sekelebatsenja: janji

janji

janji itu harus ditepati. menepati itu sulit. maksud saya, membuat diri sendiri bergerak untuk menepati itu sulit. makanya agar lebih aman jangan mudah berjanji. 
sedikit berjanji sedikit mikir. sedikit pusing. 
hipotesis aneh yang ngawur. 
ah tidak sepenuhnya juga, ya setidaknya untuk urusan praktis itu berguna.
 
masalahnya kadang mengucap janji itu mudah. 
semudah senyum sama orang yang tak dikenal.
semanis es krim rasa coklat di siang yang rasa asem.

bukannya saya tak ingat semua janji yang saya ucapkan. saya ingat kok. eh, beberapa juga kelupaan sih. biasanya yang saya ingat itu adalah suasana ketika saya berjanji. seperti janji memasak ikan kuah santan pada teman india saya sebelum saya pulang. di depan perpustakaan ketika matahari bersinar lagi sehabis hujan dan saya minum lassi jersey favorit sambil bercerita tentang gulai kepala ikan khas padang yang pernah pada suatu kali bikin saya ngefans. si teman dari kerala pesisir tertarik dan ingin mencoba makanan kaya gitu. reaksi paling natural saya itu "oh tentu boleh. aku akan memasaknya besok. kalo kamu doyan"
ya. hari berganti hari. bulan berganti bulan.bahkan nomer telpon saya berganti dan kamar hostel berganti. berat badan saya juga berganti 5 kilo lebih ringan. tapi janji itu tetap.
belum ditepati.
seperti biasa, saya mulai mencari alasan pada diri sendiri agar hati ini menjadi tenang. saya bilang sama si hati, "ah, ini belum waktu yang tepat. masih sibuk ujian." di saat yang lain si hati protes, "jangan begitu lah. masa kamu ingkari omonganmu sendiri". kalau si hati sudah bilang begini saya cuma bisa senyum kecut dan berusaha cari alasan yang lain. yang lebih terorganisasi. 
semisal "saya kan belum punya uang. sedangkan beasiswa belum turun. kalau nanti saya pakai uang simpanan ini misalnya saya tibatiba harus membayar biaya print tugas yang harus dikumpul minggu ini saya bisa didiskualifikasi. kalo saya didiskualifikasi nanti saya ndak bisa masuk kelas lagi. kalau ndak bisa masuk kelas lagi saya ndak bisa lulus. artinya saya buang waktu."
wah, alasan yang canggih. tapi suka tak mempan sama si hati 
ah hati memang sungguh kejam. 
kasihan saya.
lagian kan itu janjinya "sebelum saya mau pulang saya masakin deh buat kamu gulai ikan"
saya kan belum mau pulang, jadi masih bisa diterima kan alasannya kali ini?