sekelebatsenja: 2012

pertunjukan

dia menari bersama musik dalam batok kepalanya. kali ini pertunjukannya dibuka dengan tatapan kosong. tiga ujung jari kedua tangan menyentuh pangkal hidung. turun perlahan bersama buliran basah berhulu mata. berhenti di depan dada yang membusung. punggung tangannya menutupi gundukan kenyal memabukkan itu. tidak duduk. dia berdiri tegak kaya penari balet. 
senyum samar. 
derai air mata.
mata kosong.
 
ini akan jadi pertunjukan absurd.

musik masih ada dalam batok kepalanya. kedua tangannya mengombak di depan dada.  perlahan. semakin cepat. semakin cepat. semakin cepat. semakin cepat.
ombaknya berhenti.
jatuhkan diri. 
tertawa terbahak.

lampu padam. pertunjukan selesai. penari kembali ke asal.
pada rumahnya. 
jiwa.

pahit

tetabuhan pagi buta bikin bangun bulu kuduk. secangkir teh sudah berubah sangat pahit. lapisan tipis minyak mengambang di danau kecil bertepikan putih. mrutu tersesat saat mendarat. ah tak apa, toh kecil dan tak ganggu rasanya. pahit. sungguh pahit. pahit dan berisik.

temaram. lampu kecil lima watt bersalut kaca biru setengah lelah mengarungi sepertiga malam. di bawah tubuhtubuh naik turun. kembang kempis. hidup. bersembunyi di balik jalinan benang sedikit terkoyak di pinggir kanan bawah. yang halus sedang mengembara. 

teh itu pahit. serupa kesendirian. 

masih

cuma ingin kasih tahu kalo saya masih menghuni blog ini.
bengong dan ndak jelas mau ngapain dan diapain. ya yang penting ada pemutakhiran gitu,  biar dikira masih aktif gitu. 
blogger macam apa ini.

pemalesan internesyenel!


popok

ada dua ember di pojok kamar, hobinya dilemparlemparin. tentu saja sama popok. popok kain bayi. yang melempar saya dan si akang. tergantung saat itu shift siapa.

pertamanya saya pikir pekerjaan melelahkan dari memiliki seorang bayi adalah menanganinya ketika rewel. rupanya salah besar. yang benar itu mencuci popok!

karena masih baru lahir, karena lebih aman, karena takut ruam, karena mudah dipakaikan, karena murmer dan karena karena yang lain lah yang bikin saya lebih memilih popok kain dibandingkan diaper sekali pakai. padahal di toko bayi bertebaran merekmerek bagus dan terpercaya kata emakemak gahul di internet.berbekal referensi seadanya tentang mengurus bayi dan popok yang telanjur terbeli maka siap tak siap kudu menanggung akibatnya, ya nyuci itu.

kalo dipikir popok ini ndak selebar kemeja atau sepanjang rok loh, tapi kenapa ya rasanya kayak gimanaa gitu waktu nyucinya. apa karena saya masi pedih luka jahitannya, atau kena baby blues, atau karena emang emak pemalas atau apa sih? setelah dipikir lagi mungkin karena setengah hati ngerjainnya.

bayi itu dalam sehari bisa menghabiskan lebih dari 30 potong popok kain. entah itu dipipisin, di ookin, atau dipake buat lap tangan bayi kejatuhan asi karena serbetnya kejauhan dan ngambilnya males.artinya: tumpukan cucian. iyalah kan yang dipipisin bukan popoknya saja, bajunya alasnya selimutnya. sekali pipis ya satu set itu ikutan dilempar ke ember. pake mesin cuci ndapapa sebenernya. saya aja yang terlalu kawatir tu popok bakalan hancur dengan sempurna digulunggulung mesin cuci, pakai tangan deh meski pada akhirnya semuanya masuk mesin cuci juga setelah saya banyakan ngomelnya daripada kerjanya. 

bagi tugas awalnya berjalan mulus, maksudnya ketika bayi ngompol saya gantiin dan temenin bobo si bayi sementara akang mencuci satu set popok dan kawankawan itu atau sebaliknya, tapi lamalama distraksi tauk. lagi nyusun tulisan, eh kudu stop buat ke belakang cuci popok, kalo satu masa dimasukin mesin cuci? si bayi juga terlihat stres lagi enaknya mimpi eh kebasahan. seiring bertambahnya usia bayi dan intensitas tidurnya yang mulai menurun drastis karena terganggu ompol maka diambillah keputusan besar itu: pakein diaper dengan segala konsekuensinya termasuk beli krim ini itu buat mencegah ruam! byebye popok kain!

terima kasih pampers, terima kasih mamy poko, terima kasih peemo. 

ih tulisan apaan nih!

Lalapan

Mentimun, kubis, tomat, kemangi mentah. Fullstop. Titik. Setidaknya itu yang saya tahu mengenai lalapan. Biasanya empat sekawan ini muncul setiap ada sambal. Sambal muncul ketika lagi makan seafood atau ayam. Jadi si lalapan muncul kalo saya kebetulan lagi makan ikan atau ayam. Gitu. Harus apa ndaknya saya juga nda tahu lha wong kalo beli dikasih itu sama warungnya. Kalo dikasih ya dimakan. Kalo nda dimakan kasihan lha wong sudah dikasih.

Woi fokus!

Dari dulu setahu saya golongan lalapan ya cuman itu. nda ada yang lain. Nda pernah kepikiran ada terong bulat mentah, nda kepikiran ada buah mirip ceplukan juga kacang panjang mentah nangkring di piring. Iya, sebelum akhirnya saya ketemu si Akang. Pertamakali liat orang makan begituan rasanya lagi ada di acara fear factor. Masa iya kayak gituan dimakan? Empat serangkai diatas masih bisa masuk mulut saya, eh kecuali kemangi ding rada aneh dikit… daun kok wangi, tapi terong?  

Pertama kali merasa aneh, lama kelamaan biasa. Biasa ngeliatin orang makan itu, maksudnya. Kalo untuk urusan menyertakan begituan dalam menu makan saya kayanya masih jauh deh. Jauh banget. Sekali waktu pernah mencoba dan sukses melepeh yang ada dalam mulut.

Lain kali saya mau cobain tu lalapan direndam air garam anget dulu ah. Kayak apa ya?

berat

saya adalah orang yang paling suka rewel tentang berat badan. kalau saja berat saya tambah sedikit saja pasti sudah ribut sanasini. selain merepotkan diri sendiri bisa juga merepotkan orang lain, gitu lho.
sepanjang hidup di india saya bersyukur karena tidak ada yang namanya kalap makanan.

eh kecuali pizza dan spaghetti, dan chicken 65, dan makanan tibet, dan egg burjiya, dan es krim, dan.. aduh kenapa daftarnya masih banyak.

saya juga sering bertanya, kenapa seakan semua makanan yang masuk ke pencernaan diam di situ dan diserap semuanya tanpa sisa. pasalnya  cepat sekali saya bertambah gendut. makan sedikit saja pasti punya efek signifikan bagi pertambahan berat badan. ini pasti ada yang salah dengan sistem pencernaan saya. iseng saya melakukan riset amatir, misalnya dengan jalan merunut riwayat makan dari lahir jebret sampai sekarang.

makan pertama saya tidak dimulai pada usia 6 bulan seperti yang direkomendasikan oleh badan kesehatan dunia saat ini, tapi pada usia 8 jam setelah lahir. pilihan makanannya pun pisang yang dihancurkan sepenuh hati pakai sendok dan airmata. tangisan saya yang superkenceng tak bisa lagi dibujuk dengan imingiming asi yang melimpahruah dan gendongan yang (seharusnya) menenangkan. baru setelah pasangan muda itu  bereksperimen mendekatkan pisang lumat ke arah mulut saya, saya diam, bahkan minta lagi sampai habis satu buah pisang. besoknya tidak ada keanehan yang terjadi, saya pup dan buang air kecil baikbaik saja.

ya tuhan. itu mengerikan.
tak heran ibu selalu bilang saya bladhog
mungkin dari situ semuanya dimulai.

pola dan porsi makan saya semakin yahud ketika usia sekolah. tidak sulit menyuruh saya makan. saya makan 3 kali sehari, dengan porsi wajar anakanak tapi entah kenapa, badan saya makin melar. tetangga rumah bahkan sampai mengingat saya sebagai seorang gadis cilik berpipi tembem, berpantat besar dan berperut gendut. si tetangga ini selalu tersenyum lebar ketika gadis cilik lewat depan rumahnya karena disuruh ibu beli bumbu dapur. katanya: "lucu dan menggemaskan, kayak bola".

semakin besar memang sih postur saya tidak sebulat sebelumnya. perlahan mulai ada lekuknya, namun itu juga bukan karena sulap. karena kegiatan semakin banyak dan saya sering lupa makan. jadi intinya, karena asupan kalorinya berkurang, bukan dengan porsi normal. jadi sama aja. seandainya saya makan dengan porsi normal tetep aja gendut. berarti yang salah usus saya!

wah saya ini sebenernya mau cerita apa sih?

pokoknya intinya begitu. saya rewel kalo tambah berat. apalagi kalau banyak. bikin malas melakukan aktivitas. apapun. tidur aja malas. kalau sudah begitu bawaannya uringuringan dan marahmarah trus nulisnulis nda jelas di blog.