sekelebatsenja: January 2016

nothing

sometimes you're just too busy worrying nothing, let alone trying to answer neverending questions about your presence. sit back and relax.
love said, there is nothing that is not me.

nostalgia

perihal nostalgia tak pernah luput akan ingatan yang membabibuta, merangsek serupa berkas cahaya matahari yang menghujam dari lubang selebar tiga senti. 
waktu yang sejak mula tak pernah membuka komunikasi dua arah menyeret paksa anakanak manusia untuk maklum. mungkin untuk berdamai dengan angan dan cinta sesaat sambil terus memaksa sang pejalan mengukur harihari yang jauh dengan ratusan juta bentuk pertanyaan yang entah apakah mungkin untuk terjawab.
mungkin untuk menekuri cinta yang terpisah raga.
entah, mungkin terlalu naif bila menganggap cinta tak cukup mampu menjadi bahan bakar membangun istana megah lapis pualam.
pada akhirnya waktu dan ingatan,
sejoli yang saling ingin menentramkan.

a glance

sometimes a glance conveys much deeper meaning than millions of speech. that's when you catch a glimpse of some stranger or someone you think you know well, or just average someone's facial expresion. at certain point you'll come into a hypothetical state of perception about that particular person, regardless what the person says after, to defend let's say, anyway. you just way too deep, tied in a conception you made, trapped into your own sub consciousness.


you start making war with your own, darl!

yang

ada yang diamdiam menjadi dirimu. 
menyeruak di antara ranting yang berderak. 
lepas pagi buta ketika januari. 
mengamatimu dengan seksama. 
mengukur kedalaman binar matamu. 
menjaga sebentuk hati yang lelah.

kalaupun ada yang diamdiam menjadi dirimu,
biar.
berkumpul tetes embun pada ujungujung daun.
sebelum lengkung semburat pada timur jauh.
hening dilantunkan. benak bertautan.
doa dilafalkan.

ada yang tak diamdiam menjadi dirimu.
tinggal di sudutsudut rindu.
siapa?
aku?