sekelebatsenja: December 2012

pertunjukan

dia menari bersama musik dalam batok kepalanya. kali ini pertunjukannya dibuka dengan tatapan kosong. tiga ujung jari kedua tangan menyentuh pangkal hidung. turun perlahan bersama buliran basah berhulu mata. berhenti di depan dada yang membusung. punggung tangannya menutupi gundukan kenyal memabukkan itu. tidak duduk. dia berdiri tegak kaya penari balet. 
senyum samar. 
derai air mata.
mata kosong.
 
ini akan jadi pertunjukan absurd.

musik masih ada dalam batok kepalanya. kedua tangannya mengombak di depan dada.  perlahan. semakin cepat. semakin cepat. semakin cepat. semakin cepat.
ombaknya berhenti.
jatuhkan diri. 
tertawa terbahak.

lampu padam. pertunjukan selesai. penari kembali ke asal.
pada rumahnya. 
jiwa.

pahit

tetabuhan pagi buta bikin bangun bulu kuduk. secangkir teh sudah berubah sangat pahit. lapisan tipis minyak mengambang di danau kecil bertepikan putih. mrutu tersesat saat mendarat. ah tak apa, toh kecil dan tak ganggu rasanya. pahit. sungguh pahit. pahit dan berisik.

temaram. lampu kecil lima watt bersalut kaca biru setengah lelah mengarungi sepertiga malam. di bawah tubuhtubuh naik turun. kembang kempis. hidup. bersembunyi di balik jalinan benang sedikit terkoyak di pinggir kanan bawah. yang halus sedang mengembara. 

teh itu pahit. serupa kesendirian.