sekelebatsenja: 2014

lahir

Ada yang datang ada yang pergi. Yang datang amat dinanti yang pergi selalu diingat sampai jumpa lagi.

Siang itu mental sudah bulat. Saya mengambil keputusan untuk melahirkan dengan jalan SC karena sudah lewat jauh sekali dari perkiraan lahir (yang kemudian saya tahu, tak semua orang bisa pakai rumus perkiraan). Lagipula setelah saya lihat sendiri plasenta yang sudah banyak lubangnya, besarbesar, saya jadi ngeri dan menyerah. Logika saya mengetukngetuk kepala batu.Ini masalah nyawa!

Ya maklum saya sudah mempersiapkan diri untuk melahirkan lewat jalur lahir yang sudah dibikin sang pencipta, sudah melakukan pembisikan intens ke si calon bayi, sudah konsultasi ke SpoG tentang aman tidaknya VBAC jarak 2.5 tahun, relaksasi dan tetek bengek lainnya.Eh, di penghujung kehamilan si bayi nda setuju dengan ide saya. Ya ndapapa, dia sudah memilih cara lahirnya sendiri. Saya harus mengamini.

Selasa Legi, 18 November. Siang jam 12 saya resmi ngamar di rumah bersalin. Jadwal SC sudah saya pilih, hari itu juga jam setengah sepuluh malam. Masih lama. 

Saya mantapkan hati dengan kabur jalanjalan sama akang ke pusat perbelanjaan untuk melihat (lalu membeli) barang diskon karena dengan begitu biasanya hati saya langsung jadi tenteram. Memang benar.Perasaan mendadak campuraduk teracakacak maghrib itu ketika saya dapat kabar supermengejutkan. Mbah kakung seda. Mbah kakung yang selalu jadi favorit saya sejak kecil karena suka mendongeng, suka mengajakku ke sawah, suka memboncengku naik sepeda nonton wayang trus pulangnya membelikanku gambar umbul wayang, meminjamiku buku dari perpustakaan SD tempatnya mengabdi. Iya. Mbah kakung yang dulu jauhjauh ngebis dari srandakan ke gejayan untuk nengok cucunya karena kangen.

Mentalku ambyar, duh gek gimana iki. Saya pandangi bergantian selang infus yang sudah menancap di punggung tangan kiri dan ponsel di genggaman tangan kanan. Seketika pandangan kabur, rupanya saya terisak lalu nangis bombai. Menyesal karena belum sempat menungguinya sewaktu sakit, padahal mbah kakung sering menanyakanku dan mengapa aku belum menengoknya lagi.

Sulit sekali mengembalikan kepercayaan diri dan mental yang sudah acakadul dalam waktu singkat. Saya hanya punya waktu 3 jam sebelum dikirim ke ruang operasi. 

hanya keyakinan bahwa maha pencipta sudah menentukan masa berlaku setiap makhluk ciptaannya dengan maksud yang baik yang menentramkanku. 

Kalaupun anakku harus lahir bertepatan dengan tanggal sedanya mbah kakungku saya akan menerimakan. Lagipula sang pencipta sudah memilihkan hari yang sama dengan weton lahirku, selasa legi, untuk kepergian mbah kakung. Pasti ada maksudnya. Saya pasrah.

Satu jam menjelang jam seharusnya operasi saya dibangunkan dan diberitahu kalau giliran saya akan mundur karena ada calon ibu yang mengalami gawat janin dan harus segera dioperasi.

 00.10 Rabu Pahing, 19 November 2014 Bhumi lahir. Tangisan pendek dengan suara berat. Tubuh dalam pelukan masih berbalut putih cairan kawah, ariarinya masih agak menggelembung. Hidup dan selamat. 

Terima kasih maha pencipta, rencanamu indah.