sekelebatsenja: July 2011

Himalaya

rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir saya menjejakkan kaki di lereng himalaya, padahal baru beberapa bulan yang lalu. hawa dingin yang seolah sudah tak sabar menghambur ke sekujur tubuh, matahari yang tidak mengeluarkan taring dan siap menerkam, kepulan asap di kejauhan menjelang malam, gemuruh air sungai tengah malam, dan senyum kelinci di depan temple benarbenar gambaran yang lengket di benak saya. eh, tapi apa kelinci bisa senyum sih.
saya juga ndak begitu ngerti sih.
yang jelas waktu itu kelincinya kayak senyum kok.

eh, tolong ya lupakan masalah kelinci itu tadi.

trout fish yang mantap kali dan ngabisin nasi serta duit, chai yang cepat sekali dingin padahal baru dihidangkan, spaghetti rasa makimaki asem se asem asemnya yang pengen saya lempar ke jurang, air sungai yang derasnya ya amplop, pucuk batu yang kalau diinjak raksasa pasti langsung runtuh, jalan pintas yang miring minta diukur sudutnya, tempat duduk batu menghadap ke barisan pucukpucuk lereng, tindihan di sonam, hutan pinus yang mirip label pengharum lantai, pasar bawah tanah yang super ramai, momos rasa ayam yang jarang banget dijual, sapisapi yang nyebelin, freedom cafe yang selalu jadi langganan makan siang. kambingkambing yang bikin capek kalo diitung sebelum tidur, nenek sihir pemintaminta yang bawa kotak berisi ular, bis antar gunung yang asoy geboy trala trilili, jalanjalan yang benarbenar JALAN KAKI! dan masih banyak lagi....

wah banyak yah.ternyata liburan satu minggu yang benarbenar liburan.

intinya, duh rasanya kok mau menengok himalaya yang tertidur dalam dekap kapaskapas putih bertumpukan. saya sungguh ingin jalanjalan lagi
tapi kapan?