya itu bagus. tata kotanya juga. cuma ya itu tadi, jorok!

semrawut mawut

kabelkabel saling terlilit. arah mereka sama, ke sebuah tiang besar tempat lampu jalan menyala. ujung lain dari kabelkabel itu berakhir di rumahrumah petak kecil yang terkumpul di suatu daerah. ya begitulah pemandangan yang sering saya lihat. pencatutan listrik bukan hal asing, malah sudah sangat biasa. saya gak paham kenapa tak ada petugas yang mengecek dan tak ada warga yang melapor. kabelkabel pun semakin banyak seiring semakin bertambah sesak rumah setengah permanen, semakin ruwet langit hyderabad terlihat dari seorang pejalan kaki yang bangun terlalu pagi.

lain kali perlu berkendara siang hari atau sore, atau malam juga boleh. dan kalau sudah turun ke jalan, mohon disiapkan hati yang lapang dan kuping yang agak budeg. masalahnya adalah orang lokal ini senang sekali melarikan motor atau mobilnya kencangkencang, dan membunyikan klakson sesering mungkin. jangan harap juga mereka akan dengan senang hati berhenti di belakang zebra cross yang telentang di tengah jalan, sudah mau berhenti ketika lampu merah pun sudah sujud syukur.

makanya gak salah ketika menonton film outsourced yang entah untuk keberapa kalinya saya masih ketawaketiwi geli. saya tak cuma sedang menonton film bersetting india, saya sedang hidup di india!