sekelebatsenja: February 2010

ketika saya tak punya tanda koma

ada yang aneh dengan laptop saya belakangan ini..tanda koma saya mogok dipencet.
saya pikir ada yang nyelip di bawah tuts itu. mungkin remahan keripik kentang yang sering saya makan atau ada binatang bersarang. atau virus.
saya kurang begitu tahu. tapi yang jelas ini menjengkelkan.
ketika menulis saya kerepotan... bagaimana cara agar saya bisa membuat kalimat tanpa melibatkan tanda koma. saya perlu buka simbol untuk menulis tugas paper. untuk menyapa dan menulis dinding kawan di jejaring sosial pun saya perlu putar otak.

akhirnya saya selalu membuat kalimat pendek dan mengakhirinya dengan titik. atau kalau sangat terpaksa sekali saya jejerkan tiga tanda titik untuk membuat jeda. terlihat seperti koma...tapi bukan koma.

kalau menuliskan tanda koma di belakang sapaan kelihatan biasa saja tapi kalau menggabungkan tiga tanda titik terlihat manja.

"mbak (koma) gimana kabarnya?"
"mbak...gimana kabarnya?"
berbeda.

saya ingin tanda koma saya kembali!

saya baru tahu bahwa tanda koma itu sangat penting.
itu seperti memisahkan dua hal atau merinci banyak hal

itu seperti jeda sebelum berakhir