sekelebatsenja: December 2013

blarak

Entah sejak kapan saya merasa aroma bakaran blarak atau batang daun pohon kelapa itu spesial. Sama spesialnya dengan aroma yang ditimbulkan oleh minyak kelapa yang sedang dipanaskan. Keduanya sering membius saya pada level kebengongan yang sejajar. 


Mungkin nostalgia. Mungkin rindu masa kanakkanak. Maklum hidup di desa pesisir Bantul sana dulu saya tak mungkin tak akrab dengan bagianbagian tubuh pohon kelapa. Berikut baunya. Dari mulai akar, bluluk, bitingcengkir, manggar, bathok dan sebangsanya sampai produk olahan berupa minyak, legen, gula cetak dan tak lupa bakarbakaran itu tadi. 

Pagi tadi dengan tergesagesa seperti biasa saya memacu scoopy merah menuju kampus. Perjalanan ke selatan terhenti sebentar memberi kesempatan pada arakarakan bau blarak bakar. Lupa sudah kalau harus cepat sampai karena ada jadwal menguji. 

Aroma bakaran blarak di tanah rantau ternyata sama.
Seketika saya lega. Sisi kanakkanak saya masih hidup.

salju

Saya ingat salju maka saya ingat rumah batu, perapian, natal, dan kue jahe. Impian sederhana yang tidak sederhana seorang anak kecil negeri tropis. Bisa saja dibilang begitu. Begitu dekatnya imaji saya akan sesuatu yang terjadi jauh di ujung dunia utara atau selatan sana karena bukubuku yang saya baca. 


Hebat banget yah si buku bisa menyeret saya kayak begitu.

My Bears Counting House dengan ilustrasi yang kaya warna menjadi salah satu buku awal saya bersinggungan dengan salju. Ada 10 buku dalam satu kotak. Semua bercerita tentang keseharian keluarga beruang. Sebuah edisi tentang natal terlihat lebih lecek dari saudara buku yang lain pertanda sering dijamah. Beruang paling kecil sedang belajar membuat kue jahe yang terlihat menggiurkan dan hangat. Setelah semua siap saji mereka duduk bersebelahan di depan perapian batu sambil memandang salju yang turun agak lebat di luar jendela. Momen menyenangkan bagi seorang pembaca belia.

Setelah itu saya sibuk bermimpi untuk memegang salju, duduk di depan perapian batu sambil makan kue jahe dan bergembira.

Dua puluhan tahun kemudian di ujung desember saya memegang salju, duduk di sebuah penginapan kayu yang tak punya perapian, menggigil kedinginan dan kelaparan.

Yah, agakagak mirip lah. Mirip jauh.

twitter

Tidak berkicau itu sulit.


Seminggu terakhir mencoba untuk tidak menggunakan twitter. Saya berhasil. Bukan tanpa alasan saya berhenti sejenak. Ini mengerikan. Lebih dari sepuluh ribu kicauan. Setengahnya terjadi selama setahun terakhir. Dalam satu hari berapa? 

Apa saya secerewet itu? Nyatanya memang iya. Mau bagaimana? Lalu ngapain?

Membuat rekaman keseharian yang bisa ditelusuri siapapun. Penting? Penting saja. Ya kadang penting. Meski seringnya tidak. Itu kenapa tetap pseudonym. Malu ah malu.

Memang tidak berkicau itu sulit. Kalau hanya dipikirin. 
Kalau dilakukan sulit kuadrat.

Sudah, Ubertwitter! berhenti ngubernguber dong!


siang

Lelah membaca pagi aku mematung pada siang yang tegas. 

Bayangbayang tubuh di bawah telapak kaki. 
Bentuknya cukup aneh. Hitam pekat dengan garis tepi yang jelas
Debu dari gesekan sepatusepatu dengan tanah menyaru kabut.
Aku senang dengan nuansa yang ditimbulkannya. Keras. Menggairahkan.

Lalu diam terasa ribuan kali lebih menyenangkan dari mengeja.