sekelebatsenja: August 2010

cemburu

perempuan itu tertunduk. rambutnya hitam legam sepinggang,

jatuh menutupi wajah putih dengan sepasang mata sayu.
tatapnya kosong.

pada harihari yang jauh,
sepasang mata itu terasa hidup.
dengan lekuk yang khas di sebelah dalam kelopak.
bulan sabit.
agak janggal bertemu bibir tebal empuk merah jambu
yang selalu tertarik ke atas.

ya, senyum itu pun absen dari rautnya
tidak untuk kemarin, baru hari ini
ia cemburu pada
dedaunan yang dicumbu angin,
pada rumput yang dihela semilir,

angin telah mengkhianatinya,
atau ia yang memilih pergi

dua jam yang lalu
tubuhnya ditanam pada bumi

silinder plastik dan kotak hijau kebiruan

terakhir saya bawa kotak bekal dari rumah ketika saya duduk di kelas 2 smp. saya masih ingat bentuk kotak makan itu, hijau kebiruan dengan tutup warna putih polos. dulunya ada gambar di tutup itu, tapi tangan usil saya selalu ingin mengorek dan melepas plastik gambarnya. jadilah ia telanjang tanpa gambar. yang paling saya suka itu adanya batas antara tempat nasi dan lauk yang permanen, bukan yang bisa dilepas karena kadang yang seperti itu sering bikin kuah gudeg meluber ke nasi. dan itu bikin nasi jadi cepat bau. maklum, saya memang paling sering bawa gudeg yang dibeli dari tetangga subuh hari sebelum si tetangga buka lapak di tepi jalan raya sepanjang pagi.

ingatan saya tibatiba meloncat pada kotak makanan itu. sungguh kehadirannya tampak begitu nyata. bukan, saya tak sedang membicarakan saya yang tengah menemukan kembali kotak makan jaman kecil itu. saya menemukan kotak itu dalam perwujudan lain.

saya amati dan berusaha tebak raut wajah seorang pria yang berdiri di samping saya, berapa umurnya? jelas dia bukan seorang anak usia smp yang harus menyantap makan siang di sekolah karena tak sempat pulang ke rumah yang jauh untuk sekedar makan, seperti saya dulu. saya taksir umurnya sekitar hampir 40 tahun. saya yakin tebakan saya tak banyak meleset. cara berpakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang pegawai yang sudah bertahuntahun mengabdi di sebuah perusahaan yang sama. kalung tanda pengenalnya tampak terselip di saku, saya tak sempat bisa mengintip namanya. tangan kanannya menggenggam tas kerja agak lusuh serupa koper. tebal juga. sementara di tangan kirinya bergelayut mesra sebuah benda yang tak saya pikirkan akan dibawa seorang pria dewasa yang berpakaian kerja. sebuah silinder plastik warna merah hati berinisial R dengan tali panjang warna sama yang sudah agak koyak di beberapa tempat.

ketika saya bercerita perihal silinder plastik itu, teman saya, seorang india tulen berbagi cerita tentang kebiasaannya membawa tiffin, benda silinder aneh yang belakangan baru saya tahu namanya. tiffin itu kotak makan, bisa juga berarti bekal makan. dan itu hal yang biasa di india. sudah jamak, begitu mungkin. dia bahkan sempat bercerita tentang ayahnya yang selalu ceria dan bahagia membawa benda silinder imut itu setiap hendak berangkat kerja. si ibu setiap hari bangun pagi dan menyiapkan bekal untuk suami dan anakanaknya. setiap orang memiliki silinder sendiri, punya dia dan si adik ada inisial masingmasing yang ditulis di sebuah kertas lalu diselotip, kalau punya ayahnya ditulis dengan marker permanen hitam. seringkali isinya nasi yang dimasak dengan daun kari, biasanya dalam porsi besar. lauknya tak lebih biasanya kentang yang dibumbu kari dan dicampur dengan sedikit buncis dan wortel. maklum, mereka keluarga vegetarian sama seperti sebagian besar keluarga di india. teman saya bangga sekali menceritakan masakan ibunya yang sungguh lezat dan bikin rindu. bahkan ia bilang kalau tak ada tempat makan yang bisa menyaingi nasi kari seperti buatan ibunya. dia juga bercerita kalau mereka sekeluarga sungguh senang bisa menghemat uang dengan bawa bekal setiap hari, mengurangi kerepotan mencari tempat makan, dan menghemat waktu istirahat sekolah atau kerja. lagian, tiffin itu adalah tanda cinta dari sang ibu untuk menemani mereka semua ketika di luar rumah.

waktu saya tanya apakah silinder itu juga dicangklong di pundak mereka semua. dia mengangguk dan tersenyum, “what’s wrong?” saya balas “kuch nahi hua”, gapapa.

saya cuma agak terkejut. merasa agak janggal saja. masalahnya ingatan tali benda itu bergelayut di pundak seorang pria dewasa yang menunggu bis datang itu masih melekat kuat. pemandangan itu aneh dan tak biasa. masa bawa kayak gitu, kayak anak kecil aja, begitu batin saya.

jadi ingat kalau dulu si kotak plastik hijau kebiruan itu saya bungkus 2 kali pakai plastik kresek sebelum saya masukkan tas. ada dua alasan kenapa saya melakukannya. yang pertama agar isi bekal kalau tumpah tidak mengenai tas sekolah, yang kedua agar temanteman saya tak lihat kalau saya bawa bekal nasi ke sekolah, bukannya uang jajan lebih seperti mereka.

dan saya ingat betul alasan kedua itu yang utama