sekelebatsenja: May 2011

65

chicken 65
ini bukan nomer rumah saya. juga bukan ukuran sepatu saya, juga bukan ukuranukuran saya yang lain.
ini nama masakan enak.bahan dasarnya ayam tanpa tulang yang dipotong kecilkecil semacam nugget tapi bukan nugget dan dibalut dengan tepung lalu dimasak dengan saus berwarna merah dan pedas, dicampur pakai daun kari juga ding jadi baunya sangat india. enak banget dan jelas bukan saya yang bikin. kantin kampus yang bernama Maitri itu biang keladinya.
buat orang india yang non vegetarian, masakan ini bukan menu utama untuk makan, tapi menu camilan sore hari sebelum nanti makan malam. ngeri juga deh orang india ini, masak camilannya ayam.tapi begitulah adanya sodara, mohon dimaklumi. 
tapi saya kan orang jawa agraris yang hobi mengkonsumsi nasi. dan dari kapan tahun tahunya saya ayam itu lauk, bukan camilan jadi suka agak ndak masuk akal aja kalau makan ayam saja. si bhaiya penjaga konter tiket suka ketawa waktu saya bilang mo beli beli tiket ayam 65 (dibaca: chicken sixtyfive) dan nasi putih polosan.
saya jatuh cinta sama rasanya, gurih dan potongan ayamnya juga friendly user (ah apaan sih, emangnya software) cocok dikawinkan dengan nasi putih yang rasanya agak manis.kalau sudah khusyuk sama makanan ini saya suka susah diganggu lho. galak gitu. mungkin efek cabe yang ada di dalam masakan itu. sebenarnya kemunculan si cabe itu juga ulah saya sendiri kok, saya suka minta ditambahi pedas biar rasanya mantap meski akhirnya suka KO setelah makan beberapa iris.
uniknya porsinya suka berubahubah deh. kalau saya makan di kantin, bisa saya habisin semuanya. nasi habis dan ayamnya juga habis. tapi kalau saya minta bungkus di rumah, ayamnya bisa buat 3 kali makan dan nasinya juga buat 3 kali makan. kan saya jadinya bingung. akhirnya saya putuskan untuk lebih sering membeli parcel (dibawa pulang) dan tanpa nasi. hitunghitung lebih murah, cuma butuh 40 rupees bisa untuk 3 kali makan dan nasi masak sendiri.

ah tulisan ini gini deh. saya jadi pengen chicken sixty five sekarang juga tuh kaaan

gambar dari:http://www.mommyscuisine.com

bolu

berawal dari resep teman sekamar saya jadi ketagihan bikin bolu. karena mahasiswa beasiswa yang tak mampu beli oven, makanya harus bikin yang tak perlu melibatkan peran oven. jadilah dikukus. lengkapnya resep itu bernama bolu kukus.
kalau dalam resep sebenarnya, si bolu kukus yang cantik dan mengembang sempurna didapatkan dari hasil pengocokan telur yang sempurna. biasanya pakai mixer. masalahnya lagilagi karena mahasiswa beasiswa yang tak mampu beli mixer, makanya harus bikin yang tak perlu melibatkan peran mixer. jadilah dikocok lepas pakai garpu.tapi sama aja sih, meski harus lebih lama daripada yang pakai mixer.saya harus sabar.
tangan suka jadi pegal kalau habis mengocok telur dengan arah yang sama terus menerus. bukannya harus, tapi kayaknya kalau di tipitipi terutama acara si ibu Sisca Soewitomo sukak dibilang "yak pemirsa, mengaduknya harus searah..." lanjutannya saya lupa. tapi itu saja yang saya ingat dalam kepala. jadi saya juga ngaduknya searah.
masukkan maida pada campuran telur dan gula kerikil pasir yang dicampur baking soda yang sudah agak mengembang dan berbuih. maida itu kayaknya tepung gandum deh. sebenarnya ndak gitu yakin juga sih. coba nanti saya tanya teman saya lagi deh. 
setelah itu baru masukkan apa yang perlu dimasukkan. kalau punya selai bisa dimasukkan, kalau punya cokelat cair, batangan atau apapun bisa juga dimasukkan, keju juga enak kalau mau dimasukkan. pokoknya isinya sukasuka tergantung yang ada di kulkas. pisang yang direbus dan dilumatkan juga bisa.asal jangan masukkan semangka saja, kayaknya sih aneh nanti malah jadinya.
setelah adonan selesai, kukus. lagilagi karena mahasiswa beasiswa yang tak mampu membeli panci kukusan yang layak ya pakai panci air sajalah. panci diisi air (ya iyalah kan namanya panci air), adonan ditaruh di wadah yang tahan kalau direbus.stainless lebih bagus. tutupnya diselubungi handuk. 
sekali lagi saya harus sabar karena si panci ini suka semaunya sendiri. kadang malah panasnya cuma di satu sisi.kadang juga karena terlalu panas si air jadi bergejolak dan si adonan jadi seperti perahu hampir tenggelam.tapi saya harus sabar.
5 menit
10 menit
15 menit biasanya saya sudah bosan menunggu.
25 menit suka bingung apa sudah bisa dibuka apa belum
30 menit
subidubidudamdam, teretetet....akhirnya
jadilah saya dapat uji kesabaran dan bolu kukus! 
(sebenarnya judul lengkapnya sih: bolu kukus mahasiswa beasiswa yang duitnya paspasan, tapi nanti malah kepanjangan)


gambar dari :http://look4afood.blogsome.com/2005/11/29/bolu-kukus/

blackberry

kadang geli saya dengan telepon selular rasa buah ini. geli dalam artian betapa dia berhasil mengusik hidup saya dan saya biarin aja. malah masih saya teruskan berlangganan servisnya. sebenarnya saya tak sepenuhnya ngerti untuk apa sih saya punya gadget ini. 
kalau dilihat fungsi: jelas saya tidak butuhbutuh banget: bukan bussiness woman atau anggota DPR jurnalis yang butuh pemberitahuan cepat kalau ada email penting masuk dari swiss misalnya, atau dari si bos. kebanyakan yang masuk ke email saya dari situs jejaring sosial atau jurnal berlangganan yang tentunya bisa saya cek nanti kalau saya butuh. 
kalau dilihat dari gaya: jelas saya tak butuh lagi bergaya. buat apa? siapa yang mau saya gayain coba? lain ceritanya kalo saya masih butuh dapat impresi apaa gitu dari orangorang di sekeliling. lha ini saya malah tak kepikiran sampe dibilang: "cieeeh, pake BB sekarang.gaya nih ya. kayaa dia sekarang" dari teman. si teman saya tanya: "emang gaya yah pake BB? masa sih? ah perasaanmu aja itu" kalau dilihat, harganya bersaing kok dengan ponsel lain.dimana letak gayanya? nah kan, jadi bingung tuh.

jadi kesimpulannya mengapa saya punya blackberry dan menggunakan servisnya sampai sekarang?
ini masih misteri.
ah biarin.

janji

janji itu harus ditepati. menepati itu sulit. maksud saya, membuat diri sendiri bergerak untuk menepati itu sulit. makanya agar lebih aman jangan mudah berjanji. 
sedikit berjanji sedikit mikir. sedikit pusing. 
hipotesis aneh yang ngawur. 
ah tidak sepenuhnya juga, ya setidaknya untuk urusan praktis itu berguna.
 
masalahnya kadang mengucap janji itu mudah. 
semudah senyum sama orang yang tak dikenal.
semanis es krim rasa coklat di siang yang rasa asem.

bukannya saya tak ingat semua janji yang saya ucapkan. saya ingat kok. eh, beberapa juga kelupaan sih. biasanya yang saya ingat itu adalah suasana ketika saya berjanji. seperti janji memasak ikan kuah santan pada teman india saya sebelum saya pulang. di depan perpustakaan ketika matahari bersinar lagi sehabis hujan dan saya minum lassi jersey favorit sambil bercerita tentang gulai kepala ikan khas padang yang pernah pada suatu kali bikin saya ngefans. si teman dari kerala pesisir tertarik dan ingin mencoba makanan kaya gitu. reaksi paling natural saya itu "oh tentu boleh. aku akan memasaknya besok. kalo kamu doyan"
ya. hari berganti hari. bulan berganti bulan.bahkan nomer telpon saya berganti dan kamar hostel berganti. berat badan saya juga berganti 5 kilo lebih ringan. tapi janji itu tetap.
belum ditepati.
seperti biasa, saya mulai mencari alasan pada diri sendiri agar hati ini menjadi tenang. saya bilang sama si hati, "ah, ini belum waktu yang tepat. masih sibuk ujian." di saat yang lain si hati protes, "jangan begitu lah. masa kamu ingkari omonganmu sendiri". kalau si hati sudah bilang begini saya cuma bisa senyum kecut dan berusaha cari alasan yang lain. yang lebih terorganisasi. 
semisal "saya kan belum punya uang. sedangkan beasiswa belum turun. kalau nanti saya pakai uang simpanan ini misalnya saya tibatiba harus membayar biaya print tugas yang harus dikumpul minggu ini saya bisa didiskualifikasi. kalo saya didiskualifikasi nanti saya ndak bisa masuk kelas lagi. kalau ndak bisa masuk kelas lagi saya ndak bisa lulus. artinya saya buang waktu."
wah, alasan yang canggih. tapi suka tak mempan sama si hati 
ah hati memang sungguh kejam. 
kasihan saya.
lagian kan itu janjinya "sebelum saya mau pulang saya masakin deh buat kamu gulai ikan"
saya kan belum mau pulang, jadi masih bisa diterima kan alasannya kali ini?