sekelebatsenja: December 2015

ibu

setiap ibu memiliki cerita hidup dan perjuangan masingmasing. 
mungkin beberapa ada yang harus bekerja dan menggunakan waktu 8 jam (atau lebih) dari waktu seharinya untuk berada di kantor, menyelesaikan tugas, melakukan perjalanan dinas berharihari.
beberapa yang lain punya kesempatan bersama keluarga sepanjang waktu, mencoba permainan baru setiap hari, memiliki privilege untuk memeluk dan mencium serta mengamati dari dekat, dan tak harus mengkhawatirkan masalah pekerjaan.
beberapa ibu memilih tetap tinggal di rumah, bekerja ketika halhal rumah beres, ketika anak sudah tidur, misalnya.
beberapa yang lain lagi sangat ingin bekerja di luar rumah karena hendak mendedikasikan dirinya pada lingkup yang lebih luas.
ada juga yang terpaksa bekerja karena sebuah keadaan yang tak terelakkan, terpisah dari suaminya karena bencana alam dan harus menghidupi diri sendiri dan keluarga.
bagiku hal itu tak perlu dimasalahkan. mau yang bisa 24 jam bersama, maupun yang hanya dapat berjumpa dengan keluarganya di hari sabtu minggu, seorang ibu tetaplah seorang ibu. 
perjuangan menjadi ibu tidak bisa dinilai dengan apapun, oleh siapapun.
tolong jangan menyakiti dan mengecilkan perjuangannya.
kamu tidak berhak.

cinta

kau mencintaiku dalam diam, dengan cara yang aneh, dengan halhal yang kadang tak kumengerti dan kupahami. yang lebih sering membuatku memberontak dengan hujaman tanya. tidak dengan sederhana, tak pula serumit perekonomian dunia ketiga. 

aku mencintaimu dengan egois, dengan hasrat menyalanyala, dengan kilat dan guntur menggelegar dalam hati, dengan ketabahan layaknya kayu basah dalam api unggun.

kita tidak dalam frekuensi yang sama, kau sudah tahu itu. tapi kau dan aku paham, kita tak pernah selesai mendoakan satu sama lain.

dan itu kasih level mahadewa

hening

mendung yang sewaktuwaktu cair menjadi tetes dan aliran menuju anakanak sungai membangkitkan kisahkisah jauh yang tak sempat terjadi. tentang memandang hujan dari jendela dan masa muda yang penuh petualangan. rasa ingin tahu yang membuncah dan kenaifan yang menggemaskan rupanya bahan bakar paling mumpuni untuk sebuah kenekatan,
yang tak jadi terjadi.

seorang yang hadir dari tirai abuabu sudut hati. datang tak dinyana. 
pergi seperti tak benarbenar pergi. menjadi bayangbayang cahaya redup, 
ketika hening. 

pada suatu ketika
dia bilang, tak apa. karena tak mungkin tak hatihati.
aku bilang, aku takut.
takut semua akan berbeda.

hendak mengekalkannya dalam ingatan. itu saja. 

aku mulai mengingat suarasuara itu dalam hening.

yang berjalan. 
terus berjalan. 
jauh.


untuk


hentakan nadi bergulat peluh
pada titi wanci, kehendak berlabuh
untuk siapa?
kelopak bunga yang tabur
di bawah temaram jingga.
pada hati yang rindu,
cinta adalah kata kerja