sekelebatsenja: March 2012

berat

saya adalah orang yang paling suka rewel tentang berat badan. kalau saja berat saya tambah sedikit saja pasti sudah ribut sanasini. selain merepotkan diri sendiri bisa juga merepotkan orang lain, gitu lho.
sepanjang hidup di india saya bersyukur karena tidak ada yang namanya kalap makanan.

eh kecuali pizza dan spaghetti, dan chicken 65, dan makanan tibet, dan egg burjiya, dan es krim, dan.. aduh kenapa daftarnya masih banyak.

saya juga sering bertanya, kenapa seakan semua makanan yang masuk ke pencernaan diam di situ dan diserap semuanya tanpa sisa. pasalnya  cepat sekali saya bertambah gendut. makan sedikit saja pasti punya efek signifikan bagi pertambahan berat badan. ini pasti ada yang salah dengan sistem pencernaan saya. iseng saya melakukan riset amatir, misalnya dengan jalan merunut riwayat makan dari lahir jebret sampai sekarang.

makan pertama saya tidak dimulai pada usia 6 bulan seperti yang direkomendasikan oleh badan kesehatan dunia saat ini, tapi pada usia 8 jam setelah lahir. pilihan makanannya pun pisang yang dihancurkan sepenuh hati pakai sendok dan airmata. tangisan saya yang superkenceng tak bisa lagi dibujuk dengan imingiming asi yang melimpahruah dan gendongan yang (seharusnya) menenangkan. baru setelah pasangan muda itu  bereksperimen mendekatkan pisang lumat ke arah mulut saya, saya diam, bahkan minta lagi sampai habis satu buah pisang. besoknya tidak ada keanehan yang terjadi, saya pup dan buang air kecil baikbaik saja.

ya tuhan. itu mengerikan.
tak heran ibu selalu bilang saya bladhog
mungkin dari situ semuanya dimulai.

pola dan porsi makan saya semakin yahud ketika usia sekolah. tidak sulit menyuruh saya makan. saya makan 3 kali sehari, dengan porsi wajar anakanak tapi entah kenapa, badan saya makin melar. tetangga rumah bahkan sampai mengingat saya sebagai seorang gadis cilik berpipi tembem, berpantat besar dan berperut gendut. si tetangga ini selalu tersenyum lebar ketika gadis cilik lewat depan rumahnya karena disuruh ibu beli bumbu dapur. katanya: "lucu dan menggemaskan, kayak bola".

semakin besar memang sih postur saya tidak sebulat sebelumnya. perlahan mulai ada lekuknya, namun itu juga bukan karena sulap. karena kegiatan semakin banyak dan saya sering lupa makan. jadi intinya, karena asupan kalorinya berkurang, bukan dengan porsi normal. jadi sama aja. seandainya saya makan dengan porsi normal tetep aja gendut. berarti yang salah usus saya!

wah saya ini sebenernya mau cerita apa sih?

pokoknya intinya begitu. saya rewel kalo tambah berat. apalagi kalau banyak. bikin malas melakukan aktivitas. apapun. tidur aja malas. kalau sudah begitu bawaannya uringuringan dan marahmarah trus nulisnulis nda jelas di blog.