sekelebatsenja: Isyarat

Isyarat

Siang ini saya ingat Mbah Medelan. Dibaca seperti menyebut 'd' pada huruf hijaiyah 'dal', 


Lebaran kemarin menjadi yang terakhir bertemu dengan salah satu mbah dari bapak yang tersisa di lereng gunung merapi itu. Kebon duren yang luas dan kali yang jernih, itu dua hal yang bikin saya senyum kalau ingat.  Dulu waktu masih kecil di hari lebaran saya suka beredar di situ sebelum diteriaki kalo ada ular atau bisa kejatuhan duren. Padahal duren yang matang mana mungkin dibiarkan jatuh. Kemahirannya membuat jenang yang mantap juga terkenal banget sampai ke pesisir. Kalau ada acara penting seperti lebaran, kawinan, dan acara bahagia lain si mbah suka bikin jenang. Rasanya khas. Seperti ada rasa cinta yang diselipkan dalam tiap adukannya. Memang agak berlebihan sih.

Bukan itu sebenarnya yang ingin saya ceritakan. Ada hal yang lebih bikin saya bergidik. sebabnya si mbah tau kapan dia akan tindak, panggih Gusti, alias seda alias meninggal. 

Isyarat datang lebih dulu sebelum kematiannya.

Jauh sebelum lebaran beliau sudah tergolek lemah dengan bantuan tabung oksigen. Namun demikian matanya masih berkedip dan bibirnya masih menggumamkan sesuatu. Lelaki yang sejak seminggu lalu menungguinya sesekali mengurut kaki simbah. 

Kowe do mreneo kene, bakdo ping pindho aku arep munggah |
Ten pundi mbah? Njenengan ampun menggalih noponopo to mbah. Istirahat mawon |
Ora. Mreneo kene kabeh anak putuku. Rungokno, kumpulo sing rukun yo kowe kabeh |

Kami semua diam. Sibuk dengan pikiran masingmasing. 

Esok pagipagi sekali pada lebaran kedua simbah bukan dipundhut, tapi munggah, menemui tuhan. 
seperti katanya. 
saya terhenyak.