sekelebatsenja: October 2010

harga

M.R.P 129
tak berapa lama begitu mendarat di jogja libur summer kemarin kerongkongan saya terasa gatal, jadi saya putuskan untuk membeli air mineral kemasan 600ml. sengaja saya keluarkan uang pas 5ribu rupiah karena saya sudah tahu bahwa air mineral di bandara pasti dibandrol lebih tinggi dari harga warung sebelah rumah. betul saja, si mbak penjaga konter bilang "5 ribu mbak"

saya tak pernah mengalami hal seperti itu selama tinggal di india. sebagai pembeli setia beberapa macam produk kemasan, saya merasa tidak dibohongi. semua produk kemasan sudah dilabeli MRP atau Maximum Retail Price, atau harga eceran paling tinggi. dicap langsung dari pabriknya sesuai dengan Package Commodities Rules (1977) saya kurang tahu detil penghitungan MRP oleh pabrik itu bagaimana yang jelas, keuntungan pedagang eceran itu harus sudah ada di dalamnya.

menguntungkan sih, berkurang tuh kemungkinan 'ditipu' soalnya si pedagang mau gak mau harus jual segitu. kalo jual lebih tinggi bisa diolokolok yang beli, kalo dia masih ngeyel jual di atas harga MRP ya palingpaling ditinggal ngeloyor gitu.

tapi buat saya tetap ada sisi mengganggunya lho ini MRP. tak ada hubungannya sama keuntungan atau penipuan dagang. tapi hubungannya sama perasaan. cieh saya.

jadi ceritanya begini. kadang ketika terlanjur membeli barang yang terlalu mahal dan akhirnya tak begitu berguna tapi ga tega buangnya saya segera berusaha melupakan berapa yang saya keluarkan waktu beli. berbahagia dengan keberadaannya sambil mengatakan "ah, itu murah kok". eh tapi benda kemasan yang ada di rak itu tampak ngece, pamer sambil bertengger cantik pakai tag harga.

lagian saya tak bisa menyembunyikan harga suatu benda yang saya pakai.soalnya kan bisa langsung diminta tunjukkin harga. terus terang saya itu kadang agak sungkan lho dengan pertanyaan "berapa harganya?" agak aneh saja harus menjawab pertanyaan itu. kalo ditanya itu mbok ya "di mana belinya?" nah abis itu si orang bisa cari tahu sendiri berapa harganya, gitu lho.

sampai suatu ketika saya amati seorang kawan india saya sedang memandang lekatlekat alas sandal yang saya lepas di dekat keset kemudian berseru "eh, winda sandal jepitmu bagus banget, simple tapi chic. kualitasnya juga bagus tuh. harganya agak sedikit mahal sih memang, tapi kayaknya worth it. beli di mana?"

saya cuma bisa melongo. trus bunyi "eng....itu..."

sunset

senja dari jendela kamar


kabel

abids, hyderabad
ceritanya saat itu saya sedang sibuk melihat beraneka macam ponsel di sebuah arena besar yang bernama Abids ketika mata tibatiba tertumbuk ke sebuah titik yang menarik. betul. menarik karena kabelkabel sedang berpelukan saling menindih.

di sebagian besar daerah di Hyderabad, kabelkabel tampak berjalinan, membentuk semacam kumparan raksasa yang rumit. ya ampun, kumparan. kata itu terakhir saya dengar ketika rok saya masih belah satu dan abuabu.

tak banyak kata yang keluar dari mulut kecuali 'buset', dengan mata sedikit membelalak, konsentrasi yang agak terpecah dan nada yang menggantung.

melihat yang terpapar di depan saya itu, pikiran tidak langsung mengoreksi dan mengevaluasi bahaya yang mungkin timbul bagi orang yang ada di sekitar, tapi malah pikiran saya lompat ke nasib si tukang listrik. apa ndak bingung itu si tukang listrik? bagaimana ya cara dia mengetahui kabel yang harus dibetulkan, atau sambungan mana yang perlu diganti, mana kabel yang harus dipotong, warnanya sama gitu. ya ampun.

suatu saat yang lain saya sempat terkejut mendengar suara manja seorang presenter televisi dari dalam sebuah gubuk terpal biru. bukan saya takjub dengan suaranya yang merdu merayu tapi lebih pada keberadaan tv di dalam situ. kok bisa menyalakan tv. dapat ide dari mana coba orang ini mencatut listrik. mencatut dalam artian sesungguhnya, memakai catut atau tang. kabel telanjang dililitkan di kawat utama, dijepit pakai tang. selebihnya kabel yang berpakaian ditarik ke dalam sana. dan saya lihat tidak hanya masuk ke satu gubug, tapi banyak. wah.

saya ndak mau sok tahu ah dengan bilang mereka tak berpendidikan, tapi ide bahwa kabel telanjang apalagi terkena air hujan akan membuat manusia yang tak sengaja menyentuh bisa njeprak atau kalo sedang tidak beruntung bisa tewas rasanya ndak pernah mampir di kepala orangorang ini. misal saja kalau terkena senar gelas anakanak mereka yang sedang mengarak layang-layang gitu. eh tapi sepertinya saya tak pernah menjumpai anak kecil main layangan di sekitar pemukiman padat penduduk itu sih. jadi mungkin ga kepikiran.

dan kemudian dengan sok tahu ala pejalan iseng, saya lekas menyimpulkan bahwa kabelkabel di india punya tingkat keintiman yang relatif lebih tinggi daripada tempat lain. ya, itu kalo sampeyan mudeng sih sama apa yang saya bicarakan.

sapi

cow is a mother
ekor itu mengibas dengan kencang. tak cukup sekali. mungkin rasa gatal menjalari tubuh tambun si sapi yang tampak kumal. saya tak begitu ahli dalam memperkirakan umur sapi, tapi menurut perasaan saya, dia sudah lama malang melintang di jalanan ini.

itu menurut saya.

saya yakin perkara kibasan ekor itu bukan hal baru nan menarik diperbincangkan. simbah saya di desa punya sapi. dan saya rasa semua sapi mengibaskan ekor. tapi itu menjadi daya tarik ketika latar belakangnya adalah antrian kendaraan yang terjebak macet, bukannya suasana pedesaan yang penuh dengan hijau rerumputan.

begitu juga bagi saya yang sedang duduk manis di auto menunggu jalanan lancar kembali. rupanya saya jadi agak bergidik ngeri dan waswas. pasalnya auto ini adalah kendaraan semacam bajaj di jakarta yang tentu saja tak dikelilingi kaca samping ataupun pelindung lain kecuali atap. terbayang kemungkinan buruk akibat kibasan ekor itu pada kelangsungan hidup dan pakaian saya di dalam auto. saya tak berlebihan. mungkin sedikit. tapi sungguh.

ya. sapisapi di india yang macamnya ada 26 ini mungkin salah satu dari kawanan sapi di belahan bumi lain yang punya hak berkeliaran di jalanjalan publik, kadang membuang hajat di sana, dan bersanding dengan manusiamanusia bermesin dengan segala aktivitasnya. sapi tak perlu nyalakan lampu sen kalau moodnya tibatiba mendorong tubuh besar itu ke kanan atau kiri. dia juga tak perlu menuliskan jaga jarak di dekat bokongnya. bisa saja, kalau dia mau dia akan berhenti. begitu saja. dan sungguh, tak ada yang berani mengumpat pada sapisapi ini.

pernah suatu saat yang lalu saya melihat seorang tua membungkuk pada seekor sapi yang lewat, mengucapkan salam, lalu memegang ekornya dan mengusapkan tangan yang sudah nempel di ekor sapi tadi di ujung bibir, dahi dan puncak kepalanya. saya asumsikan itu sebagai ungkapan hormat si bapak tua.

menurut cerita kawan india saya, sapi adalah simbol pertiwi-ibu. oleh karena itu ia di hormati, karena memberi tanpa meminta. tanpa kehadiran mereka, tak ada ghee atau semacam minyak yang timbul dalam proses pengolahan susu sebelum menjadi mentega. kalau tidak ada ghee, itu artinya tak ada persembahan. jumlah mereka besar karena hewan ini tak boleh dibunuh. beberapa kota di india bahkan melarang pembunuhan sapi. lagian kalau dibunuh untuk apa? sebagian besar penduduk india itu kan vegetarian.

jadi jangan heran akan sering menjumpai mamalia ini sedang mengunyah rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalan, membongkar tumpukan sampah di dekat pemukiman padat penduduk, atau membaui sayuran yang diberikan oleh para pedagang.

atau mengibas ekornya dengan santai di sebelah seorang penumpang auto yang khawatir berlebihan.

250

beberapa waktu belakangan banyak sekali saya dengar patokan waktu dijadikan tantangan untuk entah menulis entah beraksi, entah memotret. misalnya: tantangan 30 hari menulis, tantangan 365 hari memposting foto, atau tantangan 100.000  pendukung dalam 1 minggu  untuk suatu grup atau komunitas.

menarik juga. saya lalu berpikir untuk melakukannya juga pada diri saya. bukan untuk kepentingan ikut lomba atau konteskontesan, tapi lebih kepada menantang konsistensi saya dalam menulis/memotret/menghidupkan blog saya ini. masak saya ndak bisa membuktikan pada diri saya sendiri kalo saya itu masih cinta sama blog ini (yang belakangan mulai lagi saya utak atik lay out, widget dan lain2nya.)
pada awalnya 30 hari saya patok, tapi saya pikir itu waktu yang pendek. jadi saya kemaruk nyari hari yang lebih panjang. berhubung 365 hari itu kelamaan. makanya saya ambil saja waktu 250. lagipula ini ada tetengernya, yaitu bertepatan dengan tanggal berakhir visa saya di india. 
rencananya saya mau nulis tentang apa saja hal menarik yang pengen saya unggah. bisa jadi saya nulis tentang hidup saya di india, atau perasaan saya. ya mesti tidak pasti itu mewakilkan perasaan saya tentang hari itu, ya saya akan tetap update. kalau seandainya saat itu mati lampu atau apalah yang tak memungkinkan saya bercengkrama dengan internet ya saya tetep nulis/motret/komentar meski nantinya baru diposting kalau sudah nyala. karena ini tantangan pada diri sendiri, term of condition nya juga tak terlalu ribet. 
sukasuka saya gitu. 

.

di depanku terbaring dirimu yang pucat, setengah tertidur di balik selimut. mandi sore dengan handuk yang dibasahi air hangat dan diusapkan ke seluruh tubuh baru usai 30 menit yang lalu. lantai bangsal baru saja disapu. matahari ada di titik lengkung. dan aku duduk memandangimu.

kamu yang biasanya balas memandang ketika kutatap sedang memejamkan mata, menahan sakit. sesekali kamu mengerang kesakitan. dingin, begitu kamu bilang. aku berdiri dan menyentuh dahimu, lalu lehermu. lalu tanganmu aku genggam erat. seakan genggamanku bisa menghangatkanmu.

tubuhmu menggigil, meringkuk serupa bayi dalam perut ibu dengan tangan kepayahan karena infus yang menancap di pergelangan tanganmu. sesekali mulutmu bergerakgerak. tanpa kata yang keluar. badanmu semakin bergetar. lalu kudengar suara.

kamu menangis. jantungku berdegup kencang. airmataku hampir pecah, sekuat hati berusaha kutahan. pelukku menghambur.

masih kuingat jelas, kamu berkata “aku ingin bertemu ibu. aku rindu ibu.”, di sela isakmu kubisikkan “tentu saja kamu bisa bertemu ibu, tapi nanti setelah sembuh. sabar”

senja itu, tanganku bergetar, atas perasaan yang tak bisa terjelaskan dengan kata.
aku menemukan lelaki yang kucintai.
rumah yang ingin kutinggali dan padanya aku pulang…

i miss you, i miss us
11.10.10